
Dua hari kemudian...
Siang itu, ba'da Dzuhur, "Neng, Mar!" panggil Ibu Damar dari arah luar kamar Damar dan Allana.
"Ia Bu!" Allana keluar dari kamar mereka. "Ada apa Bu?" tanya Allana, ketika sudah berhadapan dengan Ibu nya Damar.
"Ibu hendak menghadiri pengajian bulanan. Lana mau ikut atau di rumah saja?" tanya Ibu nya Damar.
"Di rumah saja Bu! rasanya kurang nyaman saat duduk lama." Jawab Allana.
"Baiklah. Mana suami mu?" tanya Ibu nya Damar kembali.
"Ada Bu! sedang istirahat, setelah meminum obat." Jawab Allana.
"Ya sudah! Ibu berangkat yah! Kalau mau makan, sudah Ibu siapkan di meja dapur," pesan Ibunya Damar.
"Terima kasih Bu! lokh Bapak ke mana Bu?" tanya Allana dengan menggandeng tangan Ibu mertua nya, ia bermaksud mengantarkan nya ke depan pintu.
"Bapak sedang ada acara di kecamatan." Ibunya Damar mengelus perut Allana.
"Ouh begitu, pantas saja Lana tidak melihat Bapak dari pagi."
"Dedek baik-baik! Nenek pergi dulu," ucap Ibu Damar kepada perut Allana.
"Iya Nek!" Allana menyahut dengan suara yang di kecilkan. Ibu dan menantu yang nampak akrab itu tertawa kecil.
Allana menyalami Ibu mertua nya dengan mengecup punggung tangan kanan nya. Mereka pun berpisah di ambang pintu.
Ibunya Damar bergegas ke Majelis, sedangkan Allana kembali ke dalam, ia tidak lupa menutup dan mengunci pintu terlebih dahulu.
"Aduh! perut ku." Gumam Allana. Ia merasa kram pada bagian perut bawah nya.
Allana berhenti sejenak di dekat sofa, sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia berusaha tenang dengan mengatur nafasnya perlahan.
"Sayang!" panggil Allana pada Damar, namun tidak ada sahutan. Seperti nya Damar terlelap. "Sayang, tolong Aku."
Allana tidak mendengar suara Damar menyahut panggilan nya. Akhirnya ia putuskan untuk ke kamar dengan berjalan perlahan.
Makin masuk ke dalam kamar, Perut nya semakin melilit. Allana menggigit kecil bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.
"A! A'a!"
"Hum." Gumam Damar.
"Perut ku sakit sayang!" Allana mengguncang pelan tubuh Damar. Rupanya pengaruh obat yang Damar konsumsi membuat nya terlelap sangat.
Biasanya Damar tidak sulit jika di bangunkan. Namun kali ini karena pengaruh obat. Maka ia amat sulit untuk membuka matanya.
"Euumm! A'aaaaa." Panggil manja Allana, namun sedikit nampak kesal. "Pingin pipis."
Allana pun bergegas ke kamar mandi. "Loch, Aku pipis di celana? tapi koq tidak terasa yah!"
Allana melihat underwear nya basah. Namun ia tidak merasa buang air kecil.
Allana selesai buang air kecil. Ia kembali ke kamar. Setelah mengganti underwear nya, ia ikut berbaring di sisi Damar.
Namun Allana tidak dapat memejamkan mata. Perut nya terasa di putar-putar di dalam. Di remas dan di tarik, namun dengan intensitas sedang.
"Nak! ada apa? kamu kenapa sayang? koq perut Mama nya di buat sakit?" tanya Allana dengan suara pelan.
Allana mengelus lembut perut nya. Mulut nya tidak henti melantunkan Shalawat.
"Ya Allah, koq rasa nya basah lagi! Aku tidak pipis di celana kan?!"
Allana bergegas ke kamar mandi lagi. Ia lihat underwear nya basah kembali. Allana tidak paham apa yang terjadi kepada dirinya.
Allana memutuskan untuk ke rumah Atin atau Cucu yang masih bertetanggaan dengan rumah orang tua nya Damar. Ia hendak meminta tolong, karena Damar tidak juga bangun dari tidur nya.
"Aduh! Astaghfirullah'aladzim, A'a tolooooonggg!"
__ADS_1
"Aaaaaaaaawwww."
Pekik kesakitan dari mulut Allana. "A'a tolooongg! A'a tolooongg!"
