
"Sayang. Ada yang datang, mungkin petugas pembersih rumah." Damar menghentikan perbuatan nya.
"Aaaa biar saja, Lana masih ingin main panas-panasan sama Papa!" rengek Allana dengan kata-kata tidak senonoh nya, ia menarik tubuh Damar merapat pada tubuh nya, tidak lupa Allana melingkarkan kakinya pada pinggang Damar, untuk mengunci pergerakan Damar agar tidak pergi ke luar.
Kini tubuh Damar merapat pada tubuh Allana. Damar menahan tubuh nya agar berat badan nya tidak menumpu pada tubuh Allana.
"Sayang .... kasihan dong mereka, sampai kapan harus menunggu kita selesai main panas-panasan?"
"Sampai Lana merasa puas! Papa juga belum puas kan?"
"kalau sampai puas! maka hingga besok pagi pun tidak akan puas! Lana tidak kasihan dengan Mama, jika nanti malam kita tidak berkirim Doa?" Damar bertanya selembut dan sehalus mungkin dengan mengecupi pelan dahi Allana.
"Ia kasihan Pah, maaf! ya sudah sana Papa bukakan pintu." Akhirnya Allana mau mengerti.
"Nah gitu dong! Pacar nya Papa kan gadis yang baik dan penurut. Ok, kamu pakai lagi kaus nya! Papa ke depan dulu. Ingat! sementara ruangan nya di bersihkan, kamu jangan keluar. Kalau butuh apapun, biar Papa yang ambilkan. Kamu Istirahat saja, Papa harus memandu mereka, apa saja yang harus di kerjakan. O yah, satu lagi! jangan pakai teriak. Minta apapun itu, kirim pesan di WhatsApp, Mengerti Neng sayang?"
"Iya Papa bawel!" Cup. Muncul ide jahil dari Allana, ia mengecup leher Damar dengan dalam tepat di sisi jakun Damar yang kini naik turun tak beraturan karena menahan gejolak dari serangan pengecapan Allana.
"Neng sayang! ja-ngan be-gi-ni! Nanti merah ini. Aduuuh Lana!" Pekik Damar. Ia menarik paksa dirinya dari drakula Lana.
"Ahahaha .... rasa Wee .... seimbang kan Pah! Papa juga buat dada Lana banyak Cap. Nah itu cap dari Lana, siapa tahu Papa gatal dan ganjen tuh nanti di luar sana, kalau mbak-mbak nya lihat leher Papa merah, maka mereka tidak akan berani menggoda Papa." Allana tertawa tanpa merasa bersalah.
"Waah Pacar Papa nakal sekali nih! shi dasar ABG." ujar Damar.
"Huuu .... Dasar Bapak-bapak!" Allana berbalik mengatai Damar.
"Eh ngeledek. Walaupun Bapak-bapak, tapi ganteng dong?!" narsis Damar.
"Ahahhaha .... tetap saja Bapak-bapak anak satu. Anak nya sudah ABG lagi." Allana malah tambah gencar meledek Damar.
"Awas yah, nanti malam Papa serbu lagi! biar tambah banyak cap nya, kalau perlu hingga tubuh belakang ."
"Iiikhh jangan dong Pah! jangan sampai enggak maksudnya. ahaha ...."
"Astaghfirullah makin nakal rupanya, ya sudah papa keluar dulu. Mereka sudah menunggu lama." Damar membantu Allana memakaikan kaus, lalu Allana pun melakukan hal sama pada Damar.
Setelah rapi, damar menghampiri cermin. Ia mengamati cap yang di buat Allana. "Hais ABG tidak senonoh. Sampai merah begini, tidak tertutup kaus lagi, kentara sekali merah nya!" gumam Damar.
Ia lihat Allana sudah tidur miring membelakangi nya. Sepertinya Allana mulai terlelap. Damar kembali menghampiri Allana lalu ia kecup sebentar pipi nya Allana. Setelah nya Damar menyelimuti Allana, lalu bergegas keluar rumah.
Damar keluar dengan menutupi leher nya menggunakan sebelah tangan.
"Selamat siang Pak!" sapa mereka.
"Siang. Dari agen jasa cleaning famili?" tanya Damar, saat sudah sampai di pintu pagar rumah dan dua orang perempuan dan satu orang laki-laki lengkap dengan peralatan mereka.
"Betul Pak!"
"Maaf lama. Silakan," ucap Damar. "Oh tidak mengapa Pak!" ucap perempuan yang satunya dengan ramah.
__ADS_1
"Mari saya tunjukkan mana saja yang perlu di rapikan. Mulai dari kamar ini yah!" Para pekerja jasa itu saling pandang, karena itu jelas kamar pengantin. Namun mengapa kamar itu tidak nampak habis di tiduri.
"Bunga-bunga yang sudah mulai layu dan busuk di buang saja. Seprei nya ganti yang baru dan untuk di tengah rumah, tolong ....!"
"Papa .... Pah!" Allana terdengar berteriak dari dalam kamar sebelum ia sempat menyelesai kan perkataan nya.
"Lana! tadi kan sudah aku katakan agar lewat WahtssApp kalau butuh sesuatu. Loh bukan nya tadi Lana tidur yah!" Gumam hati Damar.
Tanpa menjawab Allana. Damar kembali memandu para jasa pembersih tersebut. Hingga Allana kembali berteriak dengan manja nya memanggil Damar.
"Hee .... silakan di mulai, seperti nya Putri saya, membutuhkan saya. Maka saya permisi sebentar." Pamit Damar dengan kikuk.
"Silakan Pak!" ucap serempak mereka. Setelah Damar berlalu masuk ke dalam kamar Allana mereka mulai bekerja.
