
Siang hari, Allana dan Damar akhir nya sampai di kediaman almarhumah Vianny yang saat ini telah menjadi milik Allana.
"Sayang? sudah sampai nih. Turun yuk!" ajak Damar. Namun Allana sepertinya terlelap.
"Yah dia bobo."
Damar membiarkan Allana tetap tertidur di mobil. Damar lebih memilih memeriksa keadaan rumah yang sudah tiga hari tiga malam kosong. Sejak di tinggal Vianny terakhir kalinya tidak ada orang yang menyambangi rumah tersebut.
"Bismillah....Vi Aku dan Lana pulang!"
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Damar mengucap bismillah saat membuka kunci pintu rumah. Tidak lupa sekaligus menjawab salam nya sendiri ketika pintu telah terbuka lebar.
Setelah membuka kunci dengan kunci cadangan yang berada dengan kunci mobil. Damar berdiri mematung di ambang pintu. Ia teringat segala kenangan dengan Vianny empat hari yang lalu.
Setitik air mata tidak permisi lagi meluncur begitu saja melewati pipinya dan mendarat di kaus yang ia kenakan. Damar menghela nafas dan ia masih enggan bergerak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Pah!"
Sebuah panggilan dan tepukan di bahu Damar menyadarkan nya dari lamunan sekaligus membawa nya kembali pada kenyataan. Bahwa ada istri belia nan polos, yang harus ia jaga saat ini.
"Eh sayang! sudah bangun?" tanya Damar kikuk serta cepat-cepat menyeka air mata yang bergelayut manja dan siap berseluncur dari pelupuk mata nya.
"Sudah Pah! Koq Papa tidak masuk? malah berdiri di sini! kata Mama tidak baik loh berdiri atau duduk di ambang pintu. Nanti jodoh nya sulit." kelakar Allana hingga membuat Damar mengekeh.
"Masa sih! justru jodoh Papa malah telalu mudah! lihat saja dalam empat hari sudah ada dua perempuan yang Papa nikahi." balas Damar dengan melenggang masuk di ikuti Allana.
"Huh sombong! jangan-jangan Papa memiliki niatan menikah kembali dengan perempuan lain." ejek Allana hingga Damar menghentikan langkahnya dan refleks berbalik ke arah Allana.
"Sayang cemburu?"
__ADS_1
Damar meluncur kan pertanyaan begitu saja dengan senyum kecil di ujung bibir dan menatap Allana dengan sebuah intimidasi. Damar mencari kebenaran di balik kata-kata Allana dari tatapan Allana yang terkejut.
"Eh apa sih Papa!"
Wajah Allana bersemu merah jambu. Ia tidak mengiyakan juga tidak menampik.
"Wah ... katanya cemburu nya ABG itu di luar logika loh! apa betul ya begitu? kalau betul, berarti Papa gak akan dapat lirik kanan kiri nih. Nah kalau lagi bawa kendaraan bagaimana, masa gak boleh lihat kaca spion." goda Damar. Ia berbicara seakan bergumam namun tetap keras dan Allana pun mendengar nya.
"Jangan ngaco deh Pah!" Allana mendengus kasar seraya berlalu begitu saja dari hadapan Damar menuju kamar Vianny.
Sedangkan Damar hanya mengekeh kecil, karena lucu melihat Allana yang seperti nya cemburu namun ia tahan.
"Heeemmm .... ternyata asik juga nikah sama ABG. Jadi berasa muda." Batin Damar.
"Papa! ada Mama!" teriak Allana Ketika mebuka pintu kamar Vianny yang empat hari lalu adalah sebuah kamar pengantin. Allana menjerit dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya.
"Lana!" Damar berlari, lalu setelah Allana terjangkau, ia raih bahu Allana dan menarik nya hingga menempel pada tubuh nya.
Damar memeriksa kamar Vianny melalui pindaian pandangan matanya. Tidak ada apapun selain lingerie Maroon yang terbentang di atas kasur bertabur kelopak mawar dan terlihat hiasan bunga-bunga segar lain nya telah mulai layu.
Wangi kamar itu pun sudah tidak sedap di hidung, karena bunga- bunga yang mulai busuk bercampur pengharum ruangan yang terendap.
"Assalamu'alaikum Vi. Aku tahu kamu sudah di alam kesucian. Karena siapapun yang melihat sosok kamu. Aku yakin itu hanyalah qorin atau iblis pengganggu. Alfatihah Vi!" Damar membaca surah Al-fatihah dengan hanya bergumam.
