
"Maaf!" Sasti menunduk. Arwan pun meraih pipi Sasti sembari menjilat bibir nya yang masih terasa perih.
"Sudah, tidak mengapa! apa kamu belum pernah berc**man?" tanya Arwan yang pada akhirnya mengerti kekakuan Sasti. Sasti pun menggeleng pelan.
"Maafkan aku sudah lancang, karena telah memetik kecupan pertama mu." Ucap Arwan dengan menatap Sasti dengan rasa penyesalan.
"Sudah ku maafkan. Aku mau mencoba nya lagi dari awal. Tolong ajarkan aku caranya! Tadi A Arwan mengejutkan ku." Ucap Sasti dengan malu-malu mau. Arwan cukup terkejut mendengar pengakuan Sasti.
"Hemm," Arwan pun mengulum senyum. Sasti terlihat lucu dengan segala kejujuran nya. "Ok. Di sofa!" bisik Arwan. Ia menarik lembut Sasti menunju sofa.
Arwan duduk di Sofa. Sasti merasa canggung. Namun Arwan yang sedikit berpengalaman dalam hal penyatuan bibir. Ia lebih paham apa yang harus ia lakukan.
Arwan menarik pelan pinggang Sasti, hingga Sasti mendarat bebas dalam pangkuan nya. "Kamu siap ya. Kalau tidak tahu caranya, kamu diam saja, biarkan aku yang bergerak, cukup buka sedikit bibir mu." Arwan memberikan aba-aba dan Sasti hanya mengangguk.
Arwan mulai mendekati bibir Sasti. Ia melakukan nya seperti tadi, menempelkan bibir mereka terlebih dahulu dengan lembut. Arwan tidak mau membuat itu terburu-buru. Ia ingin Sasti nyaman terlebih dahulu.
Arwan mulai melakukan pergerakan di antara bibir mereka. "Bergerak perlahan. Balas gerakan ku! ikuti saja cara aku menggerakkan bibir ku." Gumam Arwan. Sasti pun menuruti perkataan Arwan.
Agak lama mereka melakukan penyatuan bibir mereka dengan saling membalas. Arwan segera menghentikan perbuatannya, Ketika ia sadar Sasti sudah sangat kehabisan napas.
"Bernapas sayang! kamu gak bisa napas seperti itu, nanti kehabisan oksigen." Ucap Damar pelan.
"Maaf A! aku tidak tahu. Maaf, kamu memiliki calon istri yang tidak berpengalaman." Ujar Sasti dengan nada sedih.
"Sudah! maafkan aku juga, karena telah memperdayai mu. Ini salah! aku tidak akan melakukan hal ini lagi, sebelum kita menikah. Aku akan mengajarkan kembali segala hal intim ketika kita sudah Sah." Ucap Arwan dengan segala nada penyesalan dan juga rasa bersalah yang menyelimuti dirinya.
Sasti mengangguk pelan. Ia memeluk Arwan. Setelah puas saling berpelukan. Mereka menuju ruang keluarga.
"Calon Mantu Papa! apa kabar?" terdengar suara pria samar-samar sedang bicara kepada Aira, Arwan yakin itu. Arwan pun mengerut dahi dan bergegas ke ruang keluarga. Ia ingin tahu siapa yang sedang menggoda Aira.
"A Linggar! Kapan datang?" tanya Arwan saat melihat Linggar sedang menggendong Aira dan menggoda nya. Di sisi nya duduk juga Hana, Sedangkan Cozy ikut menggoda Aira. Damar dan Allana duduk bersebrangan dengan mereka.
"Belum lama Wan." jawab Linggar. "Bagaimana hubungan mu dengan gadis manis ini?" tanya Linggar tanpa basa-basi.
"Emm, sudah banyak kemajuan. Kami baru saja jadian, aku pun telah melamar nya secara sepihak dan Sasti sudah menerima nya." Arwan menoleh kepada Sasti. Lalu ia menggenggam tangan Sasti. "Arwan akan segera melamar nya, secara resmi di hadapan orang tua Sasti." Tandas nya penuh keyakinan.
"Alhamdulillah! segerakanlah bicara pada Ibu dan Bapak, Dek!" Damar mengingatkan.
"Tentu A!"
