
"Ooh Elo!" ucap perempuan tersebut dengan nada cibiran.
"Eh kamu?!" Allana menunjuk sembari mengingat nya. "Kiara?"
"Ini kan?" gumam Damar. sepertinya, ia pun mengenal perempuan itu. Di perkirakan usia nya tidak jauh dengan Allana.
"Weii, sepupu gue Allana, apa kabar lo?" bukan menyapa dalam artian yang sebenarnya. Namun sepertinya ia hanya meledek Allana.
"Jadi ini, Allana yang banyak di gandrungi cowok- cowok. Sekarang Jalan nya sama Om-om. Duduk di kursi roda lagi, Iyyuuuh mana perut nya buncit! setelah Mak dan Bapak nya mati, ternyata sepupu gue ini menjual diri! uuuncch kaciaaan!" ucap sinis si perempuan, dengan nada ledekan.
"Heh! pemikiran picik Kiara?" senyum meremehkan dari Allana. Ia tidak mau meladeni sepupunya itu. Yang kerap memancing emosi tiap kali bertemu.
"Lana, apa kabar? maafkan mulut Kiara yah!" seorang perempuan di sebelah Kiara. Ia menghampiri Allana dan menyapa Allana dengan tulus.
"Alhamdulillah baik Kak Sasti! Masya Allah, Kak Sasti juga apa kabar, sudah lama tidak bertemu." Jawab Allana dengan tersenyum.
"Baik Koq. Lana maafkan keluarga Kak Sasti ya, ketika Mama mu ....," Sasti menelan ludah nya dalam. "kami tidak hadir. Karena Nenek melarang. Dia mengancam akan bunuh diri, kalau kami ber ta'ziah," Sasti melanjutkan kata-katanya dengan berlinang air mata.
Allana mengerti bahwa Sasti hendak mengatakan, bahwa Mama nya meninggal.
"Tidak mengapa Kak! Lana maklum," ucap Allana. "Nenek apa kabar?" tanya Allana.
Sasti diam. Namun Kiara menyerobot terlebih dahulu sebelum menjawab nya.
"Nenek dah gak ada! itu semua gara-gara Emak lo yang sudah merebut Anak nya yaitu Om gue!" teriak Kiara sembari berjalan menghampiri Allana dan berniat mencakar wajah Allana.
Namun dengan sigap Damar menangkap tangan itu dan mencengkram nya kuat.
"Heh, jangan coba-coba menyakiti Istri Ku! Heuh, ternyata kamu yang dulu berbuat onar di kedai Mama nya Allana. Belum kapok rupanya sudah pernah di seret ke kantor polisi!" teriak Damar dengan sengitnya.
"Lepas!" pekik Kiara. Damar melepaskan genggaman nya dengan kasar membuat Kiara terhuyung dan Brak! ia jatuh menabrak tong sampah aluminium.
"Aws, sialan lo!" Kiara menunjuk Damar dengan tidak ada takut nya.
Sedangkan Allana dan Sasti saling pandang dan mengerutkan dahi. Mereka tidak mengerti, mengapa Damar mengenal Kiara.
"Sayang! mari ke restoran! di sini terdapat aura negatif, tidak baik untuk calon Anak kita dan masa pemulihan ku!" Pinta Damar dengan lirikan sinis nya kepada Kiara.
"Baik sayang! Kak Sasti ikut kami makan yuk!! biar bisa ngobrol." Allana tidak lupa mengajak Sasti makan.
Sudah lama sekali rasanya Allana kehilangan anggota keluarga dari Ayah nya.
"Baiklah!" Sasti mengangguk.
"Kiara, kamu juga mari ikut kami," ajak Allana. Ia berusaha bersikap baik.
"Malas! yuk gengs, kita balik duluan saja," ucap Kiara, lalu mengajak teman perempuan lain nya yang berjumlah tiga orang untuk berlalu dari hadapan mereka.
"Syukurlah! sana gih, siapa juga yang mau makan dekat perempuan setengah syaiton," ucap Damar dengan ketus.
"Sayang!" protes lembut Allana, sembari mengelus pipi Damar. Sasti memperhatikan itu dengan tersenyum.
"Apa lo bilang?" tanya Kiara geram. Ketika ia melewati Damar dan Allana, ia mendengar Damar mengatainya. Namun tidak jelas apa yang Damar ucapkan.
Damar hanya melirik nya dengan sebuah cibiran. Kiara kembali dan sudah berancang- ancang untuk memaki Damar.
"Kiara sudah! kalau kamu mau pulang ke kosan terlebih dahulu silakan. Aku Masih Ingin mengobrol dengan Lana sebentar." Ucap Sasti.
"Ok lah!" Kiara berlalu dari hadapan mereka dengan menyenggol Allana.
"Astaghfirullah'aladzim!"
Allana mengelus dada. Sasti geleng kepala. Damar sangat amat geram di buatnya. Beruntung Allana tidak sampai terjatuh.
