Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
18. Malam Peratama Yang kesiangan.


__ADS_3

Warning!!!


Mengandung Konten hubungan halal atau 21+, Di bawah umur dan belum menikah, mohon berbijak kepada diri sendiri dalam mencari bahan bacaan. Terima kasih.


Keesokan paginya,


Setelah melaksanakan Shalat Subuh, Damar pun hendak tidur kembali dan memeluk Allana. Ia tidak membangunkan Allana. Karena Damar fikir Allana masih kedinginan.


Namun sepertinya Allana terganggu oleh pergerakan tubuh nya. Ia menggeliat dan membuka mata nya perlahan. Lalu menatap Damar sayu.


"Ada apa? Neng! masih kedinginan?" tanya Damar dengan berbisik.


"Sudah enggak Pah! Lana mau shalat." Ucap Allana namun tubuh nya makin menempel pada tubuh Damar.


"Tidak ada perlengkapan shalat untuk mu di sini," tukas Damar. "Papa saja memakai pakaian yang semalam." tandasnya lagi.


"Yaah! bagaimana dong?" Allana nampak kecewa. "Pihak hotel mungkin punya Pah!"


"Kurang tahu! Coba Papa telepon terlebih dahulu untuk menanyakan nya."


Damar pun menelpon ke meja receptionis. Beruntung apa yang di butuhkan nya ada. Namun di butik hotel. Maka dari itu Damar harus membeli nya. Damar pun setuju.


"Kalau begitu, saya juga pesan dua buah dress dan satu buah lingerie lengkap dengan dalaman nya, berukuran S. Sebutkan saja total nya. Saya bayar dengan E-Banking atas nama Damar Alfian. Tolong, langsung antar ke kamar 128." Damar pun mengakhiri telepon nya. Lalu ia membuka aplikasi E-banking dan mentransfer sejumlah uang.


"Pah! lingerie? ma-maksud Papa, baju kurang bahan dan transparan itu?" tanya Allana.


"Hehe! ia sayang!" Damar tersenyum menggoda.


"Jangan bi--"


Tok! tok! tok!


Pintu kamar hotel di ketuk. Otomatis kata-kata Allana terpotong karena Damar segera beranjak dari tempat tidur dan menghampiri ke arah pintu.


"Sayang! sebentar. Seperti nya, itu petugas hotel yang hendak mengantarkan pesanan Papa." Allana mengangguk dan Damar membukakan pintu hotel.


Damar kembali dengan paper bag di tangan nya. "Nih sayang! mukena dan pakaian mu!"


"Lokh itu yang di paper bag satunya, isinya apa Pah?" tanya Allana, karena ia hanya menerima mukena dan lingerie.


"Dress. Itu untuk nanti. Nah sekarang kamu ambil wudhu, lalu shalat. Setelah Shalat, pakai lingerie ini." Pinta Damar dengan memeluk Allana.


"Kita mau --- Subuh-subuh begini?" tanya Allana dengan menautkan kedua jari telunjuk sebagai isyarat.


"Hehe .... Kita akan melakukan malam pertama di akhir malam. Anggap saja malam pertama yang kesiangan. Boleh yah? Neng, sudah sembuh kan dari hawa dingin nya?" Damar menyeringai canggung

__ADS_1


"Ahahaha Papa ada-ada saja. Boleh koq Papa! siapa yang mau melarang! Saat ini Papa rajanya. Lana sudah sembuh koq. Tapi bantu Lana ambil wudhu dulu." Rengek manjanya Allana sudah kembali. Membuat Damar gemas ingin segera memetakan keinginan hasrat nya yang mulai menguasai diri nya.


"Baiklah ratu kesayang nya Papa!" Damar menggendong Allana ke kamar mandi. Ia menurunkan Allana dekat shower. Allana mengambil wudhu. Setelah nya, Damar menunggu di luar kamar mandi.


Setelah berwudhu, Allana pun melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat, kini saat nya tiba untuk mengenakan lingerie.


"Neng sayaaaang! kamu tidak bisa memakai nya ya? koq lama?" panggil Damar lembut.


"Bisa koq Pah!" sahut Allana dari arah kamar mandi.


Sudah sepuluh menit Allana di kamar mandi. Ia sedang merasa ketar-ketir saat ini. karena ia tahu arah tujuan Damar menginginkan nya memakai lingerie.


Kemarin-kemarin, padahal dirinya lah yang selalu menggoda Damar. Namun kali ini keberanian itu mendadak sirna begitu saja.


"Sayang!"


"I-iya Pah! ini sudah!" Allana berdiri di ambang pintu kamar mandi.


"Masya Allah. Kamu cantik sekali Neng!" puji Damar.


"Hehe." Allana malu-malu. Damar pun tersenyum simpul. Lalu ia menghampiri Allana.


"Neng kenapa? koq gugup? bukan nya biasanya Neng yang menggoda Papa? sekarang boleh dong, gantian, Papa yang menggoda kamu.


"Mmmm .... Papa tidak takut kena tendang lagi?"


