
"Tunggu sayang!" jegal Damar pada langkah Allana.
"Ada apa Pah?" tanya Allana.
"Pakai topi Papa nih, agar terlindung dari panas," ucap Damar. Ketika ia melihat topi kesayangan nya tergantung di spion motor milik nya, maka terbersit untuk memakai kan kepada Allana.
"Baiklah!" Allana menurut dan Damar memakaikan topi pada kepala Allana. "Wah cantik!" ucapan kagum Damar, melihat Allana tambah cantik memakai topi hitam milik nya.
Allana tersipu malu di puji suami sekaligus Papa nya. "Loh ni sepeda motor siapa yang memasukan nya?"
"Itu minta tolong Pak hansip Anwar yang kebetulan lewat waktu itu." jawab Allana.
Dengan saling bertaut tangan, mereka pun berjalan kaki ke rumah Pak RT yang jarak rumah nya tidak begitu jauh, hanya lima menit berjalan kaki maka mereka telah sampai di kediaman Pak RT.
Damar dan Allana di sambut baik oleh pak RT dan istrinya. Kebetulan siang itu Pak RT tidak sedang pergi kemana pun.
"Monggo silakan duduk dulu, saya panggilkan suami saya," pinta Bu RT.
"Terima kasih Bu!" Damar mengangguk sopan seraya tersenyum.
Bu RT Kembali ke dalam dan tidak lama Pak RT pun menemui Damar serta Allana.
**
"Innalillahi wa innailaihi Rodjiun." ucap Pak RT.
"Maaf Pak! kami baru mengabari, karena saya pun baru saja tiba dari Bandung. Hingga tiga malam ini kami mengadakan tahlilan di rumah orang tua saya." tutur Damar.
"Ya Nak! tidak mengapa, saya faham koq." Ibu RT keluar dengan membawakan dua cangkir minuman untuk Damar dan Allana lalu ia hidangkan.
Damar dan Pak RT pun kembali berbicara mengenai pernikahan nya dengan Allana karena sebab Vianny yang meminta.
"Jadi begitu Pak!" ucap Damar.
"Ooo.... Jadi Dek Vi sendiri yang meminta kalian menikah." ujar Pak RT.
"Mungkin agar saya dapat menjaga Lana tanpa jarak Pak!" ucap Damar kembali.
"Ya mungkin seperti itu Nak Damar." tukas Pak RT.
Hingga seorang perempuan masuk ke pekarangan pak RT menenteng sesuatu di tangan nya, seperti nya tentengan makanan.
"Eeehhh ada tamu toh!" ucap perempuan itu. Dress selutut dan bagian atas agak terbuka, rambut ikal panjang sepinggang dan tergerai begitu saja. Damar menelan ludah kasar ketika melihat wajah nya.
Wajah terlihat menor, karena dibubuhi berlapis dempul wajah serta bedak dan rona pipi berwarna oranye di buat-buat, serta bibirnya merah menyala.
__ADS_1
"Pah! matanya di jaga. Inilah si janda genit!" bisik Allana menatap tajam wajah Damar yang sedang melongo bagai tersihir wanita yang kelebihan makeup itu. Bukan kagum atau suka, namun justru ia merasa aneh melihat penampilan perempuan itu.
"Eh Mbak Salma. Iya, mau bertemu istri saya? ada di dalam." ujar Pak RT.
"Hehe .... iya pak RT. Uuu tamu nya tampan loh pak RT." ucap si Mbak Salma dengan mengedipkan sebelah mata pada Damar.
Damar terkesiap, ia terkejut plus ingin tertawa namun ia tahan ketika di beri sebuah kedipan. Betul apa yang di katakan Allan. Perempuan ini genit.
Allana menarik sebelah lengan Damar ke dalam pangkuan nya, sesekali ia mencubit kecil tangan Damar agar tidak terbius oleh kegenitan perempuan itu.
Damar meringis kecil namun senang melihat kecemburuan dan sifat posesif Allana yang menurut nya lucu.
Setelah perempuan itu masuk ke dalam. Damar kembali berbincang dengan pak RT tentang tahlilan dan kedepannya mereka akan tinggal di mana.
Hingga perempuan tadi kembali keluar dan tatapan matanya tidak lepas dari wajah tampan Damar.
Allana berusaha mencubit kecil lengan Damar kembali. "Pah! jangan Kontak mata sama Mbak nya!" desis Allana.
