Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
36. Uji Coba Kasur Baru.


__ADS_3

Setelah di rawat di rumah sakit selama sepekan pasca koma. Keluarga Damar sempat membawa Damar pulang ke rumah nya. Namun setelah satu minggu kemudian, mereka memutuskan untuk membawa Damar pulang ke Bandung.


"Neng, Mar! seperti nya Ibu dan Bapak tidak dapat tinggal lebih lama lagi di sini. Jadi .... Bapak serta Ibu memutuskan untuk membawa Damar pulang ke Bandung. Agar Ibu dapat merawat semua nya di sana." Ujar Ibunya Damar.


"Iya Mar! agar kami dapat memantau mu juga setiap saat," timpal Ayah Damar.


"Damar sih ikut saja Pak, Bu! toh di sini juga hanya akan menjadi beban nya Lana." Tukas Damar terdengar seperti tidak memiliki semangat dan harapan.


"Tapi Bu .... Lana masih bisa merawat A Damar koq! Lana bersedia berhenti kuliah jika itu memang perlu," ucap Allana.


"Sampai kapan?" tanya Damar pesimis. "Kamu harus tetap kuliah, sayang!" ujar lirih Damar.


"Sayang ...."


"Aku tetap akan ikut Ibu ke Bandung." sela Damar dengan cepat. Allana hanyalah dapat menghela nafas.


Makin hari, Damar semakin berubah. Allana merasa sudah mulai tidak mengenal Damar. Ia seringkali marah tidak beralasan. Ia bersikap dingin dan apapun selalu serba salah. Namun Allana mencoba memaklumi perubahan sifat Damar karena keadaan nya saat ini.


"Sudah! jangan berdebat. Neng ambil cuti kuliah saja, atau pindah saja kuliah nya ke Bandung." Tawar Ibu nya Damar kepada Allana.


"Lana belum dapat cuti kuliah Bu! bagaimana nanti saja Bu, Lana akan memikirkan nya Kembali." Balas Allana.


"Atau .... kamu tidak perlu ikut kami ke Bandung. Kamu lanjutkan saja kuliah mu di sini, nanti kalau Aku sudah sembuh, Aku akan kembali ke sini." Ucap Damar dengan nada dingin.


"Lana tidak mau! Lana ingin merawat A'a. Lana ingin menjadi istri yang berbakti untuk mu, sayang!" ucap Allana dengan mengelus tangan Damar.


"Heuh! berbakti kepada suami yang cacat dan sudah tidak ada fungsi nya! apa kamu tidak akan bosan?" tanya Damar sinis.


"Tentu tidak! Aku tidak akan pernah bosan dengan suami ku, orang yang aku cintai." Ucap Allana dengan mantap.


"Aku tidak yakin!" Damar berucap dengan ketus. Ia menjalankan kursi roda nya mengarah ke kamar.


Hati Allana sebetulnya merasa di remas dengan sangat kuat. Namun ia berusaha untuk tenang dalam menghadapi kata kata pedas nya Damar. Ayah Damar hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan Anak nya.


"Ma'afkan suami mu Neng! Ibu amat berterima kasih kepada mu yang sudah mampu memaklumi nya. Ini yang Ibu takutkan jika Ibu pulang dan hanya meninggalkan kalian berdua di rumah," ucap lembut Ibu nya Damar dengan mengelus kepala Allana.


"Lana sudah memaafkan nya dan Lana faham keadaan A Damar saat ini, Bu!" tukas Allana dengan tersenyum namun matanya nampak berkaca-kaca.


***


Dua hari kemudian,


Kini Allana dan Damar telah berada di rumah orang tua nya Damar. Allana dan Damar baru saja tiba beberapa jam lalu. Sepupu Damar yang seorang dokter telah menemui dan melihat kondisi Damar.


Sepupu Damar menyarankan agar Damar berobat ke luar Negeri, seperti hal nya dokter yang merawat Damar. Ia pun menyarankan agar Damar melakukan pengobatan ke luar Negeri.


"Mar Istirahat sana, ajak Lana untuk Istirahat juga, kasihan Lana juga capek kan, dari tadi menemani kamu menerima tamu yang menjenguk mu," pinta Ibu nya Damar.


Dari sejak Damar tiba. Para kerabat dan handai taulan banyak berdatangan untuk menjenguk Damar.


"Iya Bu! mari sayang, kita ke kamar," Allana mengangguk, setelah berpamitan kepada Ibunya Damar, mereka pun masuk ke kamar Damar.


"Kasur nya baru A?" tanya Allana, ketika sudah masuk ke dalam kamar Damar dan ia langsung duduk di sisi tempat tidur.


"Hehe iya, Aku yang minta untuk di ganti, sekalian dengan tempat tidur nya. Takut nanti ambruk lagi." Allana melihat Damar mengekeh. Tawa ringan yang Allana rindukan dari beberapa hari lalu.


"Wah suasana di sini ternyata, membawa hal positif. Lihat saja A Damar tertawa," batin Allana.


"Neng ..... !"


