Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
35. Paraplegia


__ADS_3

Keesokan paginya,


Dari kemarin telah beberapa kali pengecekan tidak ada masalah dengan Damar. Tidak pusing atau ingin muntah dan lainnya.


Pagi ini sebagian alat yang menempel pada tubuh Damar telah di lepas. Termasuk kateter urine yang juga di lepas. Kini Damar harus ke kamar mandi jika hendak buang air.


"Selamat pagi sayang!" sapa Allana. Nampan untuk Sarapan sudah ada di tangan nya.


"Pagi Istri ku," Damar tersipu. Ibunya pun berada di sana, karena untuk di ruangan VIP tersebut dapat di temani oleh beberapa orang.


Sedangkan Ayah Damar dan sang adik lebih memilih untuk bermalam di rumah Damar.


"Sayang! A'a ingin buang air kecil," pinta Damar.


"Mari, Lana bantu A!" Allana langsung menawarkan diri dan menaruh nampan makanan di atas filling cabinet pasien yang berada di sisi tempat tidur.


Allana membantu Damar untuk duduk pada mulanya. Dari hari di mana ia sadar, Damar belum menginjakan kaki di atas lantai, untuk duduk pun ia hanya di perbolehkan menggunakan fungsi Alfa bed yang di tekuk menggunakan remote kontrol.


"Alhamdulillah, akhir nya aku duduk!" ucap syukur Damar. Lalu Damar hendak menarik kaki nya bertujuan untuk turun ke lantai.


"Pelan-pelan saja sayang!" pinta Allana. Ia bersiap untuk memapah Damar. Tiang infus sudah ia persiapkan untuk ikut di tarik ke toilet.


"Bisa Neng? perlu Ibu bantu?" tanya Ibu nya Damar yang sedang duduk di sofa sembari menatap layar ponselnya.


"Bisa koq Bu! sepertinya tidak perlu di bantu," jawab Allana.


"Neng! kaki A'a ....!" ucap Damar dan berhenti begitu saja.


"Kaki nya kenapa A? kesemutan? nanti juga hilang," Ujar Allana menyimpulkan begitu saja.


"Bukan, tapi .... seperti nya mati rasa, A'a tidak dapat menggerakkan kaki A'a Neng! pantas saja dari kemarin kaki ini rasanya diam saja. Tidak bergeser sedikit pun." Ucap Damar.


"Mungkin karena kelamaan tidak bergerak sayang," tukas Allana.


Ibunya Damar yang melihat kejanggalan pada Kedua orang tersebut, ia mulai tertarik dan memperhatikan mereka dengan seksama, menaruh ponsel nya ke dalam tas.


Lalu Ibu nya Damar segera menghampiri mereka, dalam hatinya ia mulai bertanya, "Ada apa dengan mereka berdua? mengapa kasak-kusuk seperti kebingungan?"


"Ada apa Neng? Kasep?" tanya Ibu nya Damar setelah berada di samping mereka.


"Kaki Damar Bu!" jawab Damar, wajah nya mulai terlihat cemas.


"Kaki A Damar, mati rasa katanya Bu." Jawab Allana.


"Mati rasa? lokh dari kemarin baik-baik saja kan?" tanya IBu nya Damar kembali


"Damar juga gak ingat Bu. Namun memang seperti nya kaki ini tidak bergerak atau tidak terasa apa-apa, entahlah Damar lupa." Jawab Damar.


"Ibu panggil dokter sebentar ya Nak! kamu masih bisa tahan tidak pipisnya? nanti pipis di celana?" tanya Ibu nya Damar kembali.


"Tidak tahu Bu! sekarang malah tak terasa ingin buang air kecil."


"Astaghfirullah'aladzim." Gumam Allana. "A'a sabar dulu ya, mungkin efek obat dan terlalu lama berbaring, jadi nya mati rasa." Allana berusaha menenangkan Damar.


Ibu nya Damar bergegas memanggil dokter jaga pada pagi itu. Karena dokter yang merawat Damar belum datang.


Mendapatkan laporan mengenai kondisi Damar, dokter serta beberapa perawat pun bergegas menuju ke ruangan Damar.


Setelah beberapa menit, team dokter pun sudah berada di ruangan rawat inap Damar.


"Maaf Pak, coba berbaring kembali. Kami akan memeriksa nya terlebih dahulu," Pinta sang dokter.


"Baik dok!" Damar pun berbaring kembali. Dokter segera melakukan pemeriksaan.


Dengan cara menekan, menekuk, memijat, bahkan memukul pelan kaki Damar menggunakan palu kecil. Hasilnya nihil, kaki Damar

__ADS_1


tetap tidak bereaksi terhadap pukulan palu sekali pun.


"Maaf Pak, Bu! seperti nya, ini harus melalui serangkaian pemeriksaan lebih lanjut di ruang radiologi." Ucap dokter jaga dengan wajah lesu.


