Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
28. Hamil?


__ADS_3

Enam bulan sudah, usia pernikahan Allana dan Damar yang selalu di sirami cinta dan di pupuk kebahagiaan. Hingga rasa cinta mereka pun makin tumbuh subur.


Pagi itu,


Allana merasa kepalanya amat berat, biasanya ia akan bangun dan melaksanakan shalat subuh, setelah shalat subuh ia akan menyiapkan sarapan untuk Damar.


Sudah dari beberapa bulan lalu, Damar kembali pada kebiasaan nya, yaitu Shalat berjamaah di Mesjid kompleks.


Allana memaksakan bangun. Ia mengambil wudhu dengan memegangi kepalanya lalu pindah ke perut nya. Yang seperti nya, perut serta kepala nya kompakan sakit.


"A'a, Koq lama amat pulang nya." Gumam Allana, ketika Setelah shalat subuh merebahkan kembali tubuh nya, karena rasa sakit yang menyiksa.


Pukul enam sudah. Namun Damar belum juga kembali dari Mesjid. Allana memaksakan diri ke dapur untuk membuat sarapan. Namun rasa mual menguasai nya. Hingga ia mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Kini Allana memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Sepuluh menit Allana merebahkan tubuhnya di atas sofa. Damar pun baru saja pulang dan masuk pintu. Setelah berucap salam ia segera berjalan ke arah kamar.


Damar merasa heran. Biasanya Allana akan menyambut nya dengan ceria memeluk dan mencium nya di depan pintu. Setelah Damar dari manapun, termasuk ketika ia pulang berjamaah dari Mesjid.


Namun kali ini Allana tidak Nampak. Bahkan menjawab salam saja tidak Damar dengar. Biasanya di dapur terdengar bunyi masakan namun pagi ini pun sepi.


"Neng! kamu di mana? atau belum bangun yah?" panggil Damar. Ia segera menuju kamar.


Namun sebelum langkah nya masuk lebih jauh, perhatian nya terhenti, ketika ia lihat Allana berbaring di sofa ruang keluarga.


"Sayang. Neng! Neng! kamu kenapa?" tanya Damar, karena tidak seperti biasa nya. Allana sudah rebahan di pagi hari.


Allana membuka sedikit matanya. Lalu menjawab pertanyaan Damar. "A! A'a sudah pulang? Lana merasa tidak enak badan."


"Sudah sayang! tidak enak badan, koq bubuan di sini. Maaf A'a pulang agak telat, tadi A'a ikut kajian dulu." Jawab Damar.


"Tidak mengapa A! ta-tadi Neng hendak membuat sarapan. Namun rasanya agak pusing. Ya sudah jadi bubuan di sini deh." Balas Allana.


"Mari ke kamar. Nanti sarapan biar A'a beli di depan." Ajak Damar sembari mengangkat tubuh Allana tanpa penolakan.

__ADS_1


"Tubuh Neng tidak demam koq." Damar meraba kening Allana ketika sudah sampai di kamar.


"Bukan karena demam A'a. Tapi pusing, mual juga," jawab Allana dengan bergelayut manja pada Damar.


"Baiklah! untuk saat ini, istirahat saja dulu, A'a buatkan teh manis. Nanti A'a belikan bubur ayam." Ucap Damar dengan mengelus lembut punggung Allana.


"Baik A." Allana kembali merebahkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman.


Setelah menanggalkan pakaian untuk shalat dan kain sarung serta mengganti dengan pakaian rumahan. Damar beranjak ke dapur, membuat teh hangat manis, untuk Allana.


Setelah memastikan Allana dalam kondisi baik di kamar. Dengan menaiki motor besar nya, Damar bergegas membeli sarapan untuk mereka berdua.


"Neng sarapan dulu. Nanti ke dokter yah! A'a antar. Hari ini A'a tidak ngantor. A'a akan menemani Neng di rumah. Neng juga tidak ke kampus kan?" ujar Damar setelah pulang dari membeli sarapan.


"Terima kasih A. Seperti nya tidak ngampus saja A. Lokh A'a pergi ke Kantor saja, nanti biar Neng telepon Yusra dan Kinan untuk menemani di sini, sepulang mereka kuliah. Ada Mbak juga kan." ucap Allana, ia sudah dalam keadaan duduk di atas kasur.


