Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
11. Aku Sudah Menikah.


__ADS_3

"Huustt! jangan keras-keras! nanti ada yang mendengar. Yang tahu, aku sudah menikah, hanya kalian berdua. Kalau sampai ada yang tahu lagi, berarti kalian berdua yang bocor! awas saja." ancam halus Allana.


"Baik Lana sayang! kita sahabatan dari TK! Kita enggak akan menghianati kamu, tidak seperti ...." Kinanti bicara menggantung saat ingat, Allana di khianati sahabat mereka yang kini bak musuh.


"Sudah lah Kinan. Yang pasti, saat ini, Aku sudah memiliki pacar impian Aku! untuk Leo, Aku sudah lupa! kalau ada yang lebih baik untuk apa yang tidak baik." ucap Allana.


"Betul sekali Lana! mantan itu harus di buang pada tempat nya," pekik Yusra.


"Setujuuu!"


Pekik Kompak ketiga nya, lalu mereka tertawa.


"Ekhem!"


"Eh Lana! apa kabar Lana?"


Tiga orang laki-laki yang seperti nya bukan anak sekolah itu menyapa Allana. Mereka ber kostum basket.


"Baik Kak! Kak Irfan, kak Heru dan kak Jovan, mau melatih kelas berapa?" tanya Allana.


"Melatih kelas satu dan dua! Lana sudah selesai ujian ya?" tanya Heru.


"Iya kak! ini mau pengambilan nilai olahraga dan praktek sholat." jawab Allana.


"Eh, kami tidak di sapa nih Kak?" tanya Yusra.


"Iya nih kak! memang nya di sini hanya ada Lana!" sambung Kinanti.


"Hehe .... maaf Adik-adik. Apa kabar kalian?" tanya Irfan.


"Kami baik Kak!" jawab Kinanti dan Yusra.


"Mmm .... Lana, pulang sekolah ada acara, tidak?" tanya Jovan.


"Memang nya kenapa Kak?" tanya Allana. "Kalau bisa, Kak Jo mau ajak Lana makan siang! gak jauh, sekitar sini saja." jawab Jovan.


"Gak bisa Kak! kalau kita berdua baru bisa," samber Yusra. "Hu'uh," timpal Kinanti.


"Loh, memang Lana, ada acara lain yah?" tanya Heru.


"Emm .... bagaimana yah Kak! aku sih tidak ada acara apapun, tapi .... seperti nya tidak bisa deh kak!" jawab Allana.


"Ouh, masih saja di protect Mama mu yang jutek itu ya?" tanya Irfan dengan senyum ledekan.


"Kak Irfan!" pekik Yusra dan Kinanti. Sedangkan Allana menatap nyalang ketiga mantan kakak kelas nya itu.


Tanpa rasa bersalah, kini mereka sedang cengengesan, seolah meledek Mama nya Allana yang terkenal jutek pada cowok yang mendekati Allana.


Air mata Allana sedetik itu pun mengalir, membuat ketiga laki-laki itu tertegun heran.


"Lana, maaf! kami tidak bermaksud mengatai Mama mu," ujar Heru. "Sudahlah Kak! Lana permisi." Allana meninggalkan mereka, ia segera berlari menuju toilet sekolah.


"Kakak bertiga, tahu atau tidak?" bentak Yusra. "Apaan?" tanya serempak mereka.


"Mama nya Lana, baru saja meninggal!" pekik Yusra lagi.


"Haaah?!!


Apa?!


"Innalilahi wa innailaihi Rodjiun!"

__ADS_1


Ucap mereka akhirnya setelah rasa terkejut nya sirna.


"Kapan tepat nya?" tanya Jovan.


"Empat hari yang lalu!" pekik Kinanti, matanya berkaca-kaca.


"Lana!" Yusra berlari menyusul Allana ke arah toilet. Begitu pun dengan Kinanti, tanpa pamit kepada tiga lelaki itu, Kinanti mengikuti jejak langkah Yusra.


