Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
15. Saranghae 사랑해


__ADS_3

Waktu berganti, hari pun bergulir ....


Hari ini Damar akan tanding basket di sekolah Allana.


"Neng, gak berangkat ke sekolah? bukan nya hari ini ada pertandingan basket di sekolah mu?" tanya Damar, saat Allana terlihat belum siap-siap.


"Malas Pah! paling juga yang main, pemain biasanya. Gak ada yang semenarik Papa." Tukas cepat Allana dengan manja dan memeluk Damar.


"Kalau seumpama nya Papa yang main bagaimana Neng?" tanya Damar lagi.


"Papa? maksudnya?" Allana nampak berfikir. "Ah sudahlah. Neng di rumah saja! Papa berangkat kerja dulu."


Damar sudah siap untuk pergi bekerja. Ia mencium kening Allana. Lalu Allana mengecup punggung tangan kanan Damar.


"Baik-baik di rumah." Pesan Damar. "Insya Allah Pah! O yah, Papa bisa dampingi Lana tidak saat besok Prom night?" tanya Allana.


"Tentu, memang kapan acara nya," tanya Damar.


"Lusa Papa! malam sabtu." jawab Allana.


"Ok! Papa akan menemani Lana dan juga Papa akan belikan gaun baru untuk Lana!" ujar Damar.


"Yeeaayyy! terima kasih Pah! Lana makin sayang Papa." Euforia kebahagiaan Allana.


"Papa pun sayang! ya sudah Papa berangkat yah!"


"Baik Pah!"


Allana mengantar Damar ke depan pintu. Damar berangkat menggunakan sepeda motor nya.


**


Menjelang siang, telepon Allana berdering. Itu panggilan dari Kinanti.


"Ya Kinan!" / Allana.


"Lana! koq gak ke sekolah?" / Kinanti.


"Ngapain? cuma tanding basket, paling juga pemain nya itu-itu juga, bosan Kin!" /Allana.


"Lana .... Lana .... kalau kamu lihat siapa pemain basket yang menjadi bintang tamu, pasti kamu terkejut!" / Yusra.


(Yusra menyambar telepon Kinanti begitu saja dan langsung bicara).


"Memang siapa?"/ Allana.


"Papa Damar Lan!" / Yusra dan Allana.


"What? kalian salah orang mungkin!"/ Allana.


"Gak Lana! cepat ke mari! nanti keburu mulai." / Kinanti.


"Ok! ok! aku ke sana sekarang." / Allana.


Sambungan telepon pun berakhir. Allana bergegas mengganti pakaian.


"Mbak! Lana pergi ke sekolah dulu, kalau Lana belum pulang, kunci simpan di tempat biasa nya." Pamit Allana pada pekerja rumah nya.


"Iya Neng! lho si Neng pergi nya naik apa?" tanya Art nya.


"Oh iya yah! kalau bawa mobil, Papa belum mengizinkan!" gumam Allana. "Mmmm .... pesan ojek online Mbak!"


"Baik! hati-hati Neng!"


Allana pun memesan ojek online. Tidak sulit, lima menit kemudian Allana sudah dalam perjalanan.


Lima belas menit Allana sampai di sekolah. Sekolah terlihat ramai sekali. Beda dari biasanya.


Allana langsung menuju lapangan basket tertutup di Aula sekolah. Sebelum nya menelpon Kinanti.


"Lana sini!" panggil Kinanti dan Yusra yang sudah duduk di bangku penonton.


"Ok!" Allana pun menghampiri mereka. "Belum mulai kan?"


"Belum Lan, mereka sedang siap-siap." Jawab Yusra.


"Mana Papa Aku Kin, Yus?" tanya Allana.


"Tuh .... Papa kamu Cool banget gaya nya Lan." Tunjuk Yusra.


"Iya Lan! anak basket sini kalah jauh pesona nya. Papa kamu banyak yang naksir tuh." Ucap Kinanti.


"Uuuumm Papa! Saranghae 사랑해 ." Gumam Allana tanpa sadar. "Hah?" Kinanti dan Yusra terkejut mendengar Allana bergumam kata cinta walaupun dalam bahasa Korea.

__ADS_1


Allana pun baru sadar dengan apa yang ia gumam kan. "Hah! apa?" tanya nya.


"Heee gak koq!" mimik aneh dari kedua nya.



Di lapangan basket, terlihat Damar duduk dengan santai, ia sedang menunggu rekan-rekan nya yang lain untuk berganti kostum sembari mendengarkan musik.


Seperti nya Damar mulai menyadari kehadiran Allana di bangku penonton. Damar menoleh dan memperhatikan Allana yang sedang tersenyum ke arah nya.


"Lana!" gumam Damar.



"Papa!" Allana pun menyebut Damar dengan tersenyum.


Kini mereka berdua bagai orang asing yang baru pertama kali bertemu. Saling pandang dan saling lempar senyum.


