Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
45. Mojang Bolong.


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya,


Setelah berpamitan kepada sahabat serta orang tua mereka dan juga tetangga nya di Jakarta. Allana kini sudah berada di Bandung. Ia sudah resmi menjadi penduduk kota Bandung.


"Cieee, jadi mojang Bandung!" goda Damar, ia kini berdiri di belakang Allana dengan sebelah kruk di tangan nya.


Hal yang paling ia rindukan, memeluk Allana dari belakang pada pagi hari di hadapan jendela yang menghadap ke arah persawahan yang mulai menguning dan perbukitan nan hijau menghampar.


"Hehe, mojang bolong dan tekdung (hamil)." Balas Allana dengan tersenyum dan meresapi pelukan sebelah tangan Damar, yang sedang mengitari perut nya dengan lembut.


"Neng! maafkan A'a ya, belum dapat menyediakan rumah di sini untuk mu! uang nya habis untuk berobat, maaf jika kamu tidak nyaman harus hidup di rumah mertua." Ujar Damar, namun ia tersenyum aneh di belakang Allana.


"Ish A'a apa sih! Lana tidak menganggap Ibu dan Bapak adalah mertua Lana! tapi mereka sudah menjadi orang tua Lana. A'a lupa, selama Lima bulan belakangan Lana hidup dengan siapa? Ibu dan Bapak kan?" tanya Allana.


"Hehe ia sih! ya kan beda sayang, kemarin kamu di rumah mu! nah sekarang kamu di rumah mertua mu! saat ini kita sedang menumpang hidup." Ujar Damar kembali.


"Ouh iya yah! Lana baru sadar lokh kalau kita sedang menumpang hidup dan menyusahkan mereka. Hihi!" Allana malah tertawa kecil.


"Koq tertawa?" Damar menarik pipi Allana dengan gemas.


"Lucu saja! Aku koq malah nyaman tinggal bersama Ibu dan Bapak. Memang ini yang aku inginkan! tinggal bersama mereka, terima kasih sayang! Sudah mau berbagi orang tua, yang super baik luar biasa hebat seperti mereka berdua."


Allana membalikkan tubuhnya. Ia menghadap Damar dan menatap nya dengan lembut.


"Ternyata menikah dengan A'a membuat aku mendapatkan banyak bonus. Selain Suami yang tampan dan baik hati, Aku dapat bonus seorang Mama dan juga seorang Ayah yang telah lama tidak aku miliki."


"Syukurlah Kalau Neng berfikir seperti itu. A'a bahagia mendengar nya." Cup, Damar mengecup kening Allana dan Allana memeluk Damar.


Damar sengaja mengelabuhi Allana. Kini mereka ada di Bandung bukan sedang bertamu, melainkan untuk tinggal seterusnya.


Tanpa sepengetahuan Allana, Damar sedang mempersiapkan istana untuk Allana yang tidak terlalu jauh dari rumah orang tua nya.


Seperti nya Damar ingin menguji ketahanan Allana untuk beberapa saat hidup di rumah mertua, selain itu rumah yang akan mereka tempati masih dalam tahap finishing.


Namun Damar begitu bangga kepada Allana. Dengan sifat manja Allana yang tidak sungkan terhadap orang tua mereka. Maka Allana malah nampak baik-baik saja dan lebih bahagia tinggal di rumah orang tua nya.


Bagi Allana, ia tidak merasa terganggu jika harus hidup serumah dengan mertua nya. Toh mertua nya sebaik mereka. Itu terbukti selama lima bulan tinggal di Jakarta untuk menemani Allana. Orang tua Damar memperlakukan Allana seperti Anak sendiri.


Tok ... tok ... tok ...


Seseorang mengetuk pintu kamar Damar dan Allana. Otomatis membuyarkan kebersamaan mereka berdua.


"Ya, siapa?" sahut Damar dari dalam.


"Ibu! itu Ada Nak Linggar." Ternyata Ibunya Damar yang memberitahukan bahwa ada Linggar.


"Baik Bu! sebentar, Damar dan Lana ke luar," ucap Damar dan terdengar di iyakan oleh Ibu nya Damar.


"Mari sayang! kita temui Linggar dulu." Ajak Damar kepada Allana.