Rupanya Allana tidak sengaja terpeleset di depan pintu kamar mandi. Ia jatuh duduk dengan memegangi perutnya nya.
"Aawsh! A'aaaa, sakiiiiiit!"
Allana berteriak. Barang apapun yang berada di dekat nya Allana lemparkan, ia berharap Damar bangun karena kegaduhan yang ia buat.
"Aaaaaa! adduuuhh! ya Allah. Aaaaaa, sakiiiitt!"
Darah segar mulai merembes dari area jalan lahir. Alhamdulillah, akhirnya Damar mendengar kegaduhan dan teriakan Allana.
"Sayang! ada apa?"
Damar bangkit dari tempat tidur. Ia menoleh pada sumber suara Allana. "Ya ampun, sayang!"
Damar loncat dari tempat tidur. Ia segera berlari menghampiri Allana karena terkejut, ia melihat Allana duduk miring di lantai sedang meringis dan memegangi perutnya.
"Sayang kenapa?" tanya Damar, setelah berjongkok di hadapan Allana.
"Aku jatuh A! maaf aku teledor," Allana menangis.
"Sudah, sudah! jangan menangis. Ini insiden sayang!" bujuk Damar. "Ya ampun, kamu berdarah!" Damar makin terkejut ketika melihat darah mengalir dari daerah bawah Allana.
"Darah!" tangan Allana gemetar dengan mencengkeram lengan Damar.
"Perut nya sakit, sayang?" tanya Damar.
"Iya A! rasanya melilit."
"Kita ke rumah sakit! tunggu sebentar, Aku ambil kunci mobil dan memanggil Ibu." Ujar Damar.
"Ibu, tidak ada di rumah. Ia sedang menghadiri pengajian bulanan di Majelis A." Ucap Allana.
"Baiklah! aku siapkan mobil sebentar ya sayang, tahan dulu sakit nya," Allana mengangguk. Damar membalut tubuh bagian bawah Allana dengan selimut.
Damar berjalan mondar mandir tanpa mengenakan tongkat. Damar merasa bebas bergerak, ia lupa kondisi dirinya sebelum ini. Mereka berdua belum ada yang menyadari dengan keadaan Damar yang mampu berjalan tanpa tongkat.
"Sayang! mari, kita ke rumah sakit terlebih dahulu, nanti ku telepon Arwan agar menyusul." Damar kembali dari arah luar setelah menyiapkan mobil.
"Sakit Yank!" keluh Allana, nampak wajah Allana semakin pucat. Damar segera mengangkat Allana, menggendong nya menuju mobil.
"Tahan rasa sakit nya ya sayang! kita akan segera sampai di rumah sakit." Damar berusaha menenangkan Allana dari balik kemudi nya.
"Darah nya makin banyak A." Ucap Allana semakin cemas.
"Tenang sayang! tarik nafas perlahan. Kuatkan diri mu. Usahakan tetap tenang dan berpikir positif." Pinta Damar dengan mengelus lembut kepala Allana.
Dua puluh menit kemudian, Damar telah sampai di rumah sakit.
"Perlahan sayang!" Damar memapah Allana, mereka menuju resepsionis rumah sakit. Setelah nya Damar meminta kursi roda. Setelah melakukan pendaftaran Damar di arahkan perawat menuju ruang pemeriksaan dokter kandungan.
"Maaf, suami nya mana?" tanya dokter kandungan.
"Menunggu di luar dok," jawab Suster.
"Tolong beritahukan agar ke ruangan. Saya Hendak bicara dengan suami nya." Pinta dokter.
"Baik dok!" jawab suster sambil berlalu dari ruangan tersebut untuk memanggil Damar.
"Ada apa dok? apakah saya akan segera melahirkan?" tanya Allana.
"Saudari sabar sebentar yah! kami sudah melakukan tindakan, dengan meredakan darah yang keluar dan memberikan pereda rasa nyeri serta mulas. Suster akan membawa saudari ke ruangan bersalin, sementara saya bicara dengan suami Saudari." Ujar dokter menenangkan Allana.
"Baik dok! terima kasih."
Allana di bawa ke ruang bersalin oleh para perawat. Sedangkan sang dokter menunggu Damar di ruangan nya. Ada hal yang perlu mereka bicarakan.
__ADS_1
Damar baru saja masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
"Selamat siang dok." sapa Damar ketika ia masuk.
