Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Menjaga Hati


__ADS_3

Aku lalu mengembalikan kertas yang Kenny tulis di belakang bingkai foto Felly, setelah itu aku langsung menaruhnya kembali di bawah bantal Kenny.


Aku menghapus kasar wajahku yang terus basah karena air mata yang mengalir.


Benar perasaanku, Kenny tidak mungkin begitu saja melupakan Felly, walau dia begitu manis padaku, sikapnya santun dan baik, namun di sudut hatinya yang terdalam, hanya ada nama Felly.


Sampai kapanpun aku tidak bisa menggantikan posisi Felly, aku kembali menjadi cemburu dengan orang yang telah meninggal.


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar yang di buka.


Aku buru-buru menarik selimut dan menutupi hampir seluruh tubuhku, bahkan wajahku.


Aku merasakan Kenny mulai berbaring di sampingku. Dia tidak berbicara dan menyentuhku, mungkin dia berpikir kalau aku sedang tidur.


Aku hanya tak ingin Kenny melihat bekas air mataku.


Tak berapa lama kemudian aku mendengar suara dengkuran halusnya, mungkin Kenny sudah tertidur, perlahan aku membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhku.


Benar dugaanku, Kenny sudah tertidur, wajahnya sangat manis dan tenang, aku langsung bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk mandi.


Aku mulai mandi dan membasuh wajahku, agak lama aku berada di dalam kamar mandi, sekedar untuk menenangkan pikiranku.


Saat aku keluar dari kamar mandi, Kenny sudah tidak ada lagi di tempat tidur, entah kemana dia pergi.


Aku mengangkat bantal Kenny, foto Felly sudah tidak ada lagi di sana, mungkin Kenny sudah menyimpannya entah di mana.


Setelah aku rapi berpakaian, lalu aku menggendong baby Al yang terlihat haus, aku lalu menggendongnya, kemudian aku segera turun ke bawah.


"Dedek Al haus ya Bu?" tanya Mbok Sumi.


"Iya kelihatannya Mbok, minta tolong buatkan susu ya Mbok, saya ajak dia Jalan dulu sebentar, supaya tidak menangis lagi!" ujarku yang langsung berjalan ke arah depan.


Di teras depan, Kenny nampak sedang berbicara dengan seseorang, setelah aku mengintip dari jendela, aku tau ternyata orang itu adalah Leo.


Leo sudah menikah dengan seseorang, seharusnya dia sudah bahagia.


Ku abaikan perasaanku yang baru saja cemburu karena ku tau hati Kenny belum sepenuhnya milikku.


Aku langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Hai Le, apa kabar?" tanyaku.

__ADS_1


"Baik Din, akhirnya kau bisa juga menikah dengan Kenny, aku turut berbahagia untuk kalian!" sahut Leo.


Dari pancaran mata Leo, aku merasa dia terus mencuri pandang ke arahku, beberapa kali dulu Leo pernah menyatakan perasaannya padaku, namun aku selalu menolaknya.


Bukan karena apa-apa, aku memang sudah cinta mati dengan Kenny, tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Kenny di dalam hatiku.


"Kenapa bayinya? Ini anak Felly kan?" tanya Leo meyakinkan.


Baby Al memang nampak rewel, tak lama kemudian Mbok Sumi datang dengan membawa sebotol susu untuk baby Al.


"Dia cuma haus kok, tidak rewel, iya kan Dek!" jawabku sambil mulai menyusui baby Al.


"Kenapa tidak menyusu di dalam saja Din? Angin malam kan tidak baik untuk bayi!" ujar Kenny tiba-tiba.


Kenny seolah tidak mau aku menimbrung obrolan mereka, entah apa yang mereka bicarakan.


"Di dalam hawanya gerah Papi, jadi tidak apa-apa di luar dulu sebentar!" sahutku.


Kenny nampak diam saja, tidak lagi menyanggah perkataanku.


Kalau di depan orang Kenny memang bersikap dingin dan cuek padaku, bahkan dia cenderung tidak romantis.


Aku tau jawabannya, hatinya tidak sepenuhnya milikku, masih ada Felly yang menguasai sebagian hati Kenny.


