
Di sini, di makam ini, aku dan Kenny terpekur menatap taburan bunga yang harumnya begitu semerbak.
Tanganku meraba nisan bertuliskan nama Felly, nama yang pernah menjadi bagian dalam hidup kami.
"Aku sudah memenuhi permintaan terakhirmu Mbak Felly, untuk menjaga Kenny dan Icha, kau tidak perlu khawatir lagi, kau boleh tenang di sana!" ucapku.
Ada butiran bening yang menetes di pipiku.
Kenny juga nampak meraba gundukan rumput yang bertabur bunga itu, matanya menatap penuh kedamaian.
"Fell, sesuai amanatmu, aku akan melanjutkan hidupku bersama dengan Dini dan anak-anak, kau tenanglah di sana, kau jangan cemas, aku bahagia, bahkan sangat bahagia!" lirih Kenny.
Lalu dia merengkuh kepalaku dalam dadanya, ya, kami memang memutuskan untuk melanjutkan hidup dan kebahagiaan kami bersama selamanya, aku, Kenny dan anak-anak.
Entah aku akan mendapat berapa anak lagi dari Kenny, tapi yang pasti, saat ini hatiku sangat bahagia.
Tiba-tiba ada sesuatu yang basah di pangkal pahaku, aku spontan berdiri. aliran itu semakin deras dan aku menjadi panik.
"Ken! Apa ini?" tanya ku panik.
"Wah, kau pipis Din? Atau kau mau melahirkan?" tanya Kenny balik dengan cemas.
"Siapa tau ini air ketuban Ken, karena ini memang mendekati hari di mana aku akan melahirkan!" jawabku.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Kenny langsung mengangkat aku ke dalam gendongannya.
Dengan cepat Kenny melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Perlahan ada rasa mulas dan sakit di area perutku, durasinya semakin lama semakin cepat.
"Ken! Perutku sakit, sepertinya tidak lama lagi aku akan melahirkan!" rintihku.
"Sabar Din, sebentar lagi kita sampai rumah sakit, anak Papi sabar ya ...!" Kenny mengelus-elus perutku untuk membuatku nyaman.
Lama kelamaan sakit ini semakin menjadi-jadi, bahkan kini mulai menjalar di punggungku.
Wajah Kenny nampak cemas, saat dia sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, dia langsung menggendongku menuju ke ruang Dokter.
Dokter kemudian segera memeriksaku, tanganku mulai di infus karena aku begitu kehabisan tenaga.
"Jangan tinggalkan aku Ken!" lirihku sambil memegangi tangan Kenny.
"Tidak akan sayang, sedetikpun aku tidak akan meninggalkanmu!" ucap Kenny sambil mengecup jemariku.
"Wah, ini sudah pembukaan empat Pak, harap sabar menunggu, kalau belum maju lagi nanti baru akan di lakukan induksi!" jelas Dokter.
Di dalam kesakitanku, ada kebahagiaan yang tersimpan di sudut hatiku.
Kenny ku, laki-laki yang sangat aku cintai dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Kini ada di sampingku, begitu dekat dan bahkan aku akan melahirkan anaknya.
__ADS_1
Semuanya itu bukan lagi menjadi impian, cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini bersambut dengan indah.
"Ken ..."
"Ya sayang ..."
"I Love you ..." ucapku lirih.
Kenny mencium bibirku, aku begitu menghangat dan bahagia, padahal perutku sangat sakit.
"I Love you too Sayang!" balas Kenny.
Sekarang aku yakin dan percaya ucapan itu tulus keluar dari dalam hatinya.
"Sakit Ken!" rintihku lagi.
Kenny mengusap dan menciumi perutku.
"Jangan buat ibu sakit Dek, Papi sangat mencintai ibumu, cepatlah keluar!" bisik Kenny sambil terus menciumi perutku.
Dokter kembali datang untuk memeriksaku.
"Wah sudah pembukaan tujuh, sepertinya tidak perlu di lakukan induksi, sebentar lagi juga akan lahir!" kata Dokter.
Aku seperti memiliki kekuatan, cinta Kenny yang membuat aku kuat menahan rasa sakit di perutku.
"Iya Ken ... Sakit sekali!" Kenny mencium keningku dan mengusap dahi ku dengan tissue.
