
Pukul sepuluh siang.
Damar baru tersadar dari lelap nya. Allana masih terlelap dengan memeluk nya. Ia tidur dengan menindih separuh tubuh Damar dengan kepalanya berbantalkan dada nya Damar.
"Astaghfirullah!" lirih Damar dengan merenggangkan otot otot nya.
Damar mengingat aktivitas nya bersama Allana dari sejak subuh hingga pukul delapan pagi tadi. Damar baru berhenti setelah Allana merengek meminta untuk nya menyudahi kegiatan mereka.
"Hem! Neng .... terima kasih. A'a amat bahagia," gumam Damar dengan memandangi Allana yang masih terlelap.
"Neng! bangun, mari mandi. Lalu kita makan, perut A'a rasanya lapar sekali." Panggil Damar pelan dengan mengelus Pipi Allana.
Damar menyebut dirinya A'a untuk Allana, karena Allana sendiri yang meminta nya untuk mengganti Panggilan Papa dengan A'a.
Ingatan Damar saat sebelum tidur, dan sedikit berbincang dengan Allana.
"Neng, sudah bubu ya?" tanya Damar dengan suara yang memanjakan Allana, karena Allana saat sedang manja ia selalu menyebut kata tidur dengan bubu.
"Belum ...eeemm...!" jawab Allana malu-malu dengan menyusup kan wajah nya di lengan Damar.
"Ada apa?" Damar mendengar sebuah keraguan yang keluar dari mulut Allana Ketika hendak menyebut 'Papa' atau 'Pah'. Damar faham akan itu.
"Hehe. Mmm .... Lana malu, masa sudah di bubuin masih manggil Papa. Memang nya ada Pah, Seorang Ayah ngebubuin Anak nya?" tanya Allana terdengar polos dan juga nyeleneh.
"Ada!" jawab Damar dengan cepat.
"Hoooo, Astaghfirullah'aladzim. Akhir zaman. Siapa Pah?" tanya Allana kembali. Ia merasa terkejut.
"Papa! baru saja Papa bubuin Lana. Kan kamu Anak nya Papa!" Jawab enteng Damar dengan mengekeh. Ia bermaksud menyindir Allana.
"Ikh Papa. Gak lucu!" Allana cemberut dengan memukul pelan dada nya Damar.
"Gak lucu apanya? Lana menganggap Aku, sekedar apa? Papa, kan?" tanya Damar kemudian.
"Apa yah? mmm ..... seperti nya ia, Lana hanya menganggap Ayah atau Papa. Eh tapi Lana juga menganggap Papa, pacar." Ujar Allana.
"Lana tidak mau menganggap, Papa sebagai suami nya Lana?" tanya Damar dengan hati-hati takut Allana belum dapat menerima nya.
"Tidak Pah. Lana menganggap Papa sebagai Ayah dan pacar? memang itu belum cukup ya?" balik tanya Allana.
"Ya sesuka Neng saja. Walaupun Papa berharap Lana menjadi Istri dan bukan Anak nya Papa lagi Sebetulnya. Apalagi kita sudah bubu bareng. Tapi Papa tidak mau memaksakan apa yang Papa inginkan." Akhirnya Damar mengungkapkan keinginan hatinya.
"Suami? Istri? apa gak terlalu cepat yah. Lana masih ingin menganggap nya kita ini Anak dan Ayah." Ucap jujur Allana.
"Memang nya Neng gak risih gitu, kita berdua sudah melakukan hal intim suami Istri. Kedepan nya, hal tabu ini akan menjadi sebuah kebutuhan biologis. Lalu apa tanggapan Lana jika seorang Ayah bubuin Anak nya?" tanya lembut Damar.
"Iiishh, ya aneh, geli dengar nya. Masa Ayah bubuin Anak nya. Ikh amit-amit." Ucap Allana dengan meringis dan bergidik ngeri.
"Nah makanya. Masa Lana mau nganggap Aku, Papa untuk seterusnya." Ujar Damar.
Nampak Allana berpikir, seperti nya ia mulai faham dengan arah pembicaraan Damar. Untuk kali ini Damar pun bicara serius, ia tidak ingin terus-terusan di anggap Ayah oleh Allana. Ia ingin di anggap sebagai suami yang betul-betul suami.
"Ma'afkan Lana Pah. Ok, mulai saat ini, Lana akan menganggap Ka-kamu. maaf." Lirih Allana di akhir kalimat. "Maksudnya mmm...." Allana nampak kebingungan dalam menentukan panggilan baru untuk suaminya.
"Heeee .... sudahlah Neng! tidak perlu memaksakan diri. Mungkin kita hanya cocok dengan Karakter Ayah dan Anak. Bukan suami dan Istri." Walaupun Damar tertawa kecil, namun tetap saja terdengar nada kekecewaan dari nya.
