Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Pernikahan Di Percepat


__ADS_3

Beberapa hari setelah kedatangan Kenny dan Om Banu. Keluarga memutuskan agar pernikahan Kenny dan aku di percepat.


Karena kami sudah mengenal lama, tidak ada lamaran lagi, jadi kami langsung menikah.


Kenny memiliki permintaan agar pernikahan kami di langsungkan secara sederhana. Hanya mengundang beberapa kerabat dan saudara dekat, termasuk para kepala sekolah dan guru di sekolah internasional dan Rajawali.


Resepsi pernikahan sederhana kami di langsungkan di rumah Kenny.


Hari ini seharusnya adalah hari yang membahagiakan buat aku dan Kenny.


Namun sepanjang acara prosesi pernikahan, wajah Kenny nampak datar, senyum pun hanya di paksakan untuk menghargai para tamu undangan yang jumlahnya tidak banyak ini.


Impianku memang terwujud untuk dapat bersanding dengan Kenny. Namun dengan cara yang tidak biasa.


Kenny begitu tampan dengan balutan jas pengantin, aku tak berkedip terus mencuri pandang ke arahnya.


Calon suamiku ini memang luar biasa tampan. Memikat hati siapa saja yang memandangnya.


"Cie Cie ... Miss Dini akhirnya jadi juga nih sama Mister Kenny!" Goda Mam Indah saat datang ke resepsi kami bersama dengan Pak Chandra dan beberapa guru yang lain.


Beberapa guru yang lain juga menggodaku, jujur sejak awal mereka lebih setuju Kenny bersanding denganku dari pada Felly.


Namun ternyata hati Kenny berlabuh pada Felly, janda beranak satu, dan Kenny juga sudah memberikan keperjakaannya pada Felly.


Kenny memiliki hati yang baik, dia tidak pernah memandang wanita dari sudut pandang obyektif, itulah salah satu yang aku kagumi dari dia.


"Aku turut barbahagia untuk kalian, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek Nenek!" kata Pak Chandra sambil menjabat tanganku dan Kenny.


Kulihat Kenny hanya tersenyum simpul.


"Wah, asyik nih, di sekolah Rajawali kalian bisa jadi partner yang baik, selamat ya!" ucap Bu Iren dan para guru yang lain dari sekolah Rajawali.


Karena Kenny akan menikah, liburan kami di tambah satu Minggu lagi, sementara tahun ajaran baru sudah di mulai, anak-anak sudah mulai masuk ke sekolah, termasuk Icha.


Aku senang akhirnya Icha sudah mau membuka dirinya, dia kembali ke sekolah, walau dia tidak seceria dulu, paling tidak dia sudah sadar pentingnya sekolah.


Setelah acara resepsi selesai, Ibu dan Bapak akan kembali kerumah mereka, Ibu menatapku dengan tatapan haru.


Karena sejak hari ini, Rumah Kenny adalah rumahku, aku akan berbakti di rumah ini.


"Akhirnya kamu menikah juga Din, ibu doakan kamu bahagia ya Din, jadilah pendamping hidup Kenny yang terbaik!" nasihat Ibu.


"Iya Bu, aku akan kangen sama Ibu dan Bapak!" tangis ku pecah di pelukan ibu.

__ADS_1


"Makanya, berilah ibu dan bapakmu ini cucu, supaya kalau kamu datang, rumah ibu jadi ramai!" kata Ibu.


Aku tetap memeluk ibu, apa mungkin aku bisa memberikan Ibu dan Bapak cucu, sementara Kenny, aku tidak yakin dia mau menyentuhku.


****


Malam ini adalah malam pertama aku dan Kenny. Kamar pengantin yang sudah di hias sedemikian indah, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa bahagia.


Namun tidak untuk hati Kenny, aku masih melihat mendung yang tersirat di wajahnya.


Aku duduk di tepi ranjang pengantin. Tak lama kemudian Kenny masuk ke dalam kamar kami, lebih tepatnya kamar Kenny.


Dia nampak canggung menatapku.


"Aku, mau mandi dulu!" ucap Kenny. Aku menganggukan kepalaku.


