Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
33. Ia Masih Hidup.


__ADS_3

Menjelang pagi,


Di sini Allana berada saat ini,


di ruang ICU rumah sakit. Di barengi suara monitor detak jantung yang terdengar memilukan, Allana sedang mendampingi Damar dalam kecemasan juga sedikit lega, bahwa Damar masih dalam keadaan hidup! walau pun dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Setelah kecelakaan itu terjadi, Damar sempat di nyatakan meninggal. Tubuh nya sudah di tutupi koran di pinggir jalan. Tidak ada yang berani melihat keadaan Damar sebelum polisi tiba.


Linggar juga berada di sana, ia memejamkan mata dengan posisi duduk. Linggar masih sedikit syok, ia mengingat kejadian beberapa jam sebelum nya.


POV Linggar:


Sore tadi, Aku sempat pulang sebentar ke rumah. Damar berkata, aku harus kembali ke kantor pada malam hari. Banyak barang baru yang masuk gudang. Karena tadi sore para karyawan dan orang gudang melakukan kesalahan, maka kami para manager umum, supervisor hingga kepala gudang, harus ekstra hati-hati, dengan memantau pekerjaan mereka.


Aku tahu, Damar ada janji makan malam dengan Istrinya. Setelah Aku kembali ke kantor. Damar telah pergi, maka dari itu aku tidak bertemu dengan nya. Namun dua jam berlalu, telepon di kantor Damar berdering berkali-kali.


Salah satu karyawan yang mendengar nya pun memberitahu Aku, bahwa telepon berdering berkali-kali. Akhirnya aku bergegas ke kantor Damar. Telepon sudah tidak terdengar berdering. Namun ketika ku hendak keluar, telepon kembali berdering.


"Ya dengan Awan grup Corp." Aku menyapa si penelepon.


"Kami dari pihak kepolisian dan menemukan Nametag atas nama Damar Alfian. Apa betul Damar Alfian pegawai di perusahaan ini?" tanya seseorang di seberang sana yang katanya polisi.


"Betul Pak! apa yang terjadi dengan saudara saya?"


Aku sudah mulai curiga dari nada bicara pak Polisi.


"Damar Alfian telah mengalami kecelakaan. Kini jenazah nya berada di rumah sakit Medika utama."


Der!


Tubuh ku kaku, kepala ku langsung oleng rasa nya. Bagai di sambar petir mendengar kabar tersebut. Namun hati kecilku mampu menenangkan Aku. Seperti bisikan yang mengalir di telinga "Damar masih hidup!"


Aku bergegas menuju rumah sakit setelah menutup sambungan telepon.


Tiga puluh lima menit, Aku sampai di rumah sakit. Aku langsung menuju kamar jenazah. Dua orang polisi yang tadi mengabari dan dua orang petugas pemulasaraan Kamar jenazah menemani aku masuk ke dalam ruangan yang nampak mencekam tersebut.


"Mar!" panggil ku lirih, ketika sudah berada di hadapan tubuh kaku nan beku nya Damar. "Mar, ini gue Linggar! Mar bangun! bercanda lo gak lucu!"


Nampak luka di bagian wajah dan wajah Damar pun berlumuran darah yang hampir mengering. Entah bagaimana bisa, harus nya tidak ada luka di wajah, karena Damar mengunakan helm fullface.


Aku menggoyangkan tubuh Damar. Ia bergeming, Aku terisak karena frustrasi. Hingga tangan ku bersentuhan dengan kulit leher Damar karena resleting jaketnya sudah turun ke arah dada.


"Hangat!"


Aku mengernyitkan dahi. Lalu aku periksa detak jantung nya lewat nadi di pergelangan tangan Damar. "Astaghfirullah, bagaimana bisa! mereka telah melakukan kesalahan fatal."


"Pak! tolong tangani pasien di ruang perawatan atau ruang apapun. Ia masih hidup," Pekik ku.