"Ada apa, Neng sayang? koq teriak-teriak begitu! Papa kan sudah katakan, jika butuh sesuatu kirim pesan lewat WhatsApp." tanya Damar sembari menghampiri Allana yang sudah duduk di atas tempat tidur.
"Temani Lana bobo!" Damar menghela nafas nya. Allana berlebihan sekali. Tapi ia suka dengan tingkah Allana. Apakah Damar mulai memiliki rasa? atau hanya terbuai semata? entahlah. Waktu yang akan menjawabnya.
"Baiklah. Tapi cepat bobo, Papa harus berada di luar bersama mereka yang sedang merapikan rumah ini."
"Tentu Pa! ayok." Allana menarik tangan Damar agar menemani nya tidur.
Sepuluh menit berlalu, Allana tidak juga tidur. Tangan nya malah menggerayangi tubuh Damar dengan tangan yang ia masukkan ke dalam kaus Damar.
"Neng sayang! jangan begini, cepat bobo. Papa belum dapat bersantai, masih banyak yang perlu di persiapkan untuk berkirim doa nanti malam." ucap Lembut Damar menghentikan aksi nakal Allana.
Damar sebetulnya suka dengan keagresifan Allana, ia pun amat memaklumi jiwa ABG Allana yang ingin mencoba banyak hal sesuai imajinasi nya. Namun kali ini Damar masih ingin berbuat untuk menghargai mendiang Vianny, juga masih dalam suasana berkabung.
Selain Allana masih belum lulus sekolah. Damar bukan laki-laki yang mau enak nya sendiri. Maka dari itu ia belum dapat mengkhianati perasaan nya pada Vianny dengan menggauli Allana.
"Hem, tetap saja Papa harus memantau mereka. Gini deh, Setelah hari ke tujuh kepergian Mama, Papa kan sudah tidak sibuk. Papa janji deh dalam satu hari Lana bisa berbuat apapun terhadap Papa!" bujuk Damar.
"Betul Pah?" tanya Allana begitu berbinar.
"Betul sayang! bobo yah!"
Tanpa berkata lagi, Allana yang di ninabobokan Damar, Akhir nya terlelap juga. Setelah Allana tidur, Damar kembali keluar dan menyiapkan keperluan untuk tahlilan malam ini.
Malam nya, acara berkirim doa berjalan dengan khidmat dan lancar. Setelah para tamu pulang, Allana dan Damar pun beranjak tidur di kamar Allana dengan tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang itu.
**
Pagi hari, terdengar lantunan merdu sang Mu'adzin memanggil penduduk Bumi untuk melakukan sujud pagi.
"Sayang, bangun! shalat subuh yuk," ajak Damar.
Allana membuka mata perlahan, "Pagi Pah! Eh maaf Papa kesempitan yah bobo di sini."
"Pagi sayang nya Papa! tidak koq sayang, malah enak, kan bobo nya sama kamu."
__ADS_1
Gombal pagi Damar, padahal badan nya terasa kaku, selain tempat nya sempit, Allana Tidur bak bayi yang tidak mau bergerak menyusup di tubuh nya.
"Papa hendak ke Mesjid ya?"
"Tidak sayang, shalat berjamaah dengan Neng di rumah."
Setelah shalat, Damar membaca Al-Qur'an, begitu pun Allana.
Kini pukul enam, mereka sudah siap. Allana hendak ke sekolah, Damar hendak ke kantor nya. Ia berangkat lebih pagi, karena banyak berkas-berkas yang sudah menunggu untuk di kerjakan.
"Lana, nanti siang pulang naik taksi online saja yah! sepertinya Papa pulang sore. Ajak teman kamu untuk menemani di rumah." pesan Damar.
"Baik Pah! nanti Lana ajak Kinan dengan yusra deh!"
"Loh itu cowok atau cewek?"
"Ya cewek dong Papa! kinan itu Kinanti dan Yusra itu Yusrania."
"Oouh di fikir cowok hehe."
"Loh kita naik motor Pah?" tanya Allana.
"Iya sayang. Kenapa? sayang keberatan?"
"Tidak! malah Lana senang, jadi bisa peluk Papa deh!"
"Ah kamu Neng!"
"Iya betul Pah! Lana bahagia menjadi pacar Papa! impian Lana memiliki pacar yang tinggi, putih, ganteng dan naik motor besar, tercapai sekarang. Aaaaaa... apalagi kalau cowok nya jago main basket! wuih tambah keren Pah! tapi Papa mana mungkin Hobby basket, secara tiap hari kan hanya bekerja."
Allana belum tahu saja, kalau Damar itu jago basket."Papa juga bahagia telah menjadi pacar impian Lana."ujar Damar.
"Ini uang jajan Lana, di pakai untuk hal bermanfaat yah! ini untuk tiga hari." Damar menyodorkan uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah.
"Terima kasih, ini kebanyakan Pah!" ujar Allana yang merasa itu terlalu banyak untuk nya.
"Untuk Lana nanti makan sama teman-teman. Simpan sisanya di celengan."
"Terima kasih Pah!"
Akhirnya Damar mengantar Allana ke sekolah. Untuk anak-anak lain Allana mengaku Damar adalah Papa nya. Namun pada kedua sahabatnya ia jujur kalau saat ini Damar adalah Suami nya.
Di taman sekolah,
Setelah ucapan bela sungkawa dan pelukan kesedihan, Allana dapatkan dari para Guru dan teman-teman sekolah nya. Kini Allana sedang menikmati waktu istirahat nya di taman sekolah, bersama Kedua sahab nya,
"Apa? jadi si om ganteng itu, sekarang menjadi suami kamu lan?" pekik kedua sahabatnya.
Bersambung ....
__ADS_1