"Baik Yank!" Allana dan Damar pun segera keluar kamar dengan tangan bertautan.


"Hai Men!"


Sapa Linggar dari kejauhan saat Damar masih berjalan mengarah kepada nya.


"Hai! apa kabar lo?"


Damar membalas sapaan Linggar. Tidak hanya Linggar di ruang tamu tersebut, ada Hana Istrinya juga Cozy, putra mereka.


"Alhamdulillah baik men!"


"Kak Hana! Cozy!"


Sapa Allana dengan menghampiri Hana dan Cozy. Lalu saling cipika-cipiki.


"Lana, apa kabar?" tanya Hana.


"Kabar baik Kak! waah kita bisa sama-sama lagi nih kak. Sekarang tinggal berdekatan."


"Iya Lan! makanya main ke rumah kak Hana!" Pinta Hana.


"Tentu Kak! nanti kalau debay nya sudah lahir yah!" balas Allana.


"Boleh koq!"


"Zy! Ante Lana rindu," ucap Allana pada Cozy.


"Zy pun! Ante, kapan Dedek bayi nya Cozy bisa di ajak main? Zy punya mobil balu," celoteh Cozy.


"Sabar dong ganteng! sebentar lagi," Damar yang menjawab nya.


"Iya, Ayah!" Cozy pun mengangguk.

__ADS_1


"Mar! bagaimana perkembangan pengobatan nya?" tanya Linggar.


"Alhamdulillah baik Ling! nih lihat, gue sudah memakai satu kruk," Damar memamerkan satu kruk yang berada di sisi nya.


"Alhamdulillah! gue ikut bahagia Mar!" ucap Linggar. Allana dan Hana nampak asyik mengobrol topik lain.


"Berkat Lo bawa photo USG calon anak gue Ling! semangat untuk sembuh begitu tinggi." Ucap Damar mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


"Ah lo bisa saja! gue hanya gak mau rumah tangga lo jadi berantakan, gara gara lo usir Lana dari sini." Ujar Linggar dengan tersenyum, begitu pun dengan Damar yang juga ikut mesem.


POV Linggar.


Malam itu, malam dimana Damar di tangani oleh dokter di dalam ruangan, ketika Damar di nyatakan masihlah hidup.


Tidak berapa lama, Aku tercengang, Allana sudah berada di antara kami. Memeluk Hana dengan menangis histeris.


"Kak Hana, tidak mungkin! A Damar, belum meninggal kan? Kak! aku belum siap hidup sebatang kara setelah kepergian Mama." Racau Allana.


"Kak! tolong A Damar! katakan mereka berbohong. A Damar masih hidup!" Teriak Allana kembali dengan masih memeluk Hana. Aku langsung duduk dengan tubuh yang limbung.


Belum sempat Aku bicara apapun! Allana menggedor pintu ruangan yang terdapat Damar di dalam.


"A Damar! Lana tahu A'a belum meninggal! Kembali lah pada ku, sayang!" Allana makin histeris dengan memukul- mukul pintu ruangan tersebut.


"Lana ....!" panggil ku lirih. Namun Allana tidak merespon. Ia malah menangis dengan meraung-raung dan duduk di lantai.


Tas nya terlempar dan mungkin kotak itu terjatuh. Akhirnya tangis Allana tidak terdengar lagi. Hana mampu menenangkan nya. Ia pun nampak duduk dengan tenang dalam pelukan Hana.


Seperti nya Hana sudah memberitahu Allana, kalau Damar masih hidup dan sedang di tangani dokter di dalam.


Saat Aku akan memapah Allana untuk berdiri, dokter keluar dari pintu di hadapan kami.


"Keluarga pasien Damar Alfian?" tanya dokter.


"Saya Istrinya Dok!" Allana segera bangkit. Ia menghampiri dokter begitu pun Aku.


"Alhamdulillah! Suami Anda sudah dapat kami tangani dari masa kritis nya. Namun maaf ia masih belum sadarkan diri. Kita akan menunggu perkembangan selanjutnya hingga satu jam kedepan. Semoga suami Anda dapat segera siuman." Ucap Dokter tersebut.


"Terima kasih dok."


Kami berucap syukur, walaupun masih dalam rasa was was karena Damar belum sadarkan diri. Namun kami berpikir positif.


