
Malam hari,
Pukul Sembilan malam. Damar dan Allana baru saja sampai di kediaman orang tua Damar. Mereka di sambut hangat oleh keluarga Damar.
Allana yang masih butuh istirahat di persilakan masuk ke kamar terlebih dahulu dan Damar terlibat obrolan hangat nan santai di ruang tamu.
"Sudah siap semua Wan?" itu yang Allana dengar sayup- sayup, dari kamar nya dan itu suara Damar yang bertanya kepada Adiknya.
Rumah orang tua Damar terbilang sederhana, namun nyaman, dengan taman lumayan luas di depan dan terhampar pesawahan serta beberapa kolam ikan buatan serta taman kecil di belakang rumah. Namun untuk ukuran rumah masih sangat sederhana. Hanya ada ruang tamu, ruang keluarga, empat buah kamar dan dapur. Kamar mandi pun masih terletak di dekat dapur. Tidak ada Kamar mandi di dalam kamar di ruang rumah itu. Jika orang mengobrol di ruang tamu masih dapat di dengar hingga kamar.
Entahlah, seperti nya orang tua Damar masih mempertahankan kehidupan yang sederhana itu. Padahal dengan uang yang mereka punya bisa saja merenovasi ulang rumah itu dengan gaya modern.
"Beres A! tidak perlu khawatir. Awan sudah mempersiapkan nya sedetil mungkin. A'a dan Teh Lana tinggal siapkan stamina dan bawa badan aja."
Terdengar jawaban Arwan. Allana tersenyum di panggil Teh Lana oleh Arwan. Usia Arwan dua puluh enam tahun dan seorang pengusaha restoran, stand minuman, makanan khas Bandung dan juga cafe.
Dengar-dengar dari Cucu dan Atin, Owner sebenarnya adalah Damar. Arwan di percayai untuk mengelola nya , karena Damar masih betah bekerja sebagai manager.
"Siapkan stamina? bawa badan? sebetulnya A Damar dari tadi aneh, banyak menelpon orang di perjalanan, belum lagi saat ini mereka bicara tentang, stamina! apa yang mereka bicarakan sebetulnya?" gumam Allana.
Allana rebahan di kasur sembari memainkan ponselnya dan sesekali mendengarkan obrolan dari arah luar kamar.
Karena merasa bosan, setelah hampir satu jam ia pun menghubungi Damar melalui pesan WhatsApp.
"A'a! bicara nya masih lama yah? Lana rindu!" / Allana.
Damar membuka pesan tersebut dan ia tersenyum sumringah.
"Sebentar lagi Neng sayang! A'a juga rindu. Neng jangan bubu dulu yah! sepuluh menit lagi deh, A'a akan datang dan mengikis kerinduan di antara kita." / Damar.
"Mar! Bapak mu bicara koq gak di gubris." Tiba-tiba suara protes Ibunya Damar, membuat Damar terperanjat.
"Heh! ia Pak! maaf, sedang membalas pesan dari Lana."
Yang berada di dalam ruangan tersebut malah tertawa menyaksikan kegugupan dan kejujuran dari Damar yang malah nampak polos.
"Halah Bu! biarkan saja, kalau orang lagi jatuh cinta mah, suka gak waras! serasa dunia milik berdua." Ujar Ayah Damar dengan tertawa. Di ikuti Arwan dan Ibu nya yang juga tertawa.
"Maaf atuh Pak! janten isin (jadi malu)," Seringai Damar.
"Heh, kamu mah atos teu gaduh isin (sudah gak punya malu). Sudah sana temui Istrimu! Ibu mah takut lihat kamu senyam senyum gak jelas. Tenang, semua sudah beres mengenai besok mah." Tandas Ibu nya Damar.
"Hehe! boleh gitu Damar masuk kamar?" tanya polos Damar kembali, dengan ekspresi lucu nya. Lagi-lagi membuat Damar menjadi bahan ledekan serta tertawaan.
"Aih si A'a pakai minta izin! biasanya juga langsung nyosor," ledek Arwan ia tertawa terpingkal melihat Damar menjadi seperti anak kecil.
"Ah kamu Dek! nanti kalau sudah nikah juga bakal ngerasain apa yang A'a rasakan." ucap Damar menambal malu pada diri nya.
__ADS_1
"Atos Ujang, teu kenging di ledek terus, nanti tambah tidak waras." Ucap Ibu nya Damar kepada Arwan dengan mengekeh.
"Mangga atuh kasep bade menemui Neng Lana mah." Pinta Ayah nya Damar.
"Boleh Pak?"
"Astaghfirullah. Boleh! sana, lama-lama Ibu yang gak waras lihat kamu jadi mirip anak kecil begitu."
Ibu nya Damar melemparkan bantal kecil ke arah Damar, ketika melihat Damar malah bertanya kembali seperti anak kecil yang takut di marahi karena ingin makan permen.
Akhirnya Damar pun pamit dengan di iringi tawa kedua orang tua nya dan Arwan.
Cklek!
Pintu kamar Damar pun terbuka. "Neng! bubu ya? Ini A'a sudah kembali." Damar menghampiri Allana dengan suara pelan.
Tidak ada jawaban. Damar duduk di sisi tempat tidur. Lalu ia elus Lembut rambut Allana.
