Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
14. Kembali ke rumah Papa.


__ADS_3

Warning! mengandung unsur pasca menikah dan part 21+ di mohon bijak usia bacaan!


Hari-hari berikut nya,


Hari ke tujuh kepergian Vianny pun tiba. Mereka telah usai mengadakan tahlil, kirim doa untuk Vianny di malam ke tujuh.


Hari ini, adalah hari ke delapan. Allana tengah sibuk mengepak pakaian nya. Damar akan membawa Allana pindah ke rumah nya.


"Neng sudah siap?"


Damar baru saja masuk ke kamar Allana setelah memasukan sebagian barang-barang Allana ke dalam mobil nya.


"Neng!" panggil Damar Kembali, karena tidak ada jawaban dari Allana yang duduk bersimpuh di lantai. "Neng!" Damar mendekati Allana.


"Ah! iya Pah!" Allana mendongak dan menatap Damar.


Damar yang masih berdiri, ia pun tertegun, dahinya sedikit berkerut. Lalu ia memiringkan wajahnya dan memastikan mata Allana yang terlihat basah. Rasa khawatirnya seketika timbul.


"Sayang! Neng menangis?" tanya Damar sembari berjongkok di hadapan Allana.


"Papa! hiks .... hiks ...! Allana pun menangis seraya menghambur ke dalam pelukan Damar dengan cepat, hingga Damar yang tidak siap pun, terjerembab di atas lantai dengan Allana memeluk tubuh nya erat.


Damar hanya diam, ia menunggu tangis Allana mereda , mengapa ia menangis. Allana tidak juga bicara. Ia makin terisak.


"Neng! kamu baik-baik saja kan? tolong bicara, Neng sakit?" pinta Damar.


"Lana ba-baik Pa-pah! La- na hanya ingat Mama! hiks hiks." Allana kembali terisak. "Tidak bisakah kita tinggal di rumah ini lebih lama Pah?" tanya Allana kemudian.


"Tidak bisa sayang! lusa, rumah ini akan ada yang menyewa, selama satu tahun kedepan. Uang nya sudah masuk ke rekening kamu Neng! Maafkan Papa sayang! kalau Papa harus membawa mu pindah ke rumah Papa secepat ini." Damar menenangkan Allana dengan sebuah kelembutan.


Allana bangun dari tubuh Damar, lalu ia duduk di sisi Damar. Begitupun dengan Damar, ia pun duduk bersebelahan dengan


Allana. Kemudian Damar memeluk Allana.


"Neng! Lana, sayang Papa?" tanya Damar. "Papa! tentu saja! Lana sayang sekali dengan Papa. Koq bertanya begitu?" tanya Allana balik.


"Papa juga, sayang sekali dengan Lana. Maka dari itu, Papa tidak Ingin meninggalkan Lana seorang diri di manapun. Terpaksa Papa harus kembali ke rumah Papa, agar kita bisa melanjutkan pernikahan kita, maaf tanpa ada bayang-bayang Mama. Jujur kalau kita berada di rumah ini terus, rasanya Papa merasa tidak nyaman sayang." Damar mencoba memberikan pengertian pada Allana.

__ADS_1


"Baik Pah! karena saat ini Lana adalah anak sekaligus juga Istri Papa. Maka Lana akan ikut kemanapun Papa pergi. Lana sayang Papa! sungguh. Lana tidak ingin jauh dari Papa," ucap Allana sembari mengelus lembut Pipi Damar dan menatap nya teduh.


"Papa pun sayang! Papa tidak ingin jauh dari Lana. Papa sayang Lana. Allana nya Papa yang cantik dan nakal." Ucap Damar dengan menarik pelan dagu Allana mendongak ke arah wajah nya.


"Terima kasih Pah. Cup!" dengan cepat Allana mengecup bibir Damar. "Iya sayang! wah Neng mulai nakal ni yah." Damar kini membalas kecupan nya.


"Papa juga nakal!" ucap Allana dengan tertawa lepas. Membuat Damar gemas.


Tanpa berpikir panjang dan ragu-ragu seperti biasa nya, kini Damar mulai mengajak Allana merujak bibir menjelang siang.


Entah siapa yang memulai. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tidak berbusana sedang bergelung di atas kasur. Saling melengkapi satu sama lain dalam pergaulan halal nya.


"Neng! boleh Papa mulai?" tanya Damar, saat suasana makin memuncak. "Tentu, tapi Lana takut!" jawab Allana dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


Begitupun dengan deru nafas Damar, walaupun terdengar halus namun nampak naik turun dengan cepat. "Biasa nya Neng nyosor duluan, sekarang takut. Papa pun takut akan menyakiti Lana."


"Iikhh, itu sebelum melihat siaran langsung size nya Papa waktu di buat pipis! sekarang Lana takut," jawab polos Allana.


"Lalu? Papa akan berhenti kalau Lana merasa takut dan belum ingin sepenuh hati." Damar kembali berucap dengan mengecupi dahi Allana.


"Lana siap! lakukan lah Pah! Lana juga penasaran, rasanya jebol segel tuh bagaimana yah?" Allana namapak berfikir dengan tersenyum malu.


