
Lima bulan kemudian,
Sore itu Allana baru saja pulang kuliah, ia memilih untuk santai sejenak di taman belakang rumah Damar. Sembari bersantai, ia memeriksa kembali tugas-tugas dari dosen pembimbing nya.
"Neng! minum dulu susu nya, tadi pagi kamu lupa minum susu."
Seorang wanita setengah baya keluar dari dalam, membawa segelas susu hamil untuk Allana.
"Iya Bu terima kasih. Tadi Lana buru-buru, makanya lupa susu nya, tidak Lana minum deh!" jawab Allana sembari meraih gelas susu tersebut.
"Iya Neng! tidak mengapa, yang penting, cucu Ibu di dalam sini, sehat dan kamu nya juga harus tetap sehat." Ibu tersebut duduk dan mengelus perut Allana. Sesekali ia tersenyum menghadap Alana tangan kirinya tidak berhenti mengelus lembut perut Allana yang sudah mulai membuncit.
Kandungan Allana sudah memasuki bulan ke delapan.
"Bu! A Damar apa kabar? Lana rindu sekali," ucap Allana sembari menyandarkan tubuhnya pada bahu sang Ibu.
"Menurut Arwan. Keadaan Damar makin membaik, sepertinya sudah tidak menggunakan kursi roda. Arwan bilang sih sudah memakai tongkat." ucap Ibu itu, yang ternyata, ia adalah Ibu nya Damar.
"Alhamdulillah .... Nak! Papa mu katanya sudah tidak duduk di atas kursi roda. Semoga Papa cepat kembali dalam keadaan sehat." Ujar Alana berbicara kepada perutnya. tepatnya perut yang berisikan calon bayi Allana dan Damar.
Sosok makhluk mungil bernyawa di dalam perut Allana, yaitu calon bayi nya Damar dan Allana menggrinjal, ia seperti mengiyakan perkataan Allana.
"Bu! bergerak! Baby nya bergerak Bu!" pekik Allana dengan kegirangan.
"Iya Neng! Masya Allah," ujar Ibu nya Damar.
"Bu, terima kasih sudah menemani Lana selama lima bulan ini," ucap Allana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Neng! tentu Ibu harus menemani dan merawat kamu dan juga kandungan mu, terlebih suami mu saat ini sedang berobat ke luar negeri." tukas Ibu nya Damar sembari mengelus kepala Allana yang masih bergelayut manja di pundak nya.
"Hem," Allana mengangguk dengan juga tersenyum.
POV Allana.
Lima bulan lalu,
Aku merasa terkejut, ketika Ibu dan Ayah mertuaku, tiba-tiba datang menemui Aku di kedai nasi goreng. kala itu, aku sesekali menginap di rooftops kedai nasi goreng. Karena aku merasa tidak enak hati dengan keluarga Kinanti.
Namun suatu hari, ketika Aku pulang kuliah, Ibu mertuaku sudah berada di kedai, sedang menungguku.
Aku sempat berpikiran, Ibu mertuaku datang bersama A Damar. Namun ternyata tidak! ia datang berdua dengan Ayah mertuaku.
"Ibu! Bapak! sudah lama?" tanya ku begitu sumringah melihat mereka berdua berada di hadapanku.
"Dari satu jam yang lalu! Nak Linggar mengatakan, bahwa Lana berada di kedai. Maka dari itu, Ibu dan Bapak langsung ke sini." ucap ibu mertuaku.
"Neng, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ayah mertuaku.
"Alhamdulillah, Lana baik pak!" ujarku sembari duduk di hadapan mereka.
"Bapak dan Ibu pulang ke rumah saja yuk! di sini hanya ada satu kamar dan sempit," pintaku.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kamu juga lebih baik tidur di rumah, dari pada tidur di kedai seperti ini, nampaknya kurang nyaman!" ujar Ibu mertuaku.
"Iya Bu, kalau ada temannya Lana mau tidur di rumah, tapi ....," ucapan ku terhenti. sepertinya mereka paham akan ucapanku yang terputus, bahwa Aku akan mengatakan di rumah seorang diri.
"Neng, mulai hari ini, Ibu akan menemanimu di sini, di rumahmu." tandas Ibu mertuaku. Jujur, beberapa pertanyaan langsung menyergap otaku.
"Ibu, mau menemaniku di sini? Lalu .... bagaimana dengan A Damar? siapa yang akan merawat A Damar dan di mana A Damar saat ini?" itulah kira-kira pertanyaan yang ada di dalam benak ku.
Lagi-lagi Ibu sepertinya mengerti, apa yang aku pikirkan.
