Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Kemarahan Kenny


__ADS_3

Kenny begitu terkejut mendengar panggilanku, sehingga bingkai foto yang di pegang nya jatuh dan hancur berkeping-keping.


Setelah dia menatap bingkai yang hancur di bawah, matanya beralih menatapku. Sorotan mata itu berbeda dari biasanya.


"Kau lihat Din! Karena ulahmu bingkai ini sampai hancur!! Bisa tidak sih masuk ke kamar mengetuk pintu dulu?!!" hardik Kenny.


"Ma ... Maaf Ken, biasanya juga aku langsung masuk, bukankah ini kamar kita?!" tanyaku.


Kenny diam tidak menjawab pertanyaanku, dia langsung mengambil selembar foto Felly, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku.


Brakk!!


Suara pintu yang di tutup dengan sangat keras.


Kenny sudah pergi entah kemana. Hatiku sakit, lebih sakit dari pada yang sudah-sudah, hanya karena sebuah foto dia berani menghardik aku.


Aku menangis sambil memunguti pecahan kaca bingkai itu.


Ternyata foto itu lebih berharga dari pada perasaanku. Bagaimanapun Kenny menyembunyikannya dariku, tetap saja terlihat kalau dia masih mencintai Felly dan belum bisa mencintaiku.


Setelah pecahan kaca selesai aku bersihkan, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


Air mata ini tidak berhenti mengalir sedari tadi, mungkin karena rasa sakit hati yang kurasakan begitu dalam.


Ku belai perutku yang kini telah di buahi oleh Kenny.


"Maafkan Papimu ya Nak, maafkan dia, kau harus menyayangi Papimu seperti ibu menyayanginya!" gumamku.


Aku sengaja mengurung diri di kamar tidak berani keluar, aku malu jika orang rumah ini melihat mataku yang sembab habis menangis.


Tok ... Tok ... Tok ...


suara ketukan pintu dari luar, buru-buru aku membasuh wajahku agar tak terlihat seperti habis menangis.


Setelah selesai memoles wajahku, aku bergegas membukakan pintu kamar.


Mbak Nur sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa Mbak?" tanyaku.


"Itu Bu, di depan ada Bapak dan Ibu ya ibu, katanya mereka mampir mau nengok Bu Dini!" kata Mbak Nur.


"Oh, iya Mbak, sebentar pagi aku turun ke bawah, Mbak Nur duluan saja!" ujarku.


Mbak Nur segera berlalu dari kamarku, sementara aku buru-buru berdandan untuk menyamarkan wajahku yang sembab ini.


Aku langsung turun ke bawah menemui Bapak dan Ibuku.


Mereka nampak mengobrol dengan Ayah, mereka memang sudah lama bersahabat.

__ADS_1


"Nah itu Dini!" ujar Ayah sambil menunjuk ke arahku.


Aku mencoba tersenyum dan duduk bergabung dengan mereka.


"Gimana kabarnya Din, kamu gemukan sekarang kelihatannya!" kata Bapak.


"Iya Pak!" sahutku.


"Kenny mana Din?" tanya Ibu.


Aku tertegun sesaat lamanya, Kenny saat ini sedang marah padaku, akupun tidak tau di mana dia berada sekarang.


"Ummm, Kenny ... Kenny tadi dia ..."


"Ke minimarket sama Icha!" potong Ayah cepat.


Ayah, sepertinya dia tau kondisi yang kami hadapi saat ini.


"Ooh, tadi kami baru dari acara arisan keluarga, kebetulan bulan depan kami yang ketempatan, makanya kalau bisa Dini dan Kenny datang ya ... supaya lebih akrab sama keluarga!" jelas Bapak.


"Iya Pak!" sahutku singkat.


Tiba-tiba Mbok Sumi muncul dan mendekatiku.


"Maaf Bu, itu susu hamilnya belum di minum sejak sore, sudah dingin Bu, apa mau saya buatkan yang baru?" tanya Mbok Sumi.


Bapak dan Ibu langsung terperangah saat mendengar ucapan Mbok Sumi.


"Eh, iya Bu!" jawabku.


"Dini, kenapa kalian menyembunyikannya dari Ayah??" tanya Ayah lagi tak kalah terkejut.


Mbok Sumi nampak tertegun karena perkataannya menimbulkan kehebohan sesaat.


"Akhirnya Din ... Ibu bisa punya cucu juga ... di jaga ya Din kandungannya, Bapak Ibu sangat ingin menimang cucu dari kamu dan Kenny!" ucap Ibu yang langsung mendekatiku dan mengelus perutku.


Seharusnya ini adalah momen bahagiaku, seluruh keluarga bahagia atas kehamilanku.


Tapi Kenny? Bahkan saat ini dia sedang marah padaku, hanya karena aku mengejutkannya saat memandang foto Felly, Kenny seolah tidak bahagia dengan kehamilanku, bahkan keluarganya sendiripun tidak dia beritahu.


