Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Kedatangan Kenny


__ADS_3

Aku mendengar kabar dari Mbak Nur, kalau baby Aldio sudah pulang dari rumah sakit, hatiku sedikit lega, paling tidak bayi mungil itu tidak lagi merasakan jarum infus, meskipun hatiku sangat ingin ke sana untuk sekedar melihat atau memeluknya.


Tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan sementara, aku tidak boleh terburu-buru, pikiranku harus jernih dalam mengambil suatu langkah.


"Miss Dini!" terdengar suara Bu Ira yang memanggilku dari luar kamar.


Aku kemudian langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu kamar itu, Bu Ira nampak sudah berdiri di depan kamar sambil menatapku, kemudian dia menyodorkan sejumlah uang padaku.


"Miss Dini apa-apaan sih! Memangnya Miss Dini pikir rumahku ini Hotel, sehingga Miss Dini harus membayarnya padaku? Apa yang aku lakukan pada Miss Dini itu ikhlas tidak usah dibayar seperti ini!" seru Bu Ira sambil meletakkan uang yang ada di genggaman tangannya ke telapak tanganku.


"Bu Ira, aku sudah banyak merepotkan Bu Ira, dari mulai makan, tinggal, bahkan pakaian, Bu Ira sudah banyak membantu aku, bukan berarti semuanya dinilai dengan uang, tapi aku hanya tidak ingin berhutang saja pada Bu Ira!" jelasku.


"Siapa bilang miss Dini berhutang padaku? Kalau aku dalam posisi kesulitan, Miss Dini juga pasti akan melakukan hal yang sama kan, sudah, aku tidak mau terima uang ini, pokoknya Miss Dini simpan saja untuk keperluan Miss dini!" ujar Bu Ira yang kemudian langsung pergi meninggalkan aku.


Aku tidak dapat menyanggah lagi, aku paksa pun Bu Ira pasti tidak akan mau, Padahal uang ini adalah uang pemberian Leo, karena aku tidak jadi mengambil Tasku yang rencananya aku mau minta tolong Mbak Nur untuk mengambilnya, itu terlalu beresiko kata Leo.


Dalam waktu dekat ini aku berencana akan menyudahi semuanya, aku sudah lelah terus-menerus bersembunyi dalam ketidakpastian.


Mungkin berpisah adalah jalan yang terbaik untuk aku dan Kenny, Siapa tahu melalui kami menjadi teman seperti dulu, maka hubungan kami akan lebih baik, tidak lagi dipenuhi oleh perasaan-perasaan yang malah membuat ada jarak diantara kami.


Meskipun aku tidak berhasil menggapai hatinya, tapi paling tidak aku pernah merasakan menjadi istri seorang Kenny, dan aku sangat bahagia karena itu, apalagi sekarang di dalam perutku ini ada bayi mungil kenang-kenangan dari Kenny, yang akan menjadi hartaku yang paling mahal.


Aku tidak masalah membesarkan anak ini sendirian, meskipun jujur aku sangat tidak tega jikalau bayi ini tumbuh tanpa ada seorang ayah di sampingnya, aku berharap cinta dan kasih sayangku cukup untuk kebutuhan calon anakku ini.


Tin ... Tin ... Tin


Terdengar suara klakson mobil dari depan rumah Bu Ira, Aku tidak berani untuk membukakan pintu, tak lama kemudian Bu Ira keluar dari kamarnya dan langsung bergegas membukakan pintu, ternyata itu adalah mobilnya Leo, untuk apa sore-sore begini dia datang ke sini?


Leo nampak buru-buru masuk ke dalam ruang tamu, lalu duduk di sana, kemudian Bu Ira langsung menutup pintu rumahnya lagi dan aku pun juga melangkah ke arah ruang tamu dan duduk di sana.


"Leo, Ada apa kamu datang lagi ke sini? Bukankah kemarin itu kita baru saja ketemu?" Tanyaku.


"Din, Sepertinya kamu harus mencari tempat lain untuk bersembunyi!" jawab Leo.


Aku dan Bu Ira saling berpandangan, kami tidak mengerti apa maksud dari perkataan Leo itu, sepertinya Bu Ira juga terlihat bingung.