"Apa yang terjadi dengan Putra saya dok?" tanya Ibu nya Damar.


"Seperti nya trauma pasca kecelakaan Bu! ini yang kami takutkan dari kemarin, karena Saudara Damar terlihat baik-baik saja jika dari luar." Jawab dokter jaga.


"Astaghfirullah! sayang, sabar yah!" Allana memeluk Damar dengan tangan nya tak henti mengelus pipi Damar.


"Kami akan membawa Saudara Damar nanti Bu, setelah dokter yang menangani nya tiba. Kami akan menghubungi dokter dengan segera, agar tiba di rumah sakit secepatnya." ucap dokter jaga.


"Terima kasih dok!"


Dokter dan team perawat pun pamit dari ruangan tersebut. Dua orang perawat tetap di ruangan tersebut, karena Damar harus kembali di pasang kateter urine. Setelah selesai mereka pun berpamitan keluar dari ruangan tersebut.


"Mungkin kah Aku lumpuh Bu?" Damar terisak dalam pelukan Ibu nya.


"Sabar Nak! kita lihat hasilnya dari pemeriksaan nanti, semoga tidak ada yang serius."


"Iya A! tolong sabar dan tabah. Lana akan selalu di samping A'a, apapun yang akan terjadi. Namun semoga ini sifatnya hanya sementara." Bujuk Allana.


Damar hanya mengangguk dan menatap Allana dengan sendu. Nampak dari tatapan nya sudah tidak ada harapan apapun lagi. Ia merasa iba kepada Istrinya.


**


Siang hari,


Damar di dampingi Arwan dalam melakukan pemeriksaan. Sejak di kabari Ibu nya, bahwa ada masalah dengan kaki Damar. Ayah dan Adik Damar pun bergegas ke rumah sakit.


"A, Lana ikut!" pinta Allana.


"Sayang! kamu tunggu Aku di kamar saja ya, doakan agar semuanya baik-baik." Ucap Damar, ia masih berusaha untuk berfikir baik pada hasil akhir nya.


Damar sebetulnya merasa iba kepada istri kecil nya yang manja. Bagaimana seandainya ia betul-betul tidak dapat berjalan kembali. Apa yang akan terjadi dengan rumah tangga mereka. Bagaimana masa depan Allana.


"Hem!" Damar menghela nafas nya berat. Setelah Allana melepaskan pelukan nya. Damar pun segera di bawa ke ruang radiologi untuk mengecek keadaan kondisi tubuh Damar.


Hingga hampir sore hari Damar pun kembali ke kamar nya. Sejak kembali dari ruang radiologi, Damar nampak lebih banyak diam dan murung.


"Sayang, makan dulu yah," tawar Allana. Ia tahu, Damar sedang tidak baik-baik saja. Namun Allana tetap berusaha tersenyum dan ceria, seolah semua nya sedang baik-baik saja.


Namun sebaliknya. Damar nampak tidak ceria. Banyak hal yang di fikirkan oleh Damar, kekhawatiran nya akan kaki yang sudah tidak dapat di gerakan lagi, ke khawatiran terhadap Allana yang masih butuh kasih sayang dan perlindungan nya.


"A'a tidak lapar Neng!" ucap Damar dengan nada datar dan dingin.


"Sedikit saja sayang! dari tadi siang A'a kan belum makan, ada obat yang harus A'a minum," bujuk Allana.


"Nanti saja Neng! A'a belum lapar."


"A! please." Bujuk Allana kembali penuh harap dan memajukan sendok mengarah ke mulut Damar.


"Aku bilang nanti!" sret... prang!!!


"Astaghfirullah'aladzim. A'a!"


Entah sadar atau tidak, Damar menghalau tangan Allana yang hendak menyuapinya dengan agak memaksa hingga bukan hanya sendok yang jatuh, namun juga mangkuk yang sedang di pegang Allana.


"Maaf!" ucap singkat Damar.


"Sayang, kamu kenapa sih? aku hanya ingin kamu minum obat agar kembali sehat. Kalau tidak mau makan, maka tidak perlu marah!" Allana menangis. Ia berjongkok hendak membersihkan mangkuk yang pecah.


"Ada apa ini Mar, Lana?" Ibu dan Ayah Damar baru saja masuk dari arah luar.


"Mangkuk bubur nya jatuh Bu!" jawab Allana.

__ADS_1


"Sudah Nak! jangan di bersihkan, biar nanti Ibu minta tolong petugas kebersihan yang merapikan nya." Cegah Ibu nya Damar, ia segera membawa Allana duduk di sofa.


Ibu nya Damar mengerti, seperti nya mangkuk itu bukan jatuh karena tak sengaja, tapi ada sebab lain. Sejak dari ruang radiologi Damar nampak tidak bersahabat dan lebih emosian.


"Mar! kamu baik-baik saja kan?" selidik Ayah Damar.


"Baik Koq Pak!" Jawab Damar dengan nada dingin seperti tadi.