"Am, iya sayang," Allana terkejut dan terperanjat dari lamunan nya, ketika Damar bersama kursi roda yang di duduki nya, tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Allana dan sedang menggenggam tangan nya.


"Neng tidak mau menguji coba kasur baru, dengan permainan gulat di atas nya?" tanya Damar dengan senyuman menggoda.


"Euumm! A'a, Lana malu!"


"Apa? mau?"

__ADS_1


"Malu!"


"Oooh mau!"


"Ikh A'a!" Allana manyun percis di hadapan Damar.


Cup!


Satu kecupan mendarat di bibir Allana yang sedang manyun.


"Ikh A'a genit."


"Ahahaha! genit sama kamu, memang di larang ya?" Damar tertawa lepas.


"Ya tidak! A'a mau?" Allana mengedipkan mata.


"Maksud nya, mau uji coba kasur dan tempat tidur baru?" tanya Damar pura pura tidak faham.


Allana mengangguk dengan kikuk. "Hu'um."


"Mau banget!" jawab Damar dengan kencang.


"Sayang nih, pelan pelan bicara nya. Kalau ada yang mendengar bagaimana?" Allana merengut. Damar mengekeh.


"Tidak apa-apa! paling juga nanti ngintip." Damar lagi-lagi tertawa.


"Ish!"


"Cepat Neng. Lama nih! malah mengajak aku berdebat."


"Ikh! koq jadi A'a yang genit. Spesialis genit nya cukup Aku saja," kelakar Allana.


"Oh, maaf nyolong start. Mungkin terlalu banyak konsumsi obat. Biarlah! maklum sudah lama juga nih gak ganti oli." kelakar Damar.


Mereka pun tertawa dan Allana segera membantu Damar naik ke atas tempat tidur. Pada Akhirnya, sore itu mereka mencoba meluapkan kasih sayang, saling melebur dan melengkapi rasa dan asa, menyalurkan rindu yang lama terbelenggu dari sejak kejadian kecelakaan itu.


"Maaf Neng! A'a sudah mencoba! akan tapi tetap tidak bisa." ucap Damar penuh penyesalan.


"Tidak mengapa A! nanti malam kita coba kembali, Lana tidak keberatan koq. Malah senang! ayolah sayang, tetap semangat." Ujar Allana sembari memeluk Damar.


"Baik Neng! mandi yuk!" Damar tersenyum hambar.


"Baiklah, lebih baik mandi, mari Lana bantu," Allana kembali membantu Damar untuk duduk di kursi roda nya. Mereka berniat mandi setelah pergumulan uji coba kasur baru, namun tidak berhasil bertempur.


***


Keesokan harinya.


Damar nampak murung dari sejak bangun tidur dan Shalat subuh tadi. Allana yang melihat Damar tidak seceria kemarin, ia pun merasa khawatir.


Seharusnya, hari ini Allana mengungkapkan tentang kehamilan nya. Namun niatan itu kembali ia urungkan, melihat perangai Damar kembali memburuk.


"Sayang! Koq teh nya tidak di minum?" tanya Allana, ia mencoba mendekati Damar dan mengelus lembut bahu nya.


"Nanti!" jawab singkat Damar, dengan nada datar.


"Nanti kapan? keburu dingin yang ada, sayang." Ucap Allana, ia bermaksud meraih gelas yang ada di hadapan Damar.


"Biar! aku sedang tidak berselera minum, maupun makan." ucap Damar dengan cara bicara yang makin dingin saja.


"Tapi, sayang ....,"


"Cukup! keluar kamu!" ketus Damar.


"Tidak! Aku ingin tetap di sini," ucap Allana dengan sedikit takut-takut.


"Aaaarrggghh, pergi!" Damar berteriak. prang! gelas di hadapan Damar pun jatuh ke lantai, karena ketika Damar berteriak tangan nya menyapu gelas tersebut.

__ADS_1


"A'a tolong jangan seperti ini. Lana akan tetap di sini. Menemani Kamu." Ucap Allana dengan menangis.


"Bodoh kamu! untuk apa kamu bersikeras hendak menemani orang yang sudah tidak ada gunanya lagi. kamu tahu kan? Aku lumpuh dan saat ini Aku tidak memiliki pekerjaan, sudah barang tentu, tidak ada lagi masa depan untuk mu! kamu juga baru tahu kan, kalau kenyataan nya Aku juga mengalami lemah syahwat. Ahahahaha, miris. So .... apalagi yang kamu harapkan dari ku. Aku sudah gagal dan tidak pantas lagi di sebut seorang suami, Allana." ujar Damar, ia bicara seperti orang kurang waras.


"Kamu belum gagal A! kami akan mengusahakan pengobatan untuk mu, sayang," Allana mencoba membujuk Damar.


"Keluar!" Bentak Damar. Hati Allana terasa nyeri sekali. Allana hanya mampu menangis.


"Sayang istighfar! Aku tidak keberatan dengan keadaan mu saat ini."


"Aku bilang keluar!" prang! prang! kali ini piring berisi roti bakar dan gelas berisi air putih yang jatuh karena tangan Damar menghalaunya.