Kenny lalu mengambil handuknya dan bergegas ke kamar mandi. Aku tetap duduk di sini, tidak tau harus melakukan apa. Aku merasa begitu bodoh.


Sekitar 15 menit Kenny keluar dari kamar mandi, harum sabun mandi begitu segar tercium di hidungku.


Dia sudah berpakaian, memakai kaos oblong dan celana pendek. Wajahnya nampak segar sehabis mandi.


"Sekarang giliran mu Din, mandilah, supaya kamu segar!" ujar Kenny.


Aku berdiri dan mengambil pakaianku, lalu bergegas ke kamar mandi.


Namun, mengapa hati ini begitu perih? Aku sudah sah menjadi istrinya, namun aku merasa hatinya begitu jauh dariku, dan sangat sulit untuk aku jangkau.


Setelah selesai aku segera keluar dari kamar mandi.


Kenny nampak duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Setelah menyisir rambut aku kembali duduk di tepi ranjang itu, Kenny sepertinya tidak mau dekat-dekat denganku.


"Kalau kamu capek istirahatlah Ken, aku keluar sebentar ya, mau membuatkanmu susu hangat, supaya tubuhmu enak!" tawarku.


Kenny menganggukan kepalanya. Aku segera keluar kamar, lalu menuju ke dapur.


"Lho, ibu kok di sini?" tanya Mbok Sumi yang terlihat heran melihatku di dapur.


"Mau buat susu hangat buat Kenny Mbok!" jawabku.


"Ooh, padahal telepon saja, nanti Mbok antarkan ke kamar!" sahut Mbok Sumi.

__ADS_1


"Tidak apa Mbok, sekarang kan aku istrinya Kenny, wajar kalau aku melayaninya!" jawabku.


Aku lalu mulai membuatkan Kenny susu hangat, dengan sedikit madu yang ku tambahkan.


"Anak-anak sudah tidur Mbok?" tanyaku pada Mbok Sumi yang masih nampak membereskan meja dapur.


"Sudah Bu, mereka kecapean setelah acara seharian tadi, Icha tidur di kamarnya, kalau Dedek Al di temani si Nur!" jelas Mbok Sumi.


"Aku titip anak-anak dulu ya Mbok, besok Icha sekolah tolong di siapkan bekalnya!" kataku.


"Iya Bu, Ibu sama Mas Kenny saja, kan malam ini malam pertama? Jangan keluar-keluar Bu pas malam pertama! Sudah sana, Mas Kenny tidak sabar nunggu tuh!" goda Mbok Sumi.


Aku hanya tersenyum simpul, mana mungkin Kenny menungguku.


Setelah aku kembali masuk ke kamar, ku lihat Kenny ketiduran di sofa.


Aku meletakan gelas susu di atas meja.


Aku menyentuh bahunya, berniat untuk membangunkannya.


"Ken, di minum dulu susunya, setelah itu kamu boleh tidur lagi, pindah ke kasur Ken!" kataku.


Kenny mengerjapkan matanya. Aku langsung mengambil susu hangat itu dan menyodorkan ke mulutnya.


Kenny meneguknya sampai habis.


"Trima kasih!" ucapnya.


Setelah aku menaruh gelas kosong di atas meja, aku kembali mendekati Kenny, wajahnya mulai keringetan.


"Kalau kamu ngantuk, tidur di sana Ken!" ujarku sambil menunjuk ke arah tempat tidur.


Dia menurutiku, dia langsung beranjak dan berbaring di ranjang itu, kemudian langsung memeluk gulingnya.


Aku menyusul di sebelah nya, kamipun saling membelakangi.


Benar dugaan ku, Kenny tidak mau menyentuhku.


Ah, biar saja, toh cintaku padanya lebih besar dari sekedar ritual suami istri.


Namun ada butiran bening dari mataku yang tidak bisa ku cegah untuk terus mengalir.


Ya, aku menangis di malam pertamaku.

__ADS_1


Aku mengusap wajah ku, lalu menoleh kebelakang, Kenny tetap membelakangiku, aku hanya memandang punggungnya yang bergerak teratur seiring dengan hembusan nafasnya.


****


__ADS_2