
" Orang yang sangat berarti dalam hidupku hanya tiga yaitu suamiku, nenekku dan anak yang aku kandung yang tidak diakui oleh ayah kandungnya bahkan ingin menghilangkan nyawa darah dagingnya. Maaf aku akan tetap pergi karena hanya nenek yang tulus menyayangiku dari aku kecil hingga sekarang, terserah kak Arnold percaya padaku atau tidak." Ucap Alicia sambil membalikkan badannya.
" Alicia sekali lagi aku katakan satu langkah lagi jangan harap kamu kembali ke mansion ini." Ancam Arnold lagi.
" Aku akan tetap pergi untuk menemui nenekku, maafkan aku." Ucap Alicia sambil melanjutkan langkah kakinya tanpa menengok ke arah belakang.
" Pergilah karena mulai sekarang dan seterusnya aku tidak perduli." Ucap Arnold dengan nada dingin dan datar.
Alicia hanya diam tanpa bicara sedikitpun hingga dirinya membuka pintu utama dan berjalan menuju ke arah gerbang.
" Maaf nyonya, biar saya yang mengantar nyonya." Ucap salah satu bodyguard.
" Tidak usah paman, aku naik taksi saja." Jawab Alicia sambil tersenyum walau hatinya sangat terluka.
" Paman." Panggil Alicia.
" Iya nyonya.' Jawab bodyguard tersebut.
" Tolong pesankan taksi." Pinta Alicia karena dirinya tidak mungkin membawa ponsel milik suaminya walau ponsel itu sebenarnya sudah diberikan untuk dirinya.
" Baik nyonya." Jawab bodyguard itu dengan nada bingung.
Bodyguard itu pun memesan taksi melalui ponselnya setelah lama menunggu hampir dua puluh menit taksi itu akhirnya datang dan Alicia naik taksi tersebut sambil memandangi ke arah belakang untuk terakhir kalinya.
' Selamat tinggal sayang, semoga kamu menemukan penggantiku yang lebih baik dariku.' Ucap Alicia dalam hati.
Dua puluh menit kemudian Alicia sudah sampai di rumah sakit, setelah membayar ongkos taksi Alicia berjalan ke arah ruang icu hingga di depan pintu icu seorang dokter membuka pintu ruang icu dengan wajah sedih membuat jantung Alicia berdetak kencang bukan karena dirinya jatuh cinta melainkan perasaan tidak enak.
" Apa yang terjadi dengan nenekku dok?" Tanya Alicia
__ADS_1
" Maafkan saya nyonya, kami sudah berusaha tapi Tuhan lebih sayang dengan nenek nyonya." Ucap dokter tersebut.
" Maksud dokter?" Tanya Alicia dengan nada bergetar dan tubuhnya terasa lemas.
" Benar nyonya, nenek nyonya sudah meninggal." Ucap dokter tersebut.
Alicia tanpa bicara langsung berjalan ke ruang icu dan melihat brankar di mana neneknya berbaring di tutup kain putih dengan tangan gemetar Alicia mengangkat perlahan kain tersebut tampak wajah damai neneknya yang setia memejamkan matanya membuat Alicia memeluk neneknya.
" Nenek... Hik... Hiks.... Kenapa nenek ninggalin Alicia? Kini Alicia sama siapa? Hiks... Hiks..." Ucap Alicia sambil terisak
" Nyonya sabarlah." Ucap dokter tersebut sambil menepuk punggung Alicia agar mengurangi rasa sesaknya.
" Nenek... Hiks... Hiks..." Ucap Alicia yang masih terisak
Karena tidak kuat menahan rasa sedih Alicia tidak sadarkan diri, mendengar tidak ada suara tangisan Alicia membuat dokter tersebut menatap wajah pucat Alicia. Dokter tersebut meminta perawat untuk menggendong Alicia ke ruang ugd dengan di bantu oleh perawat lainnya, perawat tersebut membaringkan perlahan tubuh Alicia kemudian dokter tersebut mulai mengecek kondisi Alicia.
" Dokter, aku mohon jangan hubungi siapapun." Ucap Alicia yang masih setia memejamkan matanya.
" Nyonya... Nyonya... Sadarlah." Ucap dokter tersebut sambil tangannya diarahkan ke pipi Alicia untuk menepuk pelan pipi Alicia namun matanya membulat sempurna melihat bekas tamparan pada pipi Alicia.
' Apakah suaminya yang melakukannya?' Tanya dokter tersebut dalam hati sambil menahan amarahnya.
" Dokter Ririn, bagaimana apakah kita memanggil keluarga pasien?" Tanya salah satu perawat.
" Tidak usah, oh ya kamu urus nenek pasien nyonya Alicia yang meninggal di ruang icu masalah pemakaman nanti aku tanya sama nyonya Katarina." Jawab dokter Ririn.
" Baik dok." Jawab perawat tersebut kemudian pergi meninggalkan ruangan ugd menuju ke ruang icu.
' Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?' Tanya dokter Ririn sambil menatap iba ke arah Alicia.
__ADS_1
Tidak berapa lama Alicia membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan dengan tatapan bingung hingga dirinya menatap ke arah dokter Ririn.
" Apa yang terjadi dok?" Tanya Alicia.
" Nyonya tadi tidak sadarkan diri dan aku membawa nyonya ke sini." Ucap dokter Ririn menjelaskan.
" Nenek hiks... hiks..." Ucap Alicia sambil terisak kembali.
Grep
" Sstttt... Nenek sudah tenang di sana, jika kamu sedih maka nenekmu ikut sedih." Ucap dokter Ririn kemudian memeluk Alicia.
Alicia membalas pelukan dokter Ririn dengan berlinang air mata membuat dokter Ririn menepuk punggung Alicia agar rasa sesaknya berkurang.
" Maaf nyonya, nenek nyonya mau di bawa pulang atau bagaimana?" Tanya dokter Ririn sambil mendorong perlahan tubuh Alicia.
" Langsung di makamkan saja dok." Ucap Alicia dengan wajah linglung nya.
" Keluarga atau sanak saudara yang bisa dihubungi? Tanya dokter Ririn.
" Ada ayahku tapi ayahku sangat membenciku karena lebih sayang dan perduli dengan istri barunya dan anak tirinya." Ucap Alicia dengan menatap dokter Ririn dengan tatapan sendu.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Apa jawaban dokter Ririn? di tunggu bab selanjutnya ya.
Ayo donk vote, like, komentar dan hadiahnya biar author semangat menulisnya.
Terima kasih atas vote, like, komentar dan hadiahnya.
__ADS_1