Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Peringatan


__ADS_3

Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa Leo akan masuk ke ruangan ini, Aku tidak tahu dan tidak mengerti bagaimana dia bisa mengetahui kalau pagi ini aku menjenguk baby Aldio.


Aku sengaja tidak bicara atau bertanya, karena takut nantinya Mbak Nur akan curiga kalau selama ini aku masih berkomunikasi aktif dengan Leo, bisa-bisa Mbak Nur salah paham.


Leo yang sepertinya memang sudah tahu kalau aku memang berada di ruangan ini, memberikan kode agar aku cepat-cepat keluar.


Aku pun mengambil kesempatan itu untuk buru-buru keluar dari ruangan itu, kemudian aku sengaja menunggu Leo di bangku yang ada di depan ruangan itu, sekedar ingin bertanya kenapa dia menyusulku.


Tak lama kemudian Leo pun keluar dari dalam ruangan perawatan baby Aldio, dia langsung cepat-cepat menghampiriku.


"Dini! kamu ini ceroboh sekali! kamu tidak tahu saat ini gambarmu ada banyak di media sosial, karena Kenny sudah lapor polisi dan menyebarkan fotomu di mana-mana!" kata Leo setengah berbisik.


Aku kaget mendengar perkataan Leo, Benarkah saat ini foto wajahku ada di mana-mana? Benarkah Kenny sudah menyebarkannya di media sosial? Saat ini aku memang memakai jaket, masker dan kacamata, agar tidak dikenali, tapi perkataan Leo membuat aku jadi ketar-ketir, takut kalau ada orang yang memang mengenalku.


"Sudah, waktu kita tidak banyak, sekarang kamu berjalan di belakangku, ikut aku ke parkiran, lalu kamu langsung naik ke dalam mobil, aku antar kamu pulang ke rumah Bu Ira!" lanjut Leo yang kemudian langsung berjalan mendahului aku.


Aku pun kemudian mengikuti Leo dari belakang, sambil sedikit menundukkan wajahku agar benar-benar tidak dikenali orang.


Tak lama kemudian, kami pun sampai di parkiran, Leo nampak masuk terlebih dahulu ke dalam mobilnya dan dia langsung menyalakan mobilnya itu, kemudian melajukannya melewati aku, tanpa membuang waktu aku pun segera masuk ke dalam mobil Leo.


"Leo, Dari mana kamu tahu kalau aku menjenguk baby Aldio di rumah sakit?" Tanyaku ketika kami sudah berada di dalam mobil, dan mobil yang dikendarai Leo keluar dari rumah sakit.


"Tadi pagi aku ke rumah Bu Ira, ternyata kamu memang tidak ada di rumah itu, dan pintu pun terkunci, kemudian aku langsung menelepon Bu Ira menanyakanmu!" jawab Leo.


"Oh, jadi Bu Ira yang mengatakan kalau aku pergi ke rumah sakit? Lalu kamu menyusulku?" tanyaku langsung.


"Iya, aku tahu kamu sedang ada dalam masalah Din, tapi kalau sudah sampai fotomu tersebar di media sosial, ruang gerakmu juga akan terbatas, sekarang tergantung kamu sih!" ucap Leo.


"Tergantung apa?" tanyaku.


"Ya tergantung kamu mau lanjut atau menyudahi permainan ini!" sahut Leo.


"Permainan? Kamu pikir aku pergi dari rumah keluarga suamiku itu adalah suatu permainan?" tanyaku sambil menoleh ke arah Leo.


"Maaf, bukan maksudku untuk berkata seperti itu, aku hanya tidak ingin kamu berlarut-larut dalam masalah ini Din!" jawab Leo.


Aku terdiam, ya, benar kata Leo, Aku mengakui kalau aku sudah satu minggu lebih pergi dari rumah suamiku, rasanya aku ingin sekali pergi sejauh mungkin, tinggal di suatu tempat, membesarkan janin yang ada di dalam perutku ini sendirian, melupakan semua kenangan dan masa laluku dengan Kenny.

__ADS_1


Tapi kenyataannya, kakiku Masih berat melangkah untuk jauh-jauh dari keluarga Kenny, maupun keluargaku, masih ada rasa sayang yang begitu besar yang tersimpan dalam hati ini.


"Din, aku tahu kalau kamu memang benar-benar mencintai Kenny dan tidak bisa jauh darinya, terbukti dari sikapmu untuk mengambil keputusan!" kata Leo


"Jangan sok tahu!" cetusku.


"Yah aku memang tidak tahu, karena yang paling tahu itu adalah hatimu sendiri!" sahut Leo.


"Leo, Besok pagi aku kembali ke rumah sakit, karena aku ada janji dengan Mbak Nur, dia mau membawakan tasku yang berisi dompet, dokumen, dan uang, aku banyak berhutang pada Bu Ira!" ucapku.


"Kamu nekat sekali Din!" ujar Leo


"Nekat Bagaimana maksudmu?" tanyaku gusar.


"Iya nekatlah, Memangnya kamu pikir mengambil sesuatu di kamarmu itu, apalagi di dalam lemari itu mudah, dompet itu adalah hal yang privasi pasti Kenny sudah menyimpannya!" jawab Leo.


"Ya tapi aku saat ini sedang butuh uang! aku pergi meninggalkan rumah Kenny tanpa membawa uang sepeserpun!" ujarku.


"Hanya masalah uang saja kamu sampai seperti itu, aku akan memberikannya padamu, kamu tenang saja!" kata Leo.


