
Pagi itu, semburat sinar matahari masuk melalui celah kamar ini, aku beranjak bangun dari tidurku.
Ku buka tirai jendela dan balkon kamar ini, udara hangat dan segar menerpa wajahku.
Matahari pagi itu seolah menyapa wajahku dengan sinar hangatnya.
Aku melangkah kembali masuk kedalam, ku lihat Kenny masih nyenyak tertidur.
Aku tak berani membangunkannya, biarlah.
Kenny kini adalah suamiku, ya, dia adalah suamiku, aku sudah menikah dengannya.
Namun, aku dan dia bukan seperti suami istri pada umumnya, dia melewatkan malam pertama kami, aku pun sama sekali tak di sentuhnya.
Apakah aku sedih dan kecewa? Secara manusia tentu saja iya, namun rasa cintaku yang besar padanya bisa menutupi semua itu.
Aku beranjak masuk ke kamar mandi, ku siram tubuhku dengan air dingin, agar tubuhku segar dan dingin.
Setelah selesai, aku lalu berpakaian di kamar mandi, sengaja aku tidak berganti pakaian diluar, Kenny tidak akan tertarik melihat tubuhku.
Aku maklum sikap Kenny seperti itu, tidak apa-apa, cintaku mampu menutupi itu semua.
Tok ... Tok ... Tok
Suara ketukan kamarku membuyarkan lamunanku, bergegas aku berjalan ke arah pintu, Mbok Sumi sudah berdiri di depan pintu dengan membawa sarapan kami di sebuah nampan.
"Selamat pagi Bu, ini sarapan paginya, silahkan!" kata Mbok Sumi sambil menyodorkan nampan besar itu.
"Trimakasih Mbok, lain kali tidak usah repot membawakan sarapan ke atas, biar aku yang menyiapkan untuk suamiku!" sahutku sambil mengambil nampan itu dari tangannya.
"Tidak apa-apa Bu, kan pengantin baru, pasti cepek kan semalam beraktifitas!" goda Mbok Sumi sambil sekilas melirik ke arah Kenny yang masih tertidur.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Biarlah orang lain mau menganggap kami melakukan apapun, namun yang pasti, saat ini diriku masih perawan.
Ya, aku masih perawan ketika sudah berstatus sebagai istri.
"Icha sudah berangkat sekolah Mbok?" tanyaku.
"Sudah Bu, sedang di antar sama Nur, dedek Al lagi di jaga sama Pak Banu!" jawab Mbok Sumi.
"Baiklah Mbok, nanti aku akan turun dan mengambil dedek, trimakasih sarapannya, aku mau mengurus Kenny dulu!" ujarku.
Aku kembali masuk ke kamar setelah Mbok Sumi pergi, ku lihat Kenny mulai mengerjapkan matanya.
__ADS_1
Aku meletakan nampan di atas meja, lalu aku mendekati Kenny dan duduk di sisi tempat tidur, Kenny yang mungkin merasa tidak enak langsung bangkit dari posisi berbaringnya.
"Selamat pagi Ken!" ucapku sambil tersenyum.
"Pagi Din, maaf, aku kesiangan!" jawab Kenny.
"Tidak apa Ken, mungkin semalam kau kelelahan dengan acara seharian kemarin, ini tadi Mbok Sumi bawakan sarapan, makanlah!" tawarku.
"Trimakasih Din, nanti saja sarapannya, aku belum lapar, aku mau mandi dulu!" ujar Kenny.
"Sebentar Ken!"
Aku lalu bergegas ke lemari Kenny, mengambilkan handuk baru untuknya. Lalu aku menyalakan keran air panas di bak mandi, menyiapkan sabun dan segala keperluan Kenny, aku melakukannya dengan penuh cinta.
"Ini handuknya Ken, air hangatnya juga sudah siap!" kata ku.
Kenny mengambil handuk dari tanganku, dia nampak sungkan padaku, bahkan pandangannya tidak di arahkan padaku.
"Trimakasih Din, harusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Kenny.
"Repot-repot? Wajar seorang istri menyiapkan segala keperluan suaminya, aku tidak merasa repot!" ujarku.
"Maafkan Aku Din ... Semalam aku ..." Kenny menghentikan ucapannya.
