Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
51. TAMAT.


__ADS_3

"Abang Zy dekat-dekat Meilin. Butan nya Abang Zy, calon cuami Ila?" tanya polos Aira.


Damar dan Allana saling menatap. Damar pun jadi gemas terhadap sahabat nya, ia menggerutu karena kesal. "Gara-gara Linggar nih, yang selalu bicara mengenai calon mantu. Putri kecil ku jadi paham masalah persuami-istrian!"


"Hemm .... Sayang! Aira dengan Abang Zy itu adik dan Kakak. Maka dari itu, Aira tidak boleh membatasi Abang Zy main atau dekat dengan siapapun ya Cantik." Allana berusaha memberikan pengertian.


"Jadi Abang Zy, bukan calon Cuami Ila? Kata Papa Linggal Abang Zy calon Cuami Ila?" tanya polos Aira kembali.


"Hehe! kalau nanti besar Abang Zy adalah jodohnya Aira, maka ia akan menjadi suami Aira. Akan tetapi itu masih lama Sayang! Aira harus tumbuh besar, cantik serta pintar yah." Damar memangku Aira. Ia berkata selembut mungkin agar perkataan nya dapat di cerna Aira.


"Untuk saat ini, Aira tidak boleh memikirkan hal-hal tentang orang dewasa ya Sayang! karena Aira harus tumbuh sesuai Usia Aira." Sambung Allana ikut memeluk Aira dari sisi tubuh Damar.


"Dengarkan Papa dan Mama ya sayang! Aira masih kecil. Aira perlu tumbuh dewasa dahulu untuk mengenal pernikahan atau calon Suami." Damar kembali memberikan pengertian terhadap Aira.


"Baiklah Mama, Papa!" Aira pun memeluk kedua orang tua nya.


"Ila boyeh ikut Mama ke makam Nenek, nanti Cole?" tanya Aira kemudian.


"Tentu sayang!"


Setelah saling berpelukan, maka menit selanjutnya, Damar pun mengajak Aira ke toko atau minimarket milik nya. Sedangkan Allana pergi dengan Sasti dan juga Hana, karena mereka sudah janjian untuk berbelanja bersama.


Saat ini Sasti telah memiliki seorang Putra berusia tiga tahun. Sedangkan Hana belum memiliki Anak kembali selain Cozy.


Demi kebahagiaan para Istri, maka siang itu para suami rela mengasuh si buah hati, dengan membawa nya ke tempat kerja mereka.


Sore hari.


Ba'da Ashar. Allana telah di jemput Damar di parkiran Mall. Setelah berpisah dengan Sasti dan Hana, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju makam Mama nya Allana.


"Sayang! aku belum menyiapkan bunga." Ucap Allana setelah hampir sampai di area pemakaman.


"Aku sudah menyiapkan nya, sayang!" Ujar Damar sembari mengelus perut buncit Allana.


"Alhamdulillah! terima kasih sayang. Papa memang suami yang amat perhatian." Puji Allana yang membuat Damar mesem salah tingkah.


"Aira, bubu sayang?"


"Iya Pah!" Allana menoleh ke belakang. Di mana Aira tengah tertidur di bangku tengah.


Lima menit kemudian mereka telah berada di hadapan makam Vianny. Allana dan Damar pun berkirim doa, diikuti pula oleh Aira.


"Mama!" Allana mengusap lembut batu nisan yang bertuliskan 'Vianny Amalia'. Air mata nya tak terasa meluncur begitu saja. Ia mengingat betul saat Vianny meninggalkan ia untuk selamanya. Ia pun terbayang saat Vianny meminta nya menikah dengan Damar.


"Mama! terima kasih banyak telah merelakan Papa Damar untuk menjadi suami Lana. Ternyata secara tidak di rencanakan, Mama telah menyiapkan jodoh terbaik untuk Lana. Mama! Terima kasih, Lana amat bahagia MENIKAH DENGAN SUAMI MAMA. Semoga Mama juga bertemu Ayah di sana dan bahagia bersama Ayah."


