Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Periksa Ke Dokter


__ADS_3

Setelah urusan sekolah selesai, aku langsung di ajak Kenny ke Dokter. Icha sementara di titipkan oleh Mbak Nur yang akan menjemputnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke Dokter kami saling diam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing, entah apa yang di pikirkan Kenny.


"Ken, sebenarnya ... aku juga sudah telat datang bulan!" ucapku membuka pembicaraan.


"Mungkin saja kau beneran hamil Din, aku akan punya anak lagi!" sahut Kenny.


"Tapi Ken, Baby Al masih terlalu kecil untuk punya adik!" sergahku.


"Tidak apa-apa, itu berati aku pejantan tangguh kan?!" ujar Kenny terkekeh.


Aku diam mendengar tertawanya, Kenny nampak enjoy menerima kenyataan Kalau aku beneran hamil.


Dalam hati aku juga bahagia, akhirnya aku bisa mengandung anak Kenny, benih Kenny.


Selama ini hanya menjadi impian, ingin memiliki anak dari Kenny.


Tak lama kemudian kami sudah sampai di Dokter ahli Kandungan.


Karena siang itu tidak banyak pasien, kami tidak mengantri, kami langsung masuk ke dalam ruangan praktek Dokter.


Aku langsung berbaring di ranjang pasien, Dokter langsung memeriksa perutku yang masih rata itu dengan sebuah alat yang di sebut USG.


"Wah, selamat Pak, istri anda positif hamil, tapi jaraknya dekat sekali dengan kakaknya!" ujar Dokter sambil melirik ke arah Baby Al yang ada dalam gendongan Kenny.


"Dia dari ibu yang lain Dok!" sahut Kenny.


Dokter nampak bingung sambil mengerutkan keningnya.


"Usia kehamilan ini baru sekitar 7 Minggu, harap di jaga kandungannya ya, karena ini masih rentan, baru trimester pertama!" jelas Dokter.


"Iya Dok!" sahutku singkat.


"Saya akan memberikan resep vitamin dan penguat janin, pelan-pelan jika berhubungan suami istri, karena ini masih kecil sekali!" kata Dokter memperingatkan.


Aku menunduk malu, kenapa juga Dokter harus membahas itu. Kalau Kenny lagi ingin, mana bisa aku menolaknya.


"Tapi tidak masalah kan kalau kami sering melakukannya?" tanya Kenny.


Aku malu sendiri mendengar pertanyaan Kenny. Konyol sekali. Bahkan Dokter pun sampai menggelengkan kepalanya.


Sepanjang perjalanan pulang Kenny tidak berhenti menggenggam tanganku, kelihatannya dia senang mendengar kehamilanku.

__ADS_1


Akupun merasa sangat bahagia, bahagia karena aku hamil dengan orang yang selama ini aku cintai.


Sebentar lagi aku akan memiliki anak dari Kenny, anak yang selama ini hanya ada dalam bayanganku saja.


Kini mimpi itu seolah nyata, Kenny sendiri yang mewujudkan mimpi-mimpiku itu.


"Kenapa kau diam Din?" tanya Kenny tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


"Ah tidak Ken, aku hanya bingung, bagaimana aku bisa mengurus dua bayi sekaligus!" sahutku.


"Kau tak usah bingung Din, nanti akan ku carikan baby sitter untuk membantumu!" kata Kenny.


"Eh, jangan Ken, aku mau mengurus anak-anak sendiri, apa jadinya kalau mereka lebih dekat dengan baby sitter nya dari pada aku?" tanyaku.


"Ya sudah, nanti aku akan membantumu mengurus anak-anak!" ucap Kenny.


"Trima kasih ya Ken!" ujarku.


"Trimakasih untuk apa?" tanya Kenny.


"Atas kesempatan yang kau berikan padaku, sehingga aku menjadi wanita yang sempurna!" ucapku.


Kenny tersenyum padaku, dia tidak menjawab pernyataan yang barusan tadi terucap dari mulutku.


Sebelum kami sampai di rumah kami mampir ke sebuah restoran, karena dari pagi perutku tidak bisa di isi makanan.


"Kau pilihlah menu yang kau suka Din, kau harus banyak makan, supaya ibu dan bayinya sehat!" ucap Kenny sambil menyodorkan sebuah buku menu.