"Neng, akhirnya Damar mau berobat ke luar negeri. Ia ditemani Arwan pergi ke Singapur tadi pagi, Ibu dan Bapak baru saja pulang dari bandara untuk mengantarnya dan Ibu putuskan untuk mampir ke mari melihat keadaanmu."
"Jadi .... A Damar, sudah berangkat ke Singapura Bu, Pak?" tanya ku dengan mata yang mulai menitikan tetesan air nya.
"Betul. Alhamdulillah Neng! semangat Damar untuk sembuh begitu kuat," ucap Ayah mertuaku menjawab pertanyaan dari ku.
"Itu karena .... karena calon bayi kalian." lanjut Ayah mertua ku.
"Iya, bayi kalian. Calon bayi yang sedang kamu kandung saat ini." sambung Ibu mertuaku.
Deg!
Deg!
Aku terkejut mendengarnya. Jantung ku berdetak dua kali lipat dari sebelumnya. "Dari mana mereka tahu, bahwa Aku hamil?" tanya Ku di dalam hati.
"Lana, mengapa kamu tidak mengatakan kalau kamu sedang hamil?" tanya Ibu mertua ku.
kemudian Ibu mengeluarkan sebuah kota kecil dari dalam tas nya. "Dari dalam sini."
Jawab ibu, menunjuk pada kotak tersebut. "kotak?"
Aku mengernyitkan dahi. Lalu ku meraih kotak tersebut, mengamati dan membuka nya. Namun photo USG nya sudah tidak ada. Begitupun hasil testpack yang berjumlah dua, kini hanya sisa satu.
"Lokh ini kan? kotak .... milikku? kotak kejutan untuk A Damar yang hilang dan berisikan foto USG serta hasil testpack, memang masih Aku cari hingga kini. Namun mengapa ada di tangan Ibu? dan lalu kemana isinya?"
"Neng, Linggar yang membawa kotak ini ke Bandung! kata Nak Linggar, Istrinya yang menemukan kotak ini. Kotak terjatuh dari tasmu, ketika kamu menangisi Damar saat berada di dalam rugangan IGD tengah kritis. Ia belum sempat mengembalikan nya kepada mu!" Ibu mertuaku sepertinya mengerti, pertanyaan apa yang ada dalam pikiran ku.
"Oh begitu Bu!" ucapku sambil mengingat kejadian hari itu. Namun sepertinya aku melupakannya.
"Jadi A Damar sudah, mengetahui hal ini Bu, Pak?" tanyaku penuh selidik.
"Tentu! Damar orang pertama yang mengetahui tentang kehamilan mu, setelah Linggar memberitahukan nya. Maka dari itu Damar begitu bahagia Neng, hingga semangat nya langsung tumbuh dan Ia mengikuti saran dokter serta sepupunya untuk berobat ke Singapura." Jawab Ibu mertuaku dengan kebagian.
"Akan tetapi ....," Ucap ku, penuh keraguan.
"Damar menitipkan surat untukmu. Ia berucap salam dan meminta maaf, belum dapat menemuimu untuk saat ini," ucap Ayah mertuaku dengan menyodorkan secarik kertas tanpa amplop. Aku pun meraih nya.
"Wa'alaikum salam!" balas ku, Ayah mertua ku seperti nya tahu apa yang akan aku ucapkan, bahwa ingin menanyakan 'Akan tetapi ..... mengapa A Damar tidak menemui Aku dan calon Anaknya terlebih dahulu, sebelum pergi ke Singapura.'
Aku buka lipatan kertas yang katanya dari A Damar dengan segera, Kerinduanku amat membuncah saat itu, ingin sekali aku memeluknya, mengecup bibir nya yang seksi dan maskulin, merasakan hangatnya pelukan di dada bidang nya.
__ADS_1
Air mataku tanpa malu berseluncur begitu saja di hadapan mertuaku. namun mereka seperti sangat amat memaklumi keadaan nya, saat ini hanya air mataku sebagai penangkal rindu, pengobat kegundahan karena belum dapat bertemu dengan suamiku, kesayanganku, Insya Allah Kekasih ku dunia dan akhirat.
Tangan ini bergetar tatkala melebarkan secarik kertas tersebut. Air mata masih saja berjatuhan dan menetes di atas kertas, membasahi sebagian tulisan di dalam nya.
Dadaku bergemuruh, berdetak tak karuan, seakan Wujud A Damar yang berada di hadapan ku. Lalu ku baca rangkaian tulisan indah itu, kata demi kata dengan hati-hati, bersama uraian air mata dan juga senyuman.
"Assalamu'alaikum sayangku! Lana Ku, istri nakal dan istri mesum ku, hehe! maaf, pasti tangan mu sudah mengepal siap meninju ku. Aw! ampun sayang!!!"