"Astaghfirullah'aladzim!"


Ucap serempak dari mereka yang juga terkejut. Petugas pemulasaraan jenazah dan dua orang polisi ikut memeriksa detak jantung Damar.


"Maaf Pak! tadi saudara ini memang sudah meninggal. Kami sudah memeriksa nya dua kali, di TKP dan juga IGD rumah sakit." Dalih petugas pemulasaraan jenazah. Mereka seperti nya ketakutan.

__ADS_1


"Tidak mengapa, tapi tolong buat tindakan secepatnya," ujar ku.


Akhirnya kami membawa Damar ke IGD. Lalu Damar melewati serangkaian pemeriksaan. Aku tidak ingat lagi harus menghubungi siapa. Pikiran ku fokus pada keadaan Damar. Hingga kemudian, Istri ku sudah berada di dekatku. Aku lupa, tadi Aku sempat menghubungi nya dan meminta Hana untuk menghubungi Allana.


"Sayang! loh Allana nya mana?" tanya ku.


"Maaf! aku tidak tahu nomor telepon Allana A!" jawab nya.


"Astaghfirullah." Ia juga, aku lupa. Kalau Hana tidak memiliki nomor telepon Allana.


"Baik! biar nanti aku saja yang menghubungi nya, setelah Damar berada di ruang perawatan. Setidaknya Allana tidak akan panik jika keadaan Damar sudah di nyatakan baik." ucap ku. Hana hanya mengangguk.


Satu setengah jam kemudian.


Aku tercengang, Allana sudah berada di antara kami. Memeluk Hana dengan menangis histeris.


"Kak Hana, tidak mungkin! A Damar, belum meninggal kan? Kak! aku belum siap hidup sebatang kara setelah kepergian Mama." Racau Allana. Aku langsung duduk dengan tubuh yang limbung.


Akhirnya tangis Allana tidak terdengar lagi. Hana mampu menenangkan nya. Ia pun nampak duduk dengan tenang dalam pelukan Hana.


Seperti nya Hana sudah memberitahu Allana, kalau Damar masih hidup dan sedang di tangani dokter di dalam. Hingga dua jam kemudian, Damar di nyatakan koma dan harus di rawat di ruang ICU.


Itu pun menjadi berita yang amat menguras emosi kami. Setelah Damar di dalam ruangan ICU, aku menelpon orang tua Damar dan pamit kepada Allana hendak mengantar Hana pulang serta membawakan Allana perlengkapan shalat dan pakaian ganti milik Hana, karena postur tubuh mereka tidak berbeda jauh.


POV Linggar End.


**


"A'a sayang, bangun! sudah Adzan Subuh tuh! hai cepat bangun, ayuk bangun! nanti terlambat berjamaah." suara manja Allana yang duduk di bangku dan kepala nya merebah di sisi Damar. Ia menggapai pipi Damar dan mengelusnya dengan keadaan mata masih terpejam.


Allana menghela nafas pelan. Ia baru ingat sedang berada


di mana. Baru saja ia tertidur sebentar dan ia merasa sedang ada di rumah, sudah menjadi kebiasaan nya. Jika pagi hari akan membangunkan Damar untuk Shalat Subuh berjamaah.


Allana memandang wajah Damar. "A'a cepat sadar! Lana rindu senyuman A'a, Lana rindu kelakar A'a."


Krek!


Suara pintu ada yang membuka, rupanya Linggar. Ia baru saja masuk, semalaman ia menemani Allana di luar ruangan setelah ia pulang sebentar.


"Kak Linggar!"


Allana menoleh. Ia melihat Linggar baru saja masuk, dengan sebuah tentengan di tangannya.


"Lana, Kak Linggar pulang dulu yah, karena Kak Linggar harus ngantor. Nanti siang, Kak Hana akan menemani kamu di sini. Ibu dan Bapak, serta Arwan masih dalam perjalanan." Ujar Linggar.


