Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
25. Resepsi Pernikahan.


__ADS_3

"Tidak apa-apa Neng! sudah, sebentar lagi selesai!" ucap Damar dengan suara parau karena hasrat sedang di ujung ubun-ubun.


Damar pun makin menjadi, ia menguasai tubuh Allana menuju akhir dari pergumulan malam itu.


Tempat tidur ikut bergoyang seiring pergerakan tubuh Damar di atas tubuh Allana.


Hingga....


Kreekkk!


Brugh!!!


Seiring tercapai nya akhir kisah malam itu. Tempat tidur tersebut mengalami oleng dan patah pada bagian kaki. Hingga terjerembab miring dan menjerumuskan Allana serta Damar yang berada di atas nya.


Dugh!


Brukhg!


"Astaghfirullah'aladzim! A'aaaa......"


Suara ambruk nya tempat tidur serta teriakan Allana terdengar hingga keluar kamar.


Ayah dan Ibu Damar, serta Arwan yang masih berbincang pun terkejut.


"Pak! suara apa itu?" tanya Ibu nya Damar.


"Entahlah!"


"Suaranya dari kamar A Damar Bu! terdengar juga teh Lana berteriak." Ujar Arwan.


"Ia seperti nya."


"Mari lihat, Pak!" ajak Ibu nya Damar.


"Mari Bu! Wan!" Bapak nya Damar pun berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Ibu nya Damar dan Arwan. Lalu bergegas menuju kamar Damar.


Di dalam kamar!


"Adduh A'a! pinggang Neng sakit!" rengek Allana.


"Ma'af Neng! mari A'a bantu bangun!" ajak Damar.


Damar beranjak dari tubuh Allana dan segera mengenakan kain sarung yang mudah ia jangkau.


"Mar!"


Tok.... tok.... tok....


"A!"


"Mar, buka pintu nya! ada apa? itu apa yang gedubrak?" Ibunya Damar mengetuk pintu dan bertanya dengan nada khawatir.


"Iya Bu! sebentar!" sahut Damar, ia sedang mencari pakaian milik nya dan milik Allana yang tadi berhamburan, dan kini tergulung seprei serta kasur busa yang ambruk.


"Mar! cepat buka!" Ayah Damar pun ikut bersuara.


"Iya Pak! sebentar!"


"A'a .... tolong Lana dulu!" Damar lupa akan Allana.


"Astaghfirullah'aladzim. Ma'af Neng! A'a sibuk mencari pakaian kita." Ujar Damar lalu ia membantu Allana bangkit dari dasar kasur yang sudah terjerembab ke lantai.


Setelah Allana berposisi berdiri dalam keadaan tidak berpakaian. Damar segera memeriksa tubuh Allana, takut jikalau ada yang terluka.


"Neng ada yang luka?" tanya Damar.


"Sepertinya tidak A! hanya tubuh Lana rasanya ringsek tertindih tubuh A'a." Jawab jujur Allana.


"Baiklah. Nanti A'a bantu memijat tubuh mu! saat ini kita harus segera berpakaian dan menghampiri mereka yang sedang berisik di luar.


"Tentu A!"


Damar dan Allana sibuk mencari pakaian mereka. Sedangkan di arah luar sibuk mengetuk minta untuk membuka pintu.


"Tidak ada A! pakaian kita seperti nya bergulung dengan tempat tidur." Ucap Allana.


"Seperti nya Neng! kalau begitu ....," Sorot mata Damar mengelilingi kamar, ia sedang mencari sesuatu yang dapat mereka kenakan untuk menutup tubuh mereka.


"Nah!" gumam Damar. Berjalan mengambil stelan mukena yang berada di atas sofa.


"Apa itu A?"


"Pakai ini Neng! A'a hanya melihat mukena. Ini cukup tebal koq!" pinta Damar.


