
Bab ini mengandung bacaan konten dewasa atau yang sudah berumah tangga ⚠️ Mohon bijak dalam mencari bacaan🙏
"Pah! koq bisa di sekolah Lana? tadi pagi Papa bilang, Lana naik taxi online saja!" ungkap Allana karena ia penasaran.
"Papa baru bertemu orang di restoran dekat sini, maka dari itu Papa ingat Lana. Sekalian saja Papa jemput karena Papa melewati jalan ini." Balas Damar dengan nada datar dengan pandangan tetap fokus ke depan.
"Ouh begitu! tapi koq penampilan Papa berubah begini dan ini mobil siapa?" tanya Allana.
Kinanti dan Yusra yang duduk di bangku tengah, mereka terlihat senyam senyum tidak jelas menyaksikan interaksi Allana dan Damar. Bagi kedua sahabat Allana, Damar terlihat Cool bin keren.
"Papa baru bertemu orang yang penting untuk perusahaan, maka dari itu, Papa harus berpenampilan rapi macam ini. Ini mobil Papa." Jawab Damar masih dengan suara nya yang tidak bersahabat. Allana mulai tidak nyaman sebetulnya dengan keadaan itu.
"O yah! Siapa mereka?" tanya Damar dengan nada yang makin dingin.
"Mereka ....!"
Nampak nya Allana bingung dalam menjelaskan siapa mereka bertiga.
"Mereka kakak kelas kami Om!" jawab cepat Kinanti.
"Iya Om! sekarang mereka sudah kuliah." sambung Yusra.
"Ok! apa di antara mereka bertiga ada yang menyukai Lana?" tanya Damar kembali.
"Tepat nya mereka bertiga!" ucap serempak Yusra dan Kinanti.
"Jadi ....!" Damar melirik pada Allana dengan tatapan meminta penjelasan.
"Papa!" ucap Allana lirih. Sebetulnya Allana jengkel terhadap kedua sahabatnya yang tidak mau menjaga mulut mereka.
"Jadi .... mereka bertiga menyukai Lana dari kelas satu Om!" jawab Yusra tanpa di minta.
"Akan tetapi, Lana nya tidak suka koq Om! Lana hanya baru pacaran sekali, itu pun sudah putus."
Damar diam. Ia tidak mau melanjutkan bertanya mengenai apa yang di ucapkan kedua sahabatnya Allana.
Allana melihat ke arah Damar, rasanya ingin ia memeluk Damar, ia merasa tidak baik dengan perasaannya saat ini.
Namun Allana sadar, di tempat itu ada kedua sahabatnya. Pada Akhirnya mereka pun tidak ada yang membuka suara.
Setelah melewati dua puluh menit perjalanan, kini Damar, Allana, Yusra dan Kinanti pun tiba di rumah Allana.
Kinanti dan Yusra sudah turun dari mobil. Namun tidak untuk Allana, sebelum ia turun dari mobil, pergelangan tangannya di cekal Damar.
"Neng, Kamu tunggu papa di kamar! Papa hendak bicara." Pinta Damar.
"Papa marah?" tanya Allana.
"Tidak! sudah, cepat lakukan saja. Papa akan meng hendle teman-teman mu dahulu." tukas Damar.
Allana cemberut sembari turun dari mobil, tanpa bicara apapun pada kedua sahabatnya itu, ia masuk ke dalam rumah lalu ke kamar dengan membanting pintu.
Damar yang baru keluar dari mobil pun, merasa terkejut mendengar Alana membanting pintu. Begitupula dengan Yusra dan Kinanti. Ia saling pandang.
"Yusra dan Kinanti. Tolong bawa belanjaan bahan makanan dan camilan ke dalam yah! yang ada di bagasi mobil, Om mau menenangkan Lana dahulu, seperti nya ia ngambek.O yah, Om betul-betul minta tolong kepada kalian, agar selalu menemani Lana di rumah Ketika Om sedang di luar atau bekerja." ujar Damar.
"Tentu Om. kami akan selalu ada bersama Lana." ucap Kinanti.
"Betul Om! kami akan bersama- sama selalu," timpal Yusra.
"Good! terima kasih. O yah, om akan meminta izin pada orang tua kalian juga, maka nanti Om minta kontak kalian dan juga Kontak orang tua kalian." Pinta Damar.
"Tentu saja Om! nanti kami berikan ke Lana." ucap Yusra.
