
" Maksud perkataan mu apa? Aku tidak mengerti." Ucap Arnold.
" Maksudku, kak Arnold apa kabar? Boleh aku duduk di sini?" Ucap Anabel mengulangi dan memperbaiki perkataannya.
Bruk
Grep
Anabel menyenggol tubuh Alicia tapi Arnold langsung memeluk Alicia dari arah samping agar tidak terjatuh sambil menatap tajam ke Anabel.
" Pindah." Usir Arnold.
" Kamu tidak dengar Adelicia kalau kak Arnold memintamu untuk pindah." Ucap Anabel tanpa punya rasa malu sedikitpun kalau dirinya di usir.
" Kamu yang pindah!!" Perintah Arnold sambil menunjuk ke arah Anabel.
" Anabel sini!!!" Bentak daddynya Alicia untuk pertama kalinya.
" Tapi dad..." Ucapan Anabel terpotong oleh perkataan daddynya.
" Kalau tidak mau menuruti perintah daddy, masuk ke dalam kamar!!" Perintah daddynya sambil menatap ke arah Anabel agar tidak melakukan sesuatu yang merusak rencana yang sudah di susun dengan rapi.
Dengan wajah cemberut Anabel berjalan ke arah orang tuanya dan duduk di tengah - tengah mereka sedangkan ke dua orang tuanya tersenyum palsu ke arah Arnold dan Alicia. Senyuman palsu sepasang suami istri itu dapat di ketahui oleh Arnold tapi Arnold pura - pura tidak tahu sedangkan Alicia yang masih polos tidak tahu Alicia hanya membalas senyuman mereka dengan tulus.
" Maafkan perbuatan putri kami." Ucap Alexander Saptohargo ayah kandung Alicia.
" Putri kami sering menceritakan tentang nak Arnold, sepertinya nak Arnold dan putri kami Anabel sangat cocok yang satu tampan dan yang satu cantik." Ucap Bela ibu kandung Anabel tanpa punya rasa malu sedikitpun.
Anabel yang mendengar ucapan ibunya tersenyum bahagia sedangkan Alicia hanya menundukkan wajahnya dirinya sadar diri Alicia memang tidak pantas untuk bahagia sedangkan Arnold menggengam tangan Alicia.
" Aku sangat mencintai Alicia dan kami ada rencana untuk menikah." Ucap Arnold sambil mencium punggung tangan Alicia.
" Alicia???" Tanya ulang ke tiganya.
" Iya, aku memanggilnya dengan sebutan Alicia bukan Adelicia." Ucap Arnold
" Kenapa merubah nama putriku?" Tanya Alexander Saptohargo dengan nada terkejut.
" Itu nama panggilan kesayangan karena aku merasa tidak ada satupun yang tulus mencintai Alicia." Ucap Arnold.
" Kami semua tulus menyayangi Adelicia buktinya aku dari pagi memasak kesukaan putri kami." Ucap Bela sambil tersenyum tapi dalam hatinya ingin memaki Alicia.
__ADS_1
" Benar kata mommy, kami semua sangat sayang pada kak Adelicia. Kak Adelicia kenapa kakak menjelek - jelek kan kami dan mempengaruhi kak Arnold?' Tanya Anabel dengan wajah sendu.
" Iya Adelicia kami semua sangat sayang padamu, apakah kami bertiga harus berlutut agar kamu percaya kalau kami sangat tulus menyayangimu?" Tanya Alexander Saptohargo.
" Kak Adelicia, kakak yang selalu merebut semua barang - barangku dan aku selalu diam karena sebagai adik harus mengalah." Ucap Anabel
" Cukup!!!" Bentak Arnold yang sangat kesal dengan mereka bertiga yang bicara tanpa henti.
Arnold yang merasakan genggaman tangannya akan di lepas oleh Alicia langsung di tahan oleh Arnold dan Arnold tahu kalau Alicia merasa dipojokkan dan di fitnah oleh mereka bertiga.
" Sayang, kita pulang saja." Ajak Arnold sambil berdiri dan menarik tangan Alicia dengan lembut.
" Tunggu, lupakan apa yang telah terjadi." Ucap Alexander Saptohargo dengan wajah pucat.
" Istriku sudah memasak kesukaan Alicia silahkan makan dulu." Sambung Alexander Saptohargo.
" Maaf, aku tidak selera untuk makan." Ucap Arnold dengan nada dingin dan wajah datar.
" Alicia, daddy mohon tolong bujuk kekasihmu." Mohon Alexander Saptohargo.
