Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
48. Welcome, Sayang.


__ADS_3

"Sayang! maaf, Aku mau menutup mata mu sebentar. Tidak mengapa kan?" Damar menghentikan sejenak sepeda motor yang ia kendarai. Sebelum mereka betul-betul sampai pada tempat yang di tuju.


"Memang nya perlu yah?" tanya Allana. Ia nampak berpikir, ke mana Damar akan membawanya, sehingga harus menutup matanya.


"Menurut ku perlu! agar surprise." Balas Damar.


"Baiklah!" akhirnya Allana pun pasrah, ketika Damar menutup matanya menggunakan sehelai kain kecil.


"Naik kembali sayang! sebentar lagi kita akan sampai koq. Tenang saja, aku tidak akan mencurangi mu!" seru pelan Damar, yang melihat Allana nampak khawatir.


"Hehe. Tidak Koq sayang, Aku percaya kepada mu." Allana salah tingkah.


Damar menggenggam tangan Allana yang ia lingkaran di perut nya. "Ok, mari jalan kembali."


Sesaat kemudian, setelah mereka kembali berjalan dengan menggunakan sepeda motor, Allana dan Damar telah sampai di sebuah rumah yang nampak baru.


"Sudah sampai sayang! mari, jalan perlahan." Damar memapah Allana, masuk ke dalam rumah baru yang terbilang mewah namun minimalis tersebut.


"Yank! seperti nya sebuah bangunan? tapi koq sepi?" tanya Allana. Ia menyadari mereka sedang memasuki sebuah bangunan. Namun Allana tidak tahu bangunan macam apa.


"Sabar yah! sebentar lagi akan Aku buka penutup matanya." Ujar Damar, sembari membawa Allana menaiki tangga menuju ke sebuah ruangan.


Beberapa detik kemudian, Damar membawa masuk Allana ke dalam sebuah kamar.


"Welcome, Sayang! di rumah kita. Tepat nya ini kamar kita berdua." Bisik Damar, ia membuka penutup matanya Allana dan memeluk Allana dari belakang.


Allana membuka matanya perlahan. "Hoooo." Allana merasa terkejut dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Ini ....?" Allana menatap jauh kedepan melalui kaca jendela kamar mereka yang luas dan menyuguhkan pemandangan danau di hadapan nya.


"Ini, maksudnya apa sayang?" Allana belum dapat mencerna apa yang Damar maksud.


"Ini rumah mu! rumah kita. Aku telah mempersiapkan rumah ini dari beberapa bulan lalu. Aku tidak memberitahukan kepada mu, karena ingin membuat kejutan untuk Ibu dari Anak ku." Penjelasan dari Damar.


"Masya Allah!" Allana memutar tubuhnya menghadap ke arah Damar. "Jadi ....?"


Damar mengangguk. "Rumah mu." Ujar Damar. Allana hanya mampu tersenyum dan memeluk Damar sambil menangis.


Bukan tangis kesedihan, namun tangis kebahagiaan. "Terima kasih A'a sayang. Terima kasih."


Allana makin erat dalam memeluk Damar. Ia masih tergugu dalam tangisan, hingga membuat dada bidang nya Damar basah karena air mata nya.


"Sayang! sudah, koq malah menangis." Damar mengelus kepala Allana sembari mengecupi pucuk kepala Allana.


"Aku terharu sayang!" balas Allana dengan mendongakkan wajahnya. Damar pun tersenyum kepada nya, lalu ia menyeka air mata Allana dengan perlahan menggunakan ibu jari nya.


"Suka?" tanya Damar.


"Suka sekali. I Love you A'a sayang." Ucap Allana.

__ADS_1


"Love you juga." Damar menundukan wajah nya. Bibir Allana yang ia incar. Cup! bibir mereka akhirnya bersatu.


Allana berjinjit dan mengalungakan tangan nya di leher Damar. Allana membalas ciuman suami nya dengan suka cita. Damar makin memperdalam kecupan nya. Ia merasa mendapatkan respon baik dari Allana untuk menyusuri bibir tipis yang masih nampak seksi tersebut.


Untuk sesaat mereka berdua larut dalam kecupan mendalam. Saling berbalas juga melengkapi perbuatan masing-masing.


