
Kini semua sudah berkumpul di dalam ruang keluarga. Allana hanya menunduk sembari menahan air matanya. Ia betul-betul mengurungkan niatannya untuk membeberkan kehamilan nya. Damar telah menyakiti perasaan nya pagi ini.
"Mar! coba di pikirkan kembali. Alangkah baiknya, Allana tetap mendampingi kamu di sini." pinta Ayah Damar.
"Damar sudah memikirkan nya dengan baik Pak! Lana akan tetap kembali ke Jakarta." Ucap tegas Damar.
"Kamu tidak menyesal, jika Lana betul-betul kembali ke Jakarta?" tanya Ibu nya, hanya ingin memastikan.
"Hem ....!" Damar hanya berdehem.
Hiks! hiks! terdengar suara tangis Allana yang kembali pecah. "Wan, tidak perlu menunggu hingga nanti. Antar Lana sekarang juga." Pinta Allana. dengan suara parau karena tangisan nya.
"Neng ....!"
Ibu dan Ayah nya Damar hendak mencegah agar Allana tidak pergi.
"Maaf Pak, Bu! Lana harus segera pergi! untuk apa lebih lama lagi di sini, kalau orang yang Lana perjuangkan tidak mau ikut berjuang." Ucap ketus Allana sembari melirik sinis ke arah Damar dan menepis kasar air matanya yang tak henti berjatuhan.
Allana bergegas ke kamar Damar, ia segera membenahi pakaiannya. Damar hanya diam di atas kursi roda nya.
Tidak berapa lama, Allana pun keluar dengan menyeret koper pakaian nya. Penampilan Allana masih sama seperti sebelumnya. Berarti ia tidak berganti pakaian.
"Neng Ma'afkan kami," Ibunya Damar memeluk Allana dengan tangisan. Ayah Damar pun menghampiri mereka dan ia pun ikut meminta maaf atas nama Damar dengan mengelus kepala Allana.
"Wan!" seru pelan Allana.
"Sekarang Teh?" tanya Arwan. Ia pun hampir tidak percaya dengan rumah tangga Kakak nya yang jadi seperti ini. Allana mengangguk.
"A! Lana pergi dulu! A'a baik-baik di sini. Lana harap A'a berubah pikiran tentang kita. Lana masih sangat mencintai kamu sayang, bohong! jika Lana katakan benci. Itu bohong!" Allana memeluk Damar.
"Pergilah Neng! hanya itu yang Damar katakan.
Setelah berpamitan kepada orang tua Damar, bahkan terjadi kembali pelukan yang di hiasi tangisan di halaman rumah dari Cucu dan Atin ketika mengetahui Allana akan kembali ke Jakarta, atas permintaan Damar. Kini Allana pun sudah berada di dalam mobil yang Arwan kemudikan.
"Nak! ma'afkan Mama, akhir nya Mama urung memberi tahu Papa akan kehadiran mu! Papa sudah tidak menginginkan Mama lagi. Maka dari itu, biarlah Papa tidak tahu adanya kamu. Karena Mama anggap Papa tidak menginginkan kamu juga." gumam Allana dalam hatinya.
"Teh! sakit atau kenapa perut nya? koq di pegangi terus?" pertanyaan Arwan yang tiba-tiba saja, mengagetkan Allana.
"Ah! am, eng-gak koq! lapar, heeee," Allana beralibi.
__ADS_1
"Ouh lapar. Kalau begitu Kita berhenti dulu di restoran depan. Teh Lana beli camilan juga untuk di mobil. Sebentar lagi kita akan masuk jalan Tol, takutnya nanti macet," Ujar Arwan.
"Baiklah Wan," Allana mengangguk. Sebetulnya Allana tidak lapar. Namun seperti nya si jabang bayi sedang ingin ngemil dan makan yang segar-segar.
Tidak berapa lama Arwan menghentikan mobilnya di halaman sebuah restoran. Allana begitu sumringah, ia melihat tukang rujak bebek sedang di kerubungi Ibu-ibu dan beberapa anak kecil. Tanpa pikir panjang Allana segera turun dan menghampiri tukang rujak bebek tersebut.
"Teh! lokh, mau ke mana?" Arwan mengekor jejak Allana.
"Sebentar Wan, mau beli rujak bebek dulu. Kamu duluan saja, nanti Aku nyusul," ucap Allana.
"Oh, ok deh," Arwan pun tidak banyak bercakap. Ia segera masuk ke dalam restoran dan mengambil makanan, karena restoran tersebut sistem perasmanan, pelanggan akan mengambil makanan nya sendiri pada stand yang berada di sisi meja santap.
Setelah Membeli rujak bebek, Allana malah kembali ke dalam mobil, ia tidak ikut makan bersama Arwan. Hingga Arwan yang sudah selesai makan pun memilih menghampiri nya.
