
Damar sudah berada di depan kedai nasi goreng milik Vianny yang kini sudah berpindah kepemilikan kepada Allana.
Satu jam sudah, Damar mengintai keberadaan Allana. Di dalam mobil Linggar, karena Allana tidak akan mengenali nya.
"Sayang! aku tidak menyangka, kamu betul-betul menghindari Aku. Tiga kali, aku mendatangi tempat ini, namun aku tidak menemukan mu! para pegawai pun mengatakan kamu tidak pernah datang ke tempat ini. Ternyata kamu dan mereka berbohong! lihat saja. Kamu harus membayar semua nya. Kamu fikir, Aku tidak bisa bersikap keras!" tandas Damar dengan geram, ketika melihat Allana betul-betul ada di dalam kedai yang lebih mirip cafe.
Allana nampak tengah sibuk membantu mencatat pesanan para pengunjung. Damar tidak ingin langsung menemui Allana. Ia menyusun strategi agar Allana tidak menghindari nya kembali ketika melihat Damar datang.
"Ok! bersenang-senang lah sayang! aku akan kembali nanti malam. Aku memiliki kunci cadangan kamar yang ada di loteng." Gumam Damar. Hingga ia melihat seorang laki-laki muda melewati mobil yang ia bawa.
"Hai!"dengan cepat Damar menurunkan kaca jendela mobil nya, lalu ia memanggil laki-laki muda tersebut.
"Pak Damar!" seru laki-laki itu. Nampak terkejut.
"Masuk!" Perintah Damar dengan ekspresi kurang bersahabat.
"Ba-baik Pak?" jawab si laki-laki tersebut. Ia menuruti Damar dengan sedikit ketakutan.
Laki-laki muda tersebut masuk ke dalam mobil dengan berbagai pertanyaan di dalam benak nya dan tentu perasaan sudah tidak keruan.
"Jangan takut! saya tidak akan menelan kamu hidup- hidup!"Damar faham betul keresahan laki-laki tersebut.
"Maaf Pak! ada yang bi-bisa saya bantu?" Laki-laki itu memberanikan diri bertanya ketika sudah duduk di dalam mobil dan bersebelahan dengan Damar.
"Sejak kapan Istri saya berada di rooftop kedai ini?" tanya Damar dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
"Se-se-jak satu Minggu yang lalu Pak!" jawab jujur si laki-laki.
"Baiklah! berarti kamu sudah bohong, tempo hari kamu ikut mengatakan, bahwa istri saya tidak ada dan tidak pernah datang ke kedai." Hardik Damar dengan nada suara tinggi.
"Ma-ma'af Pak! itu karena Mbak Allana mengancam kami. Kalau kami berani membantah nya, maka Mbak Allana akan memecat kami semua." Pengakuan jujur si laki-laki.
"Hemm, heh! mana mungkin dia berani memecat kalian, harusnya kalian mikir. Ada juga saya yang dapat mecat kalian! kamu tahu kan, Kedai ini belum sepenuhnya Sah jatuh ke tangan Istri saya. Kedai ini masih di bawah pengelolaan dan pengawasan saya setelah pemilik kedai ini meninggal. Tapi saya tidak sekejam itu." Ucap Damar.
__ADS_1
Memang betul, pihak notaris belum dapat memberikan hak penuh kepada Allana atas segala aset, baik dengan ada atau tidak adanya Vianny sebelum usia Allana mencapai delapan belas tahun, yang Vianny anggap matang untuk dapat mengelola sebuah usaha.
Oleh sebab itu, karena Vianny telah meninggal, maka untuk sementara, kedai di kuasakan kepada Allana dengan pendampingan penuh dalam pengelolaan serta pengawasan Damar, selaku orang terdekat Allana saat ini, atas keputusan Vianny melalui surat kuasa yang di tulis semasa ia hidup.
"Ma'af Pak!" hanya kata ma'af yang terlontar dari mulut si laki-laki. Ia adalah salah satu pegawai kedai milik Allana.
"Betul, selama satu pekan ini, Lana tinggal di kamar yang berada di roof top?" tanya Damar kembali.
"Betul Pak!" jawab jujur si pegawai.
"Baiklah! kamu boleh pergi, ingat! jangan mengatakan apapun kepada istri saya, kalau kamu bertemu saya." Pinta Damar.
"Baik Pak!" sahut laki-laki pegawai Kedai.
"Pukul berapa, biasanya Allana naik ke kamar roof top?" tanya Damar untuk lebih memastikan.
"Biasanya menjelang Asar Pak! Mbak Allana akan naik dan kembali setelah magrib hingga kami tutup kedai." Jawab si pegawai kedai.