Allana pun terisak. Damar dan Aira memeluk Allana. "Nenek! ini Aila, atau Ila. Nenek bak-baik yah di sana. Ila akan selalu mengilim doa untuk Nenek." Aira ikut bicara.


"Vy! lihatlah, pernikahan kami sudah di karuniai banyak kebahagiaan. Sebentar lagi kami akan memiliki Putra. Terima kasih Vy, sudah mengiklaskan Allana untuk menikah dengan ku. Menikahi Allana ternyata kebahagiaan terbesar dalam hidup ku." Ujar Damar sembari mengusap batu nisan almarhumah Vianny.


"Aduh! Papa .... perut ku sakit!" Allana mengaduh saat hendak berdiri.


"Sayang! apa ini sudah waktunya melahirkan?"


"Tidak tahu! menurut dokter masih tiga Minggu lagi."


"Mama .... Dedek Ila akan segera kelual yah?"


"Mungkin sayang! Paaaaah,


sakiiiitt!"


"Kita harus segera ke rumah sakit." Walaupun panik Damar berusaha tenang. Darah segar mulai merayap di sela kaki Allana.


"Aira sayang, jalan di depan! Papa akan menggendong Mama!" pinta Damar.


"Baik Pah!" Aira pun menurut. "Mama cabal yah!" Aira ikut menenangkan Allana.


Allana tersenyum hambar, mendengar kata kata Aira. Bukan tidak suka, namun ia terharu sembari menahan rasa sakit.


**


Satu jam kemudian.


Allana sudah di dalam ruangan bersalin. Orang tua Damar baru saja tiba.


"Mar! bagaimana keadaan Lana?" tanya Ibu nya Damar nampak khawatir.

__ADS_1


"Sedang di tangani dokter." Jawab Damar. "Damar mau ikut masuk, Aira tidak ada yang menemani." ucap nya lagi.


"Aira dengan Aki sini." Ayah Damar menepuk pangkuannya. Aira pun menurut.


"Bu, Pak! Damar ingin menemani Allana di dalam, semoga dokter mengizinkan." Pamit Damar.


"Pergilah Mar!"


"Sayang! baik-baik dengan Enin dan Aki ya. Papa hendak menemani Mama!" tidak lupa Damar berpamitan kepada Aira. Ia mengecup kening Putri nya dan Aira pun mengangguk dengan tersenyum.


Damar bergegas menemui perawat yang tadi memeriksa Allana. Ia meminta izin agar dapat menemani Allana di dalam ruangan bersalin.


Alhamdulillah setelah perawat bicara kepada dokter. Akhirnya Damar diizinkan masuk untuk mendampingi Allana.


Setelah tiga jam berjuang untuk melahirkan normal, maka Allana pun telah dengan selamat dan lancar melahirkan anak kedua nya, yaitu seorang Putra laki-laki yang tampan.


Malam hari,


Kini Allana telah di pindah ke ruang perawatan. Arwan, Sasti, Linggar serta Hana dan Cozy pun sudah berada di ruangan rawat inap Allana.


"Sayang! terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan Putra kita." Damar mengecup kening Allana yang sedang memberikan Asi terhadap Putra mereka.


"Terima kasih kembali sayang!" Allana tersenyum dan ia menyerahkan Putra nya ke tangan Damar, karena sudah selesai minum Asi.


"Lihat Ling! Akhirnya gue juga punya jagoan bro!" Damar memamerkan putra nya yang baru selesai mimi di hadapan Linggar.


"Selamat sekali lagi Bro. Nanti gue launching Princes deh! biar jagoan lu, gue culik lagi jadi calon mantu." Kelakar Damar.


"Aish! anak gue mau punya satu mertua. Perasaan dunia sempit amat!" ucap Damar dengan cemberut. Membuat yang berada di ruangan tersebut tertawa kecil


"Sudah-sudah Kalian ini mirip anak kecil." Ucap Allana.


