
Dua hari kemudian,
Sepulang kuliah, Allana merasa amat lelah. Setelah Shalat Dzuhur Allana memutuskan untuk tidur siang.
Hingga hampir tiba waktunya Ashar Allana terjaga dari tidur nya.
"Uggh! rasa nya pegal sekali," gumam Allana, ia membuka matanya. Lalu mengerutkan dahi. Karena seseorang berada di hadapan nya, sedang berbaring miring, menghadap ke arah nya.
Mata dari si pemilik wajah tampan dan begitu tenang itu terpejam. Namun bibir maskulin nan seksi nya nampak senyum.
Sosok itu yang Allana rindukan sejak lima bulan terakhir. Namun karena terpengaruh kantuk, sosok itu hanya mimpi bagi Allana.
"Heuum! halu banget sih, akibat rindu terhadap A Damar, mimpi pun terasa nyata." Gumam Allana.
Allana menyeringai lalu membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan, hingga tidur miring dan membelakangi sosok Damar, yang bagi Allana katanya itu hanya mimpi .
Allana kembali memejamkan mata. Namun sosok Damar halu, malah merapatkan tubuh dan memeluk nya. Bahkan sebelah tangan nya, kini membelai lembut kulit perut buncit Allana yang memang tak terhalang pakaian, karena atasan Allana tersingkap.
"Ish, geli!" gumam Allana dengan menyingkirkan tangan kekar tersebut. Ia tidak biasa menerima sentuhan tangan laki-laki pada perut buncitnya.
Hanya Ibu mertua, Mama Kinanti, Yusra dan Kinanti yang pernah menyentuh perut nya. Itu pun di balik pakaian.
Tangan itu kembali meraba perut nya. Malah kini kaki Allana di tindih Kaki nya Damar halu.
"Berat, ikh!" Allana mendepak kaki itu dengan kakinya. Matanya masih saja terpejam. Ia merasa semuanya mimpi.
"Ugh! Oush," erang halus Damar halu. Allana mendengar nya dengan samar. Dalam hatinya amat merasa puas.Kaki Damar halu tersingkir dari atas kaki nya.
Cup! kali ini tengkuk nya ada yang mengecup. Allana sedikit tertegun. Ia melebarkan matanya sejenak. Berfikir koq ada yang mengecup tengkuknya. "Apa ini? akh mimpi yang sangat nyata. Astaghfirullah'aladzim!"
Allana kembali memejamkan mata. Namun tangan nakal si pemilik tubuh di belakang nya tidak mau diam. Kini makin naik ke wajah Allana, tengkuk dan bahu Allana yang terbuka tak luput dari kecupan bibir nakal di belakang nya.
Allana yang sudah lama tidak di sentuh laki-laki. Ia pun merasa Dejavu akan sentuhan Damar, sekitar enam bulan yang lalu.
Terdengar Allana melenguh halus. Menahan gejolak libido tubuh nya, yang tiba-tiba naik dan merespon pergerakan tangan dan kecupan lembut di tengkuk, bahu dan leher samping nya.
Laki-laki di belakang Allana pun tersenyum puas dan bermimik mesum. Ia makin gencar saja melakukan aksinya dalam menyentuh Allana.
Allana berusaha membuat dirinya tersadar dari mimpi, terlebih sesuatu yang keras terasa menonjol dan menekan bagian belakang nya di tambah sentuhan tangan dan bibir yang menggangu tidur nya.
__ADS_1
"Astaghfirullah'aladzim! aku mimpi, atau apa sih? koq berasa nyata." ucap pelan Allana.
Allana membuka matanya, dalam mimpi itu, Allana tidak menolak akan respon tubuh nya pada sentuhan tangan yang kini masih aktif menyusuri bagian dada nya.
Allana menatap tangan itu. "Kyaaaaaa!! ini sungguhan, bukan mimpi. Tapi tangan siapa?"
Allana berteriak dalam hatinya. Lalu ia menggigit tangan yang ada di depan. Gep!
"Aaaaoouussh!" Teriak si lelaki. "Sayang! adduh, koq tangan ku di gigit?"
"Apa?" tanya Allana, ia takut salah akan pendengaran nya. "Sayang? sayang, apa? kamu saipa?" tanya Allana kembali, dengan nada kencang karena terkejut, ia berusaha bangun dengan hati-hati, sebab perut buncit nya yang sudah mulai menyulitkan untuk bergerak dengan cepat.
Allana berhasil duduk, ia memutar tubuhnya perlahan. Ingin memastikan siapa laki-laki di belakang nya. Mata Allana melebar dengan mulut menganga, ketika ia lihat sosok siapa yang Nampak.
