Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Pulang Ke Rumah Orang Tua


__ADS_3

Sore ini ku kemas beberapa barangku, aku berniat ke rumah orang tuaku, untuk menenangkan pikiranku sejenak.


Kenny sedang ada acara reuni di teman-teman kuliahnya dulu di sebuah restoran.


Dia pergi sendiri tanpa mengajakku. Aku maklum sikapnya, dia belum siap memperkenalkan aku sebagai istrinya.


Dia mengatakan semua teman-temannya datang sendiri, makanya dia tidak mengajakku.


Aku tidak ikut Kenny ke sekolah lagi sejak aku melihat Kenny mengajak Mona rapat tanpa mengajak guru yang lain.


Aku tidak mau hatiku tambah sedih. Aku juga tidak menanyakan lagi masalah Mona, biarlah sementara ku simpan sendiri perasaan ini.


"Aku mau main ke rumah Bapak dan Ibu, kangen karena sudah lama tidak bertemu!" pamitku pada Ayah.


"Kau tidak sedang ada masalah sama Kenny kan?" tanya Ayah.


"Tidak Ayah, aku hanya kangen sama Bapak dan Ibu, mungkin aku juga akan menginap di sana!" jawabku.


"Baiklah, apakah kau sudah pamit dengan suamimu?" tanya Ayah lagi.


Aku terdiam, aku memang tidak bilang pada Kenny kalau aku mau ke rumah orang tuaku, sengaja memang, kalau aku bilang dia pasti tidak akan mengijinkan ku, apalagi aku pergi seorang diri.


"Kenny sedang reuni Ayah, nanti aku coba hubungi dia di ponselnya!" sahutku.


"Biar Ayah antar Nak!" kata Ayah.


"Jangan Ayah, aku sedang memesan taksi online, aku naik taksi saja!" ujarku.


"Baiklah kalau begitu, kau hati-hati Din!" ujar Ayah akhirnya.


Aku menoleh ke arah baby Al yang kini ada dalam gendongan Mbok Sumi.


"Ibu pamit dulu ya nak, dedek jangan nakal kalau tidak ada ibu ya!" ucapku sambil mencium pipi baby Al.


Tiba-tiba ada perasaan sedih yang menggelayutiku.


Tegakah aku meninggalkan anak-anak Kenny? Tapi aku tidak mungkin kembali, taksi yang ku pesan bahkan sudah menunggu di depan gerbang.


Aku lalu melangkahkan kakiku ke pintu gerbang rumah.


"Ibu Dini!" panggil Icha yang tiba-tiba berdiri di belakangku, aku menoleh.


"Iya Cha, Ibu pergi sebentar Cha, ke rumah orang tua Ibu!" ujarku.


"Kenapa Ibu tidak mengajak Papi?" tanya Icha.


"Papi sedang sibuk di luar Cha, lagi pula ibu juga tidak akan lama kok!" ujar ku.


"Bi Dini janji ya cepat kembali!" kata Icha.

__ADS_1


Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.


Aku langsung naik ke dalam taksi yang telah menungguku.


****


Ibu terkejut saat melihatku pulang ke rumah naik taksi. Dia langsung menggandengku masuk ke dalam rumah.


"Lho, kok sendirian Din?" tanya Ibu.


"Kenny sedang ada urusan Bu, aku sendiri saja, aku sudah kangen sama Ibu dan Bapak!" sahutku sambil memeluk ibu.


"Kamu tidak sedang ada masalah kan Din sama Kenny?" bisik Ibu.


Aku menggelengkan kepalaku. Tapi entah kenapa air mataku langsung berjatuhan, sepertinya ibu tau keadaan hatiku, insting seorang ibu tidak pernah salah.


"Kamu ada apa Nak?" Ibu membimbingku duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Entahlah Bu, Aku tidak ada masalah apa-apa dengan Kenny, Kenny itu baik, bahkan sangat baik, sedikitpun dia tidak pernah memperlakukan aku dengan buruk!" ucapku.


"Kalau begitu mengapa kamu menangis? Atau jangan-jangan kamu pergi kesini tidak bilang Kenny ya? Istri itu wajib pamit sama suami walau pergi ke rumah orangtuanya!" ucap Ibu.


"Maafkan aku Bu, untuk saat ini aku butuh sendiri dulu untuk menenangkan pikiranku, aku sendiri tidak tau ada apa dengan perasaan hatiku!" ungkap ku.