"Selamat siang Pak! apakah Bapak suami dari Ibu Allana Faradilla?" tanya dokter.
"Betul dok! ada hal serius dengan kondisi istri saya?" tanya Damar.
"Sebaiknya saudara duduk dulu."Dokter mempersilakan Damar untuk duduk.
"Terima kasih dok!" Damar pun duduk di bangku yang telah tersedia, berhadapan langsung dengan sang dokter kandungan.
"Begini Pak! saya langsung pada intinya saja. Apakah betul istri saudara terjatuh sebelum di bawa ke mari?" tanya dokter.
"Menurut nya betul dok, saya menemukan istri saya sudah dalam keadaan menangis dan berdarah di depan pintu kamar mandi." Jawab Damar sejujurnya yang ia lihat.
"Jadi begini Pak! akibat dari jatuh itu, seperti nya bayi kalian mengalami benturan dan dari hasil USG, plasenta mengalami retakan. Jadi .... kami terpaksa harus melakukan operasi Pak!"
"Operasi dok?" tanya Damar karena terkejut.
"Iya! jika tidak, maka .... akan membahayakan keadaan si Ibu dan bayi. Lagi pula, kami tidak akan dapat mengusahakan lahir normal. Akan sangat beresiko untuk Ibu dan Anak. Karena air ketuban juga sudah pecah dari beberapa waktu lalu." Penjelasan dari dokter kandungan.
"Untuk kebaikan Istri dan Anak saya, tolong lakukan saja dok. Saya mohon, selamatkan kedua nya dok!" Damar memohon untuk keselamatan Anak dan Istri nya.
"Berdoa saja Pak! kami akan melakukan hal terbaik untuk Anak dan Istri Anda."
Setelah Damar menandatangani berbagai dokumen untuk persiapan persalinan Allana, yaitu lewat jalan operasi. Maka kini Damar sudah berada di depan ruang operasi.
Ibu nya Damar, Arwan dan juga Ayah Damar, baru saja tiba di depan ruang operasi. Mereka melihat Damar sedang duduk seorang diri di bangku tunggu.
"Mar! bagaimana Lana? koq kamu tidak ikut menemani di dalam?" tanya Sang Ibu.
"Lana masih menjalani pembedahan di dalam Bu! mereka tidak mengizinkan Aku masuk." Jawab Damar.
"Sudah berapa lama Lana di dalam Mar?" tanya sang Bapak.
"Sudah hampir dua jam Pak!"
"A ....!" pekik Arwan yang baru saja menyadari hal ganjil akan Damar.
"Hum ....," jawab santai Damar.
"A'a ke sini pakai apa? sama siapa? lalu .... siapa yang membopong Teh Lana? katanya sempat jatuh?" rentetan pertanyaan dari Arwan.
"Ya A'a lah Dek!" jawab enteng Damar.
"Lalu .... mana tongkat nya A?" tanya Arwan kembali.
"Ada di ...., di mana yah?" Damar celingukan mencari tongkat milik nya.
"Koq tidak ada? seperti nya Aku tidak memakai tongkat Dek!"
"What?"
Arwan saling pandang dengan orang tua nya. Lalu ia tersenyum. Namun Damar yang masih merasa khawatir terdapat Allana ia hanya duduk dengan menopang dagu.
"A! berarti A'a berjalan, membawa mobil dan membopong Teh Allana tanpa menggunakan tongkat. A Damar sudah dapat berjalan tanpa bantuan tongkat. Bu! Pak!" Arwan begitu sumringah.
"Astaghfirullah! iya Dek! A'a baru sadar." Damar berdiri, lalu ia mencoba berjalan bolak-balik. Bahkan ia mencoba berjingkrak pelan.
"Pak, Bu, Wan! Aku sudah dapat berjalan normal," teriak Damar dengan sumringah.
"Alhamdulillah!"
ucap serempak Ibu, Bapak Damar dan juga Arwan. Akhirnya mereka saling berpelukan. Hanyut dalam Haru kebahagiaan.
"Selamat ya A! sudah dapat berjalan kembali."
"Terima kasih Dek!"
__ADS_1
Tanpa Damar sadari, ia dapat berdiri serta berjalan normal seperti nya dari sejak Allana mengaduh kesakitan. Di tambah ia panik melihat darah yang keluar dari tubuh bagian bawah Allana.
Bersambung ....