Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
17. Hipotermia.


__ADS_3

"Ahahahaha. Teriak sekeras nya! tidak akan ada yang mampu membantu mu! di luar sedang ramai." Tawa Miranti.


"Gila kamu ya? Ini, bukan kamu yang sebenarnya, aku tahu Mir! tolong turunkan pisau nya," Allana bersikap tenang, ia sedang berusaha mengendalikan keadaan.


"Ia, gue udah gila! ahahahahha!" Miranti makin tidak terkendali.


Allana mulai merasakan hawa dingin menusuk ke dalam tubuhnya karena gaun yang dikenakan sudah betul-betul basah.


"Mir! please. Turunkan pisau nya," pinta Allana, masih dengan suara lirih nya.


"Gak! gak akan. Sebelum wajah cantik Lo, gue ukir menggunakan pisau ini." Ancam Miranti kembali.


Allana makin memundurkan wajahnya, ia berusaha waspada sembari mencari celah, untuk nya dapat melumpuhkan Miranti.


Bukh!


Dengan cepat, Allana mengangkat tas nya dan ia arahkan pada tangan Miranti yang sedang memegang pisau.


"Kurang ajar! Allana s*alan!" geram Miranti, pisau yang ia pegang terpelanting dan jatuh ke lantai. Miranti memegangi tangan kanannya karena merasa sakit terkena hantaman tas Allana.


Allana segera menendang


pisau yang tergeletak di lantai. Bersamaan dengan itu Yusra dan Kinanti masuk ke dalam toilet.


"Ya ampun Lana!" pekik Yusra yang melihat kondisi Allana berantakan.


"Lana, apa yang terjadi?" tanya Kinanti.


"Aku di serang orang ini." sahut Alana sembari menunjuk Miranti.


"Lo pantas mendapatkan nya, jalang sok suci." Miranti tambah meradang.


"Om .... Om Damar! Lana di sini, gaun nya basah semua." Akhirnya Yusra memanggil Damar yang berada di luar toilet.


"Lana!" Damar tidak berpikir panjang lagi, ia langsung masuk begitu saja.


"Sayang! ada apa ini, Neng? mengapa penampilan mu jadi berantakan begini?" tanya Damar dengan khawatir saat sudah berada di hadapan Allana.


"Papa!" gumam Allana.


"Sudah jelas Om! ini perbuatan perempuan tengil ini." Kinanti menunjuk pada Miranti.


"Heh, kamu apakan Anak saya? jawab!" teriak Damar dengan geram.


Allana dan yang lainnya nya terperanjat melihat sisi lain Damar. Bentakan Damar terdengar mengerikan.


Damar yang pendiam dan jika bicara selalu lemah lembut, kini menjelma bak dewa petir.


"Ti-tidak!" Miranti gugup seketika.


"Satu mili saja, Anak saya cedera dan kamu penyebab nya. Habis, kamu!" Ancam Damar.


"Pah! sudah, mari pulang. Lana kedinginan." Allana menarik lengan Damar yang masih menatap tajam Miranti dengan penuh ancaman.


"Baik, sayang?" Damar membuka jas Blazer nya, lalu ia pasang pada tubuh Allana.


"Yus! Kin! tolong panggilkan Heru dan Irfan untuk membawa perempuan ini ke kantor polisi." Pinta Damar masih dengan mimik tidak ramah.


"Ja-ngan! jangan bawa saya ke polisi. Saya minta ma'af!" Miranti memelas.


Yusra sudah memanggil Heru dan Irfan. Mereka pun ikut masuk ke dalam toilet bersama dua orang satpam hotel yang membantu mencari Allana setelah Damar tadi melaporkan kehilangan Anak nya.


"Mana orang nya Kin?" tanya Heru kepada Kinanti.


"Tuh!" tunjuk Kinanti ke arah Miranti yang sudah mulai mundur berapa langakah.


