Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
22. A'a Mencintai Kamu


__ADS_3

Kini Allana tengah menangis dalam pelukan selimut. Damar sedang berusaha meminta maaf.


"Ma'afkan A'a, please Neng!"


"A'a Jahat! dasar laki-laki, selalu saja bertindak sesuka nya." ucap pelan Allana.


"Neng ma'afkan A'a!" ucap Damar Kembali penuh permohonan.


"Apa yang A'a inginkan sudah terpenuhi. Silakan A'a pergi dari sini." Pinta Allana dengan suara pelan.


"Neng! apa yang membuat hatimu menjadi sekeras ini?" tanya Damar.


"Aku kecewa. A'a menyayangi Lana, karena rasa bersalah dan A'a masih sangat jelas mencintai Mama. Lana merasa di posisi yang merebut A'a dari Mama, walaupun Mama telah tiada." Jawab Allana. "A'a juga tidak berperasaan. Dengan A'a memaksa Lana untuk melakukan hal itu, sama saja A'a melakukan pelecehan terhadap istri nya."


"Tapi Neng menikmati nya!" ucap Damar dengan nada menggoda.


"Cukup! A'a pergi sana!" Allana mendorong tubuh Damar. Namun Damar malah memeluk Allana. Allana memberontak dan melepaskan diri dengan sisa kekuatan nya. Damar membiarkan Allana beringsut sedikit menjauhinya.


"Neng! sungguh A'a melakukan ini karena takut kehilangan kamu. Neng setelah A'a berfikir ulang, berkali-kali, ternyata A'a.....," Damar menghentikan ucapannya.


Lalu Damar menarik pelan kembali tubuh Allana agar mendekat kepada nya, Allana yang merasa lelah, ia pasrah tanpa menolak atau memberontak. Setelah berhadapan, Damar mengangkat dagu Allana dengan lembut. Lalu ia tatap manik mata indah itu, yang kini tergenang air mata sisa tangisan Allana.


Allana membiarkan Damar berbuat sesuka hati nya.


"Hemmm, Neng! ternyata A'a MENCINTAI kamu. Sangat mencintai kamu, Insya Allah karena Allah dan tanpa keraguan lagi." Ujar Damar dengan mantap.


Allana nampak terkejut, tanpa berkata apapun Allana hanya menatap mata Damar. Tidak ada kebohongan di sana.


"A-aku tidak percaya!" sergah Allana.


"A'a tidak meminta Neng untuk percaya. A'a hanya ingin Neng tahu! bahwa perempuan yang sudah mengisi relung hati ini ternyata hanya kamu. Lana A'a cinta sama kamu. A'a mencintai kamu Neng." Tandas Damar penuh keyakinan.


Allana terdiam. Hatinya bimbang. "Dapat kah A'a memberikan Lana waktu lagi, untuk Lana memikirkan kembali hubungan kita?" tanya Allana.


"Tentu! dengan syarat, Izinkan A'a menjadi imam shalat Asar untuk mu, sore ini. Setelah nya A'a akan pergi." Ucap Damar tanpa kompromi.


Allana pun mengangguk, ia malas membantah keinginan Damar yang bisa saja akan kembali bertengkar.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Dengan tersenyum bahagia, Damar mengangkat tubuh Allana menuju kamar mandi, lalu mereka mandi secara bersamaan. Setelah nya mereka mengambil wudhu, berpakaian dan Shalat Ashar.


"Neng A'a pulang!" Pamit Damar dengan lesu setelah selesai shalat Asar. Damar mengecup dahi Allana dengan lembut dan agak lama.


Allana mengangguk sembari mengecup tangan kanan Damar. Dengan langkah gontai Damar menuju luar kamar. Ia berharap Allana menghentikan nya. Namun tidak! nyatanya Allana membiarkan ia pergi.


Sepeninggal Damar, Allana luruh dan bersimpuh di atas lantai. Ia menangis sejadi nya. Allana bingung dan bimbang dengan perasaan nya.


"A'a .... ma'afkan Lana! Aku pun mencintai A'a sebetulnya." ucap lirih Allana.


Sebetulnya Allana amat bahagia ketika Damar menyatakan cintanya. Karena ia pun sesungguhnya mencintai Damar, ingin rasanya Allana menahan Damar agar tidak pergi. Namun egonya mengalahkan perasaan.