"Bu! mengapa sifat A Damar, berubah se drastis itu?" tanya Allana dengan tubuh bergetar dalam pelukan Ibu nya Damar.


"Sabar Neng! Suami mu hanya sedang dalam keadaan tidak siap menghadapi kenyataan saat ini, tolong bersabarlah sayang." Pinta Ibu nya Damar dengan terisak dan makin erat dalam memeluk Allana.


Keadaan kamar itu akhirnya hening. Hanya suara Isak tangis Allana yang masih terdengar.


**


Keesokan harinya.


"Neng! maafkan A'a akan hari kemarin, maaf sayang! tidak seharusnya A'a bersikap seperti itu, A'a amat frustasi dengan keadaan ini." Damar memeluk lembut Allana yang sedang bergelayut manja duduk bersebelahan dengan nya di atas tempat tidur pasien.


"Sudahlah A! Lana faham koq,"


"Neng, berjanjilah. Apapun yang terjadi dengan A'a, jangan pernah Neng tinggalkan A'a ya sayang! A'a cinta dan sayang sama kamu, melebih apapun." ucap Damar dengan terisak.


Allana sedikit menggeser tubuhnya, duduk menghadap ke arah Damar. Lalu ia menangkup pipi Damar, memandang sendu wajah Damar dengan penuh cinta dan ia menyeka air mata Damar.


"A'a sayang! apapun yang akan terjadi padamu, kamu adalah takdir ku yang telah Tuhan persiapkan sejak lama, maka dari itu, tidak ada cela bagi mu, kamu akan tetap sempurna di mataku, baik ketika keadaan mu sempurna, ataupun dalam kekurangan. Kamulah cinta dunia Akhirat ku! kita akan menghadapi ini dengan mudah selama tetap bersama."


Allana mengecup dahi nya Damar dengan mendalam. Saat ini keadaan nya amat leluasa untuk mereka berinteraksi, karena orang tua Damar dan Adiknya sedang pulang ke rumah Damar.


"Terima kasih Sayang! justru sebetulnya, kamu lah yang paling sempurna untuk ku dengan segala kekurangan ku," Ucap Damar dengan terharu. Ia makin mengeratkan pelukannya.


"A'a love you Neng! love maksimal, Istri ku yang cantik," ucap Damar dengan tersenyum genit.


"Love you more A'a Sayang, suamiku yang tampan." Balas Allana tak kalah genit.


Dua sejoli itu akhirnya tertawa bersama dan saling berpelukan dengan perasaan seperti sedang jatuh cinta kembali.


**


Tiga hari kemudian,


Saatnya tiba, berita yang di nantikan dan mendebarkan itu tiba. Hari ini, hasil pemeriksaan dari ruang radiologi sudah keluar dan akan dokter beritahukan apa hasilnya yang membuat Damar tidak dapat menggerakkan kakinya.


"Baiklah! kita berkumpul di sini, karena akan melihat hasil MRI dari pasien atas nama Damar. Maaf, saudara Damar yakin akan mendengar langsung hasil test ini?" tanya dokter ahli radiologi.


"Saya yakin dok!" ucap mantap Damar dengan menggenggam tangan Allana yang berdiri di samping nya karena saat ini Damar duduk di kursi roda. Mereka berada di ruangan dokter ahli radiologi.


"Bismillah!" ucap dokter ahli radiologi, ia menghela nafas sejenak, memandang satu persatu wajah orang-orang yang berada di hadapan nya. Termasuk Damar dan Allana.


"Baiklah! kasus ini sangatlah langka, mohon saudara dan keluarga tabah menghadapi ini. Ini yang menyebabkan Saudara Damar tidak dapat berjalan atau maaf lumpuh. Saudara Damar saat ini mengalami Paraplegia. Atau kelumpuhan karena gangguan motorik pasca kecelakaan yang menyebabkan tubuh bagian bawah mengalami kelumpuhan. Perkiraan kami, ada sebab benturan hebat pada sumsum tulang belakang." Ungkap dokter dengan ucapan yang amat berat untuk di sampaikan sebetulnya.


Der!


Kenyataan yang mengejutkan dan bagai sambaran Petir di tengah terik mentari.


"Astaghfirullah'aladzim!"


Damar, Allana, orang tuanya, Arwan serta Linggar yang juga berada di tempat itu merasa terkejut. Terlebih Damar, ia merasa terpukul dengan perasaan yang hancur mendengar pernyataan dokter.


"Astaghfirullah! tidak mungkin! Lana ma'afkan A'a, aku sudah cacat." ucap Damar sembari menangis.


"Tidak A! jangan katakan seperti itu, kamu masih Damar yang kemarin, Damar yang sempurna untuk ku, sayang!" Allana memeluk Damar dan mengecupi wajah Damar. Ia sudah tidak perduli lagi dengan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut. Ia hanya ingin Damar tenang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2