Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Menjenguk Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Beberapa kali aku memencet nomor telepon Mbak Nur, namun teleponnya tidak diangkat, entah Mbak Nur masih tidur atau dia sedang berada di mana, aku tidak tahu.


Hatiku mulai gelisah, terlebih Ketika aku melihat foto baby Aldio yang sedang dipasang infus, yang ada di foto profilnya Kenny, jujur itu membuat hatiku tidak tenang.


Kasihan sekali baby Aldio kalau memang dia benar-benar sakit, dan harus dirawat di rumah sakit, apalagi Kenny, dia pasti akan sangat pusing sekali memikirkan anaknya itu.


Kemudian aku kembali memencet nomor telepon Mbak Nur, penasaran kenapa teleponku tidak diangkat-angkat.


Akhirnya setelah beberapa kali menelepon, teleponku diangkat juga, aku menarik nafas lega.


"Halo, Bu Dini? Ibu ada di mana Bu? semua orang panik mencari ibu!" tanya Mbak Nur yang suaranya terdengar bisik-bisik.


"Mbak Nur, Please jangan beritahu kalau aku menelepon Mbak Nur pada siapapun ya, Aku mohon, Aku hanya ingin tahu keadaan Aldio!" ucapku.


"Iya Bu, sekarang baby Al sedang dirawat Bu, Dia kena muntaber sekitar 3 hari yang lalu, ini Saya lagi di rumah sakit menunggu dia Bu, gantian sama Mr Kenny!" jawab Mbak Nur.


"Ya Tuhan! kenapa bisa seperti itu sih Mbak? Kenapa baby Al bisa muntaber?" tanya aku gemas, karena sebelum aku pergi bayi itu nampak sehat-sehat saja.


"Saya juga bingung Bu, sejak Ibu pergi, baby Aldio jadi rewel, saya dan Mbok Sumi juga sudah berusaha, tapi dia tetap rewel dan akhirnya dia malah jatuh sakit!" jawab Mbak Nur.


Aku terdiam, kembali perasaan bersalah menggelayuti aku, selama ini memang baby Aldio selalu bersamaku, aku yang mengurus dia dengan sepenuh hati, Mbok Sumi dan Mbak Nur hanya sekedar membantuku, tapi sejak aku pergi, entah apa yang terjadi dengan Aldio, aku benar-benar merasa bersalah.


"Bu? Ibu masih di situ kan?" tanya Mbak Nur membuyarkan lamunanku.


"Mbak Nur, di situ ada siapa?" tanyaku balik.


"Di sini cuma ada saya sama Mbok Sumi, tapi sebentar lagi Mbok Sumi mau pulang ke rumah, Karena kan dia harus kerja di rumah, nanti agak siang baru Mister Kenny gantian menjaga Al!" jawab Mbak Nur.


"Mbak Nur, aku ingin sekali bertemu dengan baby Al, nanti setelah Mbok Sumi pulang ke rumah, tolong kasih tahu aku ya Mbok, aku akan ke rumah sakit sebentar untuk menjenguk baby Al!" kataku.


"Iya Bu, Siapa tahu dengan melihat ibu, baby Al akan cepat sembuh!" sahut Mbak Nur.


"Tapi ingat Mbak, jangan sesekali keceplosan tentang aku, aku tidak mau siapapun tahu kalau aku menjenguk baby Al selain Mbak Nur!" kataku wanti-wanti.


"Iya Bu, Saya janji, tidak akan memberitahukan soal Bu Dini pada siapapun!" jawab Mbak Nur.


Aku menarik nafas lega, Kemudian aku pun mengakhiri telepon dengan Mbak Nur.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, aku harus memejamkan matakku, meski sebentar, atau aku akan pusing dan jatuh sakit, Aku tidak mau sakit, masih banyak hal yang harus aku pikirkan.


Waktu sudah menunjukkan hampir jam 06.30 pagi, Bu Ira nampak sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, karena hari ini akan ada upacara bendera, karena itu, semua guru Wajib datang lebih pagi.


Aku pun sudah mandi dan berpakaian, Pagi ini aku berencana pergi ke rumah sakit untuk menjenguk baby Aldio, menurut informasi dari Mbak Nur, pagi ini Mbok Sumi pulang ke rumah, dan hanya ada Mbak Nur sendiri di rumah sakit, kesempatan ini kupergunakan untuk bisa menjenguk baby Al.


"Miss dini, saat ini polisi masih mencari keberadaan Miss Dini loh, Bagaimana nanti kalau Miss dini dikenali saat keluar?" tanya Bu Ira.


"Aku akan coba menutup wajahku dengan memakai masker, juga jaket dan kacamata, mudah-mudahan saja aku tidak dikenali, Aku ingin sekali bertemu dengan baby Aldio, rasanya rindu sekali!" jawabku.


"Baiklah kalau begitu Miss, hati-hati ya, aku juga mau cepat berangkat, kebetulan Hari ini aku yang jadi pembina upacaranya!" ujar Bu Ira yang kemudian memakai sepatunya dan melangkah keluar dari pintu rumahnya.


Setelah Bu Ira berangkat ke sekolah, aku memantau situasi di sekitar rumah Bu Ira, pagi itu kelihatan sepi, upacara bendera juga sudah terlihat sedang berlangsung, kesempatan ini kupergunakan untuk keluar, ke rumah sakit untuk menjenguk baby Aldio.


Aku juga sudah mengganti nomor ponselku, kebetulan Bu Ira punya nomor ponsel yang belum pernah digunakan, tadi dia memberikannya padaku, sehingga aku bisa leluasa untuk memesan taksi online untuk pergi ke rumah sakit.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, taksi online yang aku pesan sudah berhenti di depan rumah Bu Ira.


