
Keesokan paginya.
Allana yang sudah tahu ia hamil, maka sudah terbiasa dengan keadaan nya pada pagi hari.
Setelah shalat subuh. Allana melipat mukena nya dan menyimpan nya di atas nakas. Allana memperhatikan perut nya secara seksama. Kemudian membelai nya lembut.
"Hem, tidak menyangka, semuda ini, aku akan menjadi ibu! Andai A Damar tahu, apa ya reaksi nya?" gumam Allana.
"Sayang!" tiba-tiba Damar masuk ke kamar, ia baru saja pulang berjamaah Subuh dari Mesjid.
"Eh, sayang sudah pulang! Lana belum menyiapkan sarapan." Ucap Allana.
"Tidak mengapa, bisa nanti. Masih saja mual dan pusing, sayang?" tanya Damar sembari memeluk Allana dari belakang dan mengecup pelipis Allana.
"Sedikit! nanti juga baikan A! O yah, nanti malam Lana ingin mengajak A'a makan malam di luar? A'a ada waktu?" tanya Allana dengan memandang pantulan mereka berdua di dalam cermin yang sedang mereka hadapi.
"Insya Allah ada. Pukul berapa? nanti mau Aku jemput atau bagaimana?" tanya Damar kembali.
Tangan kanan Damar mengelus lembut perut Allana. Seakan ia sedang berfantasi bahwa ada bayi di dalam sana. Mungkin itu naluri seorang Ayah. Padahal jika saja ia tahu, bahwa Allana sudah hamil, mungkin Damar akan berjingkrak ria.
"Ba'da Isya saja, tidak perlu di jemput. A'a lupa? semalam pulang dengan ku, naik mobil. Kan motor A'a masih ada di parkiran Mall." ucap Allana.
"O ia, A'a lupa sayang. Baiklah! Aku reservasi restoran nya. kamu langsung ke sana dan nanti Aku menyusul."
"Baik A'a sayang! terima kasih, Nanti Lana yang antar A'a ke kantor." Allana berbalik menghadap Damar. Ia berjinjit dan melingkarkan kedua tangannya pada leher belakang Damar dan Damar pun mengerti.
Satu kecupan dari Allana malah memancing gairah pagi untuk Damar. Kini mereka pun sudah berlabuh di atas kasur, memberikan sentuhan satu sama lain dan saling melengkapi.
Perpaduan suara erangan dan juga desahan Damar serta Allana menggema indah dalam kamar tersebut, bersaing dengan suara kicau burung gereja yang baru saja mulai mengepakan sayap nya hendak mencari rezeki.
"Sayang, pelan-pelan yah!" Pinta Allana.
"Biasanya juga pelan. A'a kan tidak suka main kasar." Balas Damar dengan agak bingung.
"Hehe. Maksudnya lebih pelan dari biasanya." Seringai Allana.
"Baiklah Princess!" cup! Damar kembali mengecup bibir Allana dan melanjutkan aktifitas gulat kasur pagi hari tersebut.
Tiga puluh menit berlalu.
Allana dan Damar tengah menyetabilkan detak jantung dan juga tenaga yang sempat bekerja sedikit ekstra karena berpacu nya darah yang lebih cepat mengalir akibat adrenalin yang meningkat.
__ADS_1
"Sayang, ada kelas pukul berapa?" tanya Damar.
"Pukul sebelas. Masih ada waktu untuk tidur sebentar, Sayang!" ucap Allana.
"Baiklah, Aku juga ngantor agak siangan saja. Bubu dulu yuk sayang! baru pukul setengah tujuh. Di luar mendung seperti nya." ujar Damar.
"Baiklah! Ho'oh mendung A, enak bubu lagi nih, hihi." Allana dan Damar tarik selimut kembali dengan berpelukan, membiarkan tubuh mereka tetap ber polos ria.
***
Pukul sembilan tiga puluh.
Damar dan Allana sedang dalam perjalanan. Allana yang mengemudikan mobil. Damar duduk santai di bangku penumpang sisi kiri Allana.
"Sayang! semalam Aku bermimpi menangkap Ayam," ujar Damar, memecah keheningan.
"Hehe! Ayam nya tertangkap atau tidak?" tanya Allana dengan menyeringai. Merasa lucu dengan mimik wajah Damar saat menceritakan mimpi itu.
"Tertangkap Sih. Ayam nya laki-laki, sayang." ucap Damar polos nan menggemaskan.
"A ha ha! A'a sayang, kalau untuk ayam itu jantan, bukan laki-laki." Allana tertawa sembari menarik pipi Damar, setelah menoleh sebentar lalu ia fokus kembali pada jalanan.
"Hihi! O yah, kata Bapak-bapak di Mesjid, kalau kita bermimpi menangkap ayam. Apalagi ayam nya laki- la....."