Kemudian Damar mengecupi wajah Allana. Mengaitkan bibirnya pada bibir Allana. Damar memang sengaja menggoda Allana agar membuka matanya. Hasrat kelelakian nya sedang ingin bermain bersama Istri nya.
"A.... Ummm! A'a koq lama? jadi nya Lana bubu kan!" ucap manja Allana. Menatap sayu Damar dengan kantuk nya.
"Ma'af sayang! A'a gak enak hati kalau pamit sebelum obrolan selesai." Balas Damar.
"Ouh begitu! ya sudah, Lana rindu sekali. Katanya A'a mau mengikis kerinduan kita." Lagi-lagi Allana bicara bernada manja, dengan tangan nya yang sudah menyusuri dada hingga perut datar nya Damar perlahan dan lembut. Bagi Damar nampak sensual, hingga tambah membangkitkan seleranya kepada Allana.
"Tidak A! Lana baik-baik saja!"
"Merangkai Dedek bayi yuk! biar cepat jadi," seringai nakal Damar.
"Um A'a!" geliat malu Allana. "Sebelum kita merangkai Dedek bayi, boleh Lana bertanya?" tanya Allana.
"Silakan! Neng mau tanya apa?" tanya Damar balik.
"Maaf! A'a dari tadi, sejak di mobil sibuk menelpon, baru saja Lana tidak sengaja dengar, A'a dan Arwan bicara, siapkan stamina, badan? Lana tidak mengerti A'a! tapi maaf, Lana ingin tahu!" Allana agak sedikit takut bertanya, ia takut di sangka kepo.
"Hehe! sini," Damar menarik lembut Allana, hingga kini duduk di pangkuan nya.
"Besok, adalah hari resepsi pernikahan kita sayang! setelah nya A'a mau ngajak kamu bulan madu, gak jauh sih hanya ke Singapur." Ujar Damar.
"Ya Allah A! resepsi? bulan madu? koq A'a tidak memberitahukan sebelum nya?"
"Hehe! awalnya A'a hendak membuat kejutan untuk mu, Neng! namun gagal deh! A'a tidak mau membuat kamu penasaran dengan pertanyaan." Ungkap Damar.
"Ikh A'a gitu deh!"
"Gitu kenapa?"
__ADS_1
"Nakal! masa gak runding dulu dengan Lana!"
"Yang nakal siapa? coba yang minggat siapa? A'a sudah merencanakan ini dari jauh hari! andai Neng gak minggat, resepsi dan bulan madu, sudah kita laksanakan dari sejak minggu lalu, terpaksa deh A'a tunda! habis pengantin perempuan nya minggat! masa A'a harus bersanding dengan orang lain." Celoteh Damar.
"Awas saja kalau berani! Lana khitan punya A'a," ancam Allana.
"Aih, masa mau Khitan dua kali. Tamat dong riwayat keperkasaan ku!" kelakar Damar.
"Biar saja! agar mikir dua kali, kalau mau selingkuh!" ujar Allana.
"Lalu kalau harta A'a ini habis! nah yang merangkai Dedek bayi siapa?" tanya Damar.
"A'a lah! kan sekarang belum Lana Khitan! maksudnya, itu nanti! kalau A'a selingkuh dari Lana!"
"Astaghfirullah! enggak Neng! amit-amit deh, A'a hanya ingin bergumul dengan satu wanita dan ingin menikah satu kali seumur hidup. Tentu nya dengan jodoh yang Allah kasih. Itu berarti kamu!" ucap Damar dengan mantap.
Allana tersenyum, ia memandangi wajah Damar dengan senyum kebahagiaan.
"Love You A'a! terima kasih."
"Love you juga Neng! sama-sama sayang!" Damar mengecup dahi Allana.
Tidak ada yang bicara kembali di antara mereka. Kini keduanya mulai saling pandang dengan ketertarikan. Mereka saling menebar pesona masing-masing.
Damar mulai mencumbu Allana, kali ini pergumulan mereka di warnai dengan rasa cinta. Hingga mereka merasa lebih bahagia.
"Neng! A'a mulai yah! Neng Jangan teriak keras-keras. Di sini tempat nya berdekatan! Kalau Neng teriak atau bersuara keras, pasti terdengar ke arah luar!" ujar Damar dengan berbisik.
"Baik A! Lana akan berusaha memelankan suara. Tempat tidur nya, aman kan A! Lana dengar dari tadi ada bunyi." Bisik Allana kembali.
"Nah A'a juga tidak tahu! kan kamar ini sudah lama tidak ada yang menempati! A'a juga belum sempat meminta Ibu mengganti dengan yang baru!" ucapan antara ragu.
"Semoga tidak apa-apa ya A! main nya jangan terlalu lupa diri A! perasaan Lana tidak enak!"
"A'a juga sama! okelah, kali ini A'a main halus Neng!"
Setelah mereka bicara mengenai tempat tidur, Damar dan Allana kembali di buai asmara. Mereka melanjutkan aktivitas suami istri. Awal nya semua baik-baik saja. Yang Damar janjikan main halus pun di tepati. Itu untuk part pertama. Ternyata untuk part selanjutnya Damar lupa akan janji nya saking larut nya dalam suka cita pada tubuh Allana.
Krieet!
kreekk!
Nyiiitt!
"A! ada bunyi!"
Bersambung ....
__ADS_1