Aku membaca buku menu, banyak sekali makanan yang lezat dan menggugah selera, namun apakah aku mampu untuk memakannya? Sedangkan dari tadi aku sangat mual mencium sesuatu.


"Aku masih mual Ken, aku aku mau jus mangga saja!" kataku.


"Tidak boleh, kau harus makan sesuatu dulu baru minum jus mangga!" sergah Kenny.


"Tapi aku mual Ken, mencium aroma makanan membuatku ingin muntah!" kilahku.


"Tidak apa-apa kau muntah, tapi kau harus tetap makan!" ujar Kenny.


"Oke, aku mau makan bakso!" sahutku.


"Bakso? Baiklah, kalau kau hanya bisa makan itu, kau pilihlah menu bakso, aku akan ikut dengan pilihanmu!" sahut Kenny.


Akhirnya aku memesan dua porsi bakso dan dua gelas jus mangga.

__ADS_1


Ternyata aku sanggup menghabiskan satu mangkok bakso dan satu gelas jus mangga.


"Kau lapar Din?" tanya Kenny sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hehe iya Ken, aku lapar juga, kalau menu yang ini aku tidak terlalu mual!" sahutku.


"Nanti kalau sudah selesai, kita ke supermarket ya, beli susu hamil, supaya bayinya sehat!" ucap Kenny.


Tiba-tiba hatiku menghangat. Kenny ternyata perhatian juga padaku dan bayiku.


Setelah kami selesai makan, Kenny mengajakku mampir ke sebuah supermarket yang cukup besar.


Dia langsung berjalan menuju ke gerai susu, aku menunjukan padaku beraneka macam susu hamil dengan varian rasa yang berbeda.


"Coba pilih Din, kau suka rasa apa? Ada yang anti mual juga lho!" kata Kenny.


Aku lalu memilih beberapa varian rasa. Kenny langsung membelinya dalam jumlah banyak.


Setelah membayar semuanya. Kami langsung beranjak pulang kerumah, pasti Icha dan yang lainnya sudah menunggu kedatangan kami.


Setelah sampai di rumah, aku yang begitu merasa lelah langsung merebahkan tubuhku di tempat tidurku.


Kenny masih di bawah, nampaknya dia sedang mengobrol dengan Ayah.


Aku tidur dengan menghadap kesamping, saat tak sengaja tanganku merogoh bawah bantal Kenny.


Aku merasa tanganku menyentuh sesuatu, setelah ku raba dan ku genggam, ternyata itu adalah sebuah bingkai foto kecil, foto Felly.


Mendadak dadaku sesak, Kenny diam-diam masih menyimpan kerinduan yang mendalam pada Felly.


Mungkin saat aku tidur, Kenny dengan diam-diam memandang foto Felly.


Tidak, aku tidak mau berpikir negatif, wajar Kenny merindukan mantan istrinya, kenapa aku harus cemburu lagi, Kenny juga tidak pernah sedikitpun menyakiti hatiku, dia selalu memperlakukan aku dengan sangat baik.


Di belakang bingkai foto itu ternyata ada sesuatu yang terjatuh, sebuah kertas Kecil jatuh di kasur, aku pungut kertas itu lalu aku membacanya perlahan, Kenny menulis sesuatu di kertas itu.


'Felly sayang, maafkan aku kalau sampai saat ini aku belum bisa untuk melupakanmu, aku sudah berusaha dengan berbagai cara, namun bayanganmu seolah tak pernah bisa hilang dari ingatanku, saat ini walaupun aku sudah menikahi Dini, namun dalam hatiku hanya namamu yang tersimpan, walaupun aku sudah begitu keras berusaha belajar mencintai Dini ...


Sayang, aku sangat merindukanmu, entah bagaimana aku harus menjalani setiap hariku tanpa ada kau di sisiku,


Dini baik, dia sangat mencintaiku, bahkan seluruh hidupnya dia persembahkan padaku, semua yang ada padanya, bahkan keperawanannya, aku sangat terharu, namun ... aku tidak bisa mencintai dia sebesar dia mencintaiku ...


Air mataku langsung berjatuhan saat aku membaca kertas itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2