"Pa .... ah, A!" ucap pelan Allana dengan menatap iba Damar. Walaupun ragu namun terdengar jelas ia menyebutkan A. Itu berarti untuk A'a.
__ADS_1
"Ia Neng." Damar memperjelas dengan yang baru saja ia dengar. Hatinya mulai bertalu-talu karena bahagia.
"A'a!" Allana tersenyum dengan ikhlas. "Mulai saat ini, Lana akan menganggap Papa adalah suami Lana seutuh nya tanpa adanya perasaan sebagai Anak. Maka dari itu, Lana akan memanggil Papa dengan kata A'a, karena A'a Damar pun memanggil Lana dengan sebutan Neng. Boleh kan, panggil A'a?"
Allana berbicara dengan nada serius dan terlihat dewasa. Damar begitu terharu.
"Tentu! tentu boleh Neng. Terima kasih sudah menganggap A'a sebagai suami kamu, bukan Ayah kamu lagi. A'a bahagia Sayang." Ujar Damar dengan binar kebahagiaan seraya mengecupi kening Allana.
"Lana pun bahagia A'a. Rasanya beda yah, di peluk A'a saat ini sebagai suami dan di peluk A'a tadi sebagai Ayah." Akunya Allana. Ia pun merasa lega dan bahagia. Rasa nya lebih nyaman dan ada desiran aneh di dalam aliran darah dan debaran berbeda di dalam qolbu nya.
Setelah percakapan itu. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk tidur, tentunya dengan kebahagiaan di dalam hatinya masing-masing.
Ingatan Damar kembali pada waktu saat ini.
"Neng, mari mandi." Ajak nya lagi.
"A'a saja deh. Neng masih takut untuk bergerak." Ucap Allana "Masih sakit." Bisik nya.
Damar tertawa dan menarik Pipi Allana dengan gemas. "A'a gendong Neng. Mau ya."
Damar membujuk Allana. "Baiklah. Tapi A'a gak boleh ngapa-ngapain Neng lagi."
"Ia. Janji gak ngapa-ngapain, kalau gak khilaf." Goda Damar dengan tertawa. Kebahagiaan nya sudah tidak dapat ia petakan dengan kata-kata ataupun gesture tubuh. Damar betul-betul bahagia sekali.
Akhirnya Damar mengangkat Allana menuju ke kamar mandi untuk mandi. Namun sepertinya Damar Khilaf dengan janji nya. Karena mereka tidak juga keluar dari kamar mandi, padahal kini sudah hendak masuk waktu Dzuhur.
***
Beberapa hari kemudian. Waktu berlalu dengan cepat. Allana pun kini sudah mendaftarkan diri sebagai mahasiswi di salah satu Universitas terkenal di Jakarta.
Damar dan Allana pun tengah di mabuk asmara setiap hari nya, walaupun belum ada yang menyatakan cinta dari salah satu nya namun kebersamaan dan kelakuan mereka sudah mencerminkan bahwa mereka saling mencintai. Namun mereka memilih untuk tidak mengakui nya.
"Sayang. A'a ke kantor dulu, gak sampai sore koq. Neng tolong siapkan kue-kue terlebih dahulu. Belanja di pasar tradisional saja. Minta di antar Mbak Mala. Dia sudah faham masalah belanjaan seperti itu. Uang untuk belanja nya nanti A'a transfer." Ucap Damar ketika baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Baik A'a sayang! sini pakai baju dulu, Neng bantu." Pinta Allana dengan menarik lembut tangan Damar.
"Terima kasih sayang." Damar memeluk pinggang Allana lulu
mengecup pipi Allana.
Allana membantu Damar berpakaian. Setelah nya menemani Damar sarapan.
"A'a berangkat ya, Neng!" pamit Damar. Ketika sudah selesai sarapan.
"A'a mau pergi ke kantor, naik motor?" tanya Allana ketika melihat Damar malah mengambil kunci motor.
"Ia Neng, biar cepat sampai." Jawab Damar.
"Naik motor, dengan memakai stelan jas begitu?" tanya Allana kembali dengan memperhatikan tampilan perlente nya damara.
"Ya memang nya kenapa? tuh di drama-drama Korea yang kamu tonton, juga mereka banyak yang naik motor memakai jas, katanya Neng, mereka keren. Coba lihat A'a. Keren juga tidak?" tanya Damar dengan menaik turunkan alis nya.
"Mmmmm.... bukan Keren lagi, tapi super keren, A!" puji Allana dengan mengacungkan ibu jarinya. Mereka pun tertawa bersama.
Selesai Allana mengecup punggung tangan kanan Damar dan Damar mengecup kening Allana, maka Damar pun dengan mengendarai sepeda motor nya berangkat menuju kantor.
Setelah Damar berangkat ke kantor, kini saatnya Allana membeli kue yang Damar pinta.