Allana pun menuruti. Damar memakaikan stelan mukena pada Allana dan Damar sendiri menarik kain sarung nya hingga ke dada. Lalu ia gulung agar tidak melorot.


Setelah di rasa tubuh mereka tertutup kain dan mukena. Damar pun mengajak Allana keluar, menghampiri Ibu, Ayah dan Adik Damar yang dari setadi berisik minta di bukakan pintu.


"Mar! Neng Lana! ada apa? tadi suara apa?" tanya Ibu Damar.


"I-itu Bu! tempat tidur ambruk! seperti nya ada lini(gempa)." Ucap Damar gugup namun masih sempat berkelakar untuk menutupi malu. Allana hanya menunduk.

__ADS_1


"Astaghfirullah'aladzim! kalian berdua tidak apa-apa kan? Neng Lana?" tanya khawatir Ibunya Damar.


Sedangkan Ayah Damar dan Arwan yang mendengar tempat tidur ambruk, mereka segera masuk ke dalam kamar.


"Tidak apa-apa Bu! hanya terkejut." Jawab Allana.


"Kami ke sofa dulu Bu!" Pamit Damar.


"Silakan. Ibu mau lihat keadaan di dalam." Sahut Ibu nya Damar.


Allana dan Damar segera menuju sofa. Damar membawa Allana duduk, segera memberikan nya minum dan mengelusnya sayang. Mereka masih terkejut.


Ayah dan Ibu Damar yang sudah melihat keadaan di dalam kamar dengan segala kekacauan nya. Mereka pun mengekeh dan segera mengajak Arwan kelur kamar.


"Lini, Mastaka na Damar Bu! orang Lini dadakan sareng Lini lokal." (Gempa, kepalanya Damar Bu! orang gempa dadakan sama gempa lokal.) Tawa kecil Ayah Damar. Ia dapat tahu apa yang sedang Damar lakukan, hingga terjadilah insiden gempa lokal.


"Naon Pak! Lini lokal kumaha?" (Apa Pak! gempa lokal bagaimana?) tanya Arwan dengan polos nya karena tidak mengerti.


"Ah kamu mah belum sepantasnya tahu!" jawab Ayah Damar.


"Atos Pak! rahasia perusahaan eta mah!" (Sudah Pak!) tukas Ibunya Damar sembari mengajak mereka menghampiri Damar.


"Gempa lokal nya dahsyat, ternyata Mar!" ledek Ayah Damar dengan mengekeh.


"Hihi! lumayan Pak!" seringai Damar


"Awas saja kalau efek nya gak berbentuk seorang cucu." ancam Ibu nya Damar dengan tertawa kecil. Ia menggoda Damar.


"Hehe. Insya Allah langsung berefek menjadi cucu ini mah, Bu!" balas Damar dengan tertawa kecil.


"Aamiin!"


Pekik Arwan dengan agak kencang. Kini ia mulai faham apa yang di katakan Ayah dan Ibu nya sebagai gempa lokal tersebut.


Keempat pasang mata pun langsung tertuju padanya.


"Hehe! lagian, tempat tidur warisan Enin sama Engki (Nenek dan Kakek) masih di pakai, keguncang gempa lokal saja langsung ambruk kan!" celoteh Arwan.


"Adeeeek! awas kamu!" pekik Damar. Mau ngejar, ia sadar sedang memakai kain sarung tanpa berpakaian.


"Ahahaha! Awan ke kamar dulu, mau memeriksa tempat tidur Awan takut nanti ambruk juga."


Arwan berlari ke kamar nya dengan tertawa sembari tetap meledek Damar.


"Mar! Mar! kan Ibu dan Bapak sudah berapa kali, menawarkan membeli kasur dan tempat tidur baru. kamu selalu menolak." ucap Ibu Damar sembari menghampiri Allana.


"Neng, betul tidak ada yang luka atau sakit?" tanya lembut Ibu nya Damar kepada Allana.