"Tidak! aku tidak mau menerima sepeserpun uang darimu!" cetusku.


"Aku memang butuh uang, tapi uang dari uangku sendiri bukan dari pemberianmu! Aku tidak ingin berhutang pada siapapun!" sahutku.


"Dalam keadaan seperti ini pun, kamu masih mempertahankan egomu! Sudahlah, pokoknya aku akan memberimu uang, kamu pakailah, dan kamu jangan menolaknya, atau aku akan membocorkan rahasiamu kepada Kenny!" ancam Leo.


Aku terdiam, wajah Leo terlihat begitu serius, Sepertinya dia agak tersinggung karena aku menolak bantuannya, sejujurnya aku tidak ingin sekali mendapat bantuan dari Leo.


Kalau Bu Ira mungkin aku tidak terlalu masalah, tapi Leo? apa yang akan dipikirkan Kenny kalau dia tahu Leo membantuku bahkan memberikan aku uang.


Ah, dalam keadaan seperti ini, aku masih saja memikirkan Kenny, Kenapa aku selalu perduli dengan perasaannya, padahal belum tentu dia juga peduli dengan perasaanku.


Tanpa sadar Mobil Leo kini sudah berhenti tepat di depan rumah Bu Ira, hari sudah terlihat siang, panas matahari nampak begitu menyengat.


Leo kemudian mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, dia nampak mengeluarkan sejumlah uang yang terlihat cukup banyak, kemudian langsung menaruhnya di tanganku.


"Pakai uang ini untuk keperluanmu! Ingat, kamu jangan menolaknya atau aku akan marah!" Kata Leo.

__ADS_1


"Kamu ini paling bisa memaksaku!" cetusku.


Mau tidak mau aku menerima uang pemberian dari Leo, atau dia akan beneran marah dan mengadukan aku pada Kenny, itu sangat mengerikan.


"Din, kalau kamu mau aman, jangan pernah lagi kamu datang ke rumah sakit, atau kemanapun, lebih Baik kalau kamu butuh apa-apa, titip saja sama Bu Ira!" ujar Leo memperingatkan.


"Iya Leo, aku paham, terima kasih ya uangnya, satu hari aku pasti akan menggantinya!" ucapku.


"Kamu jangan memikirkan soal uang itu, sekarang cepatlah turun dan langsung masuk ke rumah Bu Ira, sebelum ada orang yang melihatmu!" titah Leo.


Aku menganggukan kepalaku, kemudian aku celingak celinguk kekanan dan ke kiri, untuk memastikan Kalau tidak ada orang di sekitar rumah Bu Ira, setelah dirasa aman aku buru-buru turun dan berjalan cepat ke rumah Bu Ira, dan langsung masuk ke dalamnya, dan membuka pintu dengan menggunakan kunci serep.


Setelah aku masuk ke dalam rumah Bu Ira, barulah mobil Leo meluncur meninggalkan tempat itu.


Aku menghempaskan tubuhku di sofa yang ada di ruang tamu rumah Bu Ira, aku agak ngos-ngosan, keringat juga mulai bercucuran di dahi, aku menyekanya dengan tanganku.


Aku menarik nafas panjang, seolah aku ini adalah seorang buronan yang dicari-cari polisi, padahal kesalahanku cuma satu, aku pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.


Drrrt ... Drrrrt .... Drrrt


Tiba-tiba ponselku bergetar, Aku kemudian langsung mengambil ponselku yang masih ada di dalam Tasku, ada panggilan masuk dari Bu Ira, aku langsung mengusap layar ponselku itu yang sudah terisi dengan nomor baru.


"Halo, Bu Ira? ada apa Bu? Aku baru sampai di rumah!" sapaku.


"Miss Dini, Maaf Miss, Nanti sore ada beberapa rekan guru yang mau ke rumahku, untuk membahas masalah sekolah, padahal aku sudah mengusulkannya untuk membahas di sekolah saja, tapi mereka sangat ingin main ke rumahku!" kata Bu Ira.


"Oh ya? Lalu bagaimana Bu Ira? Apakah aku harus pergi sementara dari rumah Bu Ira?" tanyaku yang mulai bingung karena akan ada orang yang datang ke rumah ini, aku takut kalau kalau mereka mengetahui keberadaanku.


"Miss Dini tidak perlu pergi dari rumah, lebih baik Miss Dini bersembunyi saja dulu di kamar tamu, dan Kunci pintunya, jangan keluar-keluar selama rekan guru saya masih ada di rumah!" usul Bu Ira.


"Oh begitu ya, Baiklah kalau begitu, nanti aku akan bersembunyi di kamar tamu saja, mudah-mudahan tidak ada diantara mereka yang curiga ya Bu!" sahutku.


"Maaf ya Miss Dini, Kalau merasa tidak nyaman, Soalnya kalau aku menolak, mereka nanti yang ada mereka malah curiga padaku! Pokoknya nanti Miss Dini Sedia makanan dan minuman di dalam kamar saja, mudah-mudahan sih mereka tidak lama-lama Miss!" ujar Bu Ira.


Kemudian telepon pun dimatikan, aku mulai melihat-lihat sekeliling, berusaha untuk mencari hal-hal yang mencurigakan yang bisa aku singkirkan, meskipun aku bersembunyi di kamar tamu, tapi tetap saja itu adalah hal yang menegangkan dan entah mengapa dadaku berdebar tak menentu.


Bersambung

__ADS_1


*****


__ADS_2