"Lho, Memangnya ada masalah apa Pak Leo? selama ini kan Miss Dini aman-aman saja di sini!" tanya Bu Ira.


"Pada saat aku lewat, ada dua orang polisi yang sedang mengamat-amati rumah ini, sepertinya mereka mulai mencurigai sesuatu, tapi terserah sih kalau Dini memang ingin memunculkan diri dan tidak lagi bersembunyi!" jawab Leo.


"Aku memang ingin keluar dari tempat persembunyianku, dan aku sudah mengambil satu keputusan, aku akan bercerai dengan Kenny!" ucapku.


"Kamu yakin Din? Aku tahu lho dari dulu kamu itu sangat mencintai Kenny, bukan cuman aku yang tahu, bahkan banyak orang tahu bagaimana perasaanmu terhadap Kenny, apa kamu rela melepaskan dia begitu saja?" tanya Leo.


"Perasaan cinta itu tidak menjamin kebahagiaan, lagi pula cinta itu bisa diaplikasikan dalam bentuk lain, hubungan pertemanan misalnya!" jawabku gamang.


"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku dan Pak Leo juga tidak bisa berbuat apa-apa miss, semoga saja Miss Dini dapat jalan yang terbaik!" kata Bu Ira.


"Jadi kapan rencananya kamu akan keluar dari sini Din?" tanya Leo.


Aku terdiam mendengar pertanyaan dari Leo, tapi aku memang tidak bisa mengulur waktu lagi, toh sebentar atau lama tidak ada bedanya, keputusanku sudah bulat, aku memang harus berpisah dengan Kenny.


"Mungkin ini adalah malam terakhir Aku bermalam di sini, Besok aku akan pergi ke rumah Kenny, aku sudah siap!" jawabku mantap.


"Tapi kalau kamu butuh sesuatu, butuh teman bicara atau apapun itu, kamu boleh hubungin aku Din!" ucap Leo.


"Iya Miss dini, kalau ada unek-unek jangan dipendam sendiri, aku juga mau dan senang hati kok mendengarkan curahan hatimu!" Timpal Bu Ira.

__ADS_1


"Terima kasih Leo, Bu Ira, di saat-saat seperti ini kalian adalah teman-teman terbaikku, sekali lagi aku berhutang banyak pada kalian!" ucapku terharu.


Braaakkkk!!


Tiba-tiba pintu rumah Bu Ira dibuka dengan kasar dari arah luar, aku, Leo dan Bu Ira terperanjat kaget apalagi melihat siapa orang yang datang.


Ternyata Kenny yang datang ke rumah Bu Ira, aku sangat terkejut luar biasa, kulihat Leo dan Bu Ira tak kalah kagetnya, kami semua tidak menyangka kalau Kenny akan datang tiba-tiba ke rumah Bu Ira.


Tapi dari mana Kenny tahu kalau aku berada di rumah Bu Ira? Apa mungkin kata-kata Leo barusan tadi, bahwa ada dua orang polisi yang mengamati rumah Bu Ira dan keberadaanku di sini sudah tercium oleh mereka.


Kenny nampak berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya, matanya terlihat merah seperti menahan amarah, nafasnya turun naik dengan cepat seperti sedang mengontrol emosinya.


Buuuugghhh!!


Secara tiba-tiba Kenny memukul wajah Leo dengan sekuat tenaga, aku dan Bu Ira berteriak kaget, Leo yang posisinya sedang berdiri pun jatuh tersungkur dengan hidung dan mulut yang mulai mengeluarkan darah karena pukulan Kenny yang terlihat cukup keras itu.


"Kurang ajar kau Leo! Katanya kau sahabatku tapi kau menyembunyikan keberadaan istriku sekian lama! aku tahu modusmu! kau menginginkan istriku kan!!" sengit Kenny yang kemudian langsung menarik kerah baju Leo dan memaksanya untuk berdiri.


Tanpa bicara lagi Kenny kembali memukul wajah Leo, hingga Leo kembali jatuh terhuyung, kini wajahnya nampak babak belur.


"Kenny cukup! kau tidak boleh melakukan kekerasan di rumah ini!!" seru ku mencoba untuk melerai mereka.


"Diam kamu Dini! kamu tidak mau menemui aku, tapi kamu malah menemui laki-laki lain yang bukan suamimu! Di mana harga dirimu!" sentak Kenny yang menatapku dengan penuh amarah.