"Aku takut khilaf!" ujar Damar, segera melepaskan pagutan nya dengan salah tingkah.


"Aku ingin A'a khilaf koq." Balas Allana dengan memeluk Damar kembali.


"Nanti saja khilaf nya, saat sudah di adakan tasyakuran nya rumah ini." Bisik Damar dengan mengecup telinga Allana. "Saat ini mari Aku antar untuk melihat setiap ruangan di rumah ini."


"Tidak mau khilaf, tapi mancing terus," Allana mencubit perut Damar. Damar pun tertawa kecil. Lalu ia mengajak Allana untuk mengitari rumah, melihat setiap sudut ruangan rumah berlantai tiga tersebut.


**


Dua minggu kemudian,


Setelah mengadakan acara tasyakuran rumah baru dengan mengundang saudara, tetangga juga handai taulan. Kini Allana, Damar serta Aira sudah resmi tinggal di rumah baru itu.


"Aira, Aira ....! Aira baru pulang dari rumah Nenek yah." Celoteh Damar. Sore itu Damar sedang mengajak Aira main di ruangan bermain Aira. Mereka baru saja pulang dari aktifitas nya masing-masing.


Damar baru pulang dari pekerjaan nya. Begitu pun Allana, ia baru saja pulang kuliah. Aira baru mereka bawa pulang setelah di ambil dari rumah orang tua nya Damar. Karena mereka menitipkan Aira kepada Ibu nya Damar, ketika mereka berkegiatan di luar.


"Sayang! mau kopi?" tanya Allana yang baru saja masuk ke ruangan tersebut setelah dari kamar nya untuk berganti pakaian.


"Kak Linggar ada-ada saja! masa Aira mau di jadikan mantu, orang masih bayi juga." Tukas Allana dengan mengekeh dan mengecup pipi Putri nya.


"Yah namanya juga Linggar. Biarkan saja. Toh kalau Putri kita nanti nya, naksir orang lain juga tidak masalah menurut nya." Ujar Damar.


Allana geleng-geleng kepala. "Aira sudah ada yang nyarter jodoh Nak! Abang Zy, Aira mau?" celoteh Allana bertanya pada putrinya.


Aira bagai mengerti, ia tertawa kecil dengan memamerkan gusi yang belum di tumbuhi gigi dan menggerakan tangan serta kakinya.


"Astaghfirullah. Anak nya Papa masih bayi, sudah genit ikh!" ucap Allana dengan gemas nya. Ia menggigit kecil tangan Aira dengan bibir nya.


"Ya kan Mama nya juga genit sama Papa! Sehingga Papa yang awalnya perjaka nan polos sering di polosi," canda Damar.


"Papa! mulai bicara vulgar di hadapan putrinya deh. Ingat Pah, Aira itu pintar mencerna kata-kata orang dewasa loch." Protes Allana dengan mencubit pipi Damar.


"Ups! maafkan Papa Aira sayang!" Damar mengecup pipi Aira dengan nampak menyesal.


"Hihi, Papa ketakutan. Mama kan hanya bercanda." Allana tertawa melihat wajah panik dan penyesalan dari Damar.


"Mama! awas yah!" Damar mengancam Allana dengan mengejar Allana yang sudah berlari menuju dapur.


"Kejar Pah! kalau kena, Mama kasih hadiah." Ucap Allana yang masih berlari kecil masuk ke arah dapur.


Damar mengejar Allana. Untuk sesaat mereka melupakan Aira yang mereka tinggal di ruang bermain nya.

__ADS_1


"Nah kena!" Damar menarik tangan Allana. Karena terlalu kencang menarik. Allana terjerembab menubruk tubuh Damar.


"Aw! sayang!" pekik Allana. Mereka berdua jatuh bertumpuk. Karena Damar hilang keseimbangan.


Namun mereka malah tertawa bersama. "Koq kita mirip anak kecil sayang." Damar tergelak di bawah Allana.


Allana pun ikut mengekeh di atas tubuh Damar. Rupanya pergerakan Allana di atas tubuh Damar, telah membangunkan sisi keperkasaan Damar.


