Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
20. Allana Pergi.


__ADS_3

"Neng! tunggu! A'a Bisa menjelaskan nya terlebih dahulu." Damar memanggil Allana yang masih berjalan cepat sembari menangis.


"Neng!"


Damar memanggil Allana dengan lirih. Ia mengejar Allana hingga tangan nya dapat ia jangkau dan raih.


"A'a pulang saja! biarkan Lana pergi." Allana mengibaskan tangannya.


"Neng! ma'afkan A'a. Ini pun yang selama ini A'a pikirkan setiap hari. A'a merasa bersalah kepada kamu dan Mama mu. Karena A'a yang menyuruh nya berangkat ke Bandung terlebih dahulu. Hingga ...." Damar tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya.


Beban yang selama ini ia simpan, akhir nya sedikit terlepas. Walaupun dengan resiko Allana membenci nya. Keadaan ini sudah ia prediksikan dari jauh jauh hari.


"Neng tunggu! apa kamu tidak lelah, berjalan sambil menangis? ini sudah jauh dari rumah." Celoteh Damar.


Allana muak mendengar suara Damar yang begitu berisik dan tidak seperti biasanya.


"Aku bilang A'a pulang! Aku benci mendengar A'a bicara!" seru Allana sembari menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Damar yang sedang tergopoh berusaha mengejar nya.


Damar tersenyum ketika melihat Allana berbalik dan menghadap kepada nya.


"Neng pulang yah! kita bicara baik-baik." Pinta Damar dengan sangat hati-hati


Allana menggelengkan kepala nya. "Stop! A'a cukup sampai situ. Untuk saat ini semuanya sudah jelas. A'a sayang terhadap Lana karena rasa bersalah. Hati A'a masih untuk Mama! A'a jahat! Lana benci A'a." teriak Allana.


"Neng! andai Neng tahu perasaan A'a yang sesungguhnya." Damar berbicara dengan wajah memelas.


Allana duduk bersimpuh di atas trotoar jalan. Damar mencoba menghampiri nya dengan perlahan, Agar Allana tidak berontak.


"Lalu Neng mau pergi ke mana? A'a antar yah! A'a mengizinkan Neng pergi hanya untuk sekedar menengkan fikiran. Namun tolong A'a harus tahu kemana Neng pergi. Neng boleh hukum A'a apapun! namun tidak dengan meninggalkan A'a. Aku Sayang kamu Neng!" bujuk Damar.


"Stop berucap sayang! Lana tidak ingin mendengar nya dari mulut seseorang yang secara tidak langsung telah merenggut nyawa Mama." Perkataan Allana sungguh amat menyakitkan.


"Silakan, Neng bicara apapun! yang pasti A'a akan selalu sayang Neng. Untuk masalah Mama yang sudah tiada. Itu takdir, sayang! walaupun tidak pergi ke Bandung. Bisa saja Mama meninggal karena sebab lain. Karena segala nya telah menjadi kehendak Allah." Ujar Damar.


Allana hanya diam. Entah sedang mencerna kata-kata Damar, atau berfikir untuk tetap pergi.


Untuk beberapa saat, antara Damar dan Allana hening. Hingga sebuah taxi melewati mereka dan Allana nekad menyetop nya.


Darah Damar rasa mendidih. Allana betulan akan pergi.


"A .... Lana pergi!"

__ADS_1


"Neng!"


"Neng! Neng jangan Neng! Neng please jangan seperti ini," rengek Damar.


Tanpa menghiraukan rengekan Damar. Allana pun berdiri dan berjalan lalu masuk ke dalam taxi yang baru saja berhenti de depan nya.


Damar berusaha mengejar Allana dan ia hendak membuka pintu mobil, ia berfikir untuk ikut bersama Allana.


"Pak jalan!"


Pinta Allana kepada supir taxi. Supir taxi pun mengiyakan, lalu menjalankan mobilnya tanpa perduli dengan Damar yang tengah menggedor kaca mobil.


"Neng! A'a mencintai kamu! harusnya Lana tahu itu," teriak Damar, setelah taxi itu meninggalkan nya agak Jauh. Entah Allana mendengar nya atau tidak, yang pasti taxi tersebut berhenti dan nampak Allana keluar dari dalam taxi.


"Neng, akhir nya kamu kembali." Senyum Damar merekah. Seketika hati nya bahagia.