Damar mengambil ancang- ancang dengan berucap Bismillah.


"Papa! jangan!" Tiba-tiba Allana berteriak. Damar berhenti seketika dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


"Neng?" Damar menatap Allana dengan sekelebat kecewa.


"Maaf Pah! Lana tegang. Oke Lana sekarang rileks." Ucap Allana dengan menarik nafas nya berkali-kali hingga ia rasa cukup tenang.


"Baik! Papa mulai lagi yah!" Allana mengangguk sembari memejamkan mata dan menggigit pelan bibir bawahnya.


"Bismillah," ucap Damar. Ia mulai berjuang kembali untuk membuka segel Allana.


"Aaaaaa Papa! sakiiit!"


Dugh, brugh!

__ADS_1


Allana refleks menekuk kaki nya, menendang Damar, mencakar tubuh Damar dan setelah nya, entah kekuatan dari arah mata angin dan kekuatan halilintar mana, yang pasti Allana seperti memiliki kekuatan super mendadak, langsung dapat menumbangkan tubuh kekar Damar dari atas tubuh nya dan menyingkirkan nya dengan mudah.


"Bruk! Astaghfirullah'aladzim! adduh!" Damar mengaduh dan lemas seketika, saat tubuh nya terjerembab ke lantai seperti berputar dan pelipisnya sempat terantuk sisi tempat tidur berbahan kayu.


"Papa! maaf Pah! maaf! Lana reflek dan tidak sengaja melakukan hal itu." Pekik Allana sembari segera turun dari tempat tidur dan langsung memeluk Damar yang pasrah bersandar pada sisi dipan dengan nafas tersengal, begitu pun keinginan syahwat nya yang sempat memuncak, sirna seketika.


Damar hanya diam dan memejamkan mata. Rasa aneh berkecamuk di dalam dadanya. POV Q/A, Author : Sakit Mar? tentu!, kecewa Yah?pasti!, Gantung gak? iya apalagi itu, jangan di tanya Thor. Gara-gara Elu kasih Lana kekuatan super dadakan. Ambyar daaah acara buka segel! gua marahan ama elu dah tiga hari. Camkan itu Thor! 😱😱 Ampun A'a Damar. (Author tunggang langgang ✌️😆).


"Papa jangan marah!" Allana nampak tidak enak hati. "Tidak sayang! Papa tidak marah." ucap lembut Damar dengan mengelus rambut Allana. Damar mencoba tersenyum dengan sisa kekuatan nya. Saat ini tubuh nya berasa lesu.


"Ya sudah! mari mandi, nanti rapi-rapi kembali agar cepat selesai." ajak Damar.


"Tapi pelipis Papa berdarah! Lana akan mengobati nya Pah," tukas Allana.


"Nanti setelah mandi. Mari sayang!" dengan suasana canggung Damar beranjak ke kamar mandi dan mengajak serta Allana. Mereka mandi bersama tanpa bersuara dan tanpa melakukan apapun. Allana di buat kikuk karena Damar yang nampak Dingin. Keadaan pun menjadi canggung.


Dua hari kemudian.


Damar dan Allana sudah resmi tinggal di rumah Damar. Bahkan di balik kecanggungan mereka, di waktu luang nya, Damar sempat mengajarkan Allana mengemudi kan mobil di jalan komplek yang sepi.


"Pah, izinkan Lana menggantikan perban di kening nya." Tawar Allana di pagi hari saat selesai sarapan. Allana sedang menunggu surat kelulusan dan tidak sekolah hari ini. Damar yang baru cuti selama empat hari, maka pagi ini, ia sudah harus berangkat bekerja.


"Baik Neng!" balas Damar dengan suara datar nya. Mata Allana sempat berkaca-kaca, karena Damar tidak sehangat seperti biasanya.


"Masih sakit?" tiba-tiba Damar menyentuh lembut daerah privasi Allana beberapa detik saja, bermaksud menanyakan keadaan nya dan mata nya menatap intens wajah Allana yang kini bersemu merah, lalu tangan nya merangkul pinggul Allan yang sedang berdiri menghadap nya dan mengganti perban pada luka Damar.


"Huum, sedikit!" Allana mengangguk dan tersenyum.


"Maafkan Papa!" ucap Lembut Damar dan kini setelah perban terpasang, ia susupkan Waja nya di dada Allana.


"Sudah Pah! Lana yang minta maaf, karena sudah membuat Papa jatuh dan luka." Ujar Allana.


Damar makin mengeratkan pelukannya. "Baik, Papa pergi dan akan kembali saat makan siang."


"Lana tunggu!"


"Terima kasih sayang! Istrinya Papa yang masih setengah per*wan." Bisik Damar, membuat Allana yang agresif jadi kalem mendadak.

__ADS_1


Di rumah Damar, ada Art yang mengurus keperluan rumah tangga mereka, namun tidak bermalam, ia akan datang pagi dan setelah sore hari, maka ia akan pulang. Untuk siang hari Allana akan di temani Art nya hingga Damar pulang. Art itu memiliki anak berusia lima tahun dan Allana sudah akrab dengan nya, jadi saat di rumah, Allana tidak kesepian.


Bersambung ....


__ADS_2