Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
43. Berbelanja Perlengkapan Bayi.


__ADS_3

Lanjutan POV Damar.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanyaku, sebelum mengiyakan ide nya.


"Aku mau resign. Tanpa sahabat ku di sana, untuk apa? rasanya belahan jiwa ku hilang." Ucap Linggar.


"Halah segitu nya kesemsem sama Damar, puitis sekali kamu Ling," canda Ibu, menetralkan suasana.


"Hehe, kerja gak bareng Damar, rasanya gak nyaman Bu! bagaimana Mar? Aku mau sekalian pindah mengajak Anak dan Istri ku serta. Pasti Hana senang karena akan selalu dekat dengan Ibu nya." Linggar menanyakan keputusan ku.


"Baiklah! kalau itu sudah menjadi keputusan mu, Aku akan resmi resign dari Awan grup, nanti setelah pulang dari Singapura." Jawab ku. Akhirnya segala rencana tersusun rapi.


Namun, Linggar baru resmi meng-handle jalan usaha ku, dua bulan kemudian, karena ia tidak bisa seenaknya resign dari Awan grup sebelum pekerjaan nya betul-betul di kuasai supervisor yang baru.


Dua hari kemudian Aku berangkat ke Singapura. Ibu dan Bapak langsung menemui Allana setelah mengantarkan Aku ke Bandara.


Aku memantau kabar Allana lewat Ibu atau Bapak! terkadang Linggar atau Hana yang memberikan kabar tentang Allana.


Aku memang memutus akses komunikasi dengan Allana. Bukan Aku kejam. Aku pun tersiksa tanpa komunikasi dengan Istri ku. Namun Aku ingin konsentrasi dalam pengobatan ku agar segera pulih.


Itu terbukti, pengobatan yang di prediksi membutuhkan waktu delapan bulan. Namun baru lima bulan, dokter menyatakan bahwa Aku menunjukkan perkembangan yang baik dan Aku di izinkan untuk pulang ke Indonesia.


Photo Allana dan Photo USG, serta Photo perut Allana yang makin membuncit, menjadi penyemangat ku untuk dapat segera berdiri dan berjalan. Walau pun hanya menggunakan Kruk, bagiku tidak mengapa.


POV Damar End.


"Happy birthday, sayang." Damar memberikan sebuah kotak yang ia keluarkan dari laci lemari kecil di sisi tempat tidur. "Maaf telat."


"Sayang? kamu mengingat nya?" tanya Allana dengan tersenyum dan meraih kotak berpita tersebut.


"Tentu! mana mungkin Aku lupa, dua bulan lalu, Aku sempat membuat video untuk mu. Video ucapan selamat ulang tahun dan juga usaha ku untuk dapat berjalan kembali."


Damar meraih ponselnya dari atas nakas di sisi tempat tidur. Lalu memutar Video yang memperlihatkan dirinya sedang menjalani pengobatan.


Dari mulai therpi, konsultasi ke dokter, berbagai macam obat-obatan, Damar juga ternyata menjalani operasi di bagian sumsum tulang belakang, ia nampak sedang dalam perawatan setelah nya dengan beberapa alat terpasang pada tubuh nya.


Allana pun menangis menyaksikan itu. Ia merasa amat di campakan Damar, pada awal nya. Namun ia mengerti, mengapa Damar tidak mau ia tahu proses pengobatan yang di jalani nya.


Tangis Allana makin pecah, ketika Damar nampak kesulitan saat pertama kali belajar berjalan. Beberapa kali terjatuh dan kemudian bangkit kembali.


"Sayang, ma'afkan Lana! selama ini telah salah paham dengan cara berpikir mu. Aku dapat hidup dengan baik di sini, walaupun awalnya sakit karena di campakkan oleh mu. Ternyata kamu lebih tersiksa dalam melewati hari yang tidak mudah." Allana mengecupi wajah Damar dengan uraian air mata.


"Ma'afkan Aku, karena sempat membenci mu! kini Aku tahu, pengobatan yang kamu jalani tidak mudah. Ternyata begitu menyiksa, menguras waktu, tenaga serta emosi. Aku tahu, jika Aku berada di sana, menyaksikan secara langsung kamu berjuang, pasti Aku akan menangis setiap hari dan sudah pasti beban mu makin bertambah."


Allana masih menangis dengan sesenggukan, membenamkan wajahnya pada dada Damar sehingga membuat nya basah oleh air mata.


Dada Allana terasa sesak melihat perjuangan Damar untuk kembali dapat berjalan.


Damar hanya mampu menenangkan nya dengan mengelus lembut bahu Allana.

__ADS_1


"Sudahlah sayang! yang terpenting, kini Aku telah kembali. Ma'afkan Aku juga yang terkesan egois." Ucap Damar dengan lembut dan mengecupi serta menyesapi rambut Allana dengan hidung nya.


"Iya A!" Allana menyeka air mata nya. Kini ia duduk dengan memandangi wajah Damar. Tersirat kerinduan yang teramat di dalam manik mata indah nya.


Allana mengecup bibir Damar dengan khidmat dan mendalam. Damar membiarkan nya, ia tahu Allana sedang menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang nya.


"Buka kotak nya!" pinta Damar. Allana pun mengangguk dengan tersenyum. Lalu Allana membuka kotak tersebut.


"Masya Allah! ini kan photo USG yang pertama serta kedua dan .... ikhh A'a, ini perut Aku!" protes Allana ketika menyadari photo perut buncitnya dari awal hamil hingga delapan bulan terpampang di dalam bingkai yang di susun sesuai urutan perbulan nya.