Allana pun di persilakan untuk melihat keadaan Damar sebelum di pindahkan ke ruang lain nya.


"Kurang tahu, sayang! memang nya milik siapa?" tanya Ku.


"Ini milik Lana, seperti nya tadi terjatuh dari dalam tas nya." Jawab Hana.


"Baik! karena Lana nya masih di dalam, tolong simpan baik-baik. Seperti nya kotak hadiah. Nanti kamu kembalikan setelah Lana keluar dari ruangan Damar." Pinta Ku.


"Tentu sayang!" jawab Hana.


Hingga dua jam kemudian, Damar di nyatakan koma dan harus di rawat di ruang ICU.


Itu pun menjadi berita yang amat menguras emosi kami. Setelah Damar di dalam ruangan ICU, aku menelpon orang tua Damar dan pamit kepada Allana hendak mengantar Hana pulang serta membawakan Allana perlengkapan shalat dan pakaian ganti milik Hana, karena postur tubuh mereka tidak berbeda jauh.


Singkat cerita, Damar siuman. Kami kembali bahagia. Namun kebahagiaan kami tidak berlangsung lama. Karena Damar mengalami kelumpuhan. Hingga akhirnya mereka pergi ke Bandung.


Setelah satu minggu Damar di Bandung, secara tidak sengaja Aku bertemu Allana di sebuah minimarket, Aku terkejut karena yang aku tahu, Allana di Bandung bersama Damar.


"Ante Lana! Papa Ante Lana." ucap Anak ku, ketika tiba-tiba berlonjak kegirangan di antrian sebuah Kasir minimarket.


"Hai Cozy! sedang apa di sini?" Sapa Allana begitu sumringah, ketika melihat Cozy dalam gendongan Ku sedang memanggil nya.


"Beyi ec Kim." jawab Cozy.


"Lokh! Lana, bukannya di Bandung!" tanya Ku. karena Aku tahunya Allana ikut ke Bandung bersama Damar.


"Lana di usir A Damar Kak!" Allana meletakkan tiga dus susu hamil di atas meja kasir. Aku sempat melihat apa yang Allana beli.


"Susu hamil? untuk siapa?" Aku bermonolog sendiri, bertanya- tanya dalam hati.


"Bagaimana ceritanya, Koq bisa, kamu diusir Damar?" tanya Ku.


"Duduk sebentar Kak di depan, nanti Aku ceritakan. Oh yah, ini teman-teman kuliahku, Kinan dan Yusra." Allana pun memperkenalkan Yusra dan Kinanti. Kami pun akhirnya berkenalan.


Setelah membayar belanjaan. Kami duduk sebentar di depan minimarket tersebut. Allana menceritakan kejadian lusa kemarin.


Aku geram mendengarnya. Aku tidak menyangka, sahabat ku melakukan hal itu kepada istri kecilnya yang selalu di sayang dan dipuja nya.


Setelah Allana menceritakan semuanya, akhirnya Kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


Pikiran ku amat mengganjal saat itu. Tidak mengerti apa isi kepala Damar dan juga perasaan nya. Atau Damar sudah tidak waras? Lalu .... apakah ia tahu jika Allana hamil? ah tidak! ya ku rasa tidak! jika ia tahu Allana hamil, Damar tidak akan mengusir nya.

__ADS_1


Aku ingin sekali menanyakan ikhwal susu hamil tersebut. Namun Aku takut Allana akan menyangkal nya. Setelah ku sampai rumah, Aku ingat akan kotak kecil yang masih di simpan Hana dan belum sempat di kembalikan kepada Allana.


"Sayang! sayang!" panggil ku dengan tergesa.


"Iya, ada apa sih koq teriak-teriak?" tanya Hana Istriku.


"Ma'af sayang! kamu masih menyimpan kotak kecil milik Allana, kan?" tanyaku.


"Masih! untuk apa?" Hana balik bertanya.


"Bawa sini sayang, nanti aku jelaskan! Zy main sendiri dulu ya sayang." Pinta ku pada Hana lalu menurunkan Cozy dari gendongan Ku.


"Iya Papa!" jawab putra ku.


"Baik Sayang!" jawab Hana dengan bergegas ke arah kamar. Tidak berapa lama ia keluar dengan sebuah kotak kecil milik Allana.


