Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Berhenti Mengajar


__ADS_3

Sejak Kenny memintaku untuk mendampinginya dan berhenti mengajar, sejak saat itu aku menurutinya, aku menghadap Pak Budi untuk mengajukan pengunduran diri mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris.


"Mr. Ken benar Miss, seharusnya kau memang mendampingi setiap kegiatannya, sekarang kau adalah istrinya, apalagi kalian sama-sama pendidik!" kata Pak Budi.


"Ya Pak, makanya saya meminta bapak untuk mencarikan guru pengganti bahasa Inggris untuk anak-anak, jadi saya juga tenang kalaupun saya tidak mengajar lagi!" sahut ku.


"Kami sudah masang iklan di media sosial Miss, mudah-mudahan dalam waktu dekat, kita mendapatkan guru bahasa Inggris yang terbaik!" ujar Pak Budi.


"Baik Pak, saya juga berharap secepatnya, kalau begitu saya pamit dulu, Icha sudah menunggu saya untuk pulang!" pamitku pada Pak Budi. Pak Budi nampak Menganggukan kepalanya.


Aku bergegas keluar dari ruangan kepala sekolah.


Icha nampak sudah menungguku di lobby sekolah bersama dengan Kenny yang nampak sedang mengobrol dengan beberapa orang tua murid.


Dia melambaikan tangannya saat melihatku yang berjalan kearah mereka, aku lalu mendekati mereka.


"Wah, ternyata Miss Dini yang sudah berhasil meruntuhkan hati Mr. Ken! Selamat ya buat kalian, semoga selalu langgeng dan bahagia!" ucap salah seorang orang tua murid.


"Trimakasih Bu!" balasku tersipu.


"Bagaimana Din, apakah kau sudah bilang pada Pak Budi kalau kau tidak akan mengajar lagi?" tanya Kenny.


"Ya, aku sudah bilang, dan mereka segera akan mencarikan guru pengganti!" jawabku.


"Nah, mang seharusnya begitu Miss, masa yang punya sekolah masih ngajar, kan enak tiap hati kerjaannya hanya mendampingi Mr. Ken!" timpal seorang ibu yang sejak tadi hanya menyimak.


Tak lama kemudian kami segera pamit dari kerumunan orang tua murid itu, jengah rasanya tiap kali bertemu ada saja komentar dari mereka.


"Papi aku lapar!" kata Icha tiba-tiba.


"Oh kau sudah lapar rupanya, baiklah kita mampir ke restoran dulu ya, kita makan siang sama-sama!" ujar Kenny.


"Icha mau makan apa?" tanyaku sambil mengusap kepalanya.


"Aku mau makan ayam bakar!" jawab Icha.


"Sama Cha, Papi juga mau makan Ayam bakar, kau sendiri mau makan apa Din?" tanya Kenny sambil menoleh ke arahku.


"Aku ikut kalian saja, aku pun suka Ayam bakar!" sahutku.


Kami pun mampir ke sebuah restoran yang menyajikan menu ayam bakar, Kenny mulai memesan menunya.


Tak lama kemudian makanan dan minuman sudah terhidang di meja kami.


Kenny nampak makan dengan lahap sekali, begitu pula Icha.

__ADS_1


Aku sangat senang melihat mereka makan banyak. Sedikit demi sedikit mereka sudah bisa melupakan masa lalu dan mulai menatap masa depan.


Setelah kami selesai makan kami langsung bergegas pulang kerumah.


Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan baby Al, sekarang dia adalah anakku.


Ketika kamu sampai di rumah, Icha segera berganti pakaian di temani oleh Mbak Nur, sementara aku langsung mengambil alih Baby Al dari gendongan Mbok Sumi, aku tidak mau baby Al kurang akrab denganku karena aku jarang menyentuhnya.


"Dedek Al, sudah Mimi susu belum sayang, sini main sama Ibu sekarang ya!" ucapku pada bayi mungil itu sambil mencium keningnya.


"Kau istirahat saja dulu Din, bukankah kau juga lelah hampir seharian ini kita beraktifitas!" ujar Kenny.


"Iya sebentar Ken, aku hanya ingin menggendongnya sebentar!" sahutku.


"Baiklah, aku ke atas duluan ya Din!" pamit Kenny sambil beranjak naik ke atas menuju ke kamarnya.