"Neng! terima kasih. Terima kasih untuk semuanya. Terutama untuk ketulusanmu, rasa cinta untukku dan saat ini Terima kasih kau telah mengandung buah Cinta kita. Jaga calon Anak kita baik-baik. Ibu akan menemanimu selama aku pergi ke negeri orang untuk memulihkan keadaan Ku."
"Kamu pasti bertanya, mengapa Aku tahu, kamu sedang hamil saat ini?"
"Hehe! kotak kejutan untukku yang kamu telah persiapkan, di malam itu. Ternyata, tanpa kamu memberikannya pun kotak itu datang sendiri kepadaku. Mengabarkan kepadaku bahwa isi dari kotak itu adalah sebuah hasil test kehamilan, bersama foto USG sayang. Jujur Aku amat bahagia ketika tahu kamu hamil. Aku amat bangga, bahwa Aku akan menjadi seorang Ayah!"
"Namun Maaf! kebahagiaan ini harus terjeda sayang. Izinkan Aku untuk memulihkan keadaan ku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan kembali untuk menemui mu dan juga calon Anak ku. Aku berjanji akan pulang dengan keadaan lebih baik, setidaknya Aku dapat berdiri Aku dapat berjalan walaupun dengan bantuan tongkat, agar Aku dapat bersimpuh di hadapanmu dan Anak kita, untuk meminta maaf!"
"Oh ya, Kalau kamu mencari kemana isi kotak nya? maaf sayang, Aku yang mengambilnya, aku membawa photo calon Anak kita dan juga satu testpack kehamilan milikmu, sebagai penyemangat ku dalam menjalankan pengobatan ini."
"Sampaikan sun kasih sayang dari Papa! belai lembut tangan Papa untuk yang ada di dalam perut mu, Mah! ya calon Baby kita."
"Aku sudah tidak sabar ingin memeluk kamu dan perut buncit mu, hehe I Love you sayang! Sun jauh dari suami mu! Damar Alfian."
"Begitulah kira-kira, isi surat yang ditulis A Damar untuk ku!"
Walaupun hanya secarik kertas berisikan tulisan A Damar. Itu sudah amat membuat ku bahagia, kini beban ku hilang, Ayah dari Anakku sudah mengetahui bahwa Aku sedang hamil Anak nya.
Sejak hari itu pula, Ibu mertuaku tinggal bersamaku, ia menemaniku serta merawatku dengan telaten, rasa kecewa yang sempat menghampiriku, hilang begitu saja, dengan kasih sayang kedua mertuaku.
Ayah mertuaku sesekali pulang ke Bandung, tentu saja untuk melihat keadaan pekerjaannya, sawah serta juga rumah mereka.
Kini Aku sedang menunggu kepulangan A Damar dan juga menunggu detik-detik hari kelahiran Anakku. Semoga A Damar dapat pulang sebelum aku melahirkan dan semoga ia kembali dapat berjalan normal dan sifatnya kembali seperti dulu, penuh kasih sayang serta kelembutan."
POV Allana End'
Di Singapura,
Damar sedang duduk di halaman sebuah rumah sakit, roti sandwich dan satu cup Chocolatie hangat menemani nya. Tidak berapa lama Arwan sang Adik menghampiri nya.
"Bagaimana Dek?" tanya Damar.
"Kabar baik A! besok kita sudah dapat pulang ke Indonesia, therapi lanjutan dapat di lakukan di sana, ada satu dokter ahli di bidang penyakit ini asal Amerika, di rumah sakit Mitra Internasional dan dapat menangani kasus A Damar. Pihak rumah sakit telah merekomendasikan dengan berkas rujukan." Jawab Arwan.
"Alhamdulillah! akhirnya Aku dapat pulang untuk menemui Istri serta calon Anak kami. Setelah lima bulan lebih Aku tidak melihat nya." Ujar Damar.
"Alhamdulillah A! saat ini mari pulang ke asrama untuk berbenah." Ajak Arwan, Damar pun mengia.kan. Ia meraih tongkat nya dan berjalan bersebelahan dengan Arwan menuju asrama tempat mereka tinggal selama ini.
"Aku sudah tidak sabar Wan, ingin mengelus perut buncitnya Allana, yang diam-diam selalu Aku amati dari photo kiriman Ibu setiap bulan nya," celoteh Damar dengan mengekeh.
Arwan ikut menanggapi dengan juga tertawa kecil. Mereka bahagia pengobatan Damar berhasil, walaupun belum seratus persen.
Setidaknya dengan penanganan serta pengobatan yang tepat, kini fungsi syaraf-syaraf Damar bagian bawah sudah kembali normal.
__ADS_1
Bersambung ....