"Kak Sasti, selamat ya, semoga niat baik kalian akan mendapatkan kemudahan dari Allah." Ucap Allana dengan menghampiri Sasti dan memeluk nya.
"Aamiin," Sasti merasa terharu, air mata nya meluncur begitu saja di dalam pelukan Allana. Ia pun merasa bahagia akan ketulusan Arwan yang akan segera melamar nya.
Linggar dan Hana pun mengucapkan selamat. Pada akhir nya mereka berbincang santai.
***
Beberapa bulan kemudian.
Hari ini adalah hari pernikahan Arwan dan Sasti. Setelah Arwan melamar Sasti secara resmi di hadapan orang tua nya, maka kesepakatan nya mereka akan menikah setelah Sasti wisuda.
__ADS_1
Dua Minggu sebelum nya Sasti telah mendapatkan gelar Wisudanya. Maka kini Arwan dan Sasti telah melangsungkan pernikahan.
"Arwan, kak Sasti! selamat yah atas pernikahan kalian." Allana memberikan selamat Kepada Arwan dan Sasti yang sudah berada di atas pelaminan, Setelah pagi hari nya melafal Ijab Qobul dan Sah.
"Terima kasih Lana." Sasti memeluk Allana. Begitu pun dengan Arwan ia menyalami Allana.
"Selamat Dek!" Arwan memeluk Arwan. Dan Arwan pun membalas pelukan Damar.
Pesta resepsi pun berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Allana dan Damar juga mengundang kedua sahabat Allana, yaitu Yusra dan Kinanti, mereka pun akan segera melangsungkan pernikahan beberapa bulan lagi dengan Heru dan Irfan.
Linggar dan Hana akan selalu menculik Aira. Entah itu membawa ke rumah mereka atau hanya sekedar jalan-jalan ber empat dengan Cozy. Usia Aira sudah hampir satu tahun. Ia telah mengerti tentang makanan dan juga permainan.
Malam hari,
"Sayang! Koq Aira belum pulang?" tanya Allana kepada Damar yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Linggar mengajak nya menginap sayang. Ibu dan Bapak kelelahan. Harus nya Aira di bawa oleh mereka. Namun malah Linggar dan Hana yang membawa nya pulang." Jawab Santai Damar.
"Ya ampun. Masa Anak gadis menginap di rumah Anak bujang sih Pah!" protes Allana.
"Sesekali sayang! kan biar kita dapat berduaan tanpa terganggu. Agar adik nya Aira cepat launching kembali." Goda Damar.
"Di pikir film, launching." gerutu Allana dengan memanyunkan bibirnya. Membuat Damar tertawa dan gemas terhadap Allana.
"Mari shooting, agar Adik nya Aira segera launching." Damar mengangkat tubuh Allana menuju kasur.
"Papa!" pekik Allana
"Tidak sekarang. Aku lelah!"
"Aku yang akan bekerja keras. Kamu cukup diam dan nikmati." Allana pun pasrah saat tubuh nya di jelajahi oleh suami nya malam itu. Mereka pun kembali bersatu dalam asmara yang saling memabukan tanpa harus meminum alkohol.
Di kamar pengantin Arwan dan Sasti.
Kecanggungan tengah terjadi. Mereka kini duduk di sisi tempat tidur.
"Sas!"
"A!"
Keduanya saling memanggil secara bersamaan. Sasti menundukkan wajahnya sembari tersenyum malu. Arwan memalingkan wajahnya dengan menyeringai.
"Kamu dulu." Pinta Arwan.
"Aku mau ganti baju." Ucap Sasti pelan.
"Itu juga yang akan aku katakan." Tukas Arwan. "Kamu dulu, atau mau ganti barengan?" tanya Arwan dengan nada menggoda.
"Genit! aku sendiri saja!" Sasti berlari ke kamar mandi. Namun apes, ia tidak dapat membuka resleting gaun nya yang berada di bagian belakang. Sasti ragu jika harus meminta tolong kepada Arwan. Namun kepada siapa lagi ia harus meminta tolong. Toh saat ini hanya ada Arwan di kamar mereka. Sedangkan orang tua mereka telah masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Lama Sasti berada di dalam kamar mandi. Arwan yang sedang menunggu Sasti dari setadi, ia merasa heran. Kemana Istri nya? atau ia tertidur di kamar mandi?