"Ah, masa sih Le? Mungkin karena aku sedang berbadan dua, makanya aku kelihatan gemuk ya!" sahutku.


Leo nampak terkejut mendengar pernyataan ku, matanya sampai melotot menatapku.


"Apa Din? Kau hamil? Cepat sekali! Ini benar anak Kenny kan??" tanya nya setengah tak percaya.


"Ya iyalah anak Kenny, masa anak tetangga!" sergahku.


Kenny terlihat diam saja tanpa memberikan respon apapun.


"Selamat ya Din, Ken! Senang sekali di rumah ini banyak anak-anak! Wah, kau hebat juga Ken! Punya dua bayi sekaligus!"'seru Leo.


"Ah kau ini Le, biasa saja kali!" ucap Kenny.


Apa? Kenny menganggap kehamilanku adalah hal yang biasa, tidak tidak, aku harus kuat, aku tidak boleh sakit hati atau sedih, cukup sudah masalah waktu itu, aku harus tegar, setidaknya di depan Kenny.


"Bagaimana kabar istrimu Le? Kok tidak di ajak kemari?" tanyaku.


"Oh, dia baik-baik saja Din, cuma kami belum di karuniai anak, padahal aku kan yang menikah lebih dulu dari pada kalian!" ungkap Leo, wajahnya kelihatan sendu.

__ADS_1


"Sabar Le, kita kan hanya selisih beberapa bulan saja, sebentar lagi pasti istrimu hamil, makanya di bawa dong kesini, supaya bisa nular!" ujarku.


"Iya sih Din, maunya juga begitu, cuma saat ini dia sedang di rumah orang tuanya!" sahut Leo.


"Wah, kalian pisah ranjang dong!" cetus Kenny tiba-tiba.


"Yah sementara!" jawab Leo.


"Bilang jangan lama-lama pisah ranjangnya, bagaimana mau jadi anak??" ujar Kenny.


Kenny, dia malah yang kelihatan kesulitan untuk membendung hasratnya, aku saja berkali-kali digaulinya hingga menghasilkan anak dalam rahimku.


Leo bisa pisah ranjang dengan istrinya sekian lama, betapa tersiksanya dia, tiba-tiba aku jadi kasihan dengan Leo.


"Leo, berikan aku nomor ponsel istrimu, siapa tau kalau kami ngobrol dia mau pulang ke rumahmu, tidak di rumah orangtuanya lagi!" kataku.


"Iya Din, nanti aku kirimkan lewat ponsel Kenny, nanti Kenny yang teruskan!" jawab Leo.


"Jangan lupa lho Le!" seruku mengingatkan.


"Oke siap, aku pamit dulu ya, ada urusan lain yang mau di kerjakan!" ujar Leo sambil beranjak berdiri dari tempatnya.


Setelah Leo pamit, dia pun segera pergi meninggalkan rumah ini.


Entah mengapa aku menangkap ada sesuatu di wajahnya, ada hal yang tersimpan dalam hatinya, cuma aku tidak tau itu apa.


Kenny langsung mengajakku masuk ke dalam rumahnya, lalu aku duduk di sofa ruang tamu, baby Al sudah di ambil alih oleh Mbak Nur, Icha nampak senang bermain dengan adik kecilnya.


Kenny berjalan dari arah dapur, dia membawa satu gelas susu lalu menyodorkan ke arahku.


"Minumlah Din, ini susu hamil, bagus untuk pertumbuhan janinmu!" ucap Kenny sambil duduk di sampingku.


Aku meneguk susu itu sampai habis, sebenarnya perutku amat mual, cuma aku belajar menghargai perhatian Kenny.


"Pintar sekali, susunya habis!" ucap Kenny sambil mengelus kepalaku.


Hatiku menghangat, namun segera sirna setelah aku ingat foto Felly yang kutemukan di bawah bantal Kenny.


"Bu! Masa dedek sudah bisa guling-guling dan duduk sendiri!" seru Icha tiba-tiba.


"Oya? Mana sini ibu lihat!" Aku langsung menghampiri Icha yang sedari tadi asyik bermain dengan baby Al dan Mbak Nur di karpet ruangan itu.


****

__ADS_1


__ADS_2