"Pak! tolong amankan Anak ini dan juga pisau itu." tunjuk Damar, pada pisau yang tergeletak di ujung pintu. "Bagaimana sih, koq bisa pengawasan nya lengah! ini hotel bintang lima lokh. Tapi ada tamu yang membawa benda tajam tidak terdeteksi." Protes Damar.

__ADS_1


"Ma'afkan kami Pak! ini keteledoran, mungkin anak ini masuk, ketika kami sedang berganti sift jaga." ujar satpam.


"Di ruangan ini seperti nya ada Cctv! saya ingin melihat nya pak! apa yang sudah terjadi. Saya juga tidak ingin menangkap orang tanpa bukti lebih." Pinta Damar.


"Untuk toilet bagian luar ada pak! silakan jika hendak melihat. Mari pak ke ruang pantau." Ajak salah satu satpam.


Miranti berusaha berontak, namun cekalan Kedua Satpam tersebut nyatanya lebih erat.


Di ruang pemantauan Cctv.


"Di putar dari ketika Anak saya keluar dari ruangan acara pak!" pinta Damar.


"Papa! dingin," bisik Allana. Tubuh nya bergetar, bibirnya mulai memias.


"Sebentar, sayang." Bujuk Damar dengan juga berbisik.


Kini mereka sedang menyaksikan bagaimana aksi Miranti di layar monitor yang merekam aktivitas dari Cctv.


Terlihat Allana di tegur seseorang. "Leo!" gumam Yusra dan Kinanti.


"Siapa dia Neng?" tanya Damar.


"Leo Pah! mantan Lana yang di rebut Mira." Jawab Allana dengan menunduk. Allana menggigit bibir bawahnya dan meremas ujung blazer Damar yang ia kenakan.


Tidak berapa lama, Allana menyudahi obrolannya dan dia beranjak menuju toilet, nampak Leo masih menatapnya, hingga Allah menghilang di balik toilet, Leo masuk ke dalam ruang diadakannya Prom night.


Selang berapa lama, Miranti berjalan dengan tergesa ke arah toilet.


"Kalian kenal dengan pria tadi?" tanya Damar pada Yusra dan Kinanti.


"Kenal Om!" Jawab mereka.


"Baik! mungkin dia harus berada di sini, agar mengetahui perbuatan kekasih nya." Ucap Damar dengan nada dingin.


"Pah, Dingin." Lagi-lagi Allana berbisik karena tumbuhan yang makin terasa dingin. Terlebih terhembus dinginnya air conditioner yang di dalam ruangan tersebut.


"Sabar Sayang! sebentar lagi, agar masalah nya, dapat Clear malam ini." Damar mengelus punggung Allana dan Allana pun hanya mengangguk sembari menahan hawa dingin dengan tubuhnya yang sudah bergetar.


"Baik! terima kasih." Ucap Damar.


"Ja-jangan!" Miranti mencegah mereka untuk menghadirkan Leo. sepertinya Miranti memiliki ketakutan tersendiri.


"Heh! ngapain gue harus menuruti elo! dasar perempuan kurang ajar!" Yusra nampak emosi.


"Sudah lah, mari Yus." Ajak Kinanti. Akhirnya, tanpa memperdulikan wajah memelas dari Miranti. Kinanti di bantu oleh Yusra, Heru juga Irfan, mereka keluar untuk mencari keberadaan Leo.


"Pak coba di putar, ketika sudah di dalam." Pinta Damar.


"Baik Pak!" akhirnya petugas room kontrol pun memutar rekaman Cctv, kejadian di dalam toilet.


Napak Allana baru saja keluar dari bilik toilet yang lebih kecil. Lalu di halau oleh Miranti. kejadian begitu cepat, sehingga rambut Allana di tarik, terjatuh dan ditodong pisau.


Damar menghela nafas kasar, lalu ia tinju tembok yang berada di sebelah nya. Setelah nya tatapan tajam bak elang beralih pada Miranti. Nampak jelas raut ancaman dari wajah Damar.


