
Aku terus berjalan menyusuri koridor di pinggir jalan raya, suasana sudah sangat gelap dan sepi, aku tidak membawa apapun kecuali ponsel yang ada di saku pakaianku.
Jujur aku tidak punya tujuan mau pergi ke mana, saat itu yang ada di pikiranku hanyalah Aku ingin pergi dari rumah Kenny, karena aku tidak tahan juga memendam rasa sakit dalam hatiku.
Sengaja aku matikan ponselku, supaya tidak ada yang bisa menghubungi aku, aku belum siap untuk berbicara pada siapapun, pokoknya aku hanya ingin pergi sejauh mungkin.
Aku tidak tahu berapa jauh aku sudah berjalan, namun aku sepertinya sudah merasa lelah, keringat mulai bercucuran di wajah dan tubuhku.
Di pinggir jalan itu, ada sebuah Kedai Kopi yang masih buka, ada beberapa anak muda juga yang sedang duduk di sana, perlahan aku pun melangkah menuju ke kedai kopi itu, sekedar untuk beristirahat, karena aku merasa kakiku sangat pegal, sepertinya aku sudah jauh melangkah.
Aku merogoh saku bajuku, ya Tuhan! Aku tidak bawa uang sepeser pun, aku pergi dari rumah Kenny tanpa membawa apa-apa, padahal kerongkonganku sudah sangat kering sekali, aku merasa sangat haus.
Sekilas aku melihat jam dinding yang ada di dalam kedai kopi itu, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, ini sudah sangat malam, aku tidak mungkin berada di luar malam-malam seperti ini.
Otakku terus berpikir, aku harus pergi ke mana? Tiba-tiba aku teringat rumah Bu Ira yang ada di dekat sekolah Rajawali, Aku lumayan dekat dengan Bu Ira, mungkin malam ini aku harus ke rumah Bu Ira, sekedar untuk bermalam dan beristirahat.
Kemudian aku mengedarkan pandanganku, lokasi ini tidak jauh dari rumah Bu Ira, tapi tidak mungkin juga ditempuh dengan jalan kaki, karena hari sudah begitu malam, sebagai seorang wanita sangat berbahaya jikalau aku jalan kaki sendirian.
Tidak jauh dari Kedai Kopi, ada sebuah halte, dan ada beberapa orang tukang ojek yang sedang mangkal di sana, Aku berjalan mendekati halte itu.
"Selamat malam Bang, Bisa antarkan saya ke daerah sekolah Rajawali?" Tanyaku pada salah seorang tukang ojek itu, yang sedari tadi melihat ke arahku.
"Sekolah Rajawali? Ayo deh Mbak, naik!" jawab tukang ojek itu, yang kemudian langsung meluncur ke arahku.
Si tukang ojek itu kemudian menyodorkan helmnya ke arahku, aku pun langsung memakaikan helm ke kepalaku sendiri, dan tanpa bertanya lagi aku langsung naik ke atas motor itu.
__ADS_1
Ojek yang aku tumpangi itu pun kemudian meluncur membelah kegelapan malam itu, menuju ke sekolah Rajawali yang memang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Setelah sampai di daerah sekolah Rajawali, Aku pun memandu si tukang ojek itu untuk ke rumah Bu Ira, yang letaknya memang persis di sebelah sekolah Rajawali, ketika sampai di depan rumah Bu Ira, tukang ojek itu pun kemudian menghentikan laju motornya dan aku pun segera turun.
"Sebentar ya Bang!" kataku pada tukang ojek, karena aku bermaksud meminjam uang untuk ongkos ojek pada Bu Ira, karena memang aku tidak membawa uang sepeserpun.
Aku kemudian langsung mengetuk-ngetuk pintu rumah Bu Ira, beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban, hatiku ketar-ketir takut kalau-kalau Bu Ira tidak keluar-keluar juga, dengan apa harus aku membayar ongkos ojek itu?
Setelah aku mengetuk-ngetuk pintu rumah Bu Ira, kemudian pintu rumah itu pun dibuka dari dalam, Bu Ira nampak berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat kaget melihatku sambil mengucek matanya, karena sepertinya dia sudah tidur, karena dia juga sudah mengenakan pakaian tidur.
"Miss Dini? Ada apa malam-malam ke rumah Miss?" tanya Bu Ira bingung.