"Baiklah! sekarang kalian masuk. Jangan sungkan, anggap lah rumah ini, rumah Kalian juga." Pesan Damar lagi.
"Baik Om!" jawab mereka berdua.
__ADS_1
Damar bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Allana.
"Lana, boleh Papa masuk?" tidak ada jawaban. "Lana!" panggil Damar lagi, masih tidak ada jawaban. Akhirnya Damar langsung membuka pintu kamar dan masuk begitu saja.
Terlihat Allana duduk di atas tempat tidur dengan memeluk lutut nya dan ia sedang menangis.
"Neng sayang! koq nangis?" tidak ada jawaban apapun dari Allana. Ia makin terisak.
"Neng! jangan nangis dong!'' pinta Damar dan duduk di sisi tempat tidur.
"Papa jahat! Papa marah sama Lana. Hiks hiks ...." ucap Allana di sela-sela tangis nya.
"Papa tidak marah sayang." Damar berusaha menengkan Allana.
"Papa marah!"
"Tidak Neng sayang. Lihat nih mata Papa. Lihat sini," pinta Damar dengan lembut nya.
Allana berhenti menangis dan ia angkat wajahnya, nampak lah Damar yang sedang tersenyum dan menatap dirinya.
"Betul Papa tidak marah?" tanya Allana, dengan mata sembap nya.
"Tidak!" Damar tersenyum kembali. Lalu ia menarik lembut Allana ke dalam pelukan nya.
"Maafkan Papa? Papa sayang Lana. Maka dari itu, Papa merasa tidak nyaman, saat melihat Lana di sentuh laki-laki lain, walaupun hanya bergenggaman tangan." Jawab jujur Damar, sembari menyesapi rambut Allana yang sedikit bau matahari bercampur wangi shampoo dan parfum spray khusus rambut pada rambut Allana.
"Papa cemburu yah?" tanya Allana masih dalam pelukan Damar.
"Tidak!"
"Iya!"
"Tidak tuh!"
"Iya deh!"
"Tidak juga."
Allana makin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Damar dan makin mengeratkan pelukan tangannya melingkar di pinggang Damar.
"Mmmm .... Iya deeeh! Papa memang cemburu." Akunya Damar.
"Tuh kan, Papa cemburu!!!" pekik Allana. "Yeaaayy Papa cemburu .... Papa cemburu!" ledek Allana. Kini ia terlihat lucu dengan wajah nya yang miring kanan dan kiri meledek Damar.
"Tapi sedikit saja yah," jawab Damar mengekeh dan terdengar lucu.
"Ikkhh koq sedikit! yang banyak dong Pah!" protes Allana.
"Tidak mau banyak-banyak, nanti keburu habis! masalah nya Papa perkiraan, Papa akan sering cemburu sama laki-laki di luar sana yang berusaha mendekati Lana." Ujar Damar dengan tertawa kecil.
"Ya sudah kalau mau nya Papa seperti itu. Lana sayang Papa! sayang sekali." Ungkap tulus Allan.
"Papa pun Neng! Sayang sekali dengan kamu, cup." Damar mengecup pipi Allana.
"Sudah yah, Papa mau kembali ke kantor, ganti pakaian sana, kamu bau debu dan matahari." Ucap Damar masih dengan tawa kecil.
"Iikkh enak saja, Lana wangi tahu." Protes Allana dengan mengendus tubuh nya sendiri.
"Hihi .... bau begitu!" Damar ikut mengendus tubuh Allana. "Tuh kan bau, Iyyuh." Ucap nya pura-pura jijik.
"Papaaaaa .... uuumm! Lana gak bau juga! nih Lana tempel saja sekalian baunya." Allana naik ke pangkuan Damar. Ia memeluk erat Damar dengan menggesek- gesek kan tubuh nya.
"Neng sudah! Papa tidak tahan nih, teman-teman mu menunggu juga kan di depan." Ucap Damar saat inti syahwat nya malah menegang dengan kelakuan Allana.
"Papa ingin?" tanya polos Allana.
"Hehe .... makanya sudah yah! Takut pertahanan Papa jebol." Ucap Damar.
__ADS_1
"Memang itu yang Lana mau!"
"Neng sa ...." kata-kata Damar terhenti saat bibir nya dengan cepat di rambah Allana.
Tanpa ia sadari, Damar terbuai dengan penyatuan bibir Allana pada bibir nya, dengan cepat ia pun mengimbangi permainan bibir nya Allana. Allana tidak jaim apalagi malu-malu mau, malah Allana tidak segan memulai terlebih dahulu.