"Hehe! jangan cemberut, dari gambar perut Inilah semangat ku terbentuk dan Aku dapat berjalan kembali." Ujar Damar.


"Tidak Koq sayang! wah ini apa?" mata Allana tertuju pada kotak kecil yang ada di dalam kotak.


"Buka saja." Pinta Damar. Allana pun mengambil kotak tersebut dan membuka nya.


"Kalung?" Mata Allana berbinar. kalung dengan initial ALN.


"Yups," Damar kembali menyalakan ponsel nya. Terdapat video diri nya yang sedang berbicara. Itu rekaman dua bulan yang lalu, saat Damar mengucapkan selamat ulang tahun untuk Allana tepat di hari ulang tahun nya.


"Terima kasih, sayang! I Love you!' Peluk mesra Allana sekali lagi.


"Love you more." Mereka saling berpelukan dengan penuh rasa cinta dan kebahagiaan.


**


"Sayang! pakai kruk saja, mengapa harus di kursi roda? nanti kamu malu harus mendorong Aku." protes Damar ketika mereka sampai di mall tempat Damar bekerja.


Selain hendak berbelanja perlengkapan bayi, Damar bertujuan resign secara resmi dari Kantor nya.


Saat ini posisi Damar telah ada yang menggantikan untuk sementara. Namun Damar tidak mau mengusik nya, ia ingin tetap orang itu berada dalam posisi nya untuk menggantikan Damar seterusnya.


"Untuk apa Aku malu! A'a kan istimewa," Allana mengelus pipi Damar.


Damar merasa tersanjung, ia hanya mampu tersenyum dan berterima kasih.


"Ok! mau kemana dulu A?" tanya Allana.


"Ke kantor Divisi utama sayang," jawab Damar.


"Baiklah," Allana mendorong kursi roda nya Damar, untuk Damar awal nya ia merasa risi, banyak pasangan mata yang mengarah kepada nya.


Namun Allana yang begitu santai dan cuek sembari mendorong kursi roda nya dengan perut buncit, membuat Damar baik-baik saja, dan menikmati nya.


Walaupun tatapan mata mereka penuh dengan rasa ingin tahu, kasihan, iba, bahkan ada tatapan mencibir. Damar dan Allana tidak perduli. Mereka berjalan dengan penuh senyuman.


Allana begitu hebat. Dapat mempertontonkan dirinya di khalayak dengan bangga nya. Padahal awalnya Damar merasa rendah diri. Namun ia membuang rasa itu. Allana mampu menghargai nya sebagai suami dan orang yang di cintai nya.


Damar telah resmi resign dari kantor dan pekerjaan nya. Walaupun pada awalnya di tolak, namun dengan keadaan nya saat ini, pihak perusahaan memaklumi dan menyetujui. Namun jika suatu saat, Damar ingin kembali, perusahaan akan menerima dengan senang hati.

__ADS_1


**


"Waaaaa, lucu-lucu sekali A!" Kini Allana tengah berada di dalam toko pakaian bayi yang terlengkap di dalam mall tersebut. Ia begitu antusias ketika melihat banyak sekali perlengkapan bayi yang lucu dan menggemaskan.


"Iya sayang! mari pilih, memang Neng mau belikan baby kita pakaian warna apa?" tanya Damar.


"Yang sesuai jenis kelamin dong A! waah ini bagus, itu cantik. Uuummm ini lucu, ya Allah yang itu menggemaskan." Celoteh Allana dengan riang.


Damar hanya mengekeh, melihat kelakuan Allana. Sebegitu bahagia nya Allana ketika berbelanja pakaian untuk calon buah hati mereka.


"Sayang, memang nya kamu sudah tahu jenis kelamin calon baby kita?" tanya Damar dengan ekspresi ingin tahu.


"Uumm, gak tahu!" jawab polos Allana.


"Lokh koq gitu?" tanya Damar kembali, karena ia pikir Allana sudah mengetahui jenis kelamin calon baby mereka.


"Hihi. Nih Pah, Anak Papa itu, kalau di USG, selalu saja menyembunyikan alat kelamin nya, maka dari itu Lana dan dokter nya juga belum tahu." Allana meraih tangan Damar dan membawa untuk mengelus lembut perut nya.


"Hehe, pasti Dedek ingin di temani Papa ya USG nya?" tanya Damar.


"Iya Papa!" jawab Allana dengan suara yang di kecilkan.


"Lokh koq Mama yang jawab?"


"Mewakili Papa! kan Dedek belum dapat bicara. Nanti kalau Dedek bicara di dalam perut, pengunjung mall ini bisa tunggang langgang." Kelakar Allana dengan mengekeh.


"Hehe, bisa jadi." Damar ikut tertawa kecil.


"Bayar yang ini dulu Pah! Dedek lapal nih," rajuk Allana seperti anak kecil.


"Baiklah! yang lapal Dedek atau Mama?"


"Dua-duanya, Papa." Allana menyeringai manja dan agak membungkuk di hadapan suaminya. Damar menarik gemas hidung Allana dengan tertawa.


Akhirnya mereka menuju kasir dan membayar belanjaan yang sudah mereka pilih. Setelah membayar belanjaan maka Allana dan Damar pun keluar dari toko peralatan bayi dan hendak menuju tempat makan.


Namun Allana tidak sengaja menyenggol seseorang yang sedang berjalan bergerombol.


"Wei jalan tuh pakai mata!" hardik orang itu.


"Maaf, Aku tidak sengaja!" ucap Allana.


Damar yang berada di atas kursi roda pun menoleh. Ia mengernyitkan dahi. Seperti nya ia mengenal perempuan tersebut.


"Ooh Elo!" ucap perempuan tersebut.


"Eh kamu?!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2