"Hmm, ya sudah kamu istirahat sana di kamarmu! Ibu mau masak dulu sebentar!" kata Ibu.


Aku menghempaskan tubuhku di tempat tidurku, sudah lama aku tidak tidur di ranjang ini, sejak menikah dengan Kenny.


Aku membalikan tubuhku ke kiri dan ke kanan, namun mataku sulit terpejam, bayangan Kenny seolah mengikuti kemanapun aku pergi.


Saat menjelang sore, aku makan bersama dengan bapak dan Ibu di meja makan.


"Din, setelah ini bapak antar kamu pulang ya!" kata Bapak.


"Tidak usah Pak, aku mau menginap di sini!" sergahku.


"Apa suamimu mengijinkan mu?" tanya Bapak lagi.


Aku diam tidak memberikan jawaban apapun jangankan mengijinkan, aku bilang saja belum kalau aku ke rumah bapak dan ibu.


Ting Tong ...


Suara bel rumah berbunyi. Ibu segera beranjak ke arah pintu dan membukakannya.


Tak lama Ibu sudah kembali dengan, Kenny.


"Eh Kenny, baru saja bapak mau mengantar Dini pulang, kau sudah datang, ayo mari makan Nak, hari ini ibu masak banyak!"


Aku tertegun melihat kedatangan Kenny, kenapa dia menyusulku? Saat ini dia duduk di sebelahku, ibuku dengan antusias mengambilkan makanan untuknya.

__ADS_1


"Ayo makan yang banyak Ken, sekarang ibu lihat kau bertambah gemuk!" kata ibu.


"Iya Bu, trimakasih!" ucap Kenny.


Kami pun makan bersama dan tidak banyak bicara, setelah selesai makan, Kenny mengobrol dengan bapak, tidak ada tanda-tanda dia akan mengajakku pulang ke rumah.


Aku jalan mendekati mereka sambil menyodorkan dua gelas teh hangat untuk Kenny dan Bapak.


Hingga hari menjelang malam, aku beranikan diri bertanya pada Kenny.


"Kau mau menjemputku pulang Ken?" tanyaku.


"Tidak, aku mau menginap di rumah mertuaku!" kata Kenny.


Aku tertegun, Kenny mau menginap di sini?


"Bapak senang kalian menginap di sini, rumah ini kan jadi ramai!" timpal Bapak.


Akhirnya malam ini Kenny tidur di kamarku.


Dia tidak banyak bicara, aku sangat ingin bicara namun aku menahannya.


Kenny nampak lelah berbaring di tempat tidurku.


Aku lalu mendekatinya, sambil memberikan selimut padanya.


"Maafkan aku Ken!" ucapku, karena aku juga tidak tau mau bicara apa.


"Kenapa kau harus minta maaf?" tanya Kenny.


"Aku pergi tanpa seijinmu!" ucapku.


"Din, maafkan aku, aku yang salah, membuat perasaanmu galau dan resah!" ucap Kenny tiba-tiba.


"Aku yang salah, aku tak berhak mengatur mu, mengekangmu ataupun melarang setiap apa yang kau lakukan!" ujarku dengan mata yang mulai menggenang air mata.


Tiba-tiba Kenny memelukku dengan sangat erat.


"Kau bebas mengekangku,melarang ataupun mengatur setiap kehidupanku, karena kau adalah istriku, kalau kau tidak suka aku jalan dengan Mona, kau larang saja aku, kalau kau tidak suka aku tidak mengajak guru yang lain, kau tegur saja aku, kau berhak Din, karena kau adalah istriku!" ucap Kenny dengan suara bergetar.


Aku menenggelamkan wajahku di dada bidang Kenny.


"Kenny, maafkan aku, aku takut kau tidak pernah bisa untuk mencintaiku, aku takut akan kehilangan cintamu, walaupun tubuh mu bersamaku!" ucapku.


Kenny diam tanpa banyak bicara lagi, namun tangannya membuka seluruh pakaianku, dan dia mulai menciumiku dengan lembut seluruh tubuhku.


"Tidak mungkin aku melakukan ini kalau di dalam hatiku tidak ada cinta untukmu!" ucap Kenny sambil terus menciumi tubuhku hingga aku meremang seketika.


*****

__ADS_1


__ADS_2