"Baik Kak! terima kasih untuk semuanya. Kalau tidak ada Kak Linggar. Mungkin pagi ini, Lana sedang hendak menguburkan A Damar dalam keadaan hidup." Ucap Allana dengan aura kesedihan.


"Sudahlah, yang terpenting Damar dalam keadaan selamat dan tinggal menunggu ia sadar." ucap Linggar.


"Ini titipan dari Hana," Linggar memberikan tentengan nya. Allana meraihnya dan tersenyum dengan tak lupa berterima kasih.


Setelah Linggar pergi, suara Adzan subuh pun berkumandang. Allana segera melaksanakan shalat subuh.

__ADS_1


"Ya Rabb! kuatkan Hamba dan calon Anak kami, dalam menghadapi ujian ini. Segerakan lah suami Hamba agar kembali sadar dan pulih seperti sedia kala," salah satu Doa Allana.


**


Menjelang siang.


Orang tua Damar dan Adik nya baru tiba di rumah sakit.


"A Damar Bu!"


Tangis Allana kembali pecah, tatkala berpelukan dengan Ibunya Damar.


"Sabar Nak!"


Ibunya Damar mengelus lembut punggung Allana. Begitu pun Bapak nya Damar dan Arwan, mereka ikut menenangkan Allana agar tetap sabar, tabah, tawaqal serta kuat.


**


Hingga hari ke tujuh, Damar belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


Keadaan Allana sudah sangat kacau. Kurang nya istirahat dan perkuliahan yang sudah tidak ia hiraukan. Dirinya hanya fokus merawat Damar.


Orang tua Damar seringkali membujuk Allana agar tetap berkuliah. Namun ia bersikeras tetap akan berkuliah kembali setelah Damar sadar.


Siang ini di rumah Kinanti,


"Lana makan dulu, sayang! susu hamil nya jangan lupa di minum." Ujar Mama Kinanti dengan perhatian.


"Terima kasih Tante." Allana masih berbaring di atas sofa dengan tidak bersemangat. Ia bebas melakukan apa saja di rumah kinanti tanpa merasa risi, karena Ayah Kinanti bekerja di Malaysia dan akan pulang satu bulan sekali.


Mama dan Papa Yusra pun baik! namun Allana merasa tidak enak hati, karena pekerjaan Ayah Yusra seorang editor, ia lebih sering berada di rumah. Ia akan berada di luar jika ada pemotretan atau editing bahan berita yang harus di kerjakan di kantor.


"Mertua Kamu sudah tahu tentang kehamilan mu?" tanya Mama Kinanti sembari duduk di sisi Allana yang masih berbaring.


"Belum Tan! Lana ingin Papa Damar yang lebih dulu tahu, sebelum Ibu dan Bapak," jawab Allana. Ia bergeser dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Mama Kinanti.


"Aku takut Tan!"


"Takut apa sayang?" tanya Mama Kinanti sembari mengelus rambut Allana.


"Takut Papa tidak akan sadar kembali." jawab Allana.


"Gak boleh bicara seperti itu ah, gak baik! takut nanti menjadi doa." Tukas Mama Kinanti dengan lembut.


"Astaghfirullah! Iya Tan, tidak seharusnya Lana bicara seperti itu."


"Baiklah! mari makan, kamu harus tetap kuat dan sehat, demi Nak Damar dan calon Baby kalian." Ujar Mama Kinanti.


"Hem! betul Tan, aku harus tetap sehat dan kuat. Terima kasih Tan! Tante sudah menguatkan Lana." Ucap Allana, ia bangun dari berbaring dan memeluk Mama Kinanti.


"Sama-sama." Mama Kinanti tersenyum dengan membalas pelukan Allana.


Akhirnya Allana mau di ajak makan, minum susu dan Vitamin. Setelah nya ia kembali ke rumah sakit dengan di temani Yusra dan Kinanti, karena mereka sudah pulang dari kampus.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2