Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
34. Hampir Putus Asa.


__ADS_3

Hari ke lima belas.


"Neng! sebaiknya Neng kembali kuliah, biar Ibu serta Bapak juga Arwan yang menjaga Damar. Ibu khawatir dengan keadaan mu Neng. Lihatlah keadaan mu, jarang makan dan sudah tidak memiliki semangat." Ujar Ibunya Damar. Kala itu di ruang ICU hendak berganti jaga.


"Lana akan kembali berkuliah setelah A Damar sadar dan sembuh Bu! maaf Lana merasa harus tetap berada di sisi A Damar, seperti hal nya A Damar yang selalu ada untuk Lana, ketika sakit ataupun sedih." Balas Allana.


Allana selalu teringat kata kata Damar, bahwa ia akan lebih dekat ketika Allana sakit dan terpuruk. Begitu pun dengan Allana kini. Ia ingin melakukan hal yang sama.


"Neng!"


"Bu, Lana bersedia untuk berhenti kuliah demi menjaga dan merawat A Damar." Ucap Allana, ia berjalan ke arah Damar. Tanpa ia sadari kata kata nya di dengar oleh Damar.


Damar dapat mendengar orang bicara, di bawah alam sadar nya. Air mata Damar meleleh begitu saja di sudut mata nya. Ia merasa sedih atas pernyataan Allana.


"Baiklah. Namun kamu janji, setelah Damar siuman, akan kembali kuliah," pinta Ibu nya Damar.


"Lana janji Bu!"


Akhirnya, Ibu mertua dan menantu itu berpelukan. Suasana ruang ICU itu Kembali sepi. Ibu nya Damar pulang ke rumah Damar. Allana kembali duduk di bangku menghadapi Damar yang masih terbaring.


"Loh! A'a mengapa air mata A'a sering sekali mengalir," gumam Allana dengan menyeka air mata Damar yang sedikit mengalir dari sudut matanya.


"A'a tidak perlu bersedih. Lana akan selalu berada di samping A'a. Cepatlah sadar! O yah, sebelum kecelakaan, A'a senang sekali mengelus perut Lana kan. Kalau begitu, A'a boleh mengelus nya lagi." Allana meraih tangan Damar, lalu ia meletakan di perut nya. Ia bawa tangan Damar untuk mengelus lembut perut nya dengan tersenyum.


**


Hari kesembilan belas.


Rasa lelah dan juga letih tidak Allana hiraukan. Tekad nya sudah bulat untuk setia di sisi Damar.


Alat-alat medis masih terpasang di tubuh Damar. Bulu-bulu pada wajah Damar tetap tumbuh, Allana akan menyukur nya setiap tiga hari sekali selama itu terjangkau, karena tertutup masker oksigen. Ia akan melakukan nya sesuai kebiasaan Damar.


"A! sudah sembilan belas hari, apakah A'a tidak merindukan Lana? sadarlah! Lana rindu sekali dengan A'a," ucap Allana berbisik di telinga Damar, seusai membaca Alqur'an pagi itu.


"Hemm, A'a tidak penasaran yah, dengan kejutan yang akan Lana beri!" lagi-lagi Allana bicara, ia memandangi wajah Damar dengan sendu. Ia memang rajin sekali mengajak Damar berbicara.


Damar tetap bergeming. Hanya hembusan nafas dan detak jantung nya lah yang bergema memenuhi ruangan tersebut.


Sembilan belas hari, bukan waktu yang sebentar dalam menunggu seseorang yang sedang koma. Allana selalu menceritakan kenangan kebahagiaan mereka berdua.


Hingga siang hari.


Allana tertidur sejenak, seperti biasa ia tertidur dengan merebahkan kepalanya di sisi Damar, di atas tempat tidur pasien yang Damar tempati.

__ADS_1


"Neng! ma-maafkan A- a!"


"A'a! sayang, kamu sudah sadar?" Allana terperanjat! itu suara Damar, begitu nyata. Namun ia harus menelan kecewa. Karena keadaan Damar masih tetap sama. Bergeming di atas tempat tidur dengan mata masih terpejam sempurna.


"Astaghfirullah! ternyata Aku mimpi." gumam Allana. Ia kembali membetulkan selimut Damar yang tersibak.


"Neeeng!"


Terdengar kembali suara berat seperti sebelumnya. Lana mengernyitkan dahi, memiringkan wajahnya, ia melihat wajah Damar yang masih terlihat tenang. "Heeuh! jangan lagi membuat Aku berhalusinasi."


Allana hendak beranjak ke kamar mandi. Ia ingin mencuci wajah nya, namun jari Kelingking nya ada yang menggenggam. Refleks Allana pun menoleh.


"Hooo! sayang!"


Allana meraih tangan Damar dan menggenggam nya. Lalu tatapan nya beralih pada wajah Damar. Senyuman yang selama sembilan belas hari ia rindu kan terbit di bibir Damar.


