Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
49. Arwan melamar Sasti.


__ADS_3

Satu jam kemudian.


Terdengar bunyi bel dari pintu luar. Aira pun baru saja terbangun. Ia menangis kecil, menyadarkan Damar yang ikut terlelap dengan memeluk Allana.


"Hummm.... sayang! haus yah? maaf Papa tidak tahu Aira sudah bangun." Ucap Damar. Lalu ia mendengar suara bel dari arah luar. "Ada tamu sayang."


Damar segera menggendong Aira. Menenangkan nya sembari membangunkan Allana yang masih terlelap.


"Sayang! bangun," panggil Damar kepada Allana. "Sayang bangun. Kamu mandi terlebih dahulu sana, Aku mau kasih mimi Aira. Lagi pula, seperti nya ada tamu." Ujar Damar sembari menepuk pelan pipi Allana.


Allana pun membuka matanya dengan enggan. "Ada tamu yah?" tanya nya pelan ia baru mendengar suara bel yang di tekan berkali-kali.


"Iya. Kamu mandi dulu, aku mau kasih Aira mimi dan melihat siapa yang datang. Mungkin itu Linggar, Sayang." Damar berusaha membuat Allana yang masih dalam kantuk itu membuka matanya lebar. Agar ia segera mandi.


"Baiklah! aku mandi yah," Allana pun berdiri. Mensejajarkan tubuh nya dengan Damar yang tengah menggendong Aira. "Sayang dengan Papa dulu yah! Mama mau mandi sebentar." Allana mengecup pipi Aira. Kemudian mengecup bibir Damar.


Setelah nya Allana beranjak ke kamar untuk mandi. Sedangkan Damar segera menuju ke pintu depan. Ia berpikir Linggar yang datang. Namun nyatanya, yang datang adalah Arwan dan Sasti.


"Assalamu'alaikum A!" ucap Arwan setelah pintu terbuka lebar.


"Wa'alaikum salam. Lokh Kalian berdua?" Damar terkejut. Pasalnya yang sudah berkirim pesan akan datang ke rumah mereka itu adalah Linggar. Namun ternyata Arwan dan Sasti yang datang.


"Kenapa? Koq A Damar seperti nya terkejut melihat kami yang datang?" tanya Arwan.


"Mmmm, gak juga sih. Tadi A Linggar yang mau kemari katanya. Tapi ternyata malah Kalian." Ujar Damar. "Mari masuk." Ajak Damar.


Damar ngeloyor masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Arwan serta Sasti. "Lana nya ke mana A?" tanya Sasti.


"Sedang mandi. Kalian duduk dulu deh, kalau mau minum ambil saja sendiri! Aku juga mau mandi. Sekalian titip Aira." Ujar Damar dengan senyuman evil nya, sembari mengedipkan sebelah matanya genit, nampak menjengkelkan. Arwan hanya geleng-geleng kepala. Ia paham akan gelagat Kakak nya yang hendak menyusul Allana mandi.


"Iya A! paham, gak perlu di perjelas tuh mimik genit nya." Gerutu Arwan, sembari mengambil alih Aira dari gendongan Damar.


"Sas, tolong ambilkan mimi nya Aira di alat steril yang ada di meja dapur." Pinta Damar.


"Baik A! Aira sebentar yah, Tante ambilkan mimi nya dulu." Sasti pun berjalan ke arah dapur, ia berniat mengambil mimi Aira sesuai yang Damar arahkan. Damar pamit ke kamar untuk mandi. Aira nampak nyaman dalam gendongan Arwan yang sedang menimang nya.


Sampai di kamar. Damar langsung menuju kamar mandi. Melihat Allana berendam di dalam bathtub. Damar segera melucuti pakaiannya dan ikut bergabung dengan Allana di dalam bathtub.


"A'a!" Pekik Allana yang baru menyadari Damar telah berada di belakang tubuh nya dan mulai mencumbu nya.


"Iya sayang." Jawab santai Damar sembari mengecupi leher belakang Allana.


"Aira sama siapa?" tanya Allana.


"Dengan Arwan dan Sasti. Tenang saja sayang. Mereka akan menjaga nya dengan baik." Ucap Damar.