**
__ADS_1
Beberapa saat kemudian,
Allana, Damar dan Sasti sudah barada dalam sebuah restoran, mereka duduk melingkar di meja yang sama.
Damar memesan makanan dengan memanggil waiters. Allana asik mengobrol dengan Sasti.
"Oh ya Kak, hampir lupa! perkenalkan, ini A Damar, suami Aku!" ucap Allana memperkenalkan Sasti kepada Damar.
"Sayang! ini Kak Sasti, Ia kakak sepupu ku. Putri nya dari Om ku, yaitu Kaka nya almarhum Ayah! dan yang tadi Kiara,ia putri Tante ku, Adik nya almarhum Ayah.
Damar dan Sasti saling menyapa serta berkenalan. "Kapan kamu nikah Lan?" tanya Sasti.
"Ketika ....," Allana menoleh kepada Damar. Ia meminta izin untuk menceritakan tentang pernikahan mereka karena sebab apa.
Damar pun mengangguk dan tersenyum pertanda mengizinkan Allana untuk bercerita. Akhirnya Allana mulai menceritakan semuanya.
"Ya Allah! Aku merinding Lan," ucap Sasti sembari terisak dan memeluk Allana. "Jadi kamu menikah ketika masih sekolah SMA?"
"Iya Kak! oh yah, kakak dan Kiara koq ada di Jakarta?" tanya Allana.
"Kakak mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas negeri di Jakarta ini, Dek! makanya kuliah di Jakarta. Nah kalau Kiara, ikut-ikutan Kakak kuliah di Jakarta juga, biasa kan melihat Kakak kuliah di Jakarta, malah merasa tersaingi dan tidak mau kalah. Padahal ia kuliah di swasta yang biayanya mahal. Orang tua nya sampai harus menjual rumah satu-satunya."
"Astaghfirullah. Lalu Tante Anet dan Om Bagas tinggal di mana sekarang?" tanya Allana Setelah rasa terkejut nya.
"Tinggal di rumah Nenek dan setelah Nenek meninggal, mereka menguasai nya. Padahal itu rumah ....," Sasti diam.
"Sudahlah Kak, toh semua sudah berlalu." Ucap lembut Allana. Ia tahu, Sasti ingin mengatakan itu rumah Allana, peninggalan Sang Ayah untuk Allana dan Mama nya, yang di rebut Nenek mereka dan tega mengusir Allana serta Mama nya.
"Hem, maafkan Nenek Lan!" Sasti memohon dengan penuh harap.
"Kak! Aku sudah memaafkan mereka." Ujar Allana. Ia melihat Damar sedang memainkan ponselnya.
"Terima kasih Lan!"
"Sama-sama Kak!" Allana tersenyum lalu ia merebut ponsel Damar dari tangan nya.
"Ikh gemesin." Allana menarik-narik pipi Damar. Ia lupa ada Sasti di antara mereka.
Sasti tersenyum, merasa lucu melihat tingkah mereka. "Ya Allah, jadi pingin nikah," gumam Sasti dalam hatinya.
"Maaf Sasti lancang! A Damar kenapa? Koq duduk di kursi roda?"
Sasti akhir nya menyampaikan rasa penasaran nya mengenai keadaan Damar.
"Ouh ini? hehe. Beberapa bulan lalu Aku mengalami kecelakaan motor. Syaraf bagian bawah ku lumpuh, namun Alhamdulillah, kini sudah membaik. Sebetulnya, Aku sudah dapat berjalan menggunakan kruk, namun Lana, tidak mau aku kelelahan berjalan dengan kruk, saat mengitari mall." Jawab Damar.
"Astaghfirullah! Lana, ternyata cobaan hidup mu tidak mudah. Maafkan kami, telah membuang mu dari keluarga." Ucap Sasti.
"Kak! Lana sudah bahagia dengan suami Lana saat ini. Lihat nih perut buncit Aku, sebagai pelengkap kebahagiaan Aku." Allana tertawa ketika memamerkan perut besar nya.
"Alhamdulillah, sudah berada bulan?" tanya Sasti.
"Delapan bulan Kak!" Allana menjawab nya dengan tersenyum serta mengelus perut nya.
"Sayang, kembalikan ponsel ku," rengek Damar tiba tiba.
"Eh, sebentar! seperti nya A'a mengenal Kiara? pernah bertemu Kiara di mana?" tanya Allana dengan tatapan tajam.
"Emm, sudahlah! untuk apa membahas perempuan titisan syaiton itu, kecil-kecil gak ada ahlak." Jawab Damar dengan santai.
"Sayaaaaang!" Allana berkata lebih lembut, ia menanti jawaban yang pasti. Begitu pun dengan Sasti, ia nampak menanti jawaban Damar.
"Hemm, baiklah! perempuan itu dan Ibunya pernah berbuat onar di kedai nasi goreng Mama mu, mereka membawa beberapa preman untuk menghancurkan kedai nasi goreng milik Mama mu. Itu lah awal di mana Aku mengenal Mama mu. Karena Aku dan Linggar sedang ada di sana waktu itu, maka kami berinisiatif menolong Mama mu." Jawab Damar.