Mata Damar masih terpejam, namun mulut nya bergumam dengan terbata dan tersenyum. "Sa-yang, La-na!"


"A'a! ini Aku! ini Aku, Lana!" pekik Allana dengan kebahagiaan yang membuncah seketika. "Sayang, buka matanya, Please!"


Dengan segala sisa kekuatan nya Damar membuka mata perlahan. Hingga terbuka walaupun dalam keadaan sayu.


"Alhamdulillah akhirnya A'a siuman," Allana mengecup tangan Damar dengan uraian air mata. "Tunggu sebentar ya sayang, Aku panggil dokter."


Serangankaian pengecekan dan pemeriksaan telah di lakukan. Setelah hampir satu jam, Damar di pindah ke ruang VIP atas permintaan perusahaan, bentuk dari loyalitas nya kepada pegawai.


"Jika ada keluhan lain, segera beritahu kami Pak! untuk saat ini, kami belum menemukan masalah apapun pada tubuh Pak Damar," ucap dokter yang memeriksa Damar.


"Ba-baik dok!" balas Damar. Ia masih dalam keadaan lemah.


"Kami permisi," pamit dokter dan juga team perawat.


"Terima kasih dok!" kali ini Allana yang berucap dengan tersenyum.


Setelah dokter keluar ruangan. Suasana canggung malah terjadi antara Damar dan Allana. Seakan mereka baru bertemu setelah sekian lama terpisah.


Orang tua Damar serta Linggar baru saja Allana kabari mengenai Damar yang sudah siuman dan sudah berada di dalam ruang perawatan.


"Neng! koq diam aja?" tanya Damar dalam posisi berbaring nya. Ia tersenyum sembari menautkan jari mereka.


"Hehe! gak koq. Lana malu," jawab Allana dengan menutupi wajahnya.


"Heum. Masa malu!" ucap Damar. Bicara Damar masih terdengar melemah.

__ADS_1


"Emmm .... kita seperti baru bertemu ya A! Masya Allah, Lana bahagia sekali, A'a dapat kembali siuman." Ucap syukur Allana penuh keharuan.


"Alhamdulillah sayang!"


"Rasanya Lana hampir putus asa! sembilan belas hari bukan waktu yang sebentar, menunggu orang yang Aku sayangi terbaring lemah tak berdaya tanpa kepastian." Ujar Allana dengan berlinang air mata.


"Sudahlah sayang! Jangan menangis. Hemmm .... ternyata lama juga yah Aku tidak sadarkan diri. Lihat, dirimu kurus sekarang." ujar Damar.


Allana mengekeh. "Bukan nya Lana tambah gemuk yah!"


"Hehe! ada juga aku nih yang tambah gemuk. Ma'afkan A'a sayang, pasti malam itu kamu kecewa, karena Aku tidak datang untuk makan malam."


"Tidak Koq A! Lana justru khawatir. Dan ke khawatiran Lana terbukti, dengan tiga orang polisi yang mengabarkan A'a kecelakaan, bahkan hingga meninggal." Allana menangis.


"Sayaaaang!" Damar mengelus lembut pipi Allana dan menghapus air mata yang kadung mengalir.


"O yah! kamu bilang mau kasih aku kejutan pada malam itu? kejutan apa?" tanya Damar.


Hiks! Allana masih terisak. Lalu ia berhenti menangis dan tersenyum. "Sebentar A! kejutan nya ada di dalam tas."


Allana berjalan ke arah sofa, ia meraih tas nya, lalu membuka nya dan mengacak-ngacak isinya.


"Koq gak ada? yah kemana nih? tertinggal di rumah? atau di rumah Kinan? Ya Allah, kemana kotak itu?"


Kotak kejutan untuk Damar tidak ada dalam tas rupanya dan Allana lupa akan kotak tersebut. "A, kotak kejutan nya mungkin tertinggal di rumah."


"Yah! sayang sekali Neng. Memang nya isi kotak itu apa?" tanya Damar penasaran.


"Emmm, nanti aja deh! kalau A'a sudah boleh pulang!" seru Allana.


"Sekarang saja Sayang!" desak Damar. Ia tidak mau menunggu lagi.


"Isinya, hasil ......" Allana menoleh dan ucapan nya menggantung di udara. Ketika Ibunya Damar masuk sembari menangis bahagia.


"Assalamu'alaikum, Mar!!!!Alhamdulillah, kamu sudah sadar Nak!" Ibunya Damar terisak sembari berjalan menghampiri Damar dan langsung memeluk nya.


"Alhamdulillah Bu!"


"Ya Allah, Alhamdulillah Anak Hamba sudah siuman." Ucap syukur Ayah Damar yang juga baru masuk.


Akhirnya terjadi tangis haru kebahagiaan dalam ruangan tersebut. Hingga sore hari Linggar beserta Istrinya juga hadir. Di susul beberapa orang para atasan Damar dan staf lain serta para bawahan Damar datang menjenguk.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2