Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Imunisasi


__ADS_3

Hari ini aku sibuk menghabiskan waktu di kamar, untuk membuat perencanaan kegiatan sekolah untuk tahun ajaran baru nanti.


Paling tidak dalam rapat dewan sekolah nanti, ada materi yang bagus yang akan ku bagikan demi kemajuan sekolah Rajawali.


Bisa membantu Kenny memajukan sekolahnya adalah kebahagiaan tersendiri buat aku, aku tau gaji yang di berikan tidak seberapa bila di bandingkan dengan tempat mengajarku dulu, di tambah lagi dengan pendidikan yang kutempuh.


Namun rasa ikhlas ini membawaku untuk tetap bersyukur, bisa membantu sekolah biasa menjadi sekolah favorite yang akan menuju kelas internasional.


Ceklek!


Pintu kamarku di buka dari luar, Ibu masuk dan langsung duduk di sebelahku yang sedang menghadap layar laptop.


"Kamu tidak capek dari tadi di depan laptop terus Din?" tanya Ibu.


"Tidak Bu, mumpung aku libur dan banyak waktu, aku mau membuat perencanaan kegiatan sekolah, nanti malah tidak selesai kalau aku santai-santai!" sahutku.


"Pak Banu tadi telepon, minta tolong kamu untuk imunisasi bayinya Kenny, Mbok Sumi sudah tua, dia tidak mengerti imunisasi, Si Nur juga tidak bisa, dia sibuk mengurus Icha, Kenny tidak mungkin membawa bayinya sendiri ke rumah sakit kalau tidak ada yang membantunya!" tutur ibu.


Aku menghentikan aktifitasku di laptop, lalu aku menoleh ke arah Ibu.


"Tapi Bu, aku tidak enak kalau sering-sering ke rumah Kenny, apa kata orang nanti?" tukasku.


Sebenarnya hatiku sangat ingin sekali berlari ke sana, membantu apa yang bisa aku bantu, tapi aku juga punya harga diri yang harus ku jaga, Kenny akan berpikir aku murahan kalau aku sering muncul di hadapannya.


"Gimana Din? Kamu mau tidak? Pak Banu juga tidak memaksa sih, dia hanya minta tolong!" ujar Ibu.


"Baiklah Bu, nanti aku akan berangkat ke rumah Kenny!" ucapku akhirnya. Ibu nampak tersenyum padaku.


"Ibu senang kalau kamu bisa dekat dengan Kenny, walau kamu tidak pernah cerita sama Ibu, tapi ibu tau perasaanmu, Ibu juga tau alasanmu masih sendiri di usiamu yang sudah penghujung ini!" kata Ibu.


Aku terkesima mendengar perkataan ibu, sebagai seorang Ibu, dia sangat tau perasaanku, instingnya begitu tajam menebak sesuatu yang aku sendiri tidak pernah mengungkapkannya.


"Maafin aku Bu, mungkin sikapku tidak sesuai dengan keinginan ibu, Bapak dan Ibu menginginkan aku segera menikah, namun sampai hari ini, aku ..." aku menghetikan ucapanku karena ada air mata yang menetes di pipiku.


Ibu langsung membelai rambutku dan memelukku dengan erat.


"Ibu ngerti perasanmu Din, Ibu juga perempuan sama seperti kamu, Ibu selalu berharap, kamu akan mendapatkan kebahagiaanu!" bisik Ibu.

__ADS_1


Aku menangis di pelukan Ibu, saat ini yang jadi kebahagiaanku adalah kebahagiaan Kenny, aku begitu mencintainya sampai lupa akan diriku sendiri. Saat ini hanya ibu yang mengerti perasaanku.


"Kalau kamu cinta sama Kenny, cintailah dia sebanyak yang kamu bisa Din, Kenny itu baik hatinya, suatu hari, pasti dia akan memandangmu dan mengharhai setiap perasaanmu terhadapnya!" sambung Ibu.


"Bu, apakah aku ini seorang pelakor?" tanyaku pada Ibu, Ibu nampak terkejut, dia langsung menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang bilang Nak? Ibu tidak pernah melihatmu merebut siapapun, bahkan saat Kenny menikah dan kau sedih, kau malah mengurung diri dan malah pergi menjauh, sedikitpun kau tak pernah menggoda Kenny, apalagi merusak rumah tangganya, Ibu kenal kamu Din!" jawab Ibu.