"Astaghfirullah'aladzim! Kiara dan Mama nya, pernah senekad itu?" Allana hampir tidak percaya.
__ADS_1
"Ya begitulah! mereka meminta jatah, katanya untuk biaya hidup Nenek kalian. alasan mereka karena kedai tersebut didirikan dari Asuransi alamrhum Ayah mu. Mereka berpikir ada hak di sana," ucap Damar.
"Ikh Tante Anet! Kiara! koq Lana tidak tahu Sayang?" tanya Allana kemudian.
"Mama mu, meminta merahasiakan nya. Toh mereka di seret Polisi ke dalam sel, pada akhirnya, namun tidak lama. Seperti nya ada yang menjamin, belum sampai dua minggu. Mereka sudah bebas," ujar Damar kembali.
Tidak berapa lama, pesanan makanan Damar pun tiba, Setelah waiters meletakan di meja, Allana dan Damar menawarkan nya kepada Sasti.
Akhir nya mereka makan bersama. "Kak, beberapa hari lagi, Lana dan A Damar akan pindah ke Bandung dan menetap di sana," Allana membuka suara dalam keheningan mereka.
"Bandung? lokh Kak Sasti juga akan KKN di Bandung, sekitar dua Minggu lagi," ucap Sasti.
"Waaah! seru, Kakak mampir ke rumah kami yah! A boleh atau tidak?" tanya Allana kepada Damar.
"Tentu boleh dong sayang!" jawab Damar tanpa menoleh, ia pokus pada makanan nya.
"Terima kasih, Insya Allah nanti Kak Sasti mampir." Ujar Sasti.
"Kak! minta nomor telepon nya dong, agar lebih mudah berhubungan. Masya Allah, Lana bahagia sekali dapat bertemu kak Sasti. Akhirnya Lana jumpa dengan keluarga Lana." Ujar Allana.
"Tentu Lan! Bersyukur Aku juga bisa bertemu kamu di sini, Papa sedang mencarimu. Ia ingin minta maaf padamu, kepergian nenek, membuat kami lebih bebas untuk mencarimu." Ujar Sasti.
"O yah! nanti deh kalau Aku sudah melahirkan dan A Damar sudah membaik, kami akan menemui orang tua Kak Sasti." Binar bahagia Allana.
Akhirnya setelah bertukar nomor telepon. Allana dan Sasti kembali makan.
Setelah makan. Allana dan Damar memutuskan untuk pulang. Begitupun dengan Sasti. Mereka berpisah di parkiran Mall.
**
Lima hari kemudian,
"Lana ...., mengapa harus pindah. Kami kan tidak mau berpisah dengan mu." Yusra sedang menangis. Mereka baru tahu, kalau Allana akan pindah ke Bandung.
Orang tua Damar telah pulang ke Bandung dua hari yang lalu.
"Sudah Yus! Bandung-Jakarta kan dekat! nanti kalau kamu libur, bisa main ke sana." Bujuk Allana.
"Tapi Lan ...., nama nya berjauhan pasti akan berbeda, kami tidak akan dapat bertemu kamu setiap hari." Timpal Kinanti.
"Aku tahu Kin, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus mengikuti suamiku kemana pun ia pergi. Bahkan ke lubang kecoak sekali pun." Ucap Allana.
"Yakin mau aku bawa ke dalam lubang kecoak?" tiba-tiba Damar Sudah berada di antara mereka.
"Kalau masuk nya sama Aa. Mau dong!" gombal Allana.
"Tapi aku nya gak mau!" seru Damar.
"Ikh koq gitu," Allana manyun.
"Ya karena Aku gak akan membawa Istri ku ke dalam lubang kecoak! tapi membawa ke Istananya dong." Ujar Damar dengan mengedipkan mata.
"Uummm Soo sweet!
나는 너 사랑해 / Nan, neo Saranghae Suami ku! (Aku cinta kamu)." Allana mengangkat tangan nya dengan jari telunjuk dan ibu jari di tautkan, membentuk finger love.
"나도사랑해 / Nado Saranghae (Aku juga cinta kamu) Istriku!" Balas Damar.
"Lokh Sayang, koq tahu jawaban nya?" tanya Allana.
"Iya dong! sejak gaul nya dengan ABG, Aku banyak belajar kelakuan ABG jaman Now! karena ABG jaman dulu gak ada sarang burung dan sebagainya." Jawab enteng Damar.
"Koq sarang burung?" Allana memajukan bibir nya, merasa kata cinta nya di nodai.
"Ahahaha, maaf Yank! Aku lupa lagi, yang tadi aku sebutkan, ingat nya jadi sarang burung." Damar tertawa lepas.
__ADS_1
Begitu pun dengan Yusra dan Kinanti. Mereka menertawakan wajah Allana yang di tekuk, tidak terima, kalau kata cinta nya di ubah menjadi sarang burung.
Bersambung ....