Namun mereka terganggu dengan seseorang yang menghampiri Allana.


"Hai Lana! datang juga, support kak Heru yah! kan kak Heru bawa nama sekolah ini loh!" ucap Heru.


"Am i-iya kak! semangat!" respon Allana.


Allana melihat Damar dengan raut wajah yang nampak kecewa. Hingga anggota basket nya tiba dan mereka menuju ke ruang ganti.


Allana masih menatap Damar yang sudah hampir ke luar lapangan, menuju ruang ganti.


"Papa! apa Papa marah?" gumam hati Allana.


"Kak Heru sudah sana kembali ke team!" usir halus Yusra.


"Iya Kak! ngapain sih malah di sini godain istri orang, yang single banyak kan." Ucap ketus Kinanti.


"Kinan!" pekik Allana dan Yusra.


"Oppsss Sorry." Kinanti penuh penyesalan.


"Apa tadi?" tanya Heru. "Enggak koq!" jawab kompakan bertiga.


Para pemain pun terdengar di panggil melalui pengeras suara. Mereka di harap kumpul di lapangan.


"Ok Lana, kak Heru cabut dulu." Pamit Heru. "Iya kak!"


"Kin, Yus! seperti nya Papa ku marah deh, waktu lihat aku ngobrol dengan kak Heru." Akhirnya Allana pun memberitahukan kedua sahabatnya.


"Iya, terlihat dari raut wajah nya." jawab Allana.


"Wah gawat kalau begitu! mari hampiri Papa mu Lan!" ajak Kinanti.


"Tapi .... mereka sedang di ruang ganti." Allana nampak ragu.


"Sudah ayuk! mikir apalagi Lan! Papa mu bisa saja tidak semangat nanti tanding nya. Yang aku tahu! Papa mu sebagai pembela team dari sekolah kita Lan." Ujar Yusra.


Dengan paksaan dari Yusra dan Kinanti Allana pun menghampiri Damar di ruang ganti. Allana, Yusra dan Kinanti berdiri di luar ruang ganti.


"Lana masuk!" pinta Kinanti. "Masuk bagaimana? masa aku harus ngintip yang lagi ganti kostum." Sergah Allana.


"Mmmm.... Iya juga sih! nunggu mereka keluar saja," ucap Yusra.


Mereka pun memilih menunggu mereka keluar ruang ganti. Hingga hampir sepuluh menit seperti nya para pemain sudah keluar ruangan. Damar belum keluar.


"Lana sudah sana!" Kinanti dan Yusra mendorong Allana masuk ke dalam ruang ganti dengan paksa.


"Aaaaaaaa ...." terdengar Allana berteriak. Damar yang sedang merapikan pakaian nya ke dalam tas pun menoleh.


"Lana?" pekik nya. Dengan cepat Damar meraih Allana ke dalam dekapan nya. menahan wajah Allana di dada nya.


"Linggar cepat pakai baju!" pekik Damar. Ternyata Allana tidak sengaja melihat Linggar sedang membuka pakaian dan hanya menggunakan underwear.


"Eh sorry!" tukas Linggar. Ia pun merasa malu, tiba-tiba saja ada perempuan masuk begitu saja, saat ia sedang bertelanjang.


"Siapa Mar?" tanya Linggar di sela berpakaian nya. "Oh yah! ini Allana Ling. Lana itu om Linggar!" terpaksa Linggar dan Allana berkenalan pada suasana tidak nyaman.


"Hai Allana!" sapa Linggar. "Hai Om!" Allana membalas sapaan Linggar masih dalam dekapan Damar.


"Papa! mata Lana yang bersih dan otak Lana yang suci telah ternodai." Ucap Allana dengan menggerak-gerakkan tubuhnya.


"Ahahahah .... bukan nya kamu sudah sering mempolosi Papa yah. Lebih oke body Papa atau om Linggar?" bisik Damar.


"Iikhh Papa!" ucap malu Allana. "Mmm .... coba Lana lihat satu kali lagi."


"Eh gak boleh! kamu ketagihan yah!" ucap Damar. "Heee, gak apa apa dong sedikit saja."

__ADS_1


"Enak saja!" Damar mendorong tubuh Allana menunju loker pakaian. Hingga tubuh belakang Allana pun sudah menempel pada loker yang tersusun rapi.


"Mar! gue duluan yah!" pamit Linggar yang sudah rapi berganti kostum.


"Ok Ling, gue ada urusan sebentar dengan anak gue!" jawab Damar.


"Oke! jangan lama, jangan sampai lo lupa bertanding," ledek Linggar yang mengerti dengan kata Anak yang di ucapkan Damar. Bahwa Anak itu adalah Istri nya.


"Hem!" Balas Damar. Mata nya intens menatap Allana. "Pah!" Allana menatap Damar dengan teduh dan lirih memanggil nya.