"Ikh kamu tuh ya, kesempatan banget nitip Anak nya. Mereka kan butuh waktu berdua untuk pedekate Sayang!" protes lembut Allana.

__ADS_1


"Biarkan mereka terbiasa dengan Anak-anak sayang! agar nanti ketika mereka menikah, Sasti langsung hamil. Saat ini, nikmati saja waktu kita. Siapa suruh mereka datang kemari. Jadi pengasuh Aira kan." Kelakar Damar.


"Genit!"


Allana memukul pelan lengan Damar dengan menyeringai. Damar pun hanya mengekeh dan ia kembali mengendalikan Allana agar mau di perdaya oleh nya. Akhirnya mereka kembali bersatu dalam menjelajahi asmara di dalam bathtub.


Di lantai bawah.


"Kamu sudah pantas menggendong anak Sas!" goda Arwan kepada Sasti yang sedang memangku Aira sembari memberikan nya asi dari botol susu.


"Masa sih?" ucap Sasti dengan malu-malu. Ia melirik Arwan sejenak, lalu menunduk. Arwan amat gemas melihat tingkah Sasti.


Cup!


Arwan mengecup pipi Sasti tanpa permisi. Deg! deg! deg! Sasti terkejut dan jantung nya berpacu di tempat.


"A, Arwan." Gumam Sasti.


"Maaf!" ucap Arwan saat ia baru saja menyadari apa yang telah ia lakukan. "Habis nya kamu gemesin banget." ucap nya Kembali dengan menatap Sasti yang menunduk malu.


Sejak Arwan jumpa Sasti di rumah nya dua minggu lalu, ia seperti nya tertarik kepada Sasti. Itu terbukti, ia semakin gencar mendekati Sasti. Bahkan ia rela mengantar jemput Sasti ke tempat nya magang padi dan sore.


Arwan tidak mengizinkan Sasti kembali ke tempat kost nya. Ia meminta izin kepada orang tuanya agar Sasti tinggal di rumah mereka. Begitupun dengan Sasti ia nampak malu-malu jika di goda Arwan. Namun belum ada kejelasan hubungan diantara mereka berdua.


"Sas!" panggil Arwan lirih. Ia duduk di sebelah Sasti dengan menyampingi nya. Arwan nampak menautkan kedua tangan nya dengan santai.


"Nikah sama aku yuk!" Ucap Arwan tanpa basa-basi.


Sasti tertegun untuk sesaat. Ia melebarkan telinga nya, mencerna kata-kata Arwan baru saja. "Maksudnya, nikah? apakah ini sebuah lamaran yang mendadak?" akhirnya Sasti memberanikan bertanya agar lebih jelas.


"Ya, menikah! menjadi Istri ku. Betul, aku sedang melamar mu secara sepihak dan mendadak." Ulang Arwan.


"Tapi .... atas dasar apa? kita tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan kita baru saling mengenal. Apa nanti nya A Arwan tidak akan menyesal, menikahi Aku yang baru saja A Arwan kenal?" tanya Sasti.


"Atas dasar Cinta. Ya aku mencintaimu sejak beberapa hari kita sering bersama. Jalan berdua, bicara dan terbuka mengenai banyak hal, itu Aku anggap sedang pendekate dengan mu." Jawab Arwan.


"Aku memang pernah pacaran beberapa kali. Namun Aku tidak pernah merasa nyaman dan seyakin saat bersama mu. Maka Aku yakin, tidak akan menyesal menikah dengan mu, walaupun belum mengenal lama. Hati Aku yang merasa yakin. Maka ku tunggu jawaban mu secepatnya. Jika ia, maka aku akan membawa orang tua ku untuk segera melamar mu di hadapan orang tua mu. Agar Aku dapat menikahi mu secepatnya." Ucap Arwan lugas dan jelas.


"Aira! Paman mu melamar Tante. Apa yah jawaban nya? Tante bingung nih?" Sasti malah bicara kepada Aira. Ia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Arwan.


"Katakan pada Tante mu, agar menjawab Ia Ra! Paman sudah jatuh cinta pada nya. Paman tidak sabar ingin menikahi nya." Arwan mengambil alih Aira dari pangkuan Sasti. Karena ia lihat, Aira sudah selesai mimi.


