
"Waaaaa, stop!" Allana berteriak dan menghentikan niatan Damar yang hendak menc*um nya.
"Ada apa Neng?" tanya Damar karena terkejut.
"A'a! ini betul, kamu kan?" tanya Allana, tangan nya terulur meraih pipi Damar, lalu mengelus nya lembut dan hati-hati, seakan itu adalah barang berharga yang takut akan hancur bila di sentuh secara kasar.
"Iya sayang! ini Aku. Damar Alfian, Suami dari Allana Faradilla dan Calon Papa dari Anak yang ada di dalam sini." Damar menyentuh perut Allana.
"Bagimana, keadaan kamu dan Calon Anak kita, baik-baik saja kan?" tanya Damar kembali dengan tersenyum.
"Ba-baik A! Alhamdulillah .... akhir nya kamu kembali." Pekik Allana dengan menangis dan langsung memeluk Damar dari Samping tubuh Damar.
"Aku merindukan kamu sayang." Ucap Allana dengan tergugu karena tangisan bahagia nya.
"Aku pun! lima bulan tidak bertemu dengan mu, rasanya menyakitkan, sayang!" Damar pun ikut menangis.
"Tapi, A'a jahat! kalau memang rindu, mengapa tidak pernah menghubungi ku? bahkan Aku tidak dapat menghubungi mu!"
"Maaf sayang!" Damar melepas pelukannya dan kini ia merendahkan tubuhnya, ia bersimpuh di lantai.
"Sayang! Aku pun tersiksa dengan keputusan ku! namun Aku melakukannya untuk kita. Untuk kamu, Aku dan calon buah hati kita. Terima Maaf Ku! Aku pernah berjanji akan kembali berjalan agar Aku dapat bersimpuh untuk meminta maaf kepada kamu dan Anak kita."
"Aku telah menepati janji ku! Aku sudah dapat berjalan dengan kruk. Maka, kali ini aku menepati Janjiku dengan bersimpuh di hadapan mu, untuk meminta maaf pada mu dan Anak kita." Ujar Damar kembali.
"Tidak sayang. tidak! Aku sudah memaafkan mu! bangunlah, Kamu tidak perlu melakukan hal itu," Pinta Allana. Damar pun kembali berusaha bangun dengan bertumpu pada kruk nya.
Setelah susah payah, akhir nya Damar dapat kembali berdiri dengan satu kruk sebagai penyangga.
"A'a sayang!" Allana kembali memeluk Damar menyamping.
"Neng, sayang!" Damar tersenyum lega dengan mengelus lembut kepala Allana.
"Duduk yuk! Aku belum kuat berdiri lama." Pinta Damar.
"Mari!" Allana memapah Damar menuju sisi tempat tidur. Akhirnya mereka pun duduk dengan bersebelahan.
Allana tampak malu-malu. Ia sesekali mencuri pandang dan segera membuang wajah nya kesamping dengan tersenyum.
"Neng! koq duduk nya jauhan?" tanya Damar, "Sini sayang."
Damar menarik lembut tangan Allana. "Eum, Lana cari Ibu dulu ya, tadi pagi.... katanya mau beli .... eum .... mau beli .... apa ya? hehe, makanan! mungkin, iya makanan, here." Allana kikuk.
Damar mengekeh, ia memaklumi akan Allana yang nampak salah tingkah. "Boleh, aku bicara pada Anak kita?"
Untuk memecah rasa canggung, Damar meminta izin untuk bicara kepada calon Anak mereka. Allana diam, lalu mengangguk. Allana pun berdiri dan berjalan menghampiri Damar.
__ADS_1
Allana berdiri di hadapan Damar. Ia menyodorkan perut buncitnya kepada Damar. Posisi mereka memudahkan Damar untuk berinteraksi dengan calon Anaknya.
Damar melebarkan kakinya nya. Lalu Allana ia tarik untuk berdiri dan sedikit masuk di antara pahanya. Setelah perut Allana dapat ia jangkau, Damar menyingkap kaus longgar yang Allana kenakan.
"Alhamdulillah! akhir nya Aku dapat mengelus perut ini. Yang selama lima bulan ini Aku rindu dan Aku idam-idamkan." Damar menangis kembali. Ia mengecupi perut Allana.
"Sayang! ini Papa, maaf! Papa baru dapat menemui mu, selama ini Papa pergi ke luar negeri untuk berobat. Papa harap kamu baik-baik dan tidak menyusahkan Mama yah!" Ucap Damar, ia mengecup perut Allana dengan khidmat. Air mata tidak berhenti mengalir.
Allana meringis karena geli. Ia merasakan sensasi baru dan aneh, ketika di belai dan di kecup pada bagian perut nya saat hamil oleh suami nya.
Baru kali ini ia merasakan bahagia yang teramat setelah lima bulan ini. Apalagi ketika sang jabang bayi bergerak dan menendang saat Damar mengecup nya. Seakan ia ikut bahagia.
"Lihat Pah! Dedek nya bergerak!" pekik Allana.
"Hehe, iya sayang! seperti nya ia bahagian karena di sentuh oleh ku." Damar tertawa kecil sembari masih menteskan air mata.
"Rasa nya, bagaimana sayang? saat Anak kita bergerak di dalam sini?" tanya Damar. Tangannya meraba perut Allana, namun wajahnya mendongak menatap wajah Allana dan meminta jawaban.