Tak lama kemudian Bapak dan Ibuku datang ke rumah sakit.
Mungkin Kenny sudah menelepon mereka sebelumnya.
Hampir seharian ini aku bergelut dengan rasa sakit, hingga matahari sudah gelap, aku hampir kehilangan seluruh tenagaku.
Kenny masih tetap ada di sampingku.
"Sayang, teruslah berjuang, lahirkanlah anak untukku, ingat Din, bukankah kau sangat menginginkan anak dariku? Berjuanglah!" bisik Kenny.
"Dini, semua wanita akan mengalami kasa sakit melahirkan, saat kau melihat wajah bayimu nanti, pasti kau akan lupa rasa sakitnya!" hibur Ibu.
Dokter sudah ada di bawah kakiku, dia sudah bersiap membantuku melahirkan bayiku.
"Tarik nafas Bu ... pelan-pelan, itu kepalanya sudah terlihat!" kata Dokter.
Aku berusaha dengan sisa-sisa tenagaku aku mengejan sekuat tenaga.
Oweeek! Oweeek!
Akhirnya lahir juga bayiku dengan selamat, aku terkulai lemah.
__ADS_1
"Selamat ya Bu, Pak, bayinya perempuan, sangat cantik!" sayup-sayup ku dengar suara Dokter.
Bayi mungil itu Kini ada di dadaku. Aku mendekapnya dengan erat dan hangat. Kenny juga memeluk kami dengan hangat. Aku sangat bahagia.
****
Hari ini hari ulang tahun Aldio, bersamaan dengan kepulangan aku dan bayiku dari rumah sakit.
Candy Wijaya adalah nama yang di berikan Kenny untuk putri kecil kami.
Aku senang dengan nama itu, Candy membuat hidup kami terus manis dan indah.
Semua guru-guru sudah berkumpul di rumah kami, orang tuaku, ayah, anak-anakku yang lain yaitu Icha dan Aldio juga nampak begitu cantik dan genteng.
"Mr. Ken! Kau ingin punya berapa anak??" tanya Pak Budi.
"Tergantung istriku mau memberikan aku berapa anak!" sahut Kenny.
"Bagaimana Miss Dini? Kau mau melahirkan berapa kali lagi??" tanya Bu Ira.
"Ah kalian ini, bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang, tunggulah sampai baby Candy berulang tahun!" jawabku.
"Kakak Icha, kau akan memiliki banyak adik, bagaimana pendapatmu?" tanya Ayah.
"Bagus dong Kek! Aku jadi banyak punya teman bermain! Aku paling senior di sini, mereka semua harus menurut padaku!" celoteh Icha sambil mencoba menggendong Baby Candy.
"Bagus Cha! Nanti Icha bantu Papi menjaga adik-adik ya!" tambah Kenny.
Sejak hari itu, tidak ada lagi keraguan dan kesedihan dalam hidupku.
Kenny merubah segalanya, dia laki-laki yang baik, bahkan teramat sangat baik.
Dia adalah Papi dari anak-anakku, setiap hari aku merasa jatuh cinta untuk kesekian kalinya namun dengan orang yang sama.
Kenny telah membuatku berkali-kali jatuh cinta.
Kini aku adalah Nyonya Kenny Wijaya, seorang ibu rumah tangga yang tiap hari mengurus suami dan anak-anak.
Kenny terus mengelola sekolahnya yang kini semakin berkembang, hingga dia tidak perlu lagi datang ke sekolah setiap hari.
Aku juga keberatan Kenny ke sekolah setiap hari, bukan apa-apa, tapi Kenny seringkali menjadi pusat perhatian kaum wanita karena ketampanan wajahnya. Walau kini dia sudah menjadi seorang Ayah beranak tiga.
Aku dengar kabar, Leo kembali rujuk dengan istrinya, kini mereka tinggal jauh di luar kota, aku juga selalu mendoakan mereka untuk selalu mendapatkan kebahagiaan seperti aku dan Kenny.
Aku belajar banyak dari Kenny, jangan takut memberikan cinta yang besar buat seseorang, karena alam juga bisa merasakan getaran cinta itu, dan alam semesta akan membantu kita untuk mendapatkan cinta itu.
Tamat
****
__ADS_1