"Sudahlah Ken, aku paham kondisimu, tidak apa-apa, aku ikhlas!" ucapku.
Sebenarnya aku ingin menangis, namun sebisa mungkin aku tahan, aku tidak ingin membuat Kenny semakin merasa bersalah.
"Din ... beri aku waktu!" tambahnya.
Aku menganggukan kepalaku, setelah itu Kenny baru beranjak masuk ke kamar mandi.
Saat itulah aku baru mulai mengeluarkan air mataku. Ada yang pedih di sudut hatiku yang terdalam.
Namun aku tetap duduk menunggunya, menunggu suamiku selesai mandi dan berpakaian.
Tak lama kemudian dia sudah selesai mandi, aku terkejut karena dia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, aku baru sadar aku lupa menyiapkannya pakaian, aku hanya memberinya handuk tadi.
Dia berdiri di depan lemarinya hendak mengambil pakaian. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Sekilas aku melihat tubuhnya, dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu sempat menggetarkan hatiku, tubuhnya yang tinggi dan atletis, walau kini terlihat agak kurus, membuat aku kembali berdesir.
Rasanya aku ingin berlari memeluk tubuh itu, menikmati aroma maskulinnya, namun aku hanya dapat menggigit bibirku, menahan setiap rasa yang bergelora di jiwaku.
__ADS_1
Kenny memang milikku sekarang, namun hatinya bukan untukku, aku harus bersabar, asal bisa melayani dan mengurus setiap keperluannya, itu sudah membuatku cukup senang.
Setelah Kenny sudah berpakaian lengkap, di segera duduk di kursi depan meja kamar itu.
"Ayo sarapan Din, aku ingin bermain dengan Dedek Al," kata Kenny yang langsung mulai menyantap makanannya.
Aku menyusul duduk di sebelahnya. Aku pun perlahan mulai makan juga, walaupun perutku tidak lapar sama sekali.
Setelah selesai sarapan, kami lalu turun ke bawah.
Baby Al nampak masih terbaring di box bayinya. Kenny lalu mengangkat putranya itu. Dengan lembut Kenny mencium bayinya yang baru berusia dua bulan itu.
"Anak papi tampan sekali, sudah minum susu belum? Mau Papi buatkan susu?" Kenny berbicara pada bayinya.
Hatiku menghangat melihat perlakuan Kenny terhadap bayi mungilnya itu, Kenny memang penyayang anak kecil, dulu saja Icha bisa di taklukan oleh kelembutan Kenny.
Kenny lalu mulai menggendong bayinya, dia menimangnya dan sesekali mendekap dan menciumnya.
"Papi tidak akan meninggalkan Al, Al anak kesayangan Papi, cepat besar ya Nak!" ucap Kenny.
Baby Aldio nampak nyaman dalam gendongan Kenny, ah, Kenny memang kebapakan, siapapun yang ada dalam pelukannya pasti merasa nyaman.
Dulu aku juga pernah merasakan itu, saat aku masih jadi kekasih status Kenny, selalu nyaman kalau aku memeluknya.
Sekarang, aku sangat ingin memeluk tubuh itu, sangat, bahkan teramat sangat.
Aku gigit bibirku untuk menahan gejolak rasa ini.
Perlahan aku mendekati Kenny dan Baby Al, berniat ingin menimbrung, karena walau bagaimana, sekarang statusku adalah istri Kenny, ibu dari Aldio Wijaya, Putra Kenny.
"Dedek Al lagi main apa sama Papi? Yuk gendong yuk, kita jalan-jalan di Taman yuk!" ajak ku sambil menyodorkan tanganku ke arah Baby Al.
"Din, biarkan Al bersamaku, kau bisa pergi kebelakang atau mengerjakan yang lain!" ujar Kenny.
Seketika itu juga dadaku sesak, seperti di timpa berkilo-kilo karung beras.
Bahkan Kenny tidak mau aku ikut bergabung dengannya.
Benarkah aku ini adalah seorang istri? Aku memang tulus dan ikhlas melayani dia dan mengurus keluarganya.
Tapi ini kenapa ada yang sakit di dalam hatiku.
****
__ADS_1