"Sayang! kali ini, aku yang akan memberikan nama untuk putra kita." Ujar Damar.


"Silakan Papa sayang!"


"Almar Khaizan Witantra. Bagaimana?"


"Bagus Pah!" ucap Allana.


"Keren A!" Arwan mengacungkan jempol nya.


"Yups!" Damar mengangguk.


"Heuh! Gak kreatif!" cibir Linggar.


"Rese Lo! gua pecat jadi calon besan baru rasa." Damar melemparkan kotak tisu ke arah Linggar.


"Jangan dong bro!" Linggar menangkap kotak tisu lalu ia memelas kepada Damar agar tetap di akui untuk menjadi calon besan nya.


Semua yang ada di ruangan tersebut mengekeh. Menertawakan sahabat sekaligus yang katanya calon besan itu.


***


Dua Minggu kemudian.


Allana di perbolehkan pulang dari rumah sakit setelah lima hari di rawat. Namun mereka menginap di rumah orang tua Damar sebelumnya.


Kebahagiaan menyambut kepulangan Allana beserta Putra nya. Aira pun amat bahagia dengan kehadiran Adik laki-laki nya. Malam ini mereka baru pulang ke rumah nya. Setelah menginap di rumah orang tua nya Damar. Karena Ibu Damar dengan ingin merawat Allana serta putra nya hingga betul-betul pulih pasca melahirkan.


"Papa, Mama! Dedek Khai, bubu dengan Ila yah!" tawar Aira dengan polos nya.


"Tidak bisa Sayang! Dedek Khai masih terlalu kecil untuk bubu terpisah dengan Mama." Ucap Lembut Allana.


"Lalu .... Ila akan bubu cendili kan? dan telpicah dari Mama, Papa celta Dedek?" tanya Aira kembali dengan nada sedih.


"Loh koq Kaka berpikir seperti itu?" tanya Damar.


"Huaaaaaa ..... hiks hiks!" Aira malah menangis.


"Lokh Sayang!" Damar segera meletakkan Almar yang sedang di timang nya kedalam pangkuan Allana. Lalu ia memangku Aira.


"Kakak kenapa? koq menangis?" tanya Damar dengan menyeka air mata Aira.


"Kata teman-teman Ila. Talau Dedek cudah lahil dan pulang telumah. Maka Kakak Ila akan di buang oleh Papa dan Mama. Talena Papa cudah punya Anak yang balu. Huuuuaaaa." Aira menangis kembali.


"Sayang! tidak akan ada yang membuang mu Cantik! Ila Anak Mama dan Papa. Sama seperti Dedek Khai. Kalian adalah permata hati nya kami yang akan menjadi perhiasan di rumah ini." Allana memeluk Aira dengan juga menangis. Ia tidak tahan melihat tangis sang Putri.

__ADS_1


"Kakak Sayang! Mama dan Papa tetap sayang Ila. Tidak akan ada yang membuang Ila. Coba lihat Dedek Khai, ia begitu lucu. Aira pun dulu sama lucunya. Bahkan hingga kini. Mana tega Papa dan Mama membuang Ila." Damar ikut memeluk Aira.


"Jadi .... Ila, masih boleh bubu dengan Mama dan Papa?" tanya Aira dengan masih dalam Isak tangis nya.


"Tentu Sayang!" tukas Allana.


"Kita akan tidur ber empat, di kamar ini." Ujar Damar, yang membuat Aira sumringah seketika.


"Asiiik. Telima kacih Papa, Mama!" lonjak kegirangan Aira.


"Baiklah. Dek Khai sudah bubu. Maka Kakak pun harus bubu. Mari Papa nina bobokan." Damar pun menggendong Aira menuju tempat tidur. Damar menina bobokan Aira, tidak begitu lama Aira pun sudah terlelap.


"Mama juga mau di nina bobokan oleh Papa?" tanya Damar dengan mengedipkan matanya genit. Allana baru saja menaruh Almar ke dalam box bayi yang berada di sisi ranjang mereka.