"Ini kenapa juga Kenny tidak memberitahuku, apakah dia ingin membuat kejutan?" gumam Ayah.


Tin ... Tin ...


Terdengar suara klakson dari mobil Kenny, rupanya dia sudah datang, entah dari mana.


Benar kata Ayah, Kenny datang bersama dengan Icha.


Melihat kedatangan Ibu dan Bapak, Kenny langsung duduk bergabung dengan kami di ruang tamu.

__ADS_1


"Kau dari mana saja Ken? Ini lho, kami sedang membahas kehamilan Dini, kenapa kau tidak memberi tahu kabar baik ini pada kami?" tanya Bapak.


"Maaf Pak, rencananya mau buat kejutan, eh malah sudah ketahuan!" jawab Kenny.


Membuat kejutan kata Kenny. Dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku.


"Kenny, seharusnya kau langsung saja katakan, tidak udah pakai kejutan segala, apalagi sudah lama kami sangat ingin menimang cucu!" tambah Ibu.


Kenny hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia bisa bersikap begitu manis pada mereka, padahal baru saja dia menghardik aku di kamar.


Mbok Sumi mengantar beberapa gelas minuman hangat dan beberapa piring cemilan di bantu oleh Mbak Nur.


Kami mengobrol banyak hal hingga tak terasa hari sudah malam, Bapak dan ibupun segera pamit pulang.


Aku naik ke atas sambil menggendong baby Al yang sedang tertidur, setelah sampai di kamar, aku langsung meletakan bayi mungil itu di box bayinya.


Sudah lebih dari 2 jam aku berada di kamar ini, namun Kenny tidak nampak masuk ke dalam kamar, aku pun mengerti dan memahami, dia pasti sungkan padaku karena baru saja kami memiliki masalah.


Jujur hatiku sangat sedih sekali, di balik kebahagiaan semua orang yang mengetahui kalau aku hamil, namun di sudut hatiku yang terdalam, ada segores luka yang sampai saat ini masih terasa begitu perih.


Aku mulai berpikir, tidak mungkin aku hidup dalam bayang-bayang Felly, itu akan membuat aku semakin menderita, aku harus berbuat sesuatu, paling tidak aku harus berani mengambil resiko besar.


Ya, malam ini aku berniat akan pergi dari rumah ini, meskipun hatiku sangat berat sekali meninggalkan baby Al yang masih begitu kecil, tapi aku cukup tenang karena ada Mbok Sumi dan Mbak Nur yang senantiasa selalu ada untuk mereka.


Suasana sudah semakin malam, baby Al juga sudah nampak tertidur pulas, perlahan aku mengangkat bayi mungil itu dari box bayinya, kemudian aku keluar dari kamar, lalu berjalan menuju ke kamar Mbok Sumi.


Aku melihat Kenny tidur di sofa, Mungkin dia enggan masuk ke dalam kamar, ku biarkan saja dia tertidur di sana.


Perlahan aku pun mengetuk pintu kamar Mbok Sumi yang terletak di dekat dapur, Tak lama kemudian, Mbok Sumi pun membuka pintu kamarnya sambil mengucek matanya yang terlihat mengantuk, karena dia memang sudah tidur.


"Lho Bu Dini? Ada apa Bu?" tanya Mbok Sumi.


"Mbok, aku titip baby Al ya, tolong jaga dia baik-baik, Icha juga!" jawab ku.


"Lah, memangnya Bu Dini mau ke mana?" tanya Mbok Sumi lagi sambil membuka lebar matanya.


"Aku ada perlu dengan kedua orang tuaku, tadi aku lupa, makanya malam ini sepertinya aku mau ke sana, karena ada hal penting!" bohong ku.


"Tidak diantar dengan mas Kenny?" tanya Mbok Sumi lagi.


"Tidak usah mbok, aku tidak ingin membangunkan suamiku, Kasihan dia lagi nyenyak tidur, lagi pula aku sudah memesan taksi kok di luar!" sergahku.


Kemudian aku pun menyodorkan baby Al yang tertidur ke arah Mbok Sumi, yang langsung menggendong bayi mungil itu.


Wajah Mbok Sumi terlihat heran, namun aku cepat-cepat melangkah keluar karena takut Mbok Sumi akan bertanya yang lain lagi, paling tidak baby Al sudah aman di tangan Mbok Sumi.


Kemudian aku langsung keluar dan membuka pintu gerbang rumah itu, setengah berlari aku meninggalkan rumah itu, takut kalau-kalau Mbok Sumi akan memberitahukan soal kepergianku ini pada Kenny atau pada Ayah.


Padahal aku belum memesan taksi online, aku terpaksa berbohong supaya aku bisa pergi dari rumah itu, walaupun malam ini aku tidak mungkin pulang ke rumah orang tuaku, karena kalau aku kembali ke rumah orang tuaku, pasti Kenny akan menyusulku seperti dulu.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, aku pun menyusuri pinggir jalan sambil berpikir, kemanakah aku akan pergi.


****


__ADS_2