Aku mundur beberapa langkah, tidak berani membalas tatapan mata Kenny yang saat ini terlihat seperti tatapan mata iblis.


"Kau jangan salahkan Dini ken! kau juga jangan salah sangka terhadap Apa yang kau lihat sekarang!" ujar Leo yang terlihat menyeka darah yang mengalir dari hidungnya itu dengan ujung bajunya.


"Diam Kau Pecundang! Aku ke sini mau menjemput istriku pulang! Dini, Ayo pulang bersamaku!" seru Kenny sambil melangkah maju dan mencoba menarik tanganku.


Aku reflek langsung menepiskan tangan Kenny, tidak mau dipaksa pulang seperti anak kecil seperti ini, karena saat ini emosi Kenny sedang tidak stabil.


"Oh, jadi kamu berani melawan sekarang! jadi kamu lebih membela si Leo binatang itu daripada suamimu sendiri!?" tanya Kenny dengan menatap tajam ke arahku.


"Maaf Mister Kenny, Aku mohon jangan membuat keributan di rumahku! kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin, lagi pula Miss Dini tidak seperti apa yang dituduhkan Mister Kenny!" ujar Bu Ira mencoba untuk mendamaikan suasana.


"Bu Ira, aku juga tidak menyangka kalau kau bisa bersekongkol dengan mereka, Kenapa kau tidak beritahukan aku soal keberadaan istriku di sini? kau sama jahatnya dengan si Leo itu!" tuding Kenny.


"Maafkan saya mister, tapi saya juga berhak menjaga privasi Miss Dini, Karena pada saat itu dia memang membutuhkan tempat untuk menenangkan diri!" jawab Bu Ira.


"Ken! kau sedang emosi! lebih baik Tenangkan dirimu, kuasailah pikiranmu, sehingga semua masalah ini bisa cepat selesai!" sambung Leo yang kini duduk di sofa sambil mengelus-ngelus pipinya yang kini memar.


Kenny tidak menjawab, dia diam beberapa saat lamanya, Aku masih berdiri di hadapannya sambil menundukkan wajahku, aku sangat tidak berani menatap wajahnya, aku takut, aku lebih baik diam daripada salah bicara.


"Dini, Ayo kita pulang!" ajak Kenny yang suaranya kini mulai melembut.


"Ken, Beri aku waktu, aku tidak bisa ikut pulang bersamamu sekarang!" sahutku.


"Tapi kenapa? Kamu masih istriku kan?" tanya Kenny.


"Besok aku akan pulang sendiri ke rumah, tanpa harus bersama denganmu malam ini, aku janji!" jawabku.


"Tidak! aku sudah Menemukanmu hari ini, masa aku pulang dengan tangan hampa, pokoknya kamu harus ikut pulang bersamaku sekarang juga!" bantah Kenny.


"Tapi ...."


"Miss dini, mungkin apa yang dikatakan Mister Kenny benar, sekarang kalian sudah bertemu, lebih baik kalian ambil waktu untuk bicara dari hati ke hati!"ucap Bu Ira.

__ADS_1


"Bicaralah dengan Kenny Din, kau harus jujur dengan perasaanmu sendiri, aku yakin kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, sepertinya aku memang harus pergi, karena tugasku sudah selesai" lanjut Leo yang kemudian berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah Bu Ira, hanya terdengar suara Deru mesin mobilnya yang terdengar semakin lama semakin menghilang.


Aku masih diam terpaku, saat ini aku merasa begitu bodoh, tidak bisa berbuat apa-apa, Bu Ira juga kelihatannya begitu canggung menghadapi aku dan Kenny.


Aku jadi merasa tidak enak pada Bu Ira, dia sudah berkorban banyak, Bahkan dia sudah memberikan aku tumpangan selama aku pergi, Aku tidak ingin menyusahkannya lagi dengan kejadian hari ini.


"Baiklah Ken, aku ikut bersamamu, tapi aku tidak mau langsung pulang ke rumah, aku belum siap menghadapi Ayah juga anak-anak, bawa aku ke suatu tempat!" ucapku akhirnya.