"Ok! terima kasih atas informasinya. Silakan kamu kembali ke dalam," ucap Damar.
Damar melihat arloji di pergelangan tangan nya. Pukul tiga, dan itu berarti menjelang waktu Asar. Niat nya menemui Allana nanti malam ia urungkan, Damar memutuskan untuk menemui Allana saat ini juga di kamar rooftop.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan aman. Damar bergegas naik ke atap kedai tersebut melalui tangga yang berada di sisi luar dekat lahan parkir tanpa ada yang melihat.
Di atap bagian luar ada taman kecil lengkap dengan ayunan dan taman buatan untuk beberapa Kelinci. Tentu saja satu buah Kamar yang mirip kamar Kost terdapat di sana, kamar yang Allana tempati dalam satu Minggu ini.
Damar mengeluarkan satu buah kunci cadangan, yang ia simpan di dalam dompet nya. Tanpa banyak fikir, Damar segera masuk ke dalam kamar tersebut. Ia tersenyum ketika melihat kamar itu begitu berantakan.
"Lana ku! kamu tuh tetap saja anak-anak, meski kini sudah masuk universitas." Gumam Damar, tidak lupa ia kunci kembali dari dalam, pintu yang baru saja ia buka. Agar Allana tidak curiga.
Sepuluh menit Damar berada di dalam. Hingga ia mendengar suara pintu sedang di buka dari luar. Damar yakin itu Allana.
Jantung nya mulai bertalu-talu, ia berfikir cepat, apa yang harus ia lakukan, hingga ide bersembunyi di balik pintu pun muncul.
__ADS_1
Allana masuk ke kamar tersebut tanpa menyadari kehadiran Damar. Mata Damar mengikuti langkah Allana kemanapun ia bergerak.
"Aggghh pegal sekali!" gumam Allana dengan meregangkan otot-otot nya. Ia tidak menyadari, bahwa Damar sedang mengintai nya di dekat pintu.
Secara perlahan dan tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun, Damar mengunci pintu dan menyembunyikan nya, jaga-jaga Allana akan pergi ketika melihat nya berada di tempat itu.
Di luar prediksi dan rencana Damar, Allana yang hendak mandi, ia melepaskan pakaian nya di dalam kamar dan di hadapan Damar yang ia tidak ketahui keberadaan nya.
Damar yang melihat tubuh polos Istrinya dan sudah satu Minggu tidak ia sentuh, maka tubuh Damar merespon cepat, titik hasrat nya mulai melonjak dan bersitegang.
"Apa ini?" gumam Damar di dalam hatinya.
Allana tidak segera ke kamar mandi. Rupanya ia berniat memakai scrub body terlebih dahulu. tangan nya hendak meraih Cup berisi scrub body. Namun pergerakan nya terhenti dan hampir saja ia berteriak histeris ketika Damar menyergap nya dengan pelukan dari belakang yang tidak dapat Damar tahan lagi.
"Ahmmm mffff! hummm ... mmmm." Allana bergumam dan meronta saat mulut nya dengan cepat Damar cecap.
Namun apalah kekuatan Allana yang berada di dalam dekapan tubuh kekar milik Damar yang sudah menyeret dan menindih nya di tempat tidur.
"A .... A!" ucap Allana pelan setelah Damar melepaskan bibirnya dan Allana melihat wajah Damar berada di atas wajah nya dan sedang tersenyum menatap nya.
"Ia Neng! ini A'a. Selamat bertemu kembali," Ujar Damar.
"Koq, A'a bisa masuk ke dalam kamar Lana?" tanya Allana dengan nada lembut seperti biasa nya.
"Heh! bisa lah," senyum mengejek dari Damar.
"A .... lepaskan Lana!" pekik Allana ketika ia menyadari tubuhnya yang sedang tidak berpakaian dan sesuatu di bawah sana berdenyut karena bereaksi lebih terhadap posisi tubuh Damar yang kini menindih nya.
"Gak akan! kamu tidak akan dapat kabur dari A'a lagi sayang. Maka dari itu, siap atau tidak. Aku akan membuat mu hamil, agar kamu tidak bisa pergi dari ku lagi." Ancam Damar dengan kelebat perpaduan antara rindu, gairah dan amarah dari sorot matanya.
Setelah perkataan terakhir nya, Damar pun beraksi, ia menggauli Allana sore hari tersebut, tanpa peduli dengan rengekan Allana yang minta di lepas, walaupun di menit tertentu Allana menikmati sentuhan Damar.
Dengan beringas dan sedikit kasar akibat Allana banyak memberontak, maka penyaluran rindu yang tertahan selama satu Minggu ini tuntas sudah. Damar menggauli Allana hingga beberapa kali.
__ADS_1
Bersambung ....