Melihat Allana turun dari mobil dan berlari kecil ke arah nya, fikiran Damar berimajinasi, Allana hanyalah sedang mempraktekkan drama Korea yang selalu ia saksikan.


Yaitu ketika si perempuan dan si laki-laki bertengkar, maka si perempuan akan pergi naik mobil dan ketika si laki-laki panik mengejar serta meneriakkan kata Cinta, maka si perempuan akan kembali untuk memeluk si laki-laki dan meminta maaf. Lalu mereka pulang dan happy ending.


"A! A'a!"


"Papa! Pah!"


Allana kembali memanggil Damar dengan sebutan Papa! barulah Damar sadar.


"Ah, ia sayang! akhirnya kamu kembali. Mau peluk A'a dan setelah nya kita pulang kan Neng?" tanya polos Damar dengan membentangkan kedua tangan nya.


"Heh, Jangan ge'er, siapa bilang! Lana hanya mau minta uang, untuk ongkos taxi dan untuk Lana makan besok! Papa kan masih suami Lana, jadi .... Walaupun Lana minggat. Papa harus tetap menafkahi Lana." Ujar Allana dengan menengadahkan telapak tangan kanan nya.


Tweeww!


Damar tercengang, ia bingung harus tertawa atau tetap bersedih? ini Allana sedang main drama apa sih sebetulnya. Drama sedih atau jenaka? entahlah yang pasti Damar merogoh saku celana nya.


"Papa tidak membawa uang lebih." Damar menyodorkan uang sebesar Rp. 232.500,- seperti nya semua uang yang ada di saku nya ia berikan kepada Allana.


"Tidak apa-apa, segitu juga cukup! terima kasih. Lana pergi, Papa tidak perlu khawatir, kemana Lana pergi. Yang pasti Lana akan berada di tempat yang aman." Ujar Allana sembari meraih tangan kanan Damar dan mengecup nya.


"Neng! jangan pergi, A'a tidak sanggup berada jauh dari kamu," cegah Damar, berharap hati Allana luluh.


"Tidak Pah! Lana harus tetap pergi. Jaga diri Papa baik-baik, jangan telat makan." Pesan Allana, lalu ia menyudahi perpisahan nya. Allana segera pergi meninggalkan Damar menuju taxi.

__ADS_1


"Kamu pun jaga diri baik-baik Neng!" ucap Damar, tubuhnya luruh di atas aspal bahu jalan. Ia tidak memiliki keinginan untuk mengejar Allana kembali.


Bukan tidak sayang, bukan tidak takut kehilangan. Namun ia menghargai keputusan Allana, ia akan mencari nya esok dan kembali meraih Allana dengan cara lain.


Dengan memaksakan Allana kembali malam ini, maka itu akan percuma. Pendirian dan tekad Allana jauh mengalahkan hati dan perasaan nya.


***


Satu Minggu sudah, Damar mencari keberadaan Allana. Ia sudah mencari Allana ke berbagai tempat yang memungkinkan di datangi nya. Namun hasil nya nihil. Para sahabat Allana pun tidak tahu keberadaan Allana.


"Bagaimana Mar?" tanya Linggar. Damar nampak lelah dan kusut. Pekerjaan nya pun sedikit terbengkalai.


Beruntung Linggar yang melihat Damar begitu terpukul atas pergi nya Allana, maka dengan suka rela ia membantu pekerjaan Damar.


"Nihil!" jawab Damar Lesu.


"Bisa gitu, serapi ini? ia menghilang, kemana ya kira-kira?" tanya Linggar,mirip bergumam.


"Entahlah. Lana, A'a rindu." Ucap pelan Damar.


Ketika Damar dan Linggar masih di landa kebingungan dalam menemukan Allana dalam benaknya masing- masing. Telepon Damar pun berdering.


"Ya!" / Damar.


(.......) / si penelpon.


"Kamu yakin?" / Damar.


( .........) / si penelpon.


"Alhamdulillah! akhir nya ... kamu, dapat aku temukan, sayang!" / Damar.


Damar pun menyudahi panggilan telepon nya.


"Ling! gue pergi dulu. Allana sudah di temukan oleh orang-orang suruhan gue!" Pekik bahagia Damar.


"Syukurlah! gue ikut bahagia Mar!" ucap Linggar sumringah.


Akhirnya Damar pun pergi, ia akan mendatangi tempat yang di sebutkan si penelpon di mana Allana berada.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2