"Ya kan itu tempat tidur bersejarah. Kata Bapak, waktu mau buat tempat tidur itu, Engki sampai mencari wangsit hingga sepuluh tahun lamanya." Ucap polos Damar menimpali omongan Ibu nya sebelum bertanya kepada Allana.


"Ya ampun Mar! Bapak mu di percaya! tuh kualat kan! menunggu kayu itu tumbuh sampai sepuluh tahun! bukan cari wangsit. Karena memang kayu itu tumbuh dan baru dapat di tebang hingga dapat di bentuk tempat tidur kan lama nya sepuluh tahun. Bukan karena ada hal istimewa apapun, apalagi sampai cari wangsit segala!" Tutur Ibu nya Damar.


"Jadi, Bapak?!


"Heeeee! Bapak ke kamar dulu ya Mar! Neng Lana! Bapak mau memeriksa tempat tidur juga. Takut nanti ada gempa lokal susulan." Ayah Damar pamit dengan menyeringai. Ia cari aman. Karena sempat mengatakan kalau tempat tidur itu ada sejarah tertentu. Hingga Damar percaya dan enggan mengganti tempat tidur baru. Padahal kondisi nya sudah kurang baik.


"Yah si Bapak! malah kabur." ucap Damar.


"Ya sudah, kalian tidur di kamar tamu saja! sudah sana masuk. Ibu mau masak air untuk Kalian mandi. Nanti setelah mendidih, Ibu panggil kembali." Ujar Ibunya Damar.


"Terima kasih Bu!" Ucap Allana, ia merasa tidak enak hati.


"Sudah geulis! tidak perlu sungkan. Cepat kasep ajak Neng nya masuk Kamar." Suruh Ibu Damar kepada Damar.


"Baik Bu!"


Allana dan Damar pun memasuki kamar tamu. sedangkan ibu Damar pergi ke dapur untuk memasak air.


Selang tiga puluh menit, Ibunya Damar memanggil Allana dan Damar untuk mandi. Setelah keluar kamar. Damar dan Allana menuju kamar mandi. Mereka mandi janabah secara bergantian.


Setelah selesai mandi, Damar pun memijat tubuh Allana dengan cream oles yang hangat.


"Bagaimana sayang?"


"Alhamdulillah A, sudah lebih baik!"


"Baiklah,kalau begitu kita bubu agar besok stamina kita bagus."


"Mari A!"


Akhirnya, Damar dan Allana pun beranjak tidur, dengan saling berpelukan.


***


Keesokan harinya,


Ba'da Dzuhur, Damar dan Allana sudah bersiap siap untuk acara resepsi pernikahan mereka yang di laksanakan pada sebuah gedung yang terletak di daerah Kiara Condong, Bandung.


"Neng tunggu di mobil dulu. A'a sebentar lagi siap!" Pinta Damar yang sedang mengancingkan rompi nya.


"Tidak mau! Lana ingin Keluar dari kamar ini bersama A'a," rajuk Allana.

__ADS_1


"Baiklah! kamu tunggu sebentar!" Damar tidak mau berdebat.


"Tentu A'a sayang."


Setelah sepuluh menit. Damar selesai berpakaian, lengkap dengan jas nya. Ia nampak gagah mempesona.


"A'a Gagah dan tambah tampan." Puji Allana.


"Kamu juga tambah cantik!" puji Damar kembali. Mereka tersenyum secara bersamaan.


Tak lama, kini mereka telah berada di dalam mobil. Hingga team makeup menghampiri Allana yang sudah duduk di dalam mobil dan siap menutup pintu.


"Teh maaf itu harus di tarik sedikit. Agak kendur soalnya!"


"Oh Silakan Kak!"


Team makeup memperbaiki ketidak nyamanan gaun yang Allana kenakan dengan cepat.


Setelah di rasa semua beres. Damar pun berangkat ke tempat resepsi. Orang tuanya di mobil yang berbeda.