"Papa, jangan begini," wajah Allana memelas karena khawatir, ia raih tangan Damar yang baru saja meninju tembok. Allana mengecupi nya dengan lembut, ia sudah tidak perduli dengan beberapa orang yang ada di ruangan tersebut.


"Maafkan Papa, Neng! sudah lalai dalam menjaga mu." lirih Damar dengan nada penyesalan.


Allana tidak menyahut. Ia makin mengecupi tangan Damar yang memerah dengan derai air mata. Saat Allana sedang sibuk mengecupi tangan Damar dengan berurai air mata.


Yusra, Kinanti, Heru beserta Irfan pun masuk dengan membawa seseorang, yaitu Leo.


"Urus kekasih mu! lihat apa yang telah ia lakukan terhadap ISTRI saya!" ucap Damar dengan Lantang.


Pernyataan Damar membuat Miranti, Leo serta dua orang satpam dan petugas room kontrol , terperangah karena terkejut, mendengar kata ISTRI. Sejak awal mencari Allana, Damar mengaku kehilangan putrinya.


"Maaf, saya tidak faham!" ujar Leo.

__ADS_1


"Baik! Maaf Pak! mohon diulang kembali pemutaran rekam Cctv nya." Pinta Damar kepada petugas room kontrol.


"Baik Pak!" petugas itu pun, kembali memutar hasil rekaman Cctv dari awal yang Damar pinta.


Tentu saja Leo terkejut, atas apa yang Miranti lakukan. Begitupun dengan Yusra, Kinanti Heru dan Irfan yang baru saja melihat rekaman lengkap dari Cctv tersebut.


"Sinting kamu Mir!" bentak Leo dengan tatapan mengintimidasi. "Aku sudah mengingatkan kamu, jangan pernah menyentuh Allana. Maka dari itu, untuk menyelamatkan Allana dari tangan kotor mu. Aku bersedia putus dengannya dan terkesan berselingkuh dengan kamu. Enggak nyangka, kamu menghianati kepercayaan ku. Ok! Aku kecewa sama kamu. karena Allana sudah memiliki suami dan aku yakin dia akan melindungi nya, maka dengan senang hati! kita putus." Ucap mantap dari Leo.


"Leo!" gumam Allana, ketika tahu tentang kebenaran yang di sembunyikan Leo yaitu demi dirinya.


"Jangan Leo! jangan putuskan Aku. kamu harus menikahi aku! kita sudah sering tidur bersama." Aku Miranti dengan tidak tau malu nya.


"Hooo!" Allana terkejut dengan pengakuan Miranti. Begitu pun dengan Yusra dan Kinanti.


"Heh! maka nya jadi perempuan itu harus bisa jaga kehormatan! aku tidak pernah melakukan itu dengan kesadaran seutuhnya. Namun kamu sendiri yang memberi ku obat, agar aku mau melayani mu." Akhirnya Leo mengakui apa yang terjadi di antara Miranti dengan dirinya.


Sedangkan ketiga orang laki-laki di hadapan Leo, sibuk menutup kedua telinga pasangannya dengan telapak tangan mereka.


Damar, Heru dan Irfan tidak mau Allana, Yusra dan Kinanti mendengar hal menjijikkan tersebut.


"Baik! saya yakin, dia datang kemari, berdua denganmu! awalnya, saya ingin melaporkannya ke polisi. Namun karena seperti nya hanya ancaman saja dan tidak ada luka fisik yang berarti. Maka, saya melepaskannya. Lalu kamu bawa pulang dan pastikan dia tidak akan pernah mengganggu Istri saya lagi," ucap Damar berwajah serius.


"Baik! minta ma'af dulu sama Allana." Pinta Leo.


"La-Na! aku Minta maaf!" ucap Miranti pelan.


"Baiklah Mir! pulanglah." Allana memaafkan Miranti tanpa kompromi. Tumbuh nya sudah tidak tahan lagi dengan hawa dingin yang mulai menusuk ke dalam tulang. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat itu.