Tangisan Allana mereda seiring tubuh lelahnya tertidur dengan posisi duduk bersandar pada dinding.


**


Malam hari, Damar kembali ke kedai, alasan nya ia ingin mengantarkan mobil milik Vianny yang kini telah menjadi milik Allana.


"Pak Damar!" sapa pegawai kedai.


"Ia, Allana ada?" tanya Damar. Kali ini ia langsung masuk ke kedai dan tidak menemui Allana di kamar.


"Tadi siang!" gumam Damar, berarti itu sejak Asar dan setelah ia pergi. Kini hampir pukul sembilan. Selama itu Allana belum kembali ke kedai. Apa ada sesuatu hal terjadi?


Setelah pamit kepada para pegawai kedai. Damar bergegas menuju roof top. ketika sampai, Damar menggedor kamar Allana. Namun tidak ada jawaban.


Akhirnya Damar membuka pintu kamar tanpa persetujuan Allana. "Gelap! Neng, kamu di mana?" panggil Damar. Kamar itu nampak gelap.


Damar segera menghidupkan lampu, "Astaghfirullah'aladzim! Neng!" Damar terkejut melihat Allana tergeletak di lantai dengan tubuh bergetar dan wajah yang nampak pucat.


Damar segera berlari menghampiri Allana. "Neng bangun! ini A'a. Neng!"


Damar menepuk pelan pipi Allana, setelah mengangkat tubuh Allana ke atas tempat tidur.


Allana membuka matanya sebentar, ia menatap nanar Damar. Setelah nya ia tidak sadarkan diri.


"Neng! bangun, Neng jangan membuat A'a khawatir." Pinta Damar. Namun tidak ada respon apapun dari Allana.

__ADS_1


***


pukul sebelas tiga puluh malam. Allana sudah berada di ruang rawat inap yang terdapat empat buah sekat tirai dan ranjang pasien. Allana berada di berangkar nomor satu.


"Pah!"


Akhirnya Allana terjaga dari tidurnya. Menurut dokter, Allana kelelahan.  Perkiraan dokter, yang terjadi pada Allana adalah gejala narkolepsi. Narkolepsi adalah ketidak mampuan menahan rasa ingin tidur yang terjadi secara berkelanjutan di luar waktu tidur.


Tadi ia bukan tidak sadarkan diri karena pingsan. Namun Allana hanya tidur, mengantuk berat akibat kelelahan ber efek seperti orang pingsan.


Narkolepsi, itulah yang Allana, alami, akibat kelelahan hebat maka ia merasakan otot lemas dan kantuk menguasai diri nya.


Dokter sudah menempatkan Allana di ruangan rawat inap, agar Allana dapat istirahat dengan di masukan cairan infus.


"Sayang! Alhamdulillah,kamu sudah bangun." Ucap Damar dengan sumringah.


Allana mengangguk. "Aku kenapa, koq berada di rumah sakit?" tanya nya pelan.


"Kamu kelelahan sayang! ma'afkan A'a yang sudah menyebabkan kamu mengalami kelelahan berlebih." ucap Damar dengan amat menyesal.


"A'a panggilkan dokter sebentar." Damar menekan bel yang berada di atas kepala Allana.


Tidak berapa lama, Team dokter pun tiba. Mereka melakukan serangkaian pemeriksaan. "Tidak perlu khawatir, besok juga bisa pulang koq."


"Baik Dok. Terima kasih!"ucap Damar.


"Neng mau minum?" tanya Damar, setelah team dokter berlalu.


"Ia A, tenggorokan Lana terasa kering sekali." Allana setuju dengan tawaran Damar.


Damar meraih gelas dan membantu Allana minum.


"A'a bubu di sini, Lana ingin di peluk," bisik Allana dengan sedikit menggeser tubuhnya dan menepuk sisi Kosong tempat tidur nya. Ia takut pasien lain di sebelah nya terganggu.


"Baiklah. A'a akan memeluk mu hingga pagi." Ucap Damar tentu saja dengan sumringah kebahagiaan. Kemudian Damar ikut naik di atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Allana dan memeluk nya. Lengan Damar sebagai bantalan Kepala Allana.


Momen malam itu, momen romantis antara Allana dengan Damar. Entah apa yang akan terjadi esok hari setelah Allana pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2