"Oke, itu tidak masalah! Yang penting kamu ikut pulang bersamaku!" sahut Kenny yang kemudian langsung menarik tanganku dan melangkah keluar dari rumah Bu Ira.


Aku menurut saja, tidak enak juga kalau aku terus-terusan menepiskan tangan Kenny, apalagi ada Bu Ira yang melihat kami.


"Bu Ira Maafkan aku! aku pamit ya! terima kasih atas semuanya!" seru ku sebelum masuk ke dalam mobil Kenny.


Bu Ira nampak menganggukkan kepalanya sambil menatapku dengan tatapan prihatin.


Sementara Kenny wajahnya masih tak bergeming, tatapannya dingin, dan dia terlihat lebih menyeramkan daripada Kenny yang aku kenal sebelumnya.


Sepanjang perjalanan itu, aku tidak bicara apapun, aku hanya diam, Kenny juga nampak diam, hanya terdengar hembusan nafasnya naik turun.


"Kita mau ke mana?" tanya Kenny yang tatapannya masih lurus menatap jalanan.


"Ke mana saja asal jangan ke rumah!" jawabku.


"Oke!" sahut Kenny singkat.


Kenny pun terus melajukan mobilnya, hingga akhirnya dia berhenti di sebuah restoran berbintang, aku tidak mengerti mengapa Kenny mengajakku ke restoran, Memangnya dia pikir aku belum makan.


Kenny kemudian memarkirkan mobilnya di depan restoran itu, kemudian dia mulai keluar dari mobilnya, lalu dia membukakan pintu untukku tanpa bicara apapun, aku segera keluar dari mobil Kenny.


Tanpa bicara Kenny kemudian berjalan mendahului aku masuk ke dalam restoran itu, dan aku mengikutinya dari belakang.


Ekspresi Kenny masih terlihat dingin, entah apa yang ada di benak laki-laki itu, tiba-tiba aku diliputi perasaan takut, entah mengapa aku begitu takut.


Selama kenal dengan Kenny, Ini adalah kesalahanku yang paling besar pergi meninggalkan rumah tanpa seizin suami, ya, Aku mengakui itu, tapi apakah Kenny akan semarah itu padaku? apakah Dia tidak tahu penyebab kenapa aku bisa pergi dari rumah?


Kenny kemuliaan memilih duduk di sudut restoran itu yang letaknya agak tersembunyi, tanpa bertanya lagi padaku dia memesan beberapa menu makanan dan minuman pada seorang pelayan.


"Kenny, aku minta maaf aku memang salah telah pergi dari rumah, tapi asal kau tahu alasannya kenapa aku bisa pergi dari rumah itu" kataku mencoba memulai pembicaraan.


"Oh ya? kamu pikir setelah kamu pergi meninggalkan rumah semuanya akan baik-baik saja?" tanya Kenny sambil menatapku.


Aku menundukkan wajahku, tidak berani menatap wajah Kenny yang sepertinya sedang menghakimiku malam ini.


"Ken, mumpung kita hanya berdua di sini, sekalian aku ingin mengutarakan sesuatu padamu!" ucapku.


"Katakanlah sekarang!" sahut Kenny.


"Mungkin pernikahan kita adalah satu kesalahan, meskipun kedua orang tua kita sangat menginginkan pernikahan ini, tapi pada hakekatnya pernikahan itu adalah dua Hati yang saling menyatu dalam cinta!" ungkapku berusaha merangkai kata-kata.


"Jangan bertele-tele, katakanlah apa maksudmu!" cetus Kenny, dia masih memperlihatkan sikap cueknya.


"Ken, sepertinya pernikahan kita tidak bisa dilanjutkan lagi, aku menyadari bahwa cinta kita belumlah kuat untuk menjalani bahtera rumah tangga, tapi kamu jangan khawatir, aku pasti akan terus menyayangi Icha dan juga baby Aldio, juga bayi yang ada di dalam sini!" ucapku sambil mengelus perutku yang masih terlihat rata itu.


Tiba-tiba Kenny melotot, dia menatapku dengan tatapan yang amat dalam, sampai menusuk dan menembus relung hatiku yang terdalam.


Aku tidak kuat melihat tatapan itu, sepertinya aku akan dimakan hidup-hidup, apakah dia akan marah dengan perkataanku tadi?

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2