"Tidak mengapa Neng. Nanti kerjaan di handle Linggar. A'a tidak tega meninggalkan kamu dalam keadaan sakit." ujar Damar.


"Ingat Neng. Aku akan berada di sisimu, tidak hanya ketika kamu sehat! akan tetapi Aku akan lebih dekat dengan mu, ketika kamu sakit! karena Aku tahu, sebuah perhatian adalah obat terampuh dari segala macam obat yang ada. Maka dari itu, perhatian akan lebih terasa berarti dari biasanya." Ujar Damar.


Allana begitu terharu dengan ucapan Damar baru saja. Damar tersenyum lebar dan mulai menyuapi Allana dengan telaten.


Setelah sarapan,


Damar menelpon Linggar dan sekretaris nya, mengabarkan bahwa ia tidak pergi ke kantor. Setelah nya Damar tidak bergerak ke manapun. Ia berada di sisi Allana dan terlelap kembali bersama Allana.


***


Lima hari kemudian. Allana menolak di bawa ke dokter. Dengan alasan takut jarum suntik. Ia harus berperang dengan Damar. Hingga Damar di buat kesal. Namun rasa kesal itu tidak berlangsung lama, dengan jurus rayuan maut nya Allana. Damar akan segera luluh.


Namun aneh nya sakit Allana akan terjadi hanya pada pagi hari dan menjelang siang sakit nya akan menghilang. Oleh sebab itulah ia menolak untuk ke dokter. Damar pun tidak seperti biasanya. Ia lebih sensitif. Menjadi sedikit baperan.


Siang ini. Keadaan seperti biasa. Allana pergi ke kampus dan Damar berangkat ke kantor.

__ADS_1


**


"Lana, kamu ke mana saja? sudah Lima hari, gak masuk. Kami menelpon juga tidak aktif. Dosen pembimbing nanyain terus." Tanya Kinanti. Ketika mereka bertemu di kampus.


"Iya. kamu tuh ya, tidak seperti biasa nya, menghilang seperti ini." Imbuh Yusra.


"Aku sakit Kin, Yus!" jawab Allana.


"kamu sakit? pantas kelihatan nya agak pucat dan lesu," tanya Kinanti.


"Iya!" jawab singkat Allana, namun ia tidak menyebutkan sakit apa. Karena ia pun tidak faham menderita sakit apa.


"Kamu sakit apa Lan? kamu juga nampak lebih kurus dan tidak seceria biasanya? katakan lah, kamu sakit apa?" desak Yusra, Karena dari tadi Allana hanya menyebut nya sakit dan tidak bicara tentang sakit nya.


"Aku juga tidak tahu! yang pasti setiap pagi, aku merasa pusing, mual. Tubuh ku rasanya tidak nyaman." Akhirnya Allana menjelaskan tentang sakit yang ia derita, kepada Yusra dan Kinanti.


"Kata Dokter sakit apa?" tanya mereka berdua secara bersamaan.


"Aku gak ke Dokter. Takut di suntik, dan aneh nya penyakit ku akan hilang setelah menuju waktu siang. Aku akan baik-baik saja ketika siang hari hingga malam dan esok pagi akan kembali merasa pusing serta mual ketika bangun tidur." Tutur Allana.


"Hmmm, penyakit nya koq aneh yah!" gumam Yusra sembari menempelkan jari tangan nya di dagu dan wajah nya agak mendongak. Bibir nya mengerucu. Tanda ia sedang berfikir keras.


"Hooooo. Lana.... Lana .... Lana...., jangan-jangan ....!!!" Kinanti heboh sendiri.


"Jangan- jangan, apa?" Allana terkejut dan tidak mengerti.


"Iya nih Kinan. Bicara yang jelas dong!" protes Yusra.


"Heee, maaf! maksud Aku! jangan-jangan, La-lana hamil!" tebak kinanti.


"Hah ha-hamil?" pekik Yusra.


"Sssttttt! berisik kamu! nanti, satu kampus ini, mendengar ucapan kamu." Sergah cepat Kinanti.

__ADS_1


"Hamil?" gumam Allana dengan nampak berfikir.


Bersambung ...


__ADS_2