"Ouuu sorry Pah! Aku dalam masa nifas. So, Papa sedang puasa. Jangan genit dan jangan dekat dekat Mama deh baik nya." Allana menutup wajah genit Damar dengan telapak tangan nya.


"Sayang! Aku tahu sedang Puasa. Namun, bukankah biasanya kamu pandai menggoda ku dengan cara lain!"


"Tidak lagi." Dengus Allana.


"Masih, dong sayang."


"Tidak!"


"Ayolah! Aku yakin kepandaimu belum luntur." Bujuk Damar. Allana pun tidak tega dengan suami nya. Yang kini genit nya tidak ketulungan.


"Huumm. Ok! sebentar saja, harus tuntas dengan cepat. Mari." Allana hendak memulai aksinya setelah melihat kedua Anak nya tengah terlelap.


Belum pun sampai puncak. Aira memanggil Damar.


"Papa .... Peyuk Ila!"


Damar yang sedang memejamkan mata. Ia tidak menjawab panggilan Aira.


"Papaaaaa ....!"


Allana terkejut hingga melonjak dengan cepat ia berdiri. Damar sedang menahan gejolak pada tubuh nya. "Aaaahh .... iiii yaaaahh, Sayaaanngghh."


"Papa Koq cualanya aneh." Guamam Aira. "Papa cepat dong peyuk Ila." Damar tidak menghiraukan panggilan Aira. Ia lari ke kamar mandi untuk mengakhiri apa yang Allana mulai dan belum selesai.


Allana terpingkal melihat kelakuan suaminya. "Papaaaaa!" teriak Aira.


"Papa, pipis sebentar sayang!" teriak Damar terdengar agak mendesah, dari kamar mandi yang pintunya tidak sempat ia tutup.


"Mama! cuala Papa Koq aneh?" Aira yang mendengar keanehan pada suara Papa nya pun duduk di atas tempat tidur dengan mata yang setengah terpejam. "Papa cakit ya Mah?"


"Papa, tidak sakit. Namun kebelet pipis sayang." Allana mengajak Aira untuk kembali berbaring. Ia menina bobokan Aira seperti yang Damar lakukan tadi. Tidak berapa lama Aira pun tertidur kembali. Hingga Damar pun kembali ke dalam kamar dengan wajah yang kusut.


"Sudah pipis nya Pah?" tanya Allana.


"Gak jadi!" jawab Damar dengan wajah yang memerah menahan resah.


"Makanya jangan nakal! belum sadar yah sudah memiliki dua Anak! sudah tua Pah! jangan berlagak kayak ABG." Sindir Allana dengan mengikik geli.


"Awas yah, hingga masa nifas mu berakhir. Aku pastikan tubuh tua namun jiwa ABG ini akan menganiaya kamu." Ancam Damar dengan ikut merebahkan tubuhnya di belakang Allana dan memeluk nya.


"Aw, mau dong!" Allana menggoda Damar dengan menekan bagian belakang nya pada inti Damar.


"Sayang! jangan menggoda ku!"


"Aku tidak menggoda kamu Pah! tempat nya sempit."


"Alasan!" Damar menarik Allana agar menghadap ke arah nya.


"Ingat waktu malam pertama kita? setelah pemakaman Mama mu? bubu di atas sofa yang sempit?"


"Ingat! bagian bawah Papa Noel noel Aku." Bisik Allana.


"Huumm ternyata kamu menikmati nya yah. Dasar nakal." Bisik Damar kembali dengan membenahi anak rambut Allana yang menutupi dahi nya.


"Hehe. I Love you, mantan suami Mama ku."


"Love you more. Putri, mantan Istri ku."


"Akh, ternyata Menikah dengan Suami Mama tidaklah buruk!"


Allana dan Damar melempar senyum. Mereka saling menatap, kedua nya merasa jatuh cinta kembali. Akhirnya mereka terlelap saling berpelukan.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2