"Ayok pulang!" Leo menarik kasar lengan Miranti. Setelah berpamitan, Leo membawa Miranti keluar dari ruangan tersebut.


"Terima kasih atas waktunya Pak, maaf kalau kami sudah berbuat gaduh." ucap Damar.


"Kami yang seharus nya minta maaf Pak! karena lalai dalam menjaga keamanan." Ujar satpam.


"Sudahlah! ini insiden yang memang harus terjadi. kalian juga pulanglah, terima kasih sudah membantu saya dan Lana. Saya akan menginap di hotel ini. Allana kedinginan, saya takut Lana terkena hipotermia jika saya harus membawa nya pulang." Ujar Damar.


"Baiklah, kami pulang!" tukas Heru. Lalu mereka berpamitan, Damar pun mengucapkan terima kasih. setelah bersalaman kepada satpam dan petugas room kontrol, Damar bergegas menuju resepsionis untuk melakukan Check in kamar.


Walaupun agak ribet dengan peraturan dan beberapa ketentuan, namun setelah Damar menunjukkan foto pernikahannya. Mereka pun dipersilahkan check in.


kini Allana dan Damar sudah berada di kamar hotel.


"Pah dingin!" lagi-lagi Alana berucap kata dingin. kali ini ucapannya lebih berekspresi karena tidak ada orang lain.


"Sayang, buka pakaianmu! sini Papa bantu!" Allana pun menurut.


Damar melucuti gaun Allana hingga ke bagian dalam dan Allana sudah tidak berpakaian sama sekali. Damar dengan telaten mengelap tubuh Allana menggunakan handuk kering. Allana bergetar menahan hawa dingin.


Damar membuka kemeja yang ia kenakan. "Pakailah! kemeja ini sudah hangat dari suhu badan Papa." Allana pun menuruti.


"Terima kasih Pah!" ucap Allana dari bibirnya yang bergetar.


"Ini air teh madu hangat, di minum dulu, setelah nya langsung bobo yah! Papa akan membantu menghangatkan tubuh mu." Damar menyodorkan gelas berisi teh madu yang ia pinta dari pihak hotel.


Alana meraih gelas tersebut dengan bergetar. Lalu meminumnya. "Sudah! bobo yah!"


Damar menuntun Alana untuk berbaring di kasur lalu ia menyelimutinya. Namun Damar tidak yakin, jika Allana akan segera pulih dilihat dari kondisinya yang terlihat pucat dan bergetar.


Tanpa pikir panjang. Damar pun melucuti pakaiannya. Lalu ia naik ke atas tempat tidur dan Damar membuka kemeja nya, yang Allana kenakan. Kini keduanya sama-sama tidak berpakaian.


"Pa-pa hendak apa?" tanya Allana di sela getaran bibirnya. Walaupun biasanya Allana menggoda Damar. Namun kali ini ia merasa tidak siap jika harus melakukan malam pertama.


"Sssstt! sudah jangan banyak tanya, Papa takut kamu hipotermia, maka Papa akan menghangatkan tubuh mu, dengan penyaluran hawa panas skin to skin." Damar menarik Allna kedalam dekapannya. Allana yang merasa lelah pun menumpahkan air matanya dalam pelukan Damar.


"Sudah! kamu sudah aman bersama Papa. Damar faham betul kondisi syok yang Allana alami. Damar menghapus air mata Allana. Lalu ia merangsang hangat dengan mengajak Allana melakukan penyatuan bibir. Betul saja, tubuh Allana berangsur menghangat.


Setelah agak lama merangsang agar tubuh Allana kembali bersuhu normal. Akhirnya Allana pun tertidur. Damar mengecup kening Alana dengan mendalam.

__ADS_1


"Papa sayang Lana." Gumam Damar. Tidak lama kemudian Ia pun ikut terlelap, di balik selimut tanpa menggunakan pakaian.


Bersambung ....


__ADS_2