Damar dan Allana tidak ada yang bicara kembali. Tatapan mereka berdua yang saling mengagumi, akhir nya di manfaatkan Damar untuk pemanasan sebelum menuju olahraga pagi hari itu.


Keduanya saling melengkapi dengan berjibaku pada bibir masing-masing. Makin lama permainan pun makin menuntut. Pada Akhirnya mereka sudah sama-sama Polos dan mulai menjelajahi tubuh mereka secara bergantian, bergumul bebas di atas kasur. Mulai dari leher, dada hingga kebagian tubuh lainnya.


Damar terdengar melafalkan sebuah doa. Allana nampak pasrah di bawah penguasaan Damar.


Kali ini Damar melakukan nya dengan waspada, ia takut jika Allana kembali ketitisan kekuatan angin ****** beliung yang dapat membuat nya terbang dari atas tubuh Allana.


"Sudah siap, kan sayang?"


"Sudah Pah!" jawab Allana sembari memejamkan rapat matanya.


"Buka, matamu. Tatap Papa!" pinta Damar.


Allana pun menuruti. Ia tatap wajah Damar yang berada di atas tubuh nya yang siap meluncurkan roket masa depan nya.


"Paaah sa- kiiit!"


Allana menjerit dan memberontak di bawah tubuh Damar. Ternyata Damar telah berhasil meluncurkan roket masa depan nya menembus lapisan awan cumulonimbus milik Allana.

__ADS_1


Namun kali ini Damar lebih siap dan sigap dalam menahan amukan jurus angin ****** beliung nya Allana.


Allana hanya mampu terisak setelah menggigit dagu Damar dan mencengkram rambut serta leher Damar secara brutal. Damar hanya menerimanya dengan ikhlas. Anggap saja sebuah pengorbanan, karena Allana pun sudah dengan ikhlas mengorbankan kesucian untuk nya.


"Tahan sayang!" pinta Damar dengan lembut. Ia kecupi bagian telinga Allana yang mampu membuat Allana tambah meronta. Bukan karena sakit, namun lebih ke geliat geli dan keenakan.


"Ma'afkan Papa!" bisik Damar di sela cumbuan nya.


"Ia Pah! teruskan Pah! koq malah diam," pinta Allana dengan polos nya.


"Baik sayang!"


Damar mengekeh mendengar perintah Allana yang terdengar menggelitik. Damar kembali memulai apa yang tadi sempat terjeda karena teriakan kecil Allana.


Kini keduanya memulai dengan saling melengkapi dan memberikan rasa bahagia.


Hingga petualangan si roket dan si awan berkahir karena hujan deras yang turun dan membanjiri sebuah tempat bakal bersemayam nya calon Damar Junior.


Nafas keduanya saling bersahutan. Damar masih menetralisirkan keadaan tubuhnya. Begitupun dengan Allana. Mereka berdua hanya diam dan saling berpelukan di dalam selimut.


"Terima kasih Neng,"


Damar mengecup dalam kening nya Allana. Sebagai rasa terima kasih yang tidak dapat terucap.


Allana hanya mengangguk! Damar merasa bingung dengan balsan Allana.


"Neng, koq diam? Neng menyesal yah telah melakukan ini dengan Papa?" tanya Damar sehati-hati mungkin.


"Tidak Pah! Lana ikhlas dan bahagia." Allana menatap Damar dengan tersenyum.


"Lalu, apa yang membuat Neng, diam dan nampak risau?" tanya Damar.


"Lana sedang bingung, bagaimana cara Lana berjalan, kan sudah tidak per*wan lagi." jawaban polos Allana.


Damar tertawa mendengar pengakuan polos Allana. "Neng! kamu tuh gemesin banget sih! ya tinggal jalan seperti biasanya, memang harus bagaimana?"


Allana meringis karena Damar menarik hidung nya. "Hehe. Takut nya nanti Lana tidak dapat berjalan normal. ya bisa saja kan berjalan dengan ngangkang."


"Astaghfirullah'aladzim, Neng! ya mana ada orang habis di perdayai, jalan nya begitu!" celoteh Damar.


"Yah kan sakit Pah! maka jalan nya gak boleh merapatkan kedua kaki, agar lukanya cepat sembuh. Mirip orang selesai di khitan Pah! kan kalau orang selesai Khitan juga kalau jalan ngangkang pakai kain sarung." Lagi-lagi kicauan Allana membuat Damar tertawa.


"Hadduh Neng! kamu tuh titisan anggota Srimulat juga ternyata." Damar mengekeh.


"Papa! cukup ikh. Lana kan malu!" pekik Allana sembari menyusupkan wajah nya di dada bidang nya Damar.

__ADS_1


"Makanya biar gak malu. Sini Papa buat Lana agar malu-maluin di hadapan Papa." Goda Damar dengan kembali menguasai tubuh Allana dan berkomando melepaskan kembali roket masa depan nya untuk bersatu dengan tubuh Allana, sebagai sarapan mereka hingga nambah berkali-kali. Agar cara jalan Allana betulan ngangkang.


Bersambung ....


__ADS_2