
Warning! part ini mengandung konten 18+ mohon bijak dalam membaca.
"Lana .... koq bisa jatuh!" ucap Damar. "Entahlah Pah, mungkin Lana sedang tidak beruntung."
Damar bergegas membantu Allana bangun. "Berdarah sayang," pekik Damar yang melihat lutut Allana terluka dan berdarah.
"Iya Pah! duuuh sakit sekali," ucap lirih Allana. "Maafkan Papa yah! Papa sudah buat Lana jatuh! Papa teledor sayang," Damar menyesali perbuatannya yang meledek Allana.
"Tidak Pah! bukan salah Papa, memang dasar nya Lana harus jatuh! walaupun tidak di sini, bisa saja Lana jatuh sebab pasal lain dan di tempat lain."
Damar tercengang mendengar jawaban bijak dari Allana. Anak yang biasanya manja, dapat begitu legowo. Pantas ia cepat sekali menerima kepergian Vianny. Damar baru mengerti kalau Allana ternyata salah satu orang yang mudah menerima dan selalu ikhlas menerima musibah atau kenyataan.
"Hemmm ...." Damar tersenyum, setelah ia membantu Allana berdiri dan membersihkan pakaian Allana dari debu, lalu ia berjongkok membelakangi Allana. Maksud Damar ia meminta Allana untuk naik ke punggung nya.
"Nanti Papa obati Setelah sampai rumah, Mari Papa gendong di belakang yah! agar cepat sampai rumah," ajak Damar. Ia tahu Allana akan susah untuk berjalan karena luka nya tepat di lutut.
Allana nampak berfikir sejenak, "Pah! Lana jalan saja, masih bisa koq perlahan." Allana merasa risi harus di gendong Damar, nanti ada yang melihat.
"Sudah, mari Nak!" pinta Damar Kembali. Allana menghela nafas lalu ia berfikir, Damar memanggil nya Nak! "Baiklah Pah!"
Allana naik ke punggung nya Damar. Mereka pulang dengan Allana di gendongan Damar.
Setelah sampai rumah, Damar menurunkan tubuh Allana dengan hati-hati di atas sofa. Kemudian segera mencari kotak P3K. Setelah di ketemukan Damar bergegas menghampiri Allana kembali.
"Tahan ya sayang! ini akan sedikit perih."
"Baik Pah!"
Damar mulai mengobati luka Allana yang cukup menganga. Membasuhnya dengan cairan antiseptik lalu ia bubuhkan obat luka untuk menghentikan darah yang keluar.
"Sa .... kit Pah!" ringis Allana. Berkali-kali Allana meringis dan mengaduh karena rasa perih yang terasa menusuk hingga ke ulu hatinya. Damar berusaha menenangkan Allana, namun kenyataannya Allana tetap meringis dan menggoyangkan kaki nya untuk mengurangi rasa sakit.
__ADS_1
"Uuu .... apa sesakit itu sayang?" tanya Damar ikut meringis.
"Hu'uh Pah! huuufff." Allana menjawab pertanyaan Damar dengan meringis.
Damar segera meluruskan kaki Allana di atas sofa dan ia duduk di sisi Allana pada bagian pinggir sofa. tubuh nya berhadapan dengan Allana.
"Pah! Papa hendak berbuat apa?" Allana gugup karena Damar memajukan wajahnya semakin mendekat pada wajah Allana.
"Membantu menghilangkan rasa sakit mu." Damar makin memajukan wajahnya hingga kini wajah Allana dan Damar tidak lagi berjarak, apalagi pada bagian bibir yang sudah saling menempel.
Allana memejamkan matanya. Berhasil rupanya, bibir Allana dan Damar baru saling menempel namun luka di kaki Allana nampak nya sudah tidak ia rasa karena Allana sibuk menyetabil kan perasaan nya dan mencoba meresapi bagaimana rasanya dari serangan Bibir Damar.
Damar mengamati Allana dan tidak ada penolakan dari Allana. Dengan perlahan Damar mulai menguasai bibir Allana dengan ritme kecupan yang makin di perdalam. Walaupun Allana diam dan tidak membalas, namun nyatanya ia menerima sentuhan bibir dari suami nya dan sedang meresapi rasanya ber*iuman yang selama ini tidak pernah ia alami.
Damar segera melepaskan bibirnya yang bertepuk sebelah tangan. "Balas sayang!" pinta lembut Damar.
"Ah!" Allana melongo dan menatap polos Damar. "Balas bibir Papa!" ulang Damar. Allana tersipu malu. Detak jantung nya saja belum stabil, kini Damar meminta nya untuk membalas apa yang ia lakukan.
"Hah! jadi?" Damar malah balik bertanya. "Jadi .... Papa yang per .... tama melakukan nya!" seru lirih Allana dengan sedikit terbata.
"Ough! maafkan Papa!" penyesalan dari Damar. Allana menggeleng kepala sembari tersenyum.
"Hak Papa!" Allana merunduk malu dengan wajah yang sedikit merona. Damar ikut tersenyum mendengar ucapan polos dan melihat tingkah Allana yang malu-malu.