Aku kembali memeluk Ibu dan menangis di pelukannya.


"Ijinkan aku untuk mencintai Kenny bu, jangan desak aku untuk menikah dengan siapapun, jangan lagi ungkit umurku yang sudah terlalu matang untuk ukuran wanita dewasa!" isakku di pelukan Ibu. Ibu menganggukan kepalanya.


"Iya Din, maafin ibu dan Bapak ya, seringkali ingin menjodohkan mu, tanpa memperdulikan perasaanmu!" ucap Ibu. Aku menganggukan kepalaku.


Ibu lalu mengurai pelukannya, di seka nya pipiku yang basah oleh tangannya.


"Sudah siang Din, kau jadi kerumah Kenny? Bayinya perlu ada orang yang merawatnya, bisa saja Kenny membayar seorang baby sitter untuk bayinya, tapi dia tidak mau itu, kata Pak Banu, lebih baik kau yang membantu merawatnya!" ujar Ibu.


"Iya Bu, sebentar lagi aku berangkat kesana, aku ganti baju dulu!" sahutku sambil berdiri dan mengambil baju di lemariku.


Aku mengambil baju Kenny yang sudah terlipat rapi itu, aku mendekapnya sesaat, walau sudah di cuci, aroma Kenny masih tercium olehku.


Setelah semuanya selesai, aku langsung melajukan sepeda motorku menuju ke rumah Kenny.


Ketika sampai di sana, Baby Al nampak sedang di gendong oleh Mbak Nur, Icha ada di sebelahnya sambil mengajak baby Al bercanda.


"Miss Dini! Dek, Miss datang Dek!" seru Icha. Wajah anak itu nampak riang.


Syukurlah, perlahan wajah murung dan mendung itu kini berangsur pulih, mulai ada senyum dan tawa di wajah Icha, dan aku sangat senang melihatnya.


"Icha lagi apa nih?" sapa ku sambil duduk di sebelahnya.


"Lagi main sama dedek Al, masa tadi dedek bisa ketawa lho Miss!" ujar Icha.


"Oya? Masa sih? Miss belum lihat nih dedek Al tertawa, ayo dek, tertawa dek!" kata ku sambil mencolek pipi Baby Al yang mulai berisi itu.


"Miss Dini mau antar dedek Al ke rumah sakit ya kata Pak Banu?" tanya Mbak Nur yang sedang memangku Baby Al.

__ADS_1


"Iya Mbak," sahutku singkat.


Om Banu muncul dari dalam kamarnya.


"Akhirnya kau datang juga Din, hampir saja Kenny mengajakku ke rumah sakit, aku ini sudah tua, jalan saja susah!" kata Om Banu.


Kenny nampak menuruni tangga dan berjalan ke arah mereka.


"Sudah siap kau Ken?" tanya Om Banu.


"Sudah Ayah!" sahut Kenny.


"Berangkatlah Din, hati makin siang!" kata Om Banu.


"Papi mau kemana?" tanya Icha.


"Papi mau antar Dedek Al imunisasi dulu di rumah sakit, Icha tunggu di rumah ya, main sama kakek dulu!" ucap Kenny sambil mengelus rambut Icha.


Kenny lalu berjalan mendahului ke arah garasi mobilnya.


Aku langsung mengambil baby Al dari gendongan Mbak Nur, membawa tas bayi yang sudah di persiapkan sebelumnya dan berjalan menyusul Kenny.


Kenny sudah menyalakan mesin mobilnya, aku pun segera masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping kemudi.


Setelah pamit dan melambaikan tangan pada orang rumah, kami pun segera berangkat ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Kenny lebih banyak diam tanpa bicara.


Aku melirik sekilas ke wajah Kenny, wajah rupawan yang selalu membuatku berdebar.


"Din, nanti berjalanlah di belakangku, aku tidak ingin orang-orang mengira kalau kau adalah istriku!" ucap Kenny tiba-tiba.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hatiku begitu perih bagai teriris pisau yang sangat tajam.


Aku hanya mampu menganggukan kepalaku tanpa bisa berkata apapun.


****

__ADS_1


__ADS_2