__ADS_1
"Mbak! gak takut lagi kan aku bawa naik mobil?" tanya Allana ketika sudah berada di dalam perjalanan.
"Tidak Neng. Sekarang Neng Lana sudah lihai bawa mobil nya." Ujar Mbak Mala.
Allana dan Mbak Mala larut dalam obrolan di sepanjang jalan. Setelah sampai di pasar tradisional mereka pun mencari apa yang mereka butuhkan.
Hingga siang hari mereka baru kembali. Allana menyimpan kue-kue yang akan di hidangkan.
Sedangkan untuk catering, itu urusan Damar.
**
Malam hari pun tiba,
Acara berkirim doa telah usai. Setiap selesai acara berkirim doa. Allana merasa ada kehampaan di dalam diri nya. Kehilangan akan Vianny kembali menghampiri, Walaupun Damar mampu menghibur nya, tidak dapat di pungkiri bahwa dirinya masih sering merasa rindu akan sosok sang Ibu.
"A'a mana sih! koq ngobrol sama teman-teman nya lama sekali. Aku ngantuk," gumam Allana.
Setelah para tamu, yaitu Ustadz para tetangga dan para tokoh di wilayah kediaman Damar berpamitan pulang, maka Damar yang juga mengundang teman- teman nya ia memilih mengobrol sebentar sebelum teman-teman nya pulang.
"A ....!"
Allana urung memanggil Damar, ia mendengar Damar sedang bercerita.
"Andai Vi, gak Aku suruh ke Bandung terlebih dahulu. Mungkin dia masih ada dan saat ini sedang dalam pelukan ku. Eh lucu gak sih, gak nyangka aja. Sekarang malah Anak nya yang harus hidup bersama ku, sebagai gantinya." Tutur Damar kepada teman-teman nya.
"A'a! jadi ....?!" gumam Allana.
"Ahahahaha. Gak apa-apa lah Mar. Malah kamu beruntung, dapat gadis ABG." Ujar salah satu teman nya.
"Ia Mar! memang sudah harus begitu Jalan dan takdir nya. Syukuri aja Apalagi nikmati mah. Itu Kudu, harus." celoteh teman lainnya.
"Ia, Alhamdulillah, Aku bersyu ....,"
"Aku gak nyangka Pah! Perangai Papa seburuk ini! dan ternyata Papa yang memaksa Mama untuk pergi ke Bandung? hingga kecelakaan ini terjadi. Jadi secara tidak langsung Papa yang sudah membuat Mama meninggal! dan di dalam hati Papa, diam-diam masih menginginkan Mama. Lalu Papa menganggap Aku apa? Lana kecewa terhadap Papa! Lana benci Papa." Teriak Allana, ia tidak perduli lagi dengan beberapa orang yang ada di sana.
Allana murka, dengan tiba-tiba ia keluar dari ambang pintu dan marah-marah serta memotong perkataan Damar yang belum sempat ia selesaikan.
Allana tahu nya, Mama nya pergi ke Bandung atas kehebatan nya sendiri, tanpa di suruh oleh Damara. ternyata itu yang terjadi selama ini.
Allana yang mendengar penuturan dari Damar dan di tambah guyonan teman-teman Damar. Maka telinga nya rasa terbakar, jantung nya bagai di sayat, berdetak lebih kuat dan serasa di cabik-cabik.
Sesak namun masih dapat bernafas. Perih namun tidak luka. Tergores namun tidak berdarah, itulah yang Allana rasakan saat ini di dalam dadanya.
Allana berfikir, Damar membodohi diri nya. Ternyata setelah Damar merenggut mahkota nya dan pernikahan mereka berjalan lancar, Damar menyembunyikan kebenaran, dan Damar masih memendam rasa terhadap Viany. Atau mungkin perlakuan baik nya selama ini karena rasa bersalah terhadap Ibu nya dan rasa iba terhadap anak yatim piatu yang hanya sebatang kara.
"Sayang! jangan begini. Dengarkan A'a dulu. Kamu salah faham." Ujar Damar berusaha menenangkan Allana dengan meraih tangan nya.
"Lepas! Aku gak mau di sentuh oleh orang yang sudah membuat Aku kehilangan Mama dan berpura-pura baik di depan, namun nyatanya, hatinya busuk." Hardik Allana dengan menangis, lalu ia berlari menuju luar pagar.
"Neng!"
Damar mampu memanggil Allana, namun kaki nya terpaku.
"Mar! hentikan dia, cepat!" ujar teman-teman nya.
"I-iya! nitip rumah, aku ngejar Lana dulu." Damar pun segera menyusul Allana dengan berjalan kaki.
__ADS_1
"Semangat Mar! bawa dia balik. kita tahu, dia cuma salah faham." Pekik teman-temannya Damar. Menyemangati.
Bersambung ....