Seperti nya Allana makin lihai dalam membuai Damar, dari kecupan hingga sentuhan tangan mungil nan halus di tubuh Damar.
Tampa di rencanakan Damar dan Allana saling mendesah halus. Gairah pun hadir dengan cepat di antara keduanya.
Setelah agak lama berduel lidah. Allana mendesah panjang. Tubuh nya seperti mengejang namun bukan kejang-kejang, gesture nya melengkik makin menarik Damar agar menyusupkan wajah ke arah Dada nya yang terbuka. entah menit yang mana seragam Allana sudah tidak berkancing, karena Damar melepaskan nya. Namun masih nyangkut di tubuh nya. Nafas Allana terdengar lebih cepat dari sebelumnya. Ia bersandar lemah memeluk Damar.
"Pah!"
"Ya sayang!" suara parau Damar.
"Maaf, seperti nya Lana pipis di pangkuan Papa! tapi pipis nya koq aneh yah!" ucap polos Allana, masih mengatur nafasnya.
"Heee .... itu namanya akhir dari keinginan Lana yang menggebu tadi." Tukas Damar.
"Ini yang di namakan O***** ya Pah?" tanya nya lagi, masih dengan nada polos namun ingin tahu.
"Ya seperti itu lah!"
"Papa juga mau?"
"Tidak perlu, Papa harus segera ke kantor."
"Lana bantu Papa untuk pipis juga yah! Lana tahu, pasti Papa ingin pipis juga, lihat saja, wajah Papa mirip jamur nya Mario Bross ( merah) dan Imin Papa, juga sudah demam tinggi." Ucap tidak senonoh nya Allana.
"Hah koq tahu saja kamu, lalu bagimana caranya? Papa tidak mau menodai kamu sekarang Neng!"
"Tenang saja! tidak dengan cara itu, Lana tahu cara lain nya." Ujar Allana.
"Hah! maksudnya? ya ampun Lana! kamu apa-apaan ini." Pekik hati Damar.
"Terima kasih Neng! Papa pergi ke kantor saja! nanti juga Imin nya sembuh sendiri." Damar berdiri dan ia menurunkan Allana. Ia memperhatikan celana nya yang memang basah terkena cairan manusiawi nya Allana.
"Tuh kan Imin nya demam tinggi! itu tanda nya ingin di kompres Pah, agar demam nya turun." Sebelum Damar menjawab, Allana telah mendorong Damar hingga jatuh terlentang di kasur
Dengan sigap Allana membuka kaitan gesper celana Damar. Lalu dengan lancang nya dan tanpa minta persetujuan Damar, Allana mengeluarkan masa depan Damar yang berharga.
"Neng! jangan! Papa malu." pekik Damar saat ia sadari Allana sedang tersenyum mesum memandangi harta dan tahta yang tidak berbentuk nominal itu.
***
"Guys mari berendam air susu hangat dan wangi teraphy. Papaku sudah menyiapkan nya sebelum berangkat lagi ke kantor." Ajak Allana setelah mengantarkan Damar ke pintu gerbang.
"Lana, kamu dan Om ganteng, lama banget sih tadi? memang nya, apa yang kalian bicarakan? kami sampai jamuran nih nunggu di sini!" protes Kinanti.
"Iya ikh! aku Kembung nih minum yang bersoda sama makan camilan bermintak dari tadi." tambah Yusra.
"Mau tahu aja?"
"Atau, mau tahu banget?"
"Hooh. Apa sih?" tanya Yusra.
"Iya! banget deh! apa sih? beri tahu!" sambung Kinanti.
"Jawaban nya adalaaaahh!"
Yusra serta Kinanti menyimak dengan serius, menunggu jawaban Allana.
"Sorry ini pembicaraan genre adult romantis dua puluh satu tahun plus, Kalian kan baru tujuh belas tahun belum boleh tahu isi pembicaraan kami. Lagi pula kalian harus nikah dulu, baru nanti aku beri tahu." Ucap santai Allana.
"Lanaaaaaa .... kamu juga Kan baru tujuh belas tahun!" pekik Yusra dan Kinanti.
__ADS_1
"Oh ia yah! aku lupa!" Allana berlari menuju kamar nya, ia tahu apa yang akan terjadi ketika kedua sahabatnya sudah Kompak terpekik.
Bersambung ....