"Teh, koq gak makan? tadi katanya lapar. Ini malah makan rujak, nanti sakit perut, makan saja dulu, nanti makan rujak nya setelah makan nasi," tegur Arwan, ia merasa khawatir takut Kakak iparnya sakit.
"Aku lagi gak selera makan Wan, yang mau makan ini keponakan kamu, bukan Aku." Ucap Allana, entah ia sadar atau tidak dengan apa yang ia ucapkan.
Arwan mengernyitkan dahi. "Keponakan? memang nya Teh Lana sedang hamil?"
"Oum! heee ...., tolong belikan nasi Wan! di bungkus saja, Aku mau makan di mobil saja nanti." Allana tidak menjawab pertanyaan Arwan. Ia malah mengalihkan perhatian Arwan.
Namun Arwan bukan orang yang suka mengulang pertanyaan. Maka dari itu, ia lebih memilih mengikuti keinginan Allana untuk membelikan nya nasi.
"Ayam goreng dan dendeng gepuk." Jawab Allana. Arwan bergegas masuk kembali ke dalam restoran, membeli pesanan Allana.
***
Lima jam perjalanan dari Badung hingga sampai ke rumah Damar, karena terjadi kemacetan di beberapa titik.
"Sudah sampai Teh! Awan kembali ke Bandung lagi, Teh Lana yang sabar ya, Awan akan bantu membujuk A Damar, agar membawa Teh Lana kembali ke Bandung." Ujar Arwan.
"Terima kasih Wan! Lokh kamu tidak istirahat dulu?" tanya Allana.
"Nanti saja, istirahat di jalan," seperti nya Arwan merasa risi, karena di rumah itu hanya berdua dengan Allana.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya," tukas Allana dengan tersenyum.
Arwan pun membalas senyuman Allana. "O yah! ini titipan dari A Damar."
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Allana dengan meraih amplop coklat yang Arwan sodorkan.
"Itu nafkah untuk Teh Lana. Karena A Damar sudah tidak bekerja lagi. Maka A Damar akan memberikan uang untuk kebutuhan Teh Allana, hasil dari laba minimarket dan cafe yang ada di Bandung. Awan akan mengirimkan tiap bulan." Ungkap Arwan.
Allana menghela nafas. Jika saja hanya dirinya, ia tidak membutuhkan uang itu, namun saat ini ada calon Anak nya Damar dalam rahim Allana yang barang tentu butuh biaya untuk ke dokter dan lain-lain nya.
"Baiklah! terima kasih Wan."
Arwan pun mengangguk dengan tersenyum lega. Setelah nya ia pamit untuk kembali pulang ke Bandung.
Sepi!
Itu yang Allana rasakan setelah Arwan meninggalkan rumah itu. "Aku harus kuat!"
Allana masuk ke dalam kamar nya. Tepat nya kamar Damar dan dirinya. Segala kenangan bagai Video yang sedang berputar pada memori nya Allana.
"Sayang! baru beberapa menit berada di rumah ini, aku kesepian. Tanpa kamu di dekat ku, rasanya hampa." Gumam Allana sembari mengelus lembut permukaan kasur yang berbalut seprei berwarna abu-abu. Beberapa titik air mata jatuh begitu saja.
Allana menatap ponselnya. Ia berharap Damar akan menghubungi nya lewat Video call atau setidaknya menelpon dan berkirim pesan. Namun sepertinya harapan Allana kandas, tidak ada satupun pesan dari Damar. Makin sakit saja perasaan nya Allana.
"Hem! Aku harus kuat, demi Anak ku. Mama! Papa Damar jahat Mah!" lagi-lagi Allana bergumam, ia merebahkan tubuh nya perlahan.
Allana meringkuk di atas tempat tidur. Menangis, itu yang Allana Inginkan saat ini. Tidak berapa lama ia tertidur karena kelelahan menangis dan juga lelah setelah menempuh perjalanan Bandung_Jakarta.
**
Di Bandung,
Setelah kepergian Allana, Damar mengurung diri di dalam kamar nya. Sang Ibu merasa khawatir sebetulnya. Kini waktunya Damar meminum obat.
"Mar! tolong keluar sebentar. Minum obat dulu," Sang Ibu memanggil nya dari luar kamar. Namun Tidak ada jawaban.
"Mar! Damar, keluarlah Nak!" nada mengiba dari Seorang Ibu yang merasa khawatir.
"Pak! Damar koq tidak menjawab panggilan Ibu, ia diam saja," ucap Ibu nya Damar Kepada Ayah Damar.
"Mungkin tidur Bu!"
"Tidur?" Ibu nya Damar mengernyitkan dahi."Cari kunci cadangan Pak! cepat lihat ke dalam." Nada panik dari sang Ibu. Membuat sang Ayah ikut panik dan ia segera mencari kunci cadangan kamar Damar.
__ADS_1
Bersambung ....