"Lo si Fan!" ucap Heru. "Iya nih Fan." timpal Jovan. "Eh gue gak tahu, biasanya juga kan kita ledekin Allana. Lo tahu kan, gue suka Allana dari doi kelas satu." tukas Irfan, ia pun merasa bersalah.


"Tepat nya kita! dan satupun belum ada yang berhasil mendapatkan nya." senyum miris Heru.


"Iya friends! Allana tuh terlalu berharga kalau di dapat dengan cara instan." Timpal Irfan.


"Betul banget! kita tetap bersaing sehat yah untuk mendapatkan nya!" ucap Jovan.


"Yoi friends." ucapan serentak mereka bertiga.


"Ya sudah, nanti pulangnya gue minta maaf deh!" ucap Irfan.


"Ok Fan, gue setuju! Sekarang kita ke Aula aja yuk, seperti nya anak-anak sudah nunggu di sana," ajak Heru.


"Come on Her!" Mereka kembali berjalan ke arah tempat yang mereka tuju.


"Berarti sekarang kita aman dong, Kalau mau deketin Allana." ujar Heru.


"Iya juga yah! wah gue betul-betul harus terlihat menyesal nih, saat minta maaf nanti. Agar Allana terenyuh." ujar Irfan.


"Gue dukung!" ucap Heru. Mereka tidak bersuara lagi, hingga sampai pada Aula yang khusus untuk olahraga basket.


Di toilet sekolah,


"Lana sudah yah! Jangan nangis lagi, mereka tidak tahu, kalau Mama kamu sudah meninggal." bujuk Yusra.


"Tidak Koq, aku hanyalah ingat Mama, biasa juga mereka selalu seperti itu, namun untuk kali ini, aku merasa sedih. Aku harus kuat, mereka tidak tahu kalau Mama sudah gak ada. Kalau pun mereka tahu, pasti tidak melakukan hal itu." Allana mencoba tersenyum dengan sisa air matanya.


"Uuuu Lana, kami sayang Lana!" Yusra memeluk Allana. "Yang penting kamu berada di tangan yang tepat dan pacar impian, hihi." Kinanti pun ikut memeluk Allana.


"Terima kasih, kalian memang my best friend forever!" ucap Allana.


"Iya dunk! kitaaa .... kepompong yang tumbuh bersama, menjadi kupu-kupu cantik bersama, akan dewasa dan menua sama-sama dan akan selalu bersama selamanya." pekik mereka di akhiri dengan tawa.


"Sudah yuk! tadi kata Pak Yusuf kan suruh kita ke lapangan timur, untuk gabung dengan dengan yang lain." ajak Kinanti.


"Yuk!"


Mereka bertiga pun keluar dari toilet dengan saling bersenda gurau.


Saat mereka keluar, berpapasan dengan murid lainnya. "Miranti," panggil Allana lembut dengan tersenyum.


Yang di panggil tidak merespon apalagi menjawab. Ia malah menatap sinis Allana dan kedua sahabatnya.


"Heh, penparang! (pencuri pacar orang) sahabat gue lagi nyapa elu, jawab!" sarkas Yusra.


"Heh!" hanya itu yang keluar dari mulut Miranti dengan cibiran nya.


"Hei, apa susah nya jawab! Lan, kamu kurang kerjaan banget pakai nyapa utek-utek yang memang gak ada hati dan sudah mencuri pacar kamu." hardik Kinanti.


"Kurang ajar yah kalian, gue bukan utek-utek (jentik nyamuk)." pekik Miranti.


"Kalua bukan utek-utek, apa namanya? ulat bulu hah, iuuuhh gelaaaayy binti gattal! setiap kita deket sama cowok, lo celamitan. Pingin memiliki cowok itu juga. Ambil tuh si Leo, asal Lo tahu! Lana udah punya pengganti yang lebih dari Leo segala- galanya." teriak Yusra lagi.