Damar! ya itu Damar, tengah mengusap tangan nya yang di gigit oleh Allana dengan ringisan. Allana mengerjapkan mata, ia mengusap matanya berulang kali.
Allana tidak percaya dengan apa yang ia lihat berada di hadapan nya. Mungkin ini halusinasi semata. Mimpi yang terbawa ke alam nyata. Namun sosok nya tetap ada dan tidak lenyap setelah Allana sadar pun.
"Sayang? apakah tidak mau memeluk ku?" tanya Damar dengan menatap lembut Allana penuh dengan kerinduan.
"Kamu siapa?" tanya Allana dengan sarkas.
"Ka-kamu .... betul A Damar?" tanya Allana dengan terbata.
"Tentu! lalu siapa lagi?" Damar balik bertanya.
"Tidak! bukan, A Damar suamiku, sedang berada di luar negeri. Tidak mungkin itu kamu," Allana mundur perlahan dan turun dari tempat tidur.
Allana masih belum percaya dengan apa yang ia lihat. Ia hendak keluar kamar, bermaksud meminta tolong kepada Ibu mertua nya. Bahwa ada sosok Damar lain di dalam kamarnya.
"Neng, Sayang! ini aku Damar suami mu. Aku sudah pulang dari singapur." Ucap Damar.
Allana tidak menghiraukan nya. Ia berusaha membuka pintu kamar. Namun di kunci, Allana berteriak memanggil Ibu mertua nya, sembari menggebrak pintu kamar dari dalam. "Ibu ... Ibu .... tolong Lana, Bu! ada laki-laki di kamar Lana."
"Lana! ini Aku, suami mu!" Damar memanggil Allana dengan lirih. Itu berhasil membuat Allana menoleh.
Damar tengah duduk bersimpuh di atas lantai. Ia bermaksud mengejar Allana, namun kruk penyangga nya malah jatuh. Akhir nya Damar pun ikut jatuh.
"Betul, kamu A Damar? demi apa?" tanya Allana dengan penuh waspada.
__ADS_1
"Demi cinta dan sayang ku, pada Istri dan calon Anakku!" seru Damar.
"Sebutkan tanggal pernikahan kita." Pinta Allana. "Dan siapa Nama almarhumah Mama ku?" tanya Allana kembali.
"Delapan April." Jawab Damar cepat. "Vianny Amalia."
"Hem! betul. Eh tunggu, itu terlalu mudah, orang luar pun tahu!" seru Allana.
"Lalu?" tanya Damar, kini dirinya telah duduk di sisi tempat tidur, ia dapat melakukan nya sendiri dengan bertumpu pada kedua tangan nya.
"Ssssstt! Aku memiliki tahi lalat kecil. Suamiku sangat menyukai nya, katanya itu nampak manis, karena kontras dengan kulit ....."
"Di area pay*dar* bagian kiri." Jawab Damar cepat dan tepat, dengan memotong perkataan Allana.
"Waaaaa! pertanyaan bodoh macam apa itu Allana?" gerutu Allana dengan membalikkan tubuhnya serta menutupi wajah dengan kedua telapak tangan dan membelakangi Damar.
Allana merasa malu. "Tentu saja dia suami mu, bodoh! memang kepada siapa lagi ku umbar bagian dada ku, selain kepada suami ku?!"
Allana sibuk menggerutu dan menoyor kepala nya sendiri. Merutuki diri karena memberikan pertanyaan bodoh yang tidak patut di tanyakan. Nervous itu yang terjadi pada Allana.
"Sayang! kamu tidak merindukan Aku?" tetiba Damar sudah berada di belakang Allana. Damar berbisik dan merapatkan tubuhnya pada tubuh belakang nya Allana.
Damar memeluk dengan melingkarkan sebelah tangan nya di perut Allana. Lengan satu nya bertumpu pada kruk penyangga.
Deg!
Deg!
Jantung Allana merespon cepat, berdegup kencang layak nya sedang berdendang bahagia. "Emmmm,"
Damar mencoba memutar tubuh Allana, agar menghadap kepada nya. Allana tidak menolak. Kini tubuh mereka saling berhadapan.
Mata mereka saling menatap dan mengunci pandangan satu sama lain. Dari tatapan mereka, jelaslah segala kerinduan yang tersirat.
Damar memajukan wajahnya. Bibir Allana fokus nya. Allana menarik nafas dan menelan saliva nya dengan mendalam. Gugup melanda dirinya. Bibir mereka semakin dekat. Perasaan Allana makin ketar ketir di buat nya.
Perpisahan lama dan barang tentu tidak mendapatkan sentuhan laki-laki, maka kini, saat jarak tak lagi menjadi penghambat, namun malah
membuat Allana merasa malu dan gugup berlebihan.
__ADS_1
Bersambung ....