Allana bergetar hebat di dalam pelukan nya. "Papa! Lana memang masih menginginkan Mama, Lana rindu Mama! namun jika Lana melihat nya dalam keadaan sudah tiada! Lana takut Pah." ucap Allana. Masih membenamkan wajahnya pada dada datar nya Damar.
"Ssstt! Papa yakin Lana salah lihat! karena Lana memiliki kerinduan yang teramat Kepada Mama, sepertinya Lana berhalusinasi sayang." ucap Lembut Damar sambari mengelus kepala Allana.
"Tidak Pah! Lana melihat Mama sedang duduk di sisi tempat tidur dan menghadap ke arah Lana tepat ketika pintu terbuka. Mama sedang tersenyum. Tapi Lana malah terkejut Pah! karena Lana ingat bahwa Mama sudah tidak ada. Hikss .... hikss." Allana menjelaskan penglihatan nya kepada Damar lalu setelah nya ia menangis.
"Sudah! lihatlah itu hanya lingerie yang ada di atas tempat tidur," tukas Damar. Allana menoleh dan memang hanya ada lingerie yang terbentang di sana.
"Betul Pah! mungkin Lana berhalusinasi."
__ADS_1
"Baiklah! Papa harus ke rumah Pak RT dulu. Melaporkan pernikahan kita, takut terjadi fitnah dan tentu nya melaporkan Mama kamu yang telah tiada, serta hendak meminta bantuan nya agar nanti malam kita dapat melaksanakan tahlil untuk Mama," ujar Damar.
"Lana ikut Pah!" pinta manja Allana.
"Tidak perlu ikut. Di luar panas sayang! Papa jalan kaki dan hanya sebentar koq. Lagi pula nanti ada petugas pembersih yang akan merapikan serta membersihkan rumah ini. Kalau kita pergi nanti di rumah tidak ada orang," ucap Damar. Ketika di mobil Damar sudah menelpon seseorang meminta jasa pembersih untuk merapikan rumah Vianny.
"Aaaaa Papa ....Lana takut!" Allana pun merengek manja.
"Takut apa sih, sayang! orang siang kayak gini koq, Papa janji hanya sebentar." Bujuk Damar.
"Ikh orang takut ya takut Pah! atau Papa malu yah, jalan sama Lana dan atau Papa sengaja gak mau ajak Lana karena mau godain janda genit dan seksi yang tinggal di sebelah rumah Pak RT." tuding Allana sembari merengut.
"Hehe Sayang! koq segala janda genit di bawa-bawa. Papa tidak berpikiran ke arah situ. Lagi pula mana tahu ada janda genit di sebelah rumah Pak RT. Dan Ngapain Papa cari yang lain, ini yang cantik dan imut saja di depan mata masih utuh koq," goda Damar.
"Akh gak mau! pokok nya Lana ikut! Lana mau jagain Papa dari si janda genit yang pakai bedak nya satu kilo dan bibir merah nya pakai darah ayam." ucap serampangan Allana sembari cemberut manja.
"Hush gak boleh gitu ah sama orang lain! tidak baik sayang."
Walaupun mengingatkan Allana. Damar tetap merasa lucu dengan kata-kata Allana maka ia pun tertawa kecil dan karena merasa gemas melihat tingkah Allana maka sembari mengekeh ia menarik hidung bangir Allana.
"Sakit Pah, uuumm." pekik Allana dengan memanyunkan manja bibirnya. Ketika hidung nya di tarik gemas oleh Damar hingga memerah.
"Ya habis, kamu lucu. Masa ada orang pakai lipstik darah ayam. Lana _ Lana ada saja!" Damar menggeleng-gelengkan kepala nya dengan menyeringai.
"Memang pun!" Allana tetap pada pendapat nya.
"Ya sudah mari berangkat nanti keburu sore." Tidak mau berdebat lama dengan Allana maka Damar pun mengalah. Ia sedang penasaran bagaimana memang nya penampilan janda genit yang di maksud Allana.
"Mari Pah!"
Allana menarik tangan Damar menuju luar pintu. Allana sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran Damar. Walaupun Allana masih menganggap Damar itu Papa nya, namun sikap Allana tidak sekaku dua hari yang lalu. Kini Allana sudah tidak canggung lagi terhadap sentuhan baik dari Damar ataupun dari dirinya pada tubuh masing-masing.
Bersambung ....
__ADS_1