"Heee, ia jantan! maksud ku. Mitos nya, itu pertanda akan memiliki Bayi, sayang." Ucap Damar dengan antusias.
"O yah! wah .... walaupun itu hanya mitos, kita Aamiin kan saja! semoga aku hamil, sayang," Allana tersenyum. Damar pun mengangguk.
Lalu Allana pun berbicara di dalam hatinya. "Andai saja kamu tahu, bahwa saat ini memang sudah menjadi calon Papa! dapat di pastikan, kamu akan melonjak kegirangan A. Tunggu sayang, hingga malam ini, kamu akan berjingkrak ria mendapatkan kejutan dari ku."
"Sayang! Aku koq kepingin mengelus perut mu lagi. Rasanya nyaman sekali ketika mengelus perut mu, boleh?" Damar menatap Allana penuh pengharapan, seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada Ibu nya
Allana mengekeh. "Koq jadi terbalik, aku yang harus nya bermanjaan, ini malah A'a sih!atau mungkin .... bawaan bayi."
"Bisa jadi!" Damar mengekeh. Menganggap Allana sedang berkelakar. "Boleh sayang, mengelus perut nya?" tanya Damar kembali.
"Tentu boleh A'a sayang! silakan," jawab Allana yang membuat Damar sumringah.
Tak pikir panjang, Damar segera menggeser tubuhnya, ia bersandar pada bahu kiri Allana dengan tangan kanan ia selipkan pada pinggang Allana dan tangan kirinya ia telusupkan di balik kaus Allana, kini tangan nya mengelus kulit perut Allana.
"Eum! nyaman sekali rasanya. Jantung A'a dag-dig-dug Neng." ujar Damar sembari memejamkan mata dan mengecupi pelipis Allana.
__ADS_1
Allana hanya tersenyum simpul. Sesekali Allana mengecup wajah Damar sekenanya. Karena matanya tetap fokus ke jalanan di depan nya.
**
Setelah Allana mengantarkan Damar ke kantor nya. Ia bergegas ke rumah Kinanti. Allana telah memiliki janji dengan Mama nya Kinanti hendak ke dokter kandungan.
"Tidak menunggu Kinan pulang, sayang?" tanya Mama nya Kinanti, setelah Allama duduk di ruang keluarga.
"Sepertinya Kinan dan Yusra pulang sore Tan, Lana butuh hasil USG ini kan untuk nanti malam."
"Oiya. Tante lupa! kalau Lana hendak membuat kejutan untuk Nak Damar." Ujar Mama nya Kinanti.
"Mari berangkat Tan, nanti keburu jam praktek dokter nya berakhir." Ajak Allana.
"Marilah, sayang!"
**
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit lamanya. Kini Allana dan Mama nya Kinanti sudah berada di ruangan dokter kandungan.
"Alhamdulillah, janin dan kondisi si Ibu dalam keadaan baik. Dari hasil USG, usia kandungan nya sudah masuk bulan ke tiga kurang dua minggu." Ucap dokter kandungan.
"Itu calon bayi saya, dok?" tanya Allana begitu sumringah, menunjuk pada layar monitor USG, ketika melihat titik gumpalan yang belum terlalu besar.
"Betul. Belum terlalu besar, karena baru titik gumpalan saja." Jawab dokter.
"Masya Allah." Ucap kagum Allana. "Saya sering mual dan pusing di pagi hari dok. Lalu menjelang siang, hingga malam akan normal kembali." Keluh Allana.
"Pada trimester pertama kehamilan, itu normal Dek! tidak mengapa, sabar saja! nanti saya buatkan resep untuk mengurangi rasa mual dan menghilangkan pusing." Ujar dokter.
"Terima kasih dok." Ucap Allana, dokter pun tersenyum, lalu kembali ke mejanya. Hendak membuat resep obat untuk Allana.
"Baik pemeriksaan sudah selesai. Ini ibunya?" tanya dokter kepada Mama Kinanti."
"Betul dok! saya Ibunya, karena suami nya sedang bekerja, jadi sayang yang mengantar melakukan pemeriksaan." Jawab Mama nya Kinanti.
"Baiklah! ini ada resep untuk Vitamin dan obat mual serta pusing. Jika mual nya sudah tidak terasa, boleh berhenti mengkonsumsi obat mual nya."
"Tentu dok!" Allana pun merapikan pakaian nya, lalu turun dari berangkar pasien dan bergabung di meja dokter.
"Tolong di perhatikan saja susu dan vitamin nya. Jika ada keluhan, segera hubungi saya." Ujar dokter kandungan.
__ADS_1
"Baik dok!" ucap serempak Allana dan Mama nya Kinanti.
Bersambung ....