
"Sayang, selama kamu hamil, ngidam apa saja?" tanya Damar. Setelah perundingan asmara yang kesekian. Sebagai pelepasan rindu.
"Hem! rasanya tidak ada yang aneh, pernah sih beberapa kali, ketika malam aku ingin bajigur, skoteng dan rujak." Jawab Allana.
"Lalu, siapa yang mencarikan nya?" tanya Damar kembali dengan penasaran.
"Alhamdulillah, Bapak dan Kak Linggar yang membelikan nya. Pernah malam-malam cari asinan Bogor, hingga mereka pergi ke Bogor dan baru pulang pagi, Kak Hana dan Cozy sampai menginap di sini." Tutur Allana dengan mengekeh.
"SubhanAllah. Kamu nakal juga ternyata, sayang!" ujar Damar dengan mengekeh juga dan berbicara di tujukan pada perut Allana.
"Enak saja! Aku tidak nakal Papa! hanya menambah pekerjaan Kakek dan Om Linggar." Suara Allana yang di kecilkan. Membuat Damar makin gemas.
"Hehe. Lucu sekali kamu sayang!" tawa kecil Damar sembari mencubit pipi Allana.
"Apa sih, Lana malu!" ucap Allana, ia menyembunyikan wajahnya di permukaan dada bidang nya Damar.
Tidak dapat di pungkiri, jika Allana masih sangat menggemaskan walaupun sedang mengandung, Usianya baru saja menginjak delapan belas tahun, dua bulan sebelum nya.
"O Yah sayang, besok siang, Aku ingin menemani kamu belanja perlengkapan Baby! sebelum kita pindah ke Bandung." Ujar Damar tiba-tiba.
"Pindah?" tanya Allana sedikit terkejut.
"Iya. Kita akan tinggal di Bandung. Cuaca dan suasana Bandung bagus untuk therapi yang sedang Aku jalani." Jawab Damar.
"Koq mendadak sayang?" tanya Allana kembali.
"Tidak mendadak juga, sebetulnya sayang!" jawab Damar.
"Ouh!" Allana hanya ber oh saja.
"Ada apa? Neng tidak setuju? Maaf Neng!" Damar merasa ia telah mengambil keputusan secara sepihak.
"Ouh tidak koq A! Aku setuju saja. Hanya saja .... Aku takut A'a meninggalkan ku lagi." Jawab jujur Allana dengan mata yang berkaca-kaca dan menatap wajah Damar.
"Tidak Neng!" cup. Damar mengecup kening Allana dengan lembut.
"Rencana nya, selama beberapa bulan kedepan, Aku akan tetap menjalankan pengobatan di rumah sakit, dengan dokter ahli orthopedi dari Amerika yang berada di Jakarta, jadwal nya satu bulan tiga kali. Setelah nya, Aku akan rutin berobat di ahli therapist totok syaraf, di daerah Cianjur. Lima bulan kedepan, Aku harus kontrol ke Singapura." Tutur Damar.
"Ouh yah! berarti Insya Allah Lana sudah melahirkan. Bisa dong menemani A'a kontrol ke Singapura?" tanya sumringah Allana.
"Bisa koq sayang! nanti Dedek nya di rawat oleh Nenek nya untuk sementara!" tukas Damar.
"Sayang! Kak Linggar katanya sudah resign ya dari kantor Awan grup?" tanya Allana. Linggar tidak pernah datang lagi ke rumah nya sejak tiga bulan lalu.
"Iya sayang, Linggar juga kan sudah pindah ke Bandung, Ia menghandle jalan usaha ku yang di Bandung. Karena Arwan menemani Aku di Singapura." Penjelasan Damar.
"O yah! koq Aku baru tahu?" tanya Allana. Damar hanya tersenyum dengan lebih merapatkan pelukannya.
"Iya, Linggar yang meminta nya atas dasar kesepakatan bersama." Pada Akhirnya Damar menjawab pertanyaan Allana.
__ADS_1
"Lokh, kapan?"
"Lima bulan lalu."
POV Damar,
Lima bulan yang lalu.
Setelah satu minggu, Aku meminta Arwan untuk mengantar Allana pulang ke Jakarta, dan saat aku sedang menimbang serta memikirkan tawaran pengobatan ke Singapura. Linggar datang menemui ku dengan marah.
Alasan utama nya, Linggar mengatakan Aku adalah orang yang kejam.
"Men! gue sudah tahu kalau elo, nyuruh Istri lo pulang ke Jakarta. Perlakuan yang kejam, tahu gak!" ucap Linggar penuh emosi.
"Gue memiliki alasan Men, mengapa Allana di suruh kembali ke Jakarta!" sanggah ku.
"Alasan yang gak bisa gue
terima. Gila lo Mar! bisa-bisanya mengusir Istri lo sendiri." Bentak Linggar pada Ku.
"Sudahlah Ling! ini bukan urusan lo, ini urusan rumah tangga gue!" jawab Ku.
"Gimana bukan urusan gue, Allana sudah seperti adik bagi gue! lo tahu? satu minggu yang lalu, gue bertemu dengan Allana, dan hal yang paling mencengangkan, gue bertemu dia di minimarket sedang membeli susu hamil." ujar Linggar. Aku terkejut mendengarnya.
"Apa?" tanya ku dengan nada terkejut.