__ADS_1


"Sudah lah, kita pergi dari sini saja." ajak Allana dengan paksa.


Allana menarik kedua sahabat nya agar tidak terjadi keributan lagi. Mereka meninggalkan Miranti yang terlihat kesal.


Kini mereka sudah kembali pada pelajaran yang sudah di jadwalkan. Pengambilan nilai praktek shalat, wajib, Sunnah dan zenajah. Setelah nya pengambilan nilai pelajaran olahraga. Lari, lempar lembing, dan yang lainnya.


Waktu nya pulang pun tiba, kini sudah pukul dua belas siang. Allana dan kedua sahabatnya sedang berjalan menuju area parkiran, mereka akan memesan taksi online di sana.


"Hadduh badan rasanya pada pegal yah!" ucap Allana.


"Iya nih!" timpal kedua sahabatnya.


"Sampai rumah, pokok nya kita harus perawatan nih. Luluran, maskeran, berendam susu, pakai air hangat, uuu nyaman banget deh!" ujar Allana Kembali.


"Harus itu, tambah aroma teraphy juga Lan." Sambung Kinanti.


"Yups betul banget, duuh pingin cepat sampai rumah Lana." celoteh Yusra.


Hingga seseorang memanggil Allana. Ketika Allana menoleh itu Irfan. Heru dan Jo pun masih ada di sana.


"Kak Irfan," gumam Allana.


"Lana. Kak Irfan sungguh minta maaf, Kak Irfan tidak tahu kalau Mama Lana sudah tidak ada," ucap penyesalan Irfan.


"Iya, kami tidak tahu." timpal Heru.


"Kami turut berduka cita sedalam-dalam nya yah." sambung Jovan.


"Sudahlah Kak! tidak mengapa, terima kasih atas simpati kalian."


Allana pun bersalaman dengan mereka. Mereka tidak menyadari sebuah mobil, baru saja masuk ke area parkiran.


"Lana kalau butuh apapun, jangan sungkan yah! kami akan ada untuk Lana." ucap Jovan dengan menggenggam tangan Allana tanpa permisi.


"Emmm..." suara deheman yang berada di belakang Allana, sontak membuat mereka menoleh.


"Papa!" gumam Allana saat ia lihat siapa yang datang.


Tatapan tajam Damar tertuju pada genggaman tangan Jovan yang sedang menggenggam tangan Allana.


"Perkenalkan saya Papa nya Allana." ucap dingin Damar.


Damar terlihat rapi, memakai kemeja dan juga dasi serta celana bahan model kekinian, juga sepatu hitam mengkilap. Tadi pagi ia berangkat hanya menggunakan kaus dan jacket serta celana jeans dan juga sepatu sport.


Membuat Yusra dan Kinanti menatap Damar tidak berkedip dan menganga, hampir saja meneteskan cairan dari mulut mereka.


"Hai Om!" sapa ketiga laki-laki di hadapan nya. Allana yang tahu Damar menatap ke arah tangan nya yang sedang di genggam Jovan pun segera menarik paksa tangan nya.


"Lana, masuk mobil!" pinta Damar dengan suara lembut namun dengan tatapan tajam, menunjuk pada mobil hitam yang baru saja ia parkiran.


"Ba-baik Pah! Ayuk," Allana menuruti Damar dan segera berjalan ke arah mobil, sambil menarik kedua sahabat nya.


"Permisi!" seru Damar dengan tatapan dingin pada Heru, Irfan dan Jovan.


"Silakan Om!" seru ketiga nya, hingga kini Damar masuk ke dalam mobil dan tidak terlihat lagi.


"Itu Papa nya Allana? yakin bro?" tanya Irfan. "Iya, muda banget." timpal Jovan.


"Gue gak yakin! waaah .... seperti nya, saingan kita nambah men!" seru Heru.


"Hooh." timpal Jovan dan Irfan yang nampak lesu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2