"Sayang, nih kotak nya." Hana menyodorkan kotak tersebut.


"Terima kasih!" balas ku.


"Untuk apa? kamu mau mengembalikan nya?" tanya Hana.


"Mau lihat isi nya! baru nanti akan aku kembalikan." Jawab ku.


"Ikh gak sopan dong Yang!" Protes Hana. Aku menatap Hana, lalu aku menceritakan tentang Damar dengan Allana, begitu juga apa yang baru saja aku lihat.


Akhirnya Hana mau mengerti! Kami sepakat membuka kotak tersebut. Sesuai perkiraan, kotak tersebut membuat kami sumringah. Ya Photo hasil USG dengan dua buah hasil test kehamilan.


"Betul sayang! bukti kehamilan. Seperti nya kejutan untuk A Damar! namun Allana belum sempat memberikan nya." Ucap Hana.


"Sayang! Aku ke Bandung sekarang! Aku ingin Damar mengetahui hal ini, agar ia dan Allana kembali bersama." Ucap ku.


"Pergilah, Sayang!" Hana langsung mengizinkan ku pergi.


Akhirnya Aku pergi ke Bandung untuk menyampaikan kabar baik ini kepada Damar. Walaupun Aku kesal, karena ia menyuruh Allana pergi. Tetap saja, Aku perduli dengan Damar. Terutama rumah tangga mereka.


POV Linggar End.


Hari-hari berikutnya,


Semua berjalan dengan jadwal dan lancar. Dari Damar mulai menjalankan pengobatan di Jakarta, Hingga alternatif totok syaraf di sebuah rumah totok.


Setelah satu bulan lamanya perkembangan Damar lebih baik. Kini ia hanya menggunakan tongkat satu tangan dengan penyangga di bagian siku.


Malam itu, Damar yang sore nya baru saja pulang dari Jakarta setelah melakukan pengecekan dengan dokter orthopedi dan menginap dua malam di Jakarta. Ia sedang istirahat dengan bermesraan bersama Allana di kamar mereka.


"A, Lana Rindu!" Allana menyusupkan kepalanya pada dada bidang nya Damar.


"A'a pun sayang." Damar mengelus lembut punggung Allana. Belaian nya berpindah pada perut Allana.


"Dedek! Adik nya Papa, boleh nengokin Dedek yah di dalam?" tanya mesum Damar.


"Ikh Papa! bicara nya tak senonoh!" protes Allana dengan tersenyum seraya mencubit lengan Damar.


"Ahahahah! masa tidak senonoh, orang mau lihat hilal langsung ke dalam, Kapan Dedek lahir." tawa Damar pun pecah.


"Mana ada, dasar pikiran nya ngeres!" Allana cemberut.


"Umm lucu, calon ibu ini koq masih lucu gemesin!" Damar mengecup bibir maju nya Allana.


Allana pun membalas kecupan Damar. Namun makin lama kecupan itu berubah menjadi pagutan liar tak terkendali di antara mereka.


Di tambah lagi hawa dingin di kota tersebut, membuat si Ibu hamil dan si pelaku yang menghamili nya kembali bersatu dalam gejolak asmara yang tiada duanya.


Malam itu Damar junior membawa misi untuk menengok hilal kapan Dedek Bayi mereka lahir ke Dunia.


"Lalu kapan katanya Dedek meninggalkan perut Mama dan beralih ke pangkuan kita Pah?" tanya Allana kepada Damar setelah pergaulan halal nya selesai.


"Besok!" jawab asal Damar dengan tersenyum dan mengecup Pipi Allana.


"Hadeeuuww si Papa! sok tahu," Allana ikut mengekeh.


"Bubu sayang! kamu harus memiliki stamina untuk besok melahirkan." Pinta Damar.


"Memang nya besok sungguhan? belum ada tanda-tanda yang di sebutkan oleh dokter. Lagi pula HPL nya masih lima hari ke depan Pah!"


"Ya pokoknya persipan saja untuk besok, lahir besok atau hari lain. Kamu butuh istirahat sayang."


"Baik sayang!"


Allana dan Damar saling berpelukan untuk tidur, mereka pun terlelap secara bersamaan pada akhirnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2