Setelah aku mengunci pintu rumah Bu Ira, aku kemudian langsung naik ke dalam taksi online yang sudah menungguku itu, dan taksi online itu pun langsung meluncur menuju ke rumah sakit tempat baby Aldio dirawat.


Baby Aldio dirawat di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Kenny, setelah aku sampai di rumah sakit, Aku kemudian turun dan bergegas berjalan menuju ke ruang perawatan baby Aldio yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Mbak Nur.


Meskipun aku sudah memakai jaket, kacamata dan masker, dan model rambutnya pun aku buat berbeda dari biasanya, Tapi tetap saja orang yang mengenal aku dengan dekat pasti tahu aku, meskipun ditutupi sedemikian rupa.


Aku berhenti di depan sebuah ruangan perawatan anak, dengan sedikit ragu aku mendorong pintu kaca yang tertutup rapat itu, Mbak Nur nampak duduk menunggu baby Aldio yang saat itu nampak tertidur, wajahnya pucat mungkin semalaman dia rewel karena tidak bisa tidur.


Perlahan aku pun menyentuh bahu Mbak Nur yang saat itu membelakangiku, dia nampak kaget dan terperanjat melihat kedatanganku.


"Eh Bu Dini, ternyata Bu Dini beneran datang ke sini!" seru Mbak Nur sedikit kaget.


"Mbak Nur, gimana keadaan baby Al, Aduh kasihan sekali dia sampai pucat begini!" sahutku sambil duduk di tepi ranjang baby Al sambil membelai rambut nya.


"Iya Bu kasihan dia, di rumah sakit dia sulit tidur, makan juga sedikit sekali, tapi sekarang sih sudah mendingan diarenya!" jelas Mbak Nur.


Bayi mungil itu membuka matanya, dia terdiam menatapku, aku pun langsung reflek menggendong baby Al, kemudian menimang dan menciumnya, menumpahkan segenap rasa rinduku padanya.


Baby Aldio seolah mengerti, dia tidak menangis sama sekali, Dia terlihat nyaman saat aku menggendongnya dan memeluknya.

__ADS_1


"Sayang, maafin Ibu ya Nak, ibu yang terlalu egois, hanya karena keegoisan Ibu, sampai tega meninggalkanmu!" ucapku sambil terus mencium dan memeluk baby Aldio.


"Oh ya Bu, sejak Ibu pergi, Mr Kenny juga jadi semakin pendiam, biasanya dia senang tertawa dan bercanda, tapi sekarang mukanya selalu saja muram, setiap kali dia pulang dari sekolah, dia langsung pergi masuk ke dalam kamar dan baru menjelang sore dia akan keluar dari kamar, pokoknya Kasihan deh bu!" tutur Mbak Nur.


"Pantas saja baby Al jadi ikut-ikutan sakit, Papinya juga cuek begitu!" gumamku


"Ya, sejak baby Al sakit, Mister Kenny jadi tambah depresi Bu, Apalagi sudah tidak ada yang mengurusnya lagi, berkali-kali dia ke kantor polisi hanya untuk menanyakan kabar tentang Bu Dini!" lanjut Mbak Nur.


Aku sedikit tertegun mendengar penuturan Mbak Nur, Benarkah Kenny mencariku? Bukankah selama ini dia begitu Acuh Tak Acuh, Bahkan dia bisa pergi ke sekolah seolah tanpa beban, sementara Dia terlihat bisa beraktifitas meskipun tanpa ada aku di sisinya.


"Mbak Nur, Sampai kapan baby audio akan dirawat di sini?" Tanyaku


"Kalau menurut dokter, kalau baby Al sudah normal tidak lagi muntah dan buang air, Besok sampai lusa juga baby Al sudah boleh pulang!" jawab Mbak Nur


"Mbak, sepertinya aku butuh bantuanmu, saat ini aku butuh uang, karena aku harus membayar hutang pada seseorang, Bisakah Mbak Nur mengambilkan tasku yang ada di dalam lemari pakaianku?" tanyaku sambil menatap ke arah Mbak Nur, sementara baby Al nampak kembali tertidur di pangkuanku.


"Tapi saya takut Bu, Bagaimana kalau Mister Kenny melihatnya?" tanya Mbak Nur ragu-ragu.


"Mbak Nur ambil kalau dia sudah berangkat ke sekolah, lagi pula Itu adalah tas pribadiku kok, di dalamnya hanya ada dompet dan KTP saja!" sahutku.


Mbak Nur nampak berpikir, namun tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Bu, saya akan usahakan mudah-mudahan saja berhasil!" ucap ku.


"Besok pagi aku akan kembali lagi, Mbak Nur Terima kasih ya aku titip baby Al, Tolong perhatikan dia dengan segenap hati!" ucapku dengan suara bergetar.


"Iya bu, saya paham posisi ibu, yang penting Ibu jaga-jaga kesehatan!" kata Mbak Nur.


"Terima kasih Mbak Nur, Sepertinya aku tidak bisa lama-lama di sini, keburu nanti ada orang yang datang, titip Baby Al dan juga Icha ya, Mbak Nur Kalau ada apa-apa hubungi saja di nomorku yang baru, yang tadi aku kirim pesan singkat buat Mbak Nur!" kataku.


"Iya Bu!" jawaban benar singkat.


Aku kemudian meletakkan kembali Baby Aldio yang tertidur itu ke atas ranjangnya, kemudian aku segera berdiri, berniat akan keluar dari ruangan itu.


Setelah pamit dengan Mbak Nur, aku kemudian berjalan menuju ke arah pintu ruangan itu, baru saja aku hendak memegang pegangan pintu, tiba-tiba saja pintu itu sudah dibuka dari luar, membuat aku terkejut dan mundur beberapa langkah.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2