"Hiii, terasa linu, namun saat ia bergerak, rasanya senang sayang." Jawab Allana. Damar membawa Allana untuk duduk di pangkuan nya.
"Jangan sayang, saat ini aku berat lokh!" Allana ragu, karena khawatir.
"Tidak mengapa sayang, otot kaki ku sudah kuat dan aku juga kuat memangku kamu dan Anak kita. Tidak perlu khawatir," ucap lembut Damar.
"A, jangan," pinta Allana dengan suara berat nya.
"Aku rindu, kamu tidak mau menyervis ku? sudah lama nih tidak mengganti oli! nanti kalau karatan dan turun mesin bagaimana?" tanya jahil Damar dengan nada mesum.
"Ikh nakal!" seru Allana dengan memukul pelan bahu Damar. Wajah nya sudah bersemburat merah karena malu. "Masa turun mesin, yang ada juga aku nih, sebentar lagi turun mesin. karena mau ngeberojolin Anak kamu!"
"Hehe, maka dari itu, Aku Sudah puasa lama dan sebentar lagi kamu mau melahirkan. Masa aku harus pusa lagi, hadduh." Ucap Damar. "Ayolah Neng!" Pinta Damar kembali dengan mengecupi pipi Allana.
"Eeeem! memang nya sudah ....?"
"Tidak perlu di ragukan!" jawab Damar dengan meyakinkan.
"Eh Sayang, tunggu!" sergah Allana
"Apalagi?" tanya Damar dengan tidak sabaran.
"Izin dulu sama Ibu. Tanya bagaimana caranya? karena Aku belum pernah melakukan nya setelah hamil. Apalagi dengan perut buncit begini." Pekik Allana dengan polos nya.
"Ya ampun sayang! masa harus izin dulu. Malu dong! tenang, aku sudah banyak membaca artikel tentang intim saat hamil." Ucap Damar dengan tertawa.
"Cara nya?"
__ADS_1
"Makanya, cepat! Kita belajar sama-sama, bagaimana melakukan nya dalam keadaan hamil besar." ucap Damar.
"Ok lah! tapi aku malu sama Dedek nya," ucap Allana kembali saat tangan Damar mulai menjelajahi tubuh Allana.
"Dedek nya, suruh bubu dulu!"
"Ugh! mana bisa." Allana mulai terpancing dengan ulah Damar.
Syukurlah, Keadaan Damar sudah membaik. Alat reproduksi nya sudah kembali normal, setelah melakukan pengobatan di Singapura.
Pada akhirnya, Damar dan Allana saling bercumbu. Melepas segala hasrat dan kerinduan yang pernah terbendung. Melakukan hal intim adalah cara mereka kembali menyatukan hati yang sempat sama-sama rapuh dan terluka.
"Terima kasih sayang! kamu sudah berjuang untuk sembuh dan kembali kepada kami." Ucap Allana setelah permainan mereka tuntas.
Damar bak memiliki mainan baru, ia tak hentinya mengelus perut Allana, betul kata Allana, saat Anak itu bergerak dan menendang di dalam sana. Maka perasaan bahagia meliputi hatinya.
"Sama-sama sayang, tentu aku akan berjuang untuk sembuh, kalian lah tujuan utama Ku." Ujar Damar dengan kembali memeluk Allana.
"Sayang! kamu koq tiba-tiba sudah ada di dalam kamar?" tanya Allana.
"Saat kamu pulang kuliah, Aku Sudah berada di rumah ini. Sembunyi di kamar tamu. Setelah ku intip kamu tidur nyenyak, maka Aku langsung masuk ke kamar. Aku menunggu kamu pulang dari sejak Ibu dan Bapak pergi."
"Ibu dan Bapak pergi?" tanya Allana kembali.
"Iya, mereka sedang di ajak Linggar, jalan ke Dufan.
"Ibu dan Bapak pergi ke Dufan? kapan pergi nya?" tanya Allana karena terkejut.
"Hooh! tadi pagi, saat kamu berangkat kuliah, Ibu dan Bapak pun pergi di jemput Linggar. katanya, Ibu penasaran ingin naik wahana tornado." Jawab Damar.
"Hoooo! pantas tadi rumah sepi. Aku fikir, Ibu dan Bapak ada di kamar. Astaghfirullah Ibu. Mau nya Koq naik wahana yang ekstrim." Allana makin terkejut.
"Hehe, mungkin bawaan calon bayi, yang di rawat nya selama ini." Kekeh Damar.
"Lalu .... sayang, kapan kamu pulang dari Singapura?" tanya Allana karena penasaran.
"Aku pulang dari Singapura, lusa kemarin. Sampai di Jakarta siang nya!" jawab santai Damar.
"Lokh! kalau A'a sampai Jakarta dari kemarin siang, lalu mengapa baru pulang ke rumah ini sekarang? A'a dari kemarin lusa ke mana?" tanya Allana.
"Em! Aku pulang ke rumah keluarga ku yang lain." Jawab Damar.
"Ikhh! kamu punya keluarga baru ya?" tanya Allana. " Siapa mereka?" tanya Allana kembali penuh intimidasi, dengan memajukan bibir nya.
Bersambung ....
__ADS_1