__ADS_1
Arwan segera menyusul ke kamar mandi. "Sayang? kamu baik-baik saja kan, di dalam?" panggil Arwan.
"Aku baik-baik saja koq." Jawab Sasti.
"Tapi koq lama?" tanya Arwan lagi, masih di depan pintu kamar mandi.
Cklek!
Akhirnya Sasti mengalah. Ia mengesampingkan gengsinya. Ia membuka pintu untuk meminta bantuan Arwan membuka resleting gaun nya.
"Aku tidak dapat membuka resleting gaun ini." Ucap Sasti malu. Arwan pun tersenyum gemas.
"Berarti itu tandanya, gaun nya ingin di buka oleh ku." Ucap santai Arwan, lalu ia mendekati Sasti.
"Mari ku bantu untuk membuka nya." Arwan membimbing Sasti masuk kembali ke kamar mandi. Arwan membantu membuka gaun yang Sasti kenakan. Arwan pun membuka pakaian nya di hadapan Sasti dengan cuek. Membuat Sasti gelapan. Namun Arwan segera menguasai keadaan. Ia mengajak Sasti membersihkan tubuh mereka.
Setelah tubuh mereka sudah bersih. Arwan menggendong Sasti ke arah tempat tidur. Mereka hanya berbalut handuk.
Arwan menatap Sasti penuh cinta tanpa bicara. Begitu pun Sasti, kini ia beranikan diri untuk membalas tatapan Arwan dengan binar cinta dan kebahagiaan.
"Malam ini, kita akan belajar bobo berdua." Bisik Arwan.
Sasti menelan saliva nya kasar. Namun tanpa sadar ia mengangguk. "Aku takut!"
"Jangan takut! Aku akan memperlakukan mu dengan sebaik dan selembut mungkin. Hal ini pun baru untuk ku. Kita akan sama-sama belajar sayang."
Arwan membawa Sasti merebahkan tubuh mereka di atas kasur. Arwan mulai mengecupi wajah Sasti. Setelah Sasti menerima nya tanpa takut lagi. Maka Arwan pun mulai membawa tangan nya untuk berbuat liar pada tubuh Sasti.
Handuk yang mereka kenakan sudah melayang entah kemana. Mereka berdua berpolos ria. Terdengar desahan tertahan dari mulut Sasti.
"Jangan di tahan." Bisik Arwan. Sasti pun mengangguk. Sasti dan Arwan makin larut dalam belajar bobo bersama tersebut. Hingga pekikan Sasti diiringi derai air mata pun terdengar di kamar pengantin itu. Arwan pun mengecupi Sasti dengan meminta maaf.
"Sudah Sayang! lanjutkan saja." Bisik Sasti. Bagaimana pun itu sudah menjadi kewajiban nya sebagai Istri.
Malam pertama untuk Arwan dan Sasti pun berlanjut dengan gairah kebahagiaan. Setelah perduelan panas pengantin baru itu, mereka kini saling berpeluk untuk menetralkan tenaga mereka.
Nampak pula noktah merah bukti kesucian Sasti di atas pembaringan mereka yang membuat Arwan makin menanamkan cinta nya seiring benih yang ia tanam di rahim Sasti.
****
Lima tahun kemudian.
Aira sudah berusia lima tahun. Allana telah selesai dengan pendidikan nya. Satu tahun yang lalu ia telah meraih gelar sarjana nya.
Kini Allana dan Damar tengah menanti kelahiran anak kedua mereka. "Sayang! sore ini Aku ingin ke makam Mama. Bisa mengantarkan Aku kan?" tanya Allana ketika mereka sedang berbincang santai di ruang keluarga.
"Bisa koq Sayang!" jawab Damar, membuat Allana senyum sumringah. "Aira, hari ini libur sekolah kan? ikut Papa ke toko yuk! nanti bertemu Abang Zy di sana." Ajak Damar.
"Baik Pah! tapi Ila tidak mau beltemu Abang Zy, ia nakal Papa." Celoteh Aira.
"Nakal, kenapa sayang?" tanya Damar.
__ADS_1
Bersambung ....