"Aaaagghhh!" Allana menutupi telinga nya, ia duduk bersimpuh di dekat pintu. Damar bagai kesetanan.


Dari semalam Damar kembali kehilangan keceriaan. Sejak uji coba kasur baru untuk Kedua kalinya, yaitu bermesraan dengan Allana, ketika ujung hasrat Damar yang menggebu namun ternyata perkakas nya Damar tidak berfungsi. Ya Damar mengalami imp*tensi atau lemah syahwat. Itu adalah hal yang paling tidak Damar terima saat ini.


Allana sudah berkali-kali mencoba, namun hingga ia lelah pun, Hasrat Damar malah melemah.


"Mar! Lana! ada apa ini?" Ibunya Damar yang sedang di dapur pun segera menghampiri mereka ketika mendengar keributan dari dalam kamar.


"A Damar Bu!" Allana bangkit dari duduknya dengan tergopoh-gopoh dan langsung memeluk Ibu nya Damar.


"Panggil pulang Arwan dari pekerjaannya Bu! Minta tolong Arwan antarkan Allana kembali ke Jakarta, siang ini!" Pinta Damar. Tatapan nya mengarah ke hamparan hijau persawahan yang nampak bagai lukisan dari kaca jendela kamar nya.


"Tapi Mar!"


"Damar mohon! Allana harus kembali ke Jakarta! ia harus meraih gelar sarjana dan ia harus menggapai masa depan nya dengan baik."


"Tidak A! Lana tidak ingin kembali ke Jakarta. A'a lah masa depan Lana." ucap Allana dengan keadaan masih terisak.


"Tidak ada masa depan dari ku! seorang yang telah kehilangan harapan." ucap Damar.


"Tidak! Kamu lah masa depan ku yang sesungguhnya. Selalu ada harapan di balik merdunya lantunan doa setiap insan kepada Sang Khaliq," Ujar Allana masih dalam tangisan nya.


"Pergilah! saat ini Aku hanyalah sebuah beban, bukanlah masa depan."


"Aku tetap tidak mau pergi dan meninggalkan mu dalam keadaan terpuruk seperti ini." Ucap lantang Allana.


"Bereskan barang mu! tolong, sayang! jangan membuat Aku tambah marah." Damar bicara lebih lembut, ia memutar kursi roda nya dan menghadap ke arah Allana.


Allana setengah berlari menghampiri Damar, ia duduk bersimpuh di hadapan Damar. Tangannya menggenggam tangan Damar. Tatapan nya penuh permohonan dan pengharapan.


Sedangkan Ibu nya Damar hanya diam membisu. Ia bingung harus membujuk Damar dengan cara apa.


"Sayang! lalu .... bagaimana tentang janji mu kepada Mama? Kamu bohong! kamu bilang akan melindungi ku, akan menyayangi ku!" getar tangis pilu Allana, ia merebahkan kepalanya dalam pangkuan Damar.


"Maaf! Aku sudah mewujudkan janji ku! aku sudah menjaga mu dan saat ini Aku sendiri tidak dapat menjaga diriku, lalu .... bagaimana cara aku menjaga mu!" ucap lirih Damar.


"Pulang lah! kembali lah ke rumah kita, lanjutkan hidup mu dengan baik di sana! aku akan tetap menafkahi mu semampu ku!" Damar memejamkan mata sejenak.


"Aku akan kembali menemui mu, ketika aku sudah dalam keadaan siap dengan kondisi pulih seperti semula, setidaknya lebih baik dari ini. itu janjiku!"


"Hiks! A'a jahat! Aku benci A'a!" Allana bangun dan berdiri. Lalu ia berjalan mundur dengan perlahan.


Allana menatap Damar dengan nyalang, ia keluar dari kamar dengan tangisan makin deras dan ia berlari keluar rumah. Makan Mama nya lah tujuan akhir Allana.


"Neng! Neng mau kemana?"


"Biarkan dia Bu! Damar yakin, ia pergi ke makam Almarhumah Vianny." cegah Damar Kepada Ibunya yang hendak mengejar Allana, dengan nada suara bergetar menahan tangis. Ibu nya Damar menghela nafas berat lalu ia menghampiri Damar.


Setelah Allana keluar kamar, tangis pun pecah. Damar yang terlihat kaku dan dingin di hadapan Allana itu hanya kepura-puraan semata.


"Ma'afkan Aku Lana! ma'afkan Aku sayang! Ibu .... Damar tidak sanggup! Damar tidak kuat jika harus berpisah dengan Lana. Damar jahat Bu! namun jika Damar tidak melakukan hal ini, maka masa depan Allana akan suram. Damar hanya ingin membawa Allana dalam kebahagiaan bukan penderitaan macam ini."


Damar meracau. Ibu nya Damar hanyalah mampu memeluk Damar dengan menangis. Tangisan pun pecah dari kedua nya.


Tidak berapa lama, setelah tangisan mereka reda, Damar menelpon Arwan, agar menjemput Allana di makam Vianny dan setelah nya Arwan di minta mengantarkan Allana pulang ke Jakarta.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2