Aira yang menjadi alat perantara bicara di antara mereka. Ia bagai paham dengan kelakuan dua orang dewasa tersebut. Aira menjentikkan tubuh nya dengan gembira. Membuat arwan merasa gemas dengan mengecupi kedua pipi Aira secara bergantian.


Arwan menimang Aira dengan membawa nya ke arah jendela. Ia membiarkan Sasti memikirkan ajakan nya untuk menikah.


Sedangkan di kamar Damar dan Allana.

__ADS_1


Mereka baru saja selesai berpakaian. Damar mengajak Allana untuk bersantai di balkon kamar nya.


"Sayang! aku ambil Aira sebentar yah!" ucap Allana.


"Tidak perlu. Biarkan Arwan yang mengembalikan nya kepada kita." Damar menarik Allana agar duduk di pangkuan nya.


"Tapi ....," Ucap Allana dengan ragu.


"Aku tidak ingin Arwan hanya berduaan dengan Sasti. Mareka belum halal, sayang. Aku dan juga Ibu serta Bapak sudah mengetahui jika mereka saling menyukai. Maka dari itu, aku titip Aira agar berada di antara mereka. Jadi ku pikir, Arwan tidak akan berani macam-macam jika ada Aira di antara mereka." Ujar Damar.


"Yah A! tidak menjamin mereka tidak akan melakukan apapun, walaupun dengan adanya Aira di antara mereka. Buktinya orang ini, berani mengerjai Mama nya Aira di sebelah nya." Sindir Allana.


"Hehe! itu lain cerita sayang." Damar mengekeh sembari mengecupi tangan Allana. Ia rindu memanjakan istri kecil nya yang kini telah memiliki anak kecil tersebut.


Kembali ke ruang bermain Aira.


"Aku mau." Jawab Sasti. Arwan yang sedang menimang Aira menghadapi jendela pun, menghentikan aktifitas nya untuk sejenak. Lalu ia berbalik menghadap ke arah Sasti.


Arwan tersenyum gembira. Ia menghampiri Sasti dan memeluk Sasti dengan sebelah tangan nya tanpa bicara.


"Terima kasih. Aku akan segera menikahi mu." Bisik Arwan pada akhirnya. Hati nya merasa bahagia dan berbunga-bunga.


"Ekhem!"


Suara deheman di ambang pintu membuat nya terkejut. Ternyata itu Damar.


"Jangan menodai mata dan pemikiran polos putri ku, dengan perbuatan tak senonoh kalian." Seloroh Damar dengan berjalan menghampiri mereka bertiga. Lalu ia mengambil alih Aira dari tangan Arwan.


"Enak saja! tidak lah, aku masih menjunjung tinggi Iman dan juga adab. Memang kakak nya, menitip anak sembarangan, lalu dianya asik pacaran." Sindir Arwan membuat Damar tertawa.


"Hei, sudah! mari kita ngopi saja. Di ruang keluarga!" ajak Allana yang baru saja masuk ke ruang bermain Aira. Ia segera mengecupi putri kecilnya dengan gemasnya.


"Ok!" Damar mengikuti langkah Allana dengan Aira di dalam gendongan nya. Sedangkan Arwan dan Sasti saling pandang.


"I Love you." Bisik Arwan.


"Love you juga. Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Sasti kemudian.


"Tidak ada yang terlalu cepat. Yang ada, aku terlalu bahagia." Ucap Arwan. Cup!


Arwan mendaratkan bibirnya pada bibir Sasti. Mata Sasti pun terbuka lebar. Pasalnya Arwan telah menghisap putik sari pada bibir nya untuk kali pertama.


Untuk sejenak, keduanya hanya terdiam dengan bibir saling menempel. Sasti merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Hingga ia merasa salah tingkah, Sasti berinisiatif memagut bibir Arwan. Ia ingat cara membalas sebuah c**man ketika melihat drama yang ia tonton.


"Awshh!" ringis Arwan. Bibir nya tergigit oleh Sasti tanpa sengaja. Ternyata bayangan dengan ekspektasi Sasti tidak sesuai dengan perbuatan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2