" Sayang, mommy sudah memasak makanan kesukaanku." Ucap Alicia
" Tapi..." Ucapan Arnold terpotong oleh Alicia.
Arnold menghembuskan nafasnya dengan kasar sebenarnya dirinya malas berlama - lama tinggal dengan keluarga ular yang sewaktu - waktu bisa membunuhnya dengan mengeluarkan racun bisanya.
" Baiklah." Jawab Arnold pasrah sambil memeluk Alicia dari arah samping.
Alexander Saptohargo, Bela dan Anabel hanya menggenggam erat ke dua tangannya menahan amarahnya, mereka berlima berjalan ke arah ruang makan. Anabel yang ingin duduk di samping Arnold mendapat tatapan tajam membuat Anabel duduk berhadapan dengan Arnold hanya di batasi oleh meja makan.
Bela mengambil makanan untuk suaminya setelah itu Alicia hendak mengambil makanan untuk Arnold tapi Anabel yang tidak mau kalah dengan kakak tirinya buru - buru merebut sendok nasi kemudian diletakkan di piring Arnold.
" Cukup!!! Aku ingin calon istriku yang mengurusku bukan kamu." Ucap Arnold dengan nada satu oktaf.
Lagi - lagi mereka bertiga menggenggam tangannya dengan erat seandainya saja Alexander Saptohargo tidak butuh Arnold rasanya ingin menendang keluar Arnold dan Alicia.
" Ambil piringnya!!!" Perintah Arnold.
Anabel yang melihat wajah menakutkan Arnold langsung mengambil piring yang sudah ada nasi sedangkan Alicia mengusap punggung Arnold agar menahan emosinya.
" Sayangku Alicia, ambilkan makanan untukku." Pinta Arnold sambil tersenyum manis ke arah Alicia.
__ADS_1
" Baik sayang." Jawab Alicia.
Alicia mengambil makanan untuk Arnold sedangkan ke tiga orang yang di depannya hanya menahan amarahnya terlebih Anabel karena selama ini tidak ada satupun yang menolak dirinya.
Mereka makan dalam diam tanpa ada yang bicara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum. Mereka berjalan ke arah ruang keluarga dengan formasi yang sama, Arnold duduk bersebelahan dengan Alicia sedangkan ke tiganya duduk berhadapan hanya dibatasi oleh meja.
" Nak Arnold, perusahaan milik paman ada masalah." Ucap Alexander Saptohargo tanpa basa basi setelah dua menit mereka saling diam.
" Lalu?" Tanya Arnold yang sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Alexander Saptohargo.
" Paman ingin mengajukan penawaran kerjasama dengan perusahaan milik orang tua nak Arnold." Ucap Alexander Saptohargo.
" Aku tahu perusahaan paman sebentar lagi mengalami kebangkrutan, apa keuntungan yang aku dapatkan?" Tanya Arnold sambil menatap ke arah Alexander Saptohargo.
" Bagaimana kalau paman menjual tiga puluh persen saham?" Tanya Alexander Saptohargo.
" Terlalu sedikit delapan puluh persen." Ucap Arnold.
" Apa??? Aku tidak setuju." Tolak Alexander Saptohargo.
" Delapan puluh lima persen." Ucap Arnold.
" Kenapa bertambah lagi?" Protes Alexander Saptohargo.
" Sembilan puluh persen." Ucap Arnold.
" Kenapa..." Ucapan Alexander Saptohargo terpotong oleh Arnold.
" Sembilan puluh lima persen." Ucap Arnold sambil tersenyum devil.
" Baik." Jawab Alexander Saptohargo pasrah karena dirinya sudah pergi ke semua perusahaan untuk mengajukan kerja sama tapi tidak ada satupun yang bersedia.
" Baik, besok datang ke perusahaan ku karena daddy sudah menyerahkan semua perusahaan padaku." Ucap Arnold.
" Baik." Jawab Alexander Saptohargo.
" Oh ya aku dengar mansion ini akan di lelang karena hutang paman yang sangat menumpuk dan tidak sanggup membayar hutang bank." Ucap Arnold.
" Ya benar karena itu secepatnya paman dan keluarga akan pindah." Ucap Alexander Saptohargo.
" Oh ya aku dengar putri kami Adelicia pindah ke apartemen nak Arnold yang sangat luas, boleh kami tinggal bersama putri kami?" Tanya Bela tanpa punya rasa malu sedikitpun.
__ADS_1
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Apa jawaban Arnold? Tunggu bab selanjutnya