"Kau lihat itu dek, sekarang Papimu sudah lembut dengan ibu, ibu bahagia sekali, walaupun mungkin ibu belum bisa memenuhi hati Papimu, tapi ibu cukup senang melihatnya bisa tertawa lagi!" gumamku pada Baby Al.


Bayi mungil itu tersenyum, seolah tau apa yang aku rasakan.


"Kau semakin pintar Dek, makin lama wajahmu makin mirip Papi Kenny, Hmm ... Tampan sekali!" Aku mulai mencium lembut pipi Baby Al.


Setelah aku puas menimangnya, aku lalu membawa baby Al ke kamar kami, supaya Kenny juga bisa dekat terus dengan bayinya.


Kemudian aku masuk dan meletakan baby Al di samping Kenny.


Kenny menoleh, lalu mengusap lembut pipi bayi itu.


"Kau lucu sekali Dek, kapan kau besar supaya kau bisa bantu Papi!" ujar Kenny yang kini menatap bayinya dengan hangat.


"Sabar Papi, sebentar lagi aku juga akan besar, Papi tunggu saja tanggal mainnya!" jawabku menirukan ucapan anak kecil.


Kenny tersenyum padaku, senyuman yang kurasa begitu manis.


"Sini Din!" kata Kenny sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Aku pun duduk di tepi ranjang itu. Aku usap dada Kenny yang bidang dengan telapak tanganku. Senang rasanya bisa berada dekat dengan orang yang sangat aku cintai sejak dulu.


"Kau mau apa Ken, mau minuman hangat atau dingin?" tanyaku.


"Tidak, aku hanya ingin kau duduk di sini menemaniku!" sahut Kenny.


"Hmm, baiklah, aku akan menemanimu di sini tanpa melakukan hal apapun!" cetusku.


Kenny lalu menggenggam tanganku, hangat.

__ADS_1


"Trimakasih ya, kau sudah rela berhenti mengajar hanya untuk mendampingiku!" ucap Kenny sambil menatapku. Aku menunduk, tidak kuat di tatap oleh mata coklatnya yang begitu menyihirku.


"Iya Ken, asal kau senang aku juga senang!" jawabku.


"Kau terlalu banyak memikirkan perasaanku, kapan kau memikirkan perasaanmu sendiri?" tanya Kenny.


Aku terdiam, tidak tau mau menjawab apa.


"Ah, memangnya sejak kapan kau perduli dengan perasaanku!" sahutku.


"Aku perduli!" ujarnya.


Perlahan Kenny mulai membuka kancing bajuku, mau apa dia. Ini siang hari bahkan Baby Al masih tertidur di sampingnya.


"Kau mau apa Ken?" tanyaku.


"Membuatmu senang!" sahut Kenny.


"Tidak! Untuk apa membuatku senang tapi kau sendiri tak senang!" cetusku sambil kembali mengancing bajuku.


"Siapa bilang aku tak senang? Aku mulai ... menyukai kegiatan ini!" bisik Kenny.


Tubuhku meremang seketika.


Kenny kenapa jadi genit begini.


"Sudahlah Ken, ini masih siang, apakah kau tidak ingin tidur atau bermain dengan baby Al?!" sergahku.


Tiba-tiba Kenny bangun dan langsung mencium bibirku, aku sangat terkejut, belum pernah dia seagresif ini sebelumnya.


Apakah saat ini Kenny sedang ingin menumpahkan hasratnya?


"Saat ini aku sedang ingin Din, berikanlah agar aku merasa senang!" ucap Kenny sambil terus menciumi bibirku.


Akhirnya aku membalas ciuman Kenny, bibir ini yang selalu menjadi canduku, sejak dulu, ya, sejak dulu. Kini aku bisa dengan puas menikmatinya, rasanya begitu manis dan hangat.


Perlahan Kenny kembali membuka kancing bajuku, dia mulai membenamkan wajahnya di dadaku, seperti seorang bayi yang menyusu pada ibunya, dan bayi besar ini adalah Kenny.


Aku menggigit bibirku karena menahan geli, aku bahkan belum pernah memberikan ASI pada bayi, namun sudah di nikmati oleh Kenny. Aku membelai rambut Kenny yang kini ada di dadaku, persis seperti membelai kepala seorang bayi.


Oweeek Oweeek


Tiba-tiba Baby Aldio bangun, Kenny langsung melepas hisapannya dan menoleh kearah bayi mungilnya yang kini menangis.


****

__ADS_1


__ADS_2