Damar menghela nafas nya pelan. "Terima kasih sayang. Boleh?" tanya nya lagi dengan malu, sedikit tidak kreatif dalam menggoda perempuan. Hal ini pun tabu bagi Damar, walaupun bukan yang pertama namun Damar bukan pria penganut free sex.
Walaupun hidup di kota metropolitan namun Damar mampu menahan hasrat kelelakian nya. Bagi Damar, tidak sulit mendapatkan perempuan yang dapat di ajak one night's deeds. Ia memiliki uang yang cukup, wajah tampan, body oke. Namun Damar masih memiliki Iman untuk tidak tergiur hal itu demi nafsu semata.
Jika hanya berciuman wajar, Damar pernah melakukan, hanya ingin memastikan seberapa besar perasaan nya terhadap perempuan itu karena belum ada wanita yang mampu masuk kedalam hati nya yang paling dalam.
Allana tidak menolak ataupun mengiyakan, namun melihat dari tatapan Allana, ia tidak menyembunyikan jika Allana ingin kembali mencoba. Mungkin Allana suka dengan kelakuan Damar dan entah kapan mulanya Damar pun suka, ada perasaan bahagia di dalam hatinya saat menyentuh bibir Allana.
__ADS_1
"Papa pun tidak lihai dalam hal ini," ucap jujur Damar dengan kikuk. "Loh pacar Papa bukan nya banyak?" tanya Allana mematahkan statements Damar.
"Mantan sayang! sudah empat tahun Papa jomblo dan setelah bertemu Mama, maka Papa putuskan untuk menikah." Damar meralat ucapan Allana.
"Baik..Mantan! namun Lana kurang yakin, jika Papa tidak melakukan apapun dengan mantan-mantan Papa itu. Papa kan pria Dewasa." Allana mulai mengorek kehidupan pribadi Damar sebelum ini.
"Yakin sayang! Mantan Papa tidak banyak dan semua pacar Papa LDR-ran sayang. Hanya dengan Mama yang betul-betul satu kota..Mantan Pacar Papa terdahulu orang jauh, biasanya di kenalkan keluarga." Damar menceritakan hal sebenarnya pada Allana.
"Ooh! kalau bertemu memang Papa tidak rindu?" Allana makin penasaran dengan pernyataan Damar.
"Biasa saja! Papa belum memiliki pacar yang betul-betul Papa cinta sepenuh hati. Pernah ada sih, tapi dia nya yang tidak mencintai Papa dan lebih memilih menikah dengan laki-laki lain. Maka nya Papa putuskan selama empat tahun tidak ingin pacaran. Hingga kawan Papa berpikir Papa tidak doyan perempuan." ujar Damar dengan tertawa kecil.
"Jangan-jangan memang betul?" tanya Allana penuh selidik dengan menuding kan jari telunjuk pada wajah Damar.
"Hush, enak saja! Papa normal sayang!" Damar tertawa kecil lalu jari telunjuk Allana yang masih menjentik ia masukkan ke dalam mulutnya dan ia mainkan di dalam mulutnya seperti Lolly pop.
"Papa!" pekik Allana terkejut dan refleks menarik telunjuk nya dari dalam mulut Damar. "Ikh Papa nakal." Hardik manja Allana.
Damar mengulum senyum sembari mengusap bibirnya dengan jari tangan. "Lalu kamu sendiri pernah pacaran?" Kini berganti Damar yang mengorek hal pribadi Allana.
"Pernah!"
"Pernah itu juga?" Damar menyatukan ujung jari-jari nya sembari menatap lekat Allana.
"Pernah! eh hampir! belum. Kan tadi Lana katakan, Papa yang pertama!" Allana kikuk. "Koq jawaban nya aneh! pernah, hampir dan belum?" Damar merasa lucu dengan jawaban Allana.
"Karena kita keburu putus! masa pacaran nya hanya dua bulan dan jarang bertemu, dia kakak kelas Lana. Tapi .... lagi sayang-sayang nya dia di rebut sahabat Lana. Ternyata mereka selingkuh di belakang Lana. Huaaaa." Allana menangis (Bukan menangis sungguhan, melainkan hanyalah tangis main-main dengan mimik yang lucu, sembari memejamkan mata dan menggerak-gerakkan tubuhnya.)
Damar yang melihat tingkah lucu Allana, ia tertawa lepas. Lucu, gemas, takjub menjadi satu. Yang Damar fikir Allana adalah gadis manja dan kalem ternyata ia pandai melucu dengan tingkah konyol nya.
Allana yang baru membuka matanya pun merasa takjub melihat Damar yang tertawa lepas. Tampan! fikir Allana, ada rasa berbeda saat melihat Damar tertawa seperti itu. Hatinya menghangat, perasaan nya merekah bahagia. "Pah! mau kah Papa menjadi pacar Lana?" Damar yang mendengar pertanyaan Allana pun menghentikan tawanya seketika.
__ADS_1
Bersambung ....