"Iya Men! susu hamil. Gua pastikan Allana sedang hamil. Itu terbukti dari kotak kecil yang ditemukan Hana, yang terjatuh dari tas Allana. ketika ia histeris menangisi elo dalam keadaan antara hidup dan mati." Ungkap Linggar. Membuat darah ku rasa membeku.
Ketika itu, Linggar memberikan kotak kecil berisi hasil USG. Seperti nya kotak tersebut yang telah Allana persiapkan sebagai kejutan untuk ku, ketika kami berencana makan malam. Namun Allana gagal memberikan karena Aku mengalami kecelakaan.
Aku mengambil kotak tersebut, dan membukanya secara perlahan dengan tangan bergetar.
Ketika kotak terbuka. Aku tertegun, selembar polaroid dan bergambar photo hasil USG dengan hanya mirip titik gumpalan bersama dua buah testpack bergaris merah dua berada di dalam kotak tersebut.
"Lana hamil? sayang, jadi .... apa kotak ini, yang kamu maksud sebuah kejutan untuk ku! Aku bodoh, telah menyuruh mu pergi dari sini! Ya, betul kamu hamil. Sayang!"
Aku begitu yakin Lana memang hamil. Aku mengingat kembali akan Allana yang muntah dan pusing hampir setiap pagi, Allana yang meminta ku untuk lebih pelan dalam melakukan hubungan intim. ketika Kami pulang ke Bandung, Allana menginginkan rujak di pinggir jalan yang tidak sengaja kami lewati.
Ya, Allana seperti nya baru mengetahui ia hamil dan hendak membuat kejutan untuk ku! namun takdir berkehendak lain.
"Alhamdulillah sayang! Akhirnya kamu hamil dan Aku akan menjadi seorang Ayah." lonjak ku kegirangan, sembari mengelus pelan hasil USG di tangan ku. Pada akhir nya Aku pun menangis dengan tersedu karena bahagia.
Aku pun segera memanggil Ayah dan Ibu untuk memberitahukan kabar gembira ini. "Thank you Men! Lo jauh-jauh ke mari, untuk memberitahukan kabar gembira ini."
"Santai aja Men!" ucap Linggar dengan keadaan sudah lebih tenang.
"Lana maafkan Aku, kera telah menyakitimu. Aku akan berjuang untuk sembuh, demi kamu dan Anak kita sayang!" ujar ku dengan tekad yang kuat.
Linggar mendengar perkataan ku dengan jelas. Ia menepuk bahu ku petanda dukungan penuh.
__ADS_1
Ibu dan Ayah ku menghampiri Aku dengan segera. "Ada apa Mar?" tanya Ibu ku.
"Bu! Lana hamil!" ucap ku.
"Alhamdulillah!" jawab Ibu.
"Jadi, Bapak akan memiliki cucu, Mar?" tanya Bapak.
"Iya Pak!" jawab ku. Bapak pun berucap syukur.
"Tidak percuma telah terjadi gempa lokal." Kelakar Bapak.
Membuat Aku dan Ibu terpingkal. Mengingat kejadian ambruk nya tempat tidur keramat. Linggar hanya mengerutkan dahi karena tidak mengerti.
Tidak berapa lama Arwan masuk dari arah luar, ia baru saja pulang dari mengurus pekerjaan nya.
"Ada apa ini? kalian nampak bahagia?" tanya nya.
"Allana hamil Dek!" ucap ku dengan sumringah.
"Alhamdulillah! berarti betul apa yang di katakan Teh Lana tempo hari tentang keponakan," ucap Arwan menambah rasa penasaran ku.
"Memang apa yang di katakan Allana Wan?" tanya ku penuh selidik.
"Jadi begini A, Bu, Pak, A Linggar ....!" Arwan mulai menceritakan tentang keanehan Allana ketika dalam perjalanan menuju Jakarta.
Akhirnya kami tambah yakin jika memang Allana hamil, setelah mendengarkan penjelasan Arwan.
"Alhamdulillah! kalau begitu, Aku mau sembuh dan dapat berjalan kembali. Bu, Pak! Damar mau mengikuti saran dokter dan Hanif untuk berobat ke Singapura." Cetus ku.
"Kamu yakin Mar?" tanya Bapak.
"Yakin Pak!" jawab ku dengan mantap.
"Alhamdulillah. Kapan kamu berangkat?" tanya Ibu.
"Lusa Bu!" jawab ku tanpa keraguan. "Damar minta tolong Ibu dan Bapak untuk menjaga dan merawat Allana Bu, selama Damar pergi." Pinta ku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik Mar! kami akan menjaga Allana dan merawat nya," balas Ibu. "Lalu, kamu berangkat bersama siapa?" tanya nya lagi.
"Bersama Arwan! Dek tolong persiapkan segala nya. Seperti nya kita akan lama di sana." Ujar ku.
"Baik A! lalu .... jalan usaha kita siapa yang handle?" tanya Arwan.
"Iya yah!" Aku berpikir sejenak. Siapa orang yang mampu meng handle usaha kami. Beberapa Kedai kopi, stand minuman, makan khas Bandung, Mini market dan toko oleh-oleh di beberapa destinasi wisata.
"Bagaimana kalau Aku saja?!" Linggar menawarkan diri. Kami menoleh serempak kepadanya.
Bersambung ....
__ADS_1