"Tadi siapa?" tanya Damar. "Kak Heru, yang tempo hari bertemu Papa di parkiran." Jawab jujur Allana.


"Ok!" jawab singkat Damar. "Papa marah?" tanya Allana dengan sedikit ragu.


"Tidak! Hanya Papa tidak suka Lana dekat dengan pria lain," jawab Damar.


"Pah! Lana ti ...."


Perkataan Allana terpotong karena bibir nya sudah di serang Damar tanpa ada aba-aba. Tubuh Allana sedikit kaku mendapatkan serangan mendadak dari Damar. Namun lambat laun Allana dapat menerima dan mengimbangi pergerakan bibir Damar. Hingga terjadilah suasana panas saling memag*t dan mel*mat di ruang ganti tersebut.


"Terima kasih sayang! Penyemangat untuk Papa nih!" ucap Damar, setelah mengakhiri petualangan bibir nya.


"Terima kasih kembali Pah! main nya yang semangat yah! Papa Keren pakai kostum ini. Lana makin tertarik deh. Ah pacar Lana yang sesuai kriteria." Ucap Allana memeluk Damar dengan hati yang berbunga-bunga.


"Pasti tambah semangat! Baiklah, Papa ke lapangan yah!" pamit Damar.


"Ok Pah!" Damar mengecup kening Allana. Setelah nya mereka keluar ruangan dengan bergandengan tangan dan senyum mengukir bibir keduanya.


"Cieee! ledek Yusra dan Kinanti sambil saling senggol.


"Apa sih kalian. Mari ke lapangan." Ajak Allana setelah Damar melepaskan diri dari Allana dan pamit kepada mereka menuju lapangan.


"Yuk!"


Ketiga sahabat itu pun berjalan dengan bertautan tangan menuju lapangan, mereka tertawa bersama saat Allana menceritakan kejadian memergoki Linggar yang sedang tidak berpakaian.


Pertandingan pun sudah di mulai....


"Uuumm, dalam keadaan berkeringat begitu, Papa tambah sexy! lihat Yus, Kin." Allana merasa kagum senang, bahagia. Memang betul seperti nya ia telah jatuh cinta kepada Damar.



Putaran waktu terakhir, Damar sedang bersiap memasukan bola ke dalam ring. Jika ini masuk, maka team Damar meraih three points dan mereka akan menang atas kekalahan team lawan yang hanya beda enam poin.


"Yeeaaayy Sekolah kita menang!"


Teriak kemenangan dari tiga sahabat dan murid lain nya, ketika menyaksikan Damar berhasil meraih tri poin dan itu poin kemenangan untuk team nya.


***


"Terima kasih Pah! team sekolah kita menang!" ucap Allana saat mereka sudah menuju parkiran hendak pulang. Yusra dan Kinanti sudah pulang terlebih dahulu.


"Bukan hanya Papa sayang! kami satu team. Berarti kami semua." Jawab Damar dengan tersenyum.


"Iya sih Pah!"


"Mar, mau ikut kita-kita makan gak?" tanya Linggar dan yang lain nya.


"Gue pulang aja lah!" Jawab Damar.


"Ok deh! Faham lah, pengantin baru! lihat saja, nempel terus." ledek teman-teman nya Damar.


"Pengantin baru, sama ABG lagi, mana ada yang bisa tahan gak nempel terus," Goda teman lain nya.


"Ah lo pada bisa saja," ucap Damar malu, namun ia makin mengeratkan rangkulan nya pada Allana. Allana pun tersipu malu.


Damar telah memperkenalkan Allana pada team nya sebagai Anak! namun mulut tidak berbingkai nya Linggar, malah dengan cuek menyebut Allana Istri nya Damar, mereka telah menikah.


Awal nya kawan-kawan Damar terkejut. Akhirnya Damar menceritakan sebab nya ia menikah dengan Allana.


Maka kawan-kawan Damar pun mengetahui dan mengerti mengapa Damar menikah dengan Allana. Pada akhirnya Damar menjadi bahan ledekan. Namun itu wajar menurut Damar. Toh hanya ledekan candaan.


Di lahan parkir itu ternyata ada Heru, Jovan serta Irfan juga. Mereka mendengar percakapan antara Damar dan kawan-kawan nya.


"What?" Irfan merasa terkejut.


"Wei, serius tuh, doi suami nya Allana?" tanya Jovan.


"Seperti nya! tadi gue dengar Yusra dan Kinanti bilang kata-kata Istri orang. Ouh mungkin maksudnya ini," ujar Heru manggut- manggut.


"Betul kan, perkiraan kita tempo hari, bahwa akan ada saingan. Mana ada seorang Ayah sikap nya posesif nya kayak pacar!" ujar Irfan.


"Hooh!" timpal Jovan.

__ADS_1


"Yaaaahh, pupus lah harapan kita braaay!" ucap kompak ketiga nya.


Bersambung ....


__ADS_2