"Bu Ira, aku pinjam uang Rp15.000 dong untuk bayar ojek, Jangan khawatir aku pasti ganti kok, ini karena kepepet saja aku lupa bawa uang!" jawab ku.
Walau kelihatan bingung, Bu Ira mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia bergegas masuk ke dalam, dan tak lama kemudian dia kembali sambil menyodorkan uang yang aku pinjam tadi, dan aku pun langsung memberikan uang itu pada si tukang ojek yang menungguku di depan pagar rumah Bu Ira.
"Miss Dini sendirian saja? Tidak bareng sama Mr Kenny?" tanya Bu Ira.
"Iya Bu, maaf malam-malam mengganggu, boleh aku masuk?" tanyaku balik.
"Oh Ayo silakan masuk Miss, Ayo Ayo duduk!" kata Bu Ira yang kemudian langsung mempersilakan aku masuk, kemudian Bu Ira kembali menutup pintu rumahnya, dan dia pun duduk di hadapanku yang kini sudah duduk di ruang tamu rumahnya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi miss? Kenapa tiba-tiba malam-malam begini Miss Dini datang ke rumahku? Apakah miss Dini sedang ada masalah?" tanya Bu Ira dengan mata yang menyelidik.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bu Ira, aku hanya menghela nafas panjang, mencoba mengatur nafasku dan menenangkan pikiranku yang sejak tadi begitu kusut, Bu Ira kemudian beranjak ke dapur dan mengambilkan aku segelas air putih, lalu menyodorkan air putih itu ke arahku.
__ADS_1
Aku pun langsung mengambil gelas air putih itu dan meneguknya sampai habis, aku tidak sadar sejak tadi aku memang kehausan, karena aku berjalan begitu jauh dari rumah Kenny.
"Terima kasih Bu Ira!" ucapku sambil meletakkan gelas yang telah kosong itu di atas meja.
"Iya Miss sama-sama, Oh ya, Miss Dini sudah makan belum?" tanya Bu Ira.
Sepertinya Bu Ira bisa meraba-raba apa yang terjadi denganku, karena dia tidak menanyakan lagi padaku apa yang terjadi.
"Bu Ira, malam ini boleh tidak Aku bermalam di rumah Bu Ira? Hanya semalam saja!" kataku memberanikan diri.
"Tentu saja boleh miss, Miss Dini boleh menginap di rumah aku kapanpun Miss Dini mau, tapi apakah Mister Kenny tahu kalau Miss Dini menginap di rumahku?" tanya Bu Ira lagi.
Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah, tubuhku merasa begitu lemas apalagi saat mengingat Kenny yang begitu marah padaku, hanya karena aku mengagetkannya sampai bingkai foto Felly pecah, dan itu sangat membuat aku sakit hati.
"Bu Ira, Aku mohon jangan beritahukan keberadaanku di sini pada suamiku ya, saat ini aku hanya ingin menenangkan diri, kalau ada yang bertanya tentang aku, Bu Ira jangan memberitahukan keberadaan aku!" pintaku.
"Baik Miss Dini, aku tidak akan memberitahukan pada siapapun mengenai Miss Dini, sekarang lebih baik Miss Dini istirahat saja di kamar tamu, kelihatannya Miss Dini begitu lelah, Ayo aku antar Miss Dini ke kamar!" kata Bu Ira yang langsung beranjak berdiri, dan menganggukkan kepalanya, setelah itu dia berjalan menuju ke kamar tamu, aku berdiri dan mengikuti langkah kakinya hingga sampai di kamar tamu yang tidak terlalu besar, namun terlihat cukup nyaman.
"Bu Ira, maafkan aku ya kalau aku merepotkan Bu Ira!" ucapku yang merasa tidak enak.
"Jangan sungkan miss, Kalau Miss Dini mau cerita padaku, dengan senang hati aku akan mendengarkan, kalau memang Miss Dini butuh teman untuk berbagi, aku pun siap mendengarkan semua curahan hati Miss Dini!" ujar Bu Ira sambil menatapku.
Aku tidak dapat tahan lagi, air mataku tumpah sudah, dan aku pun langsung memeluk Bu Ira sambil menangis tersedu-sedu.
Bersambung...
__ADS_1
*****'