Damar memeluk Allana, lalu dengan satu kali berguling Allana sudah berada di bawah tubuh Damar. Allana masih tertawa karena kelucuan yang tercipta. Ia tidak sadar Damar tengah menatapnya penuh gairah.


Tawa Allana terhenti setelah menyadari bahwa bibir mungil nya tengah di kuasai Damar secara mendalam.


"Mmmm ....," Allana berusaha memberontak. Bukan menolak hasrat suami nya. Namun keadaan mereka berada di atas lantai. "A, jangan gila deh! lihat sikon."


"Sesekali kita harus berbuat gila sayang." Bisik Damar dengan suara parau dan aktifitas bibir nya yang menyusuri bagian telinga Allana.


"Aira, sayang?" naluri seorang Ibu menguasai Allana. Ia mengingat akan putri nya yang sedang bermain seorang diri di ruangan bermain.


"Aira sedang main sendiri sayang! Aku yakin ia akan mengerti." Damar mulai menjelajahi tubuh Allana. Dari mulai bagian wajah hingga kini sudah meloloskan kaus yang Allana kenakan.


"Di kamar sayang!"ajak Allana. Ia merasa risi harus berbuat tak senonoh dengan suami nya di atas lantai bagian dapur.


"Maaf!" Damar menghentikan aktivitas nya untuk sementara. Lalu ia mengangkat tubuh Allana yang sudah setengah polos di bagian atas. Damar membawa Allana ke ruangan bermain, di mana Aira bermain seorang diri.


"Aira Bubu, sayang!" bisik Damar. Ternyata Aira telah tertidur dengan pulas di atas permadani berbulu dengan nyaman nya.


"Lalu ....?" tanya Allana. "Kita akan .... di sini?" Allana nampak ragu.


"Yups! sembari menjaga Aira." Seringai Damar dengan genit nya. Tanpa meminta persetujuan Allana, Damar Kembali membangkitkan gairah di antara mereka di sisi Aira yang tengah tertidur pulas.


"Sayang! aku malu dengan Aira," ucap Allana dengan suara parau nya. Akibat Damar sudah berhasil menjelajahi tubuh nya, yang kini hampir polos. Sedangkan Damar baru membuka pakaian bagian atas yang memamerkan dada bidang nya.


"Kita harus terbiasa." Ucap Cuek Damar dengan tanpa melepaskan Allana dari gairah nya.


Pada akhir nya Allana menuruti keinginan suami nya, dengan menikmati penyatuan tubuh mereka oleh suami nya dengan perasaan kurang nyaman, Allana merasa nista melakukan perintiman halal mereka di sisi Putri mereka walaupun tertidur, juga melakukan hal intim di bagian ruang bermain Putri mereka yang luas.


Satu jam, empat puluh lima menit kemudian,


Damar merasa terpuaskan, begitu pun dengan Allana, yang pada awalnya merasa risi karena berintim di ruang khusus bermain Putri nya. Kini tubuh nya terkulai lemah di antara ketiak Damar. Ia terbuai oleh jamahan Damar yang menginginkan ruangan tersebut di penuhi gairah juga suara desisan serta desahan dari mulut mereka.


"Aira masih bubu sayang? Aku lelah, kalau Aira bangun, kamu yang kasih mimi yah." Pinta Allana dengan suara bergumam akibat kelelahan. Matanya mulai terpejam karena kantuk, ia melayani Damar hampir dua jam, entah pengaruh obat atau karena sentuhan therapi, gairah dan stamina Damar akhir-akhir ini banyak menuntut Allana.


Damar sempat meminta maaf berkali-kali. Karena jika sudah melakukan hal intim, ia akan meminta jatah lebih. Hingga Allana seringkali di buat kelelahan. Namun Allana hanya butuh istirahat sebentar. Maka tenaga nya akan kembali pulih. Damar pun mengerti akan hal itu.


"Bobo lah sayang! Aku yang akan mengurus Aira jika bangun nanti." Ucap Damar dengan mengecupi pucuk kepala Allana dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih." Allana makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Damar. Akhirnya ia terlelap. Damar pun memeluk nya dengan posesif. Seakan ia tidak ingin merenggangkan tubuh nya dari Allana.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2