"Iya sayang nya Papa! tidak koq." gumam Damar sembari berbisik. Pak RT yang memperhatikan mereka berdua pun seakan mengerti kegelisahan Allana. Karena ia faham betul akan Salma yang genit.
"Ekhem. Mbak Salma sudah selesai berurusan dengan istri saya nya?" tanya Pak RT.
"Hehe .... sudah Pak RT." jawab enteng Salma dengan cengengesan dan masih menatap Damar.
"Kalau sudah, monggo jika mau pulang," ujar Pak RT walaupun terkesan ngusir namun masih bernada sopan.
Bagaimana Salma tidak tertarik kepada Damar. Perawakan tinggi 180an cm. Badan tegap dengan kulit putih bersih untuk seukuran laki-laki, paras yang tampan, tubuh nya terlihat berotot hasil dari olahraga basket sebagai Hobby nya.
Damar jarang nge Gym. Ia lebih suka olahraga basket dan berenang di sela senggang nya dan ia telah memiliki clubs basket tersendiri. Gabungan dari mahasiswa dan para karyawan atau manager seperti dirinya.
"Pak saya pamit, karena harus merapikan rumah dan menyiapkan hidangan untuk nanti jamuan tahlil." Damar secepatnya pamit demi menjaga perasaan Allana.
Walaupun Damar tidak sama genit nya dengan Salma, ia faham akan Allana yang sedang cemburu dan Damar menikmati sekali. Lagi pula Damar mulai merasa tidak nyaman di tatap oleh perempuan lain.
"Loh koq Pamit, Mas!" seru Salma.
"Hehehe .... Masih ada urusan lain Mbak!" Damar tersenyum sopan untuk hanya menghargai bukan genit.
"Papa!"
Allana menatap Damar dengan wajah Angry bird nya. Damar mengelus lembut telapak tangan Allana dengan ibu jarinya agar Allana tenang.
"Pak RT saya pamit! ba'da Isya jangan lupa yah." kode Damar pada pak RT untuk tahlilan Vianny.
"Baik Nak Damar! silakan, insya Allah tidak lupa." Pak RT mengerti.
__ADS_1
"Mbak!" sembari berdiri Damar tersenyum dan mengangguk kepada Salma, terlihat Salma sumringah. Maka Allana makin tidak suka.
"Mari Pah!"
Setelah berucap salam. Damar yang di tarik Allana ia jalan terhuyung.
"Sayang! perlahan jalan nya, nanti jatuh!" pinta Damar dengan suara lirih.
"Cepat Pah! Lana tidak nyaman lama-lama di sini."
"Hehe .... si Neng cemburu niyeh." goda Damar.
"Ikh enggak! Papa saja yang kegeeran merasa di cemburui, Lana Hanya menyelamatkan pandangan Papa dari Zina." elak Allana.
Damar tertawa gemas. Ia buka topi yang Allana kenakan lalu Damar mengacak pelan rambut Allana.
"Lana cemburu .... Lana cemburu ...." ledek Damar sembari jalan mundur, mirip Anak sekolah sedang meledek teman nya.
"Aaaa Papa! Lana tidak cemburu." pekik Allana makin kesal. Damar malah cengengesan sembari menjulurkan lidahnya, hatinya merasa bahagia dan berbunga-bunga.
"Ayo pukul Papa kalau berani!" ujar Damar yang melihat Allana tambah kesal dan mengepalkan tangan hendak meninju Damar.
"Awas ya Pah!" Allana berlari menyusul Damar yang sudah mulai berlari kecil meninggalkan nya.
"Ayo kejar! kalau kena nanti Papa beri hadiah," ucap Damar.
"Betul ya Pah! pokoknya hadiah nya Lana yang tentukan," ujar Allana.
"Ok!"
Allana mulai mengejar Damar dan sedikit lagi hampir berhasil meraih kaus yang Damar kenakan, namun Allana lengah dan kakinya terantuk jalan aspal yang retak dan agak menganga.
"Aaww! aduh Papaaa ...." pekik Allana Ketika ia tidak mampu mengendalikan tubuh nya dan jatuh bertelungkup, beruntung jalan komplek itu sedang sepi.
"Ya ampun Lana!" Damar yang mendengar Allana ter pekik pun, menoleh dan nampak lah Allana yang jatuh bertelungkup dan sedang berusaha bangkit.
Allana Faradilla:
Damar Alfian:
__ADS_1
Bersambung ....