Pagi tadi, sekitar pukul sepuluh, Allana mengunjungi makam Mamanya terlebih dahulu, ia meminta restu untuk acara sore ini dan Izin untuk mencintai Damar. Sebaliknya Damar Melakukan hal yang sama.


"A! Lana gugup."


"Ada A'a sayang! tidak perlu gugup ataupun khawatir ya." Damar menenangkan Allana dengan menautkan jari jari mereka.


Ia tidak berani memeluk Allana takut makeup nya hancur sebelum acara.


**


Tiga puluh lima menit kemudian. Damar dan Allana serta orang tuanya sudah sampai di tempat resepsi pernikahan mereka berdua.



Mempelai pria dan Wanita memasuki ruangan yang telah di hias indah dan langsung menuju pelaminan di apit kedua orang tua nya.


Acara resepsi pun di mulai pada pukul tiga sore. Damar dan Allana nampak tersenyum bahagia. Mereka menyalami tamu undangan. Beruntung sakit pada tubuh nya Allana sudah mereda, semalam Damar memanggil sepupu nya, ia seorang dokter dan ia di minta memeriksa Keadaan Allana. Sepupu Damar memberikan obat pereda nyeri dan vitamin.


"Yusra! Kinan!"


"Lanaaaaa!"


Begitu sumringah nya Allana mendapati kedua sahabatnya hadir pada acara resepsi pernikahan nya.


"Ikh Lana cantik sekali!" pekik Yusra.


"Kamu juga Cantik."


"Kamu lah yang paling cantik! kan hari ini kamu ratunya." ucap Kinanti.


"Terima kasih. Kalian ke sini bersama siapa?" tanya Allana.


"Bersama orang tua kami dan calon suami kami dong. Tunjuk Kinanti dan Yusra kepada orang tua mereka yang masih berada di stand makanan. Lalu mereka meraih tangan pasangan nya masing-masing. Heru dan Irfan.


"Masya Allah. Jadi Kalian?" tanya Allana.


"Kami akan segera menikah juga Lan! kami tidak mau pacaran. Orang tua kami sudah mendukung keputusan kami." Ujar Heru.


"Alhamdulillah! kalian masih muda tapi memiliki pemikiran yang bijak." timpal Damar.


"Hehe Iya Om! kan kita mencontoh senior. Melihat kalian pacaran nya setelah nikah. Kami jadi pingin seperti kalian juga. Jovan malah sudah menikah dan sekarang sedang berbulan madu." Tutur Irfan.


"Ya ampun. Koq Aku gak tahu?" tanya Lana.


"Nikah dan resepsi nya jauh, di Kalimantan. Makanya dia gak memberitahu, takut merepotkan katanya."


"Tidak apa-apa. Kita doakan saja dengan hal yang baik." Ujar Damar.


"Tentu! Aamiin."


"Lana,Om Damar, selamat ya!"


Kinanti, Yusra , Heru serta Irfan mengucapkan selamat Kepada Allana dan Damar.


Acara terus berlanjut hingga para tamu undangan yang tadi memadati gedung resepsi pun telah kembali pulang. Maka acara pun berakhir pada pukul sepuluh malam.


Kali ini Damar dan Allana memilih untuk menginap di hotel.


**


"A terima kasih sudah mengundang Sahabat Aku!" ucap Allana yang tengah bersandar di dadanya Damar, Setelah berganti pakaian.


"Tentu sayang! Aku tidak mau kamu melewatkan momen bahagia kita dengan rasa sedih. Karena tidak ada satupun keluarga dari pihak perempuan. Makanya aku fikir mereka lah keluarga mu saat ini." Ujar Damar.


Allana pun memeluk Damar terharu.


...~TAMAT~...


Tapi bohong 😜.


